
Jika Aruna sedang bersiap menghadapi 'serangan' Kalisha, hal berbeda justru dialami Kenzo.
Kenzo yang saat jam istirahat masih harus menyelesaikan laporan pengeluaran barang, nampak tak menyadari jika peti kayu di sudut ruangan nampak bergerak perlahan.
Tak ada orang lain di sana selain Kenzo dan Dito sang kepala gudang. Karyawan lain langsung membubarkan diri dan meninggalkan gudang saat bel istirahat berdering tadi.
" Kalo udah selesai Kamu bisa langsung istirahat Ken...!" seru Dito dari ambang pintu gudang.
" Iya Pak, sedikit lagi selesai...!" sahut Kenzo dengan lantang.
" Sedikit laginya tuh seberapa Ken...?" tanya Dito sambil menghampiri Kenzo.
Kenzo memperlihatkan buku laporan yang tengah diisinya kepada Dito.
" Masih satu halaman lagi Pak. Abis ini selesai...," kata Kenzo.
" Ini mah lumayan lama Ken...," sergah Dito sambil meringis.
" Bapak kenapa, sakit...?" tanya Kenzo sambil menatap wajah Dito.
" Saya mules pengen nyetor Ken...," sahut Dito sambil menekan perutnya hingga membuat Kenzo tertawa.
" Ya Allah, kirain kenapa Pak. Kalo Bapak percaya sama Saya, tinggal aja Pak. Ntar Saya yang kunci pintunya. Asal di depan udah ditempel label close aja biar Saya ga repot...," kata Kenzo.
Gudang memang beroperasi saat jam kerja. Jadi karyawan hanya bisa melakukan pengambilan barang yang mereka perlukan saat jam kerja atau saat gudang memasang label open di depan pintu.
Dito nampak berpikir sejenak. Sebenarnya dia tak ingin mempercayakan semuanya pada Kenzo yang notabene adalah karyawan magang itu. Tapi desakan dalam perutnya membuatnya tak bisa berpikir jernih. Harusnya ia meminta Kenzo keluar dan melanjutkan pekerjaannya nanti. Yang dilakukan Dito justru sebaliknya. Dito memberikan kunci gudang kepada Kenzo lalu bergegas pergi ke toilet.
Kenzo menatap pintu yang ditutup Dito dengan tatapan nanar.
" Ceroboh banget. Untung Gue yang kerja di sini. Kalo orang lain bisa abis nih semua...," gerutu Kenzo sambil menggelengkan kepalanya.
Kenzo kembali melanjutkan pekerjaannya membuat laporan. Saat itu lah ekor mata Kenzo menangkap gerakan peti dari sudut ruangan. Kenzo pun menghentikan pekerjaannya lalu menoleh kearah peti kayu di sudut ruangan.
__ADS_1
Tak ada gerakan apa pun saat Kenzo menatap peti dengan intens. Tapi saat Kenzo kembali mengalihkan tatapannya, peti itu kembali bergerak bahkan kini menimbulkan suara hingga mau tak mau Kenzo kembali menoleh.
Dengan gemas Kenzo berdiri lalu menghampiri peti kayu itu.
" Apaan sih, mau nakutin Gue ya. Ga mempan kali. Gue pernah ngalamin yang lebih serem daripada ini...," kata Kenzo sambil mendekati peti kayu itu.
Kenzo berhenti tepat di depan peti kayu itu. Kenzo mengamati sejenak peti itu sambil mengerutkan keningnya karena seingatnya tak ada apa pun di sana tadi.
" Peti darimana nih. Kok mendadak nongol di sini. Bentuk dan ukurannya juga beda sama peti yang lain. Jangan-jangan...," gumaman Kenzo terhenti saat peti itu tiba-tiba bergerak lagi.
Kenzo yang terkejut pun mundur satu langkah ke belakang dan kembali mengamati peti itu seolah sedang mengingat sesuatu.
" Ini kan peti yang tempo hari dibawa Pak Dito. Apa isinya ya, kenapa Gue ga boleh ngeliat isinya...," kata Kenzo sambil kembali mendekati peti.
Sebelum membuka peti, Kenzo memutuskan mengunci pintu gudang supaya tak ada orang lain yang mencurigai aksinya. Lalu Kenzo berjalan cepat menuju peti kayu itu.
Kemudian Kenzo mengangkat peti kayu itu dan meletakkannya di atas meja. Sebelum membuka peti Kenzo nampak berdoa dan berdzikir.
" Ya Allah, semoga ini bukan sesuatu yang buruk. Bismillahirrohmaanirrohiim..., laa haula wala quwwata ilaa billahill aliyyil adziim...," kata Kenzo lirih.
" Astaghfirullah aladziim...! " seru Kenzo sambil menutup hidung karena bau busuk yang menguar saat peti dibuka membuatnya mual seketika.
