
Aruna baru saja turun dari motor saat Ria dan Kenzo menyapanya. Setelah mencium punggung tangan sang suami Aruna pun melangkah menghampiri Ria dan Kenzo.
" Pagi Aruna...!" sapa Ria.
" Pagi juga Ri...," sahut Aruna sambil tersenyum.
" Apa kabar Tsar...?" tanya Kenzo sambil menjabat tangan Kautsar.
" Alhamdulillah baik...," sahut Kautsar sambil menepuk punggung Kenzo lembut.
Kautsar dan Kenzo nampak terlibat obrolan ringan. Tak lama kemudian Kautsar pun melajukan motornya meninggalkan Kenzo yang masih berbincang dengan karyawan lain.
" Kenapa Ri, kok keliatan bete. Lagi PMS ya...," goda Aruna.
" Ck, bukan. Gue sebenernya males ke kantor. Tapi Kenzo malah jemput. Terpaksa deh berangkat juga...," sahut Ria dengan enggan.
" Kok tumben. Biasanya Lo paling semangat kalo jalan bareng Kenzo. Apa ada masalah...?" tanya Aruna.
" Masalahnya bukan sama Kenzo Run, tapi sama Manager Marketing yang baru...," sahut Ria cepat.
" Manager Marketing yang baru ?. Emang Manager yang lama diganti, tapi kenapa...?" tanya Aruna.
" Dimutasi ke kantor pusat, mungkin karena kinerjanya baik. Tapi sayang yang gantiin orangnya ga seasik Bu Madina. Lebih dingin dan penuh mistery...," sahut Ria.
" Wow, pasti Manager yang baru itu orangnya lebih keren dari Lo makanya Lo bisa ngomong kaya gitu...," kata Aruna sambil menaik turunkan alisnya.
" Ish, apaan sih Lo. Kalo menurut Gue mah biasa aja. Cantik sih, tapi dandanannya tuh over banget kaya mau konser. Masih mendingan Gue lah kemana-mana..., " sahut Ria percaya diri hingga membuat Aruna tertawa.
" Iya iya, percaya. Yang penting kan Kenzo ga berpaling dari Lo apalagi kecantol sama Manager baru Lo itu...," goda Aruna sambil melangkah pergi.
" Aruna, jaga mulut Lo ya...!" kata Ria sambil berkacak pinggang sementara Aruna hanya melambaikan tangannya tanpa mau menoleh.
" Ada apaan sih Yang, masih pagi udah ngomel aja...?" tanya Kenzo dari belakang Ria.
" Nah kebetulan, Aku mau nanya nih. Kalo menurut Kamu, Aku cantik ga...?" tanya Ria.
" Cantik dong...," sahut Kenzo cepat.
" Yakin...?" tanya Ria.
" Iya. Itu salah satu sebab kenapa Aku ga bisa berpaling dari Kamu. Sebab lainnya karena Kamu baik dan supel...," sahut Kenzo sambil memijit ujung hidung Ria.
__ADS_1
" Kalo ada yang lebih cantik dari Aku gimana...?" tanya Ria.
" Biarin aja. Tapi Aku kan maunya sama Kamu...," sahut Kenzo santai hingga membuat wajah Ria berbinar bahagia.
" Beneran...? " tanya Ria.
" Iya. Kenapa sih nanya kaya gitu...? " tanya Kenzo sambil mengerutkan keningnya.
" Gapapa...," sahut Ria sambil tersenyum simpul.
" Kita masuk yuk. Ntar Kamu dimarahin sama Manager baru lho...," kata Kenzo mengingatkan.
" Kok Kamu tau kalo ada Manager baru di divisi Aku. Padahal Aku kan belum cerita sama Kamu...?" tanya Ria hingga membuat Kenzo sedikut gugup.
" Oh itu. Aku ga sengaja denger dari beberapa karyawan yang barusan lewat. Mereka bilang kemarin ada Manager Marketing baru. Katanya cewek cantik ya...?" tanya Kenzo untuk menutupi kebenaran jika dia mendapat informasi dari Simon tentang kehadiran Kalisha di divisi marketing.
Mendengar pertanyaan Kenzo membuat Ria kesal. Ia menghentakkan kakinya lalu melangkah cepat mendahului Kenzo.
" Ria tunggu...!" panggil Kenzo.
" Ga usah anterin, Aku bisa sendiri...!" sahut Ria tanpa menoleh.
Sedangkan Ria nampak menekuk wajahnya karena kesal mendengar pujian Kenzo untuk Kalisha.
