Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
191. Hancurkan Saja


__ADS_3

Kemudian Aruna duduk di hadapan ruh bayi itu dan mulai mengajaknya bicara. Sayangnya sang bayi kesulitan menyampaikan keinginannya karena memang belum bisa bicara.


Aruna menepuk keningnya sendiri seolah menyesali kebodohannya.


" Maaf Tante lupa kalo Kamu belum bisa bicara. Kita coba pake cara lain ya...," kata Aruna lembut dan diangguki oleh ruh bayi itu.


Kemudian Aruna memejamkan matanya dan tersenyum saat bisa melihat masa lalu sang bayi.


Saat itu Aruna melihat sepasang muda mudi yang kasmaran tengah melakukan hubungan int*m di sebuah kamar. Keduanya adalah remaja usia belasan yang masih duduk di bangku SMA ditandai dengan seragam keduanya yang berwarna putih abu-abu. Setelah beberapa kali melakukan hubungan terlarang itu, gadis belia itu hamil hingga membuat keduanya panik.


" Gimana nih Rez, Gue hamil...," kata gadis bernama Amanda itu dengan cemas.


" Ck, kok bisa sih...," kata Reza sambil mengacak rambutnya.


" Kok bisa ?. Ya bisa lah. Kita kan ngelakuinnya ga cuma sekali Rez...!" kata Amanda lantang.


" Ssstt..., ga usah pake teriak. Gue denger kok...?!" kata Reza sambil membekap mulut Amanda dengan telapak tangannya.


" Mmm... mmm...," sahut Amanda sambil menepuk punggung tangan Reza yang membekap mulutnya.


Reza melepaskan tangannya lalu mulai bicara serius.


" Gue bakal bilang sama orangtua Gue biar ngelamar Lo secepatnya...," kata Reza hingga membuat Amanda terharu.


" Serius Rez...?" tanya Amanda.


" Serius lah. Pokoknya Lo tenang aja. Dan Gue minta tolong jangan gugurin bayi ini. Kalo Lo ga mau ngerawat dia, biar Gue aja...," pinta Reza.


" Gue juga mau bayi ini Rez. Gue pasti mempertahankan dia...," janji Amanda sambil memeluk erat perutnya.


Reza pun tersenyum sambil mengangguk. Kemudian keduanya berpisah untuk menjalankan misi mereka.


Bisa ditebak bagaimana reaksi kedua orangtua Reza dan Amanda. Mereka marah besar dan melarang terjadinya pernikahan dini antara Reza dan Amanda.


Orangtua Amanda yang tak lain adalah Dito dan istrinya nampak terpukul saat mendengar pengakuan Amanda. Mereka tak menyangka jika pergaulan Amanda telah menghasilkan bayi di dalam rahim Amanda.


" Aborsi bayi itu secepatnya...!" kata Dito lantang.


" Ga mau Pa. Aku mau membesarkan dan merawat bayi ini...!" sahut Amanda.


" Mama...!" panggil Dito sambil menatap tajam kearah istrinya.


" Iya iya Pa. Biar Mama yang urus nanti...," sahut istri Dito ketakutan.


" Aku ga mau tau caranya. Pokoknya bayi itu harus lenyap...," kata Dito sambil beranjak ke kamar.


Istri Dito nampak bingung. Satu sisi ada Amanda yang merupakan putri satu-satunya. Sedangkan di sisi lain ada Dito yang merupakan suaminya. Istri Dito pun berdiri lalu mendekati Amanda dan berusaha membujuknya.


Amanda nampak menangis histeris mendengar ucapan sang mama. Ia tak rela membuang bayinya yang merupakan buah cintanya dengan sang kekasih. Apalagi Reza telah memintanya untuk mempertahankan bayi itu.

__ADS_1


Mendengar Amanda menolak melakukan aborsi, Dito pun kesal. Ia mengambil jalan pintas untuk mengakhiri kemelut itu. Sayangnya jalan yang ditempuh Dito adalah jalan sesat. Dito memang tak melakukan apa pun namun ia menggunakan jasa seorang dukun untuk menghabisi janin dalam rahim Amanda.


" Berapa usia kandungannya Ma...?" tanya Dito pada sang istri kala itu.


" Katanya sih tiga bulan Pa...," sahut istri Dito sambil memijit keningnya.


" Itu kan masih bisa diaborsi Ma. Kenapa Kamu ga membujuk Amanda sih...?" tanya Dito gusar.


" Aku coba lagi besok ya Pa. Sekarang biar Amanda istirahat dulu. Kasian dia pasti capek dan shock banget denger omongan Papa tadi...," kata istri Dito.


Dito terdiam dan memilih keluar dari rumah malam itu. Tujuannya hanya satu yaitu mencari dukun untuk menyingkirkan semua duri yang menghambat masa depan Amanda kelak.


Dito kembali dua hari kemudian dan membawa buah tangan berupa rujak untuk Amanda. Sang istri nampak tersenyum senang karena mengira suaminya mulai melunak dan mengijinkan Amanda untuk menikah dengan Reza.


" Jangan bahas itu sekarang Ma. Aku bawa rujak karena Aku ingat waktu Kamu hamil Kamu ngidam makan rujak. Aku