Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
21. Mengintai Aruna


__ADS_3

Denis kembali ke sekolah dengan rasa percaya diri penuh. Meski pun banyak teman yang bertanya padanya tentang peristiwa penculikan itu, Denis tak sekali pun menceritakan pengalaman pahitnya itu. Denis menganggap itu hanya kenangan buruk yang tak patut untuk diceritakan.


Hubungan Denis dengan Aruna pun menjadi lebih dekat. Keduanya kerap terlihat bersama saat pulang sekolah. Denis sengaja menemani Aruna sampai Iza sang pengasuh datang menjemput seperti hari ini.


“ Belum pulang Run...?” tanya Denis.


“ Belum Den, masih nunggu Bi Iza...,” sahut Aruna sambil tersenyum.


“ Kalo gitu biar Aku temenin Kamu sampe Bi Iza datang ya...,” kata Denis sambil duduk di samping Aruna.


“ Ntar kalo Kamu ketinggalan bis sekolah gimana...?” tanya aruna.


“ Aku ga naik bis sekolah lagi Run. Aku naik sepeda sekarang, tuh di sana sepedaku...,” sahut Denis sambil menunjuk sepeda biru yang terparkir di halaman sekolah.


“ Oh gitu. Kenapa emangnya...?” tanya Aruna.


“ Capek ditanyain hal yang sama tiap hari...,” sahut Denis dengan enggan.


“ Hal yang sama tuh apa Den...?” tanya Aruna tak mengerti.


“ Mereka selalu nanyain apa rasanya diculik sama hantu, terus selama dua hari Aku makan apa, kalo kebelet pipis atau pup gimana, tidurnya gimana. Pokoknya pertanyaan yang sama cuma beda orang yang nanya...,” sahut Denis kesal hingga membuat Aruna tertawa.


“ Tapi Aku juga penasaran dan pengen nanya yang sama Den...,” kata Aruna sambil mengerjapkan matanya hingga membuat Denis tersenyum.


“ Kalo Kamu yang nanya pasti Aku jawab Run. Gratis lho...,” sahut Denis.


“ Oh ya. Kalo gitu Kamu ceritain dong apa aja yang Kamu lakukan selama dua hari menghilang...,” kata Aruna.


“ Aku cuma ngobrol sama Ibu itu, makan, minum dan tidur kaya biasa. Tapi jujur makanan yang disuguhin tuh enak-enak Run. Ada makanan yang mirip mie goreng, sate kambing, soto ayam dan lain-lain. Minumannya juga enak,


ada jus mangga, es campur, sop buah. Wah pokoknya puas banget makannya Run. Padahal kalo di rumah Aku ga bisa tiap hari makan minum enak kaya di sana. Ibu selalu bilang kalo Kita harus hemat karena harus nyisihin uang buat keperluan lainnya...,” sahut Denis antusias.


“ Terus rumahnya kaya gimana, bagus ya...?” tanya Aruna.


“ Rumahnya bagus tapi sepi Run. Ga ada siapa-siapa di sana kecuali Ibu itu. Dia hanya menyanyi sepanjang hari seolah lagi nunggu seseorang. Dari ceritanya Aku tau kalo dia kehilangan anaknya. Keliatannya dia sedih banget. Makanya kalo ngeliat anak kecil yang lagi sendirian dia merasa iba dan ngajak anak itu ke rumahnya...,” sahut Denis.


“ Gitu ya. Denis mau ga kalo Aku kasih tau sesuatu tapi jangan bilang sama siapa-siapa ya...,” kata Aruna.


“ Soal apa Run...?” tanya Denis.


“ Sebenernya selama dua hari Denis bukan tinggal di rumah tapi di atas pohon. Dan makanan yang Denis makan juga bukan makanan enak tapi belatung dan cacing tanah. Minuman yang Denis minum juga bukan jus atau es campur tapi air selokan. Dan Ibu-ibu yang sama Denis itu bukan manusia tapi hantu...,” kata Aruna sambil menatap Denis iba.


Ucapan Aruna membuat Denis terkejut sekaligus takut. Denis nampak terdiam lalu menundukkan wajahnya. Tubuhnya bergetar sesaat namun saat Aruna menyentuh bahunya Denis pun terlihat lebih tenang.


“ Denis gapapa kan...?” tanya Aruna hati-hati.


“ Gapapa Run, makasih ya udah ngasih tau. Kadang samar-samar Aku inget kalo Aku sempet ngeliat Bapak sama Ibu dari tempat yang tinggi. Aku udah teriak manggil mereka tapi anehnya mereka ga denger. Sebelum pingsan Aku juga sempet liat hantu yang berdiri di belakang Aku, serem banget Run. Gara-gara itu Aku jadi takut ke kamar mandi selama beberapa hari...,” kata Denis sambil bergidik.