" Dasar cowok. Dimana-mana sama aja, ga boleh denger kata cantik langsung deh penasaran...," gumam Ria sambil membanting tasnya di atas meja.
\=\=\=\=\=
Aruna masih sibuk mengerjakan tugas yang diberikan Bianca. Tanpa Aruna sadari Bianca tengah menatap kearahnya dengan tatapan intens.
" Anak ini, ada sesuatu dalam dirinya. Dari luar terlihat tenang dan ga punya ambisi. Tapi kalo diamati dengan seksama ada hawa panas dalam tubuhnya yang bisa meledak kapan pun. Hanya dengan sedikit pancingan Aku rasa bakal bisa mengeluarkan sisi lainnya. Keliatannya Aku harus berhati-hati sama dia...," batin Bianca.
Aruna seolah tersadar jika Bianca tengah mengamatinya. Untuk meyakinkan Bianca, Aruna pura-pura menggeliat sambil meraba punggungnya. Sesaat kemudian Aruna nampak meringis seolah menahan nyeri.
" Ssshhh..., malah tambah sakit sih...," gumam Aruna sambil pura-pura menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri untuk mengusir rasa sakit yang menderanya.
Bianca memperhatikan gerak gerik Aruna sambil tersenyum tipis. Ia merasa senang karena tanda yang ia berikan membuat Aruna sedikit tak nyaman.
" Kayanya Aku terlalu berlebihan menilai Aruna. Dia ga sekuat yang Aku kira. Kalo kaya gini ceritanya, Aku ga perlu khawatir lagi kan...," batin Bianca sambil tersenyum tipis.
Bianca berdiri lalu melangkah perlahan menghampiri Aruna yang sedang berusaha memijit punggungnya sendiri.
__ADS_1
" Kamu kenapa Aruna...?" tanya Bianca.
" Eh, gapapa Bu. Punggung Saya sakit, kayanya salah bantal deh...," sahut Aruna.
" Apa sakit banget, boleh Saya liat...?" tanya Bianca.
" Iya, eh maksud Saya ga Bu. Ga sakit kok. Lagian udah Saya kasih koyo tadi untuk ngurangin rasa sakit. Sekarang udah enakan kok Bu...," sahut Aruna sambil bergegas berdiri karena tak ingin Bianca menyentuhnya lagi.
" Bagus kalo gitu. Saya mau ke ruangan Pak Hasby, kalo tugasmu udah selesai bisa taro di atas meja Saya aja ya...," kata Bianca sambil berlalu.
" Baik Bu...," sahut Aruna cepat.
Setelah Bianca berlalu, Aruna pun melanjutkan pekerjaannya yang terhenti.
Tak lama kemudian bel tanda istirahat pun berdering. Aruna bergegas merapikan mejanya agar bisa segera keluar menemui Ria.
Aruna duduk menunggu Bianca sejenak karena khawatir Bianca melarangnya istirahat. Aruna menoleh saat Bianca keluar dari ruangan Hasby.
" Sudah jam istirahat Aruna, Kamu boleh istirahat dan Lanjutkan pekerjaanmu nanti...," kata Bianca.
" Baik Bu, makasih...," sahut Aruna antusias.
Aruna dengan gembira melangkah melewati meja kerja Bianca. Namun langkah Aruna terhenti karena ia melihat Bianca justru membuka lap top pertanda akan kembali bekerja.
" Mmm..., maaf kalo Saya lancang. Apa Bu Bianca ga istirahat ?. Atau mungkin mau nitip sesuatu karena Saya mau ke kantin...?" tanya Aruna.
" Ga perlu Aruna, makasih. Saya udah pesan makan siang dari luar. Sebentar lagi juga sampe...," sahut Bianca sambil tersenyum.
" Oh gitu. Kalo gitu Saya duluan ya Bu...," pamit Aruna.
" Ok, silakan...," sahut Bianca.
Lagi-lagi tanpa sepengetahuan Aruna, Bianca mengamatinya dari belakang. Bianca terus menatap Aruna hingga Aruna masuk ke dalam lift.
" Menarik...," gumam Bianca sambil tersenyum penuh makna.
Di dalam lift Aruna nampak mengusap dadanya pelan. Rupanya Aruna sedang berdzikir untuk mengendalikan rasa tak nyaman akibat tatapan tajam Bianca padanya tadi.
" Alhamdulillah, untung dia ga ngajakin bareng ke bawah. Ampun dehh, gini amat sih kerja di perusahaan orang...," gerutu Aruna sambil menghela nafas panjang.
\=\=\=\=\=
__ADS_1