Karena tak tahan dengan bau busuk yang menguar itu Kenzo berniat menutup kembali peti itu. Tapi tiba-tiba ia teringat dengan Aruna. Kenzo pun meraih ponselnya dan mengabadikan peti beserta isinya dengan kamera ponselnya itu lalu mengirimnya ke Aruna. Sebelumnya ia juga membubuhi kata 'SECRET' yang ditulisnya dengan huruf kapital. Kenzo berharap Aruna merahasiakan temuannya itu dari orang lain termasuk Ria.
" Beres. Sekarang Gue harus cepet-cepet keluar dari sini...," kata Kenzo sambil menutup peti lalu meletakkannya kembali di tempat semula.
Setelahnya Kenzo bergegas keluar dari gudang dan mengunci pintu lalu berlari menuju kantin. Ia berharap bertemu Aruna di sana.
Kenzo berhenti di depan kantin. Saat itu ia melihat Aruna tengah duduk bersama Ria. Nampaknya Aruna belum membuka pesan yang dikirim Kenzo tadi. Tak sabar Kenzo mencoba menghubungi Aruna. Beruntung saat itu Ria nampak berdiri dan menjauhi Aruna untuk mengambil sesuatu.
Kenzo melihat Aruna meraih ponselnya. Nampaknya Aruna bingung mengapa Kenzo menghubunginya. Aruna mengira Kenzo dan Ria sedang bermasalah hingga memerlukan bantuannya seperti biasa.
" Assalamualaikum Ken. Kenapa lagi Lo...?" tanya Aruna santai.
__ADS_1
" Wa alaikumsalam. Run, tolong buka chat Gue ya. Sekarang...!" sahut Kenzo cepat.
Aruna mengerutkan keningnya lalu bergegas melakukan apa yang diminta Kenzo. Kedua bola matanya membulat saat melihat chat yang dikirim Kenzo.
Aruna balik menghubungi Kenzo dan mengedarkan pandangannya ke penjuru kantin. Ia melihat Kenzo nampak berdiri di balik pilar tak jauh dari kantin dan sedang mengamatinya. Kenzo pun nampak memberi kode agar Aruna tak memberitahu kehadirannya pada sang kekasih. Aruna mengangguk lalu bertanya melalui sambungan telephon.
" Lo nemu itu dimana...?" tanya Aruna.
" Di gudang Run. Kalo ga salah inget, Gue juga pernah nemuin peti serupa di gudang waktu hari pertama magang. Waktu itu Gue sempet curiga dan mau ngecek isinya tapi dilarang sama Pak Dito...," sahut Kenzo.
" Ini jelas jasad bayi Ken. Kayanya baru lahir deh. Masih ada tali pusat yang melilit di kakinya...," kata Aruna.
" Tali pusat sepanjang itu kayanya sengaja dililitin buat ngiket tangan dan kakinya ya Run...," tebak Kenzo sambil mengusap tengkuknya yang tiba-tiba terasa menebal.
" Kayanya sih gitu Ken. Eh, Ria dateng tuh. Ntar Kita lanjut ya. Sekarang sebaiknya Lo pura-pura ga tau aja...," kata Aruna sambil melirik kearah Ria.
" Ok. Gue ke sana gabung sama Lo deh. Gue juga mau makan...," sahut Kenzo.
Aruna mengangguk lalu mengakhiri pembicaraan mereka. Ria nampak tersenyum melihat Aruna yang sedikit gugup.
" Kenapa Run, malu-malu gitu. Pasti Kautsar ngerayu Lo lagi ya...," kata Ria.
" Bisa aja Lo. Eh, tuh si Kenzo...," kata Aruna sambil menunjuk Kenzo dengan ujung dagunya.
Ria menoleh dan tersenyum melihat kehadiran Kenzo. Lalu kedua sejoli itu nampak saling menautkan jari saat bertemu. Kenzo pun duduk di samping Ria dan menatap gadisnya sambil tersenyum.
" Udah ga ngambek kan...?" tanya Kenzo.
" Siapa yang ngambek, Kamu suudzon aja sih...," sahut Ria.
" Alhamdulillah. Aku jadi tenang deh. Kamu tau ga, gara-gara Kamu ngambek Aku sampe ga fokus ngerjain semuanya tadi. Nih aja Aku sampe telat makan. Untung diingetin temenku kalo udah jam istirahat. Kalo ga, alamat sampe sore Aku harus nahan lapar...," kata Kenzo membual namun berhasil membuat Ria melambung.
" Ga usah lebay deh Ken. Mual Gue dengernya...," sela Aruna sambil mendengus kesal.
__ADS_1
Sikap Aruna membuat Kenzo dan Ria tertawa. Tanpa mereka sadari, ada sosok bayi dengan tali pusat menjuntai nampak tengah berdiri mengamati mereka dari ambang pintu kantin.
bersambung