“ Jadi waktu Kami menjenguk, Kamu belum mandi dong...,” kata Aruna sambil mendelik.


“ Iya...,” sahut Denis sambil nyengir.

__ADS_1


“ Iiihhh jorok...,” kata Aruna sambil menutup hidungnya.


“ Ngapain pake tutup hidung segala sih Run. Sekarang Aku udah rajin mandi tau...!” sahut Denis lantang hingga membuat Aruna tertawa geli.


Mereka masih tertawa saat Iza datang menghampiri keduanya. Setelahnya Denis dan Aruna beranjak pergi meninggalkan sekolah sambil saling melambaikan tangan.


\=====


Kini Aruna telah duduk di bangku SMP kelas dua. Dan saat ini Aruna tengah disibukkan dengan ujian kenaikan kelas yang berlangsung selama seminggu.


Pagi itu Aruna nampak meringis saat keluar dari kamar lalu bergabung dengan kedua orangtuanya di meja makan.


“ Kamu kenapa Nak, sakit...?” tanya Diana.


“ Ga tau Ma. Perutku melilit aja dari kemarin. Aku pikir kebelet pup, tapi pas di toilet malah ga keluar apa pun...,” sahut Aruna.


“ Bagian mana yang sakit, atas atau bawah...?” tanya Diana sambil menyentuh perut Aruna.


“ Di sini Ma, nyeri banget kaya kram gitu...,” sahut Aruna sambil menempelkan telapak tangan Diana di perutnya.


Diana nampak tersenyum tipis lalu mengecup kepala Aruna dengan sayang. Kemudian ia mengambil obat pereda nyeri dari kotak P3K dan menyodorkannya kearah Aruna.


“ Minum ini, insya Allah cepat sembuh dan Kamu ga kesakitan lagi...,” kata Diana.


Aruna mengangguk lalu segera meminum obat pemberian sang mama. Setelahnya Aruna kembali berdiri untuk bersiap-siap pergi sekolah.


“ Itu obat apa Ma ?. Jangan sembarangan kasih obat Ma, bahaya...,” kata Arka mengingatkan.


“ Itu kan obat pereda nyeri kalo Kamu lagi datang bulan Ma. Kok Kamu kasih ke Aruna sih...?” tanya Arka tak mengerti.


“ Kalo diliat dari gejalanya, sakit perut yang dirasa Aruna itu sama persis sama orang yang mau datang bulan Pa. Keliatannya sebentar lagi Aruna bakal ngelewatin fase anak-anak menuju remaja alias akil baligh lho Pa...,” sahut Diana sambil berbisik.


Jawaban Diana membuat Arka tertegun sejenak lalu tersenyum. Kemudian Arka menatap Aruna yang mengenakan sepatunya sambil berdendang kecil.


“ Aruna berangkat sekolah ya Ma, Pa...,” pamit Aruna sambil mencium punggung tangan Diana dan Arka bergantian.


“ Iya, hati-hati ya Nak...,” sahut Diana dan Arka bersamaan.


“ Ok Ma, Pa. Assalamualaikum...,” kata Aruna lalu mengayuh sepeda BMX kesayangannya.


“ Wa alaikumsalam...,” sahut kedua orangtuanya bersamaan.


Diana dan Arka nampak melepas kepergian Aruna sambil tersenyum. Diana ingat betul saat awal masuk SMP Aruna menolak diantar jemput oleh supir keluarga.  Aruna memilih berangkat sekolah sendiri tanpa diantar. Aruna meminta sepeda baru sebagai alat transportasinya dan Arka menyanggupinya karena letak sekolah yang memang bisa ditempuh dengan sepeda.


Hari itu Aruna menyelesaikan soal-soal ujian dengan cepat karena merasa tak nyaman dengan rasa sakit di perutnya. Setelahnya ia bergegas pulang ke rumah karena memang tak ada mata pelajaran lain.


Aruna mengayuh sepedanya dengan cepat. Karena ingin tiba di rumah lebih cepat, Aruna mengambil jalan pintas yang melewati perkebunan milik warga. Perkebunan itu terlihat sangat sepi padahal saat itu siang hari.


Aruna menghentikan laju sepedanya saat mendengar suara bergemerisik di sela pepohonan. Ia mendongakkan kepalanya untuk melihat sesuatu yang melintas di atas sana. Aruna terkejut dan membulatkan mata saat melihat ‘Om Wowo’ ( genderuwo penjaga rumah ustadz Zaid ) tengah bertengger di atas pohon sambil menatapnya.


“ Ya Allah, bikin kaget aja. Om Wowo ngapain di sana...?” tanya Aruna sambil menepuk dadanya untuk menetralisir rasa terkejutnya.

__ADS_1


“ Lagi nemenin Kamu. Kasian kan kalo sendirian di tempat sepi kaya gini...,” sahut genderuwo itu sambil tersenyum.


“ Aish Om Wowo baik banget sih. Makasih yaa...,” kata Aruna sambil tertawa kecil.


“ Sama-sama, udah buruan pulang. Rok Kamu udah basah tuh...,” kata genderuwo itu sambil memalingkan wajahnya kearah lain.


Aruna memperhatikan rok yang dipakainya dan terkejut saat melihat sebagian roknya basah. Saat Aruna menyentuh rok itu, ia melihat cairan merah di telapak tangannya dan terkejut.


“ Darah, kok ada darah di sini...?” tanya Aruna panik.


“ Gapapa Aruna. Makanya Kamu pulang sekarang ya. Ayo cepat...,” kata genderuwo itu setengah memaksa.


Aruna mengangguk lalu memacu sepedanya dengan kecepatan tinggi. Sesekali Aruna meringis karena rasa nyeri di perutnya yang kembali menyerang. Lima menit kemudian Aruna tiba di rumah Ialu menjerit memanggil sang mama hingga membuat Diana terkejut bukan kepalang.


“ Ada apa Nak...?” tanya Diana.


“ Mama, tolong Aku Ma...,” sahut Aruna sambil menangis.


“ Kamu kenapa Sayang...?” tanya Diana sambil mengusap air mata Aruna.


“ Ada darah di rok Aku Ma. Aku ga tau darah darimana, Aku takut Ma...,” sahut Aruna di sela tangisnya.


Diana yang mengerti jika Aruna mengalami datang bulan perdananya pun hanya tersenyum sambil menenangkan Aruna.


“ Gapapa, itu namanya darah menstruasi. Itu tandanya Aruna udah remaja dan bukan Anak kecil lagi. Biasanya dalam agama disebut akil baligh. Itu wajar dan pasti dialami oleh semua perempuan Aruna..,” kata Diana dengan lembut.


“ Jadi ini yang namanya haidh Ma...?” tanya Aruna sambil menghapus air mata yang membasahi wajahnya.


“ Betul. Sekarang Aruna masuk yuk, bersihin darahnya dan cuci sampe bersih ya. Mama siapin pembalut buat Aruna nanti...,” kata Diana yang diangguki Aruna.


Kemudian Aruna membersihkan diri lalu mencuci pakaiannya yang terkena darah. Setelahnya Aruna duduk di bersandar di atas tempat tidur sambil menunggu sang mama membawakan obat untuknya.


Tiba-tiba Aruna tersentak saat mengingat sesuatu yang mengikutinya tadi.


“ Aku yakin itu bukan Om Wowo. Ada sesuatu yang ngikutin Aku sebelum Om Wowo datang, tapi apa ya...,” gumam Aruna sambil menggigit bibirnya.


Saat itu lah suara gemerisik dedaunan kembali terdengar. Aruna menoleh kearah sumber suara dan terkejut saat melihat sepasang mata tengah mengintainya dari balik rimbunan pepohonan di samping kamarnya.


Aruna berdiri dan bersiap mengejar sepasang mata yang mengintainya tapi urung ia lakukan karena Diana masuk ke dalam kamarnya sambil membawa cangkir berisi wedang jahe untuk Aruna.


“ Kamu ngapain di sana Aruna. Ingat ya, Kamu ini udah besar jadi ga boleh keluar lewat jendela lagi. Kalo mau keluar masuk ya lewat pintu dong jangan lewat jendela. Kebiasaan jelek kok dipiara sih...,” kata Diana galak.


“ Iya, maaf Ma. Itu apaan Ma...?” tanya Aruna berusaha mengalihkan pembicaraan.


“ Ini namanya wedang jahe. Manfaatnya banyak lho Nak. Buat menghangatkan badan, buat  menghilangkan nyeri...,” kata Diana sambil terus bicara.


Diana masih menjelaskan manfaat jahe untuk tubuh kepada Aruna. Sayangnya Aruna mengabaikan semua penjelasan sang mama karena kedua matanya fokus menatap keluar jendela dimana pemilik sepasang mata yang mengintainya itu berada. Samar-samar Aruna mendengar suara geraman hewan buas seolah menandakan sang pemilik mata tengah kesal padanya.


Diam-diam Aruna mengepalkan tangannya karena merasa jika sang pemilik mata tengah mengancam keselamatannya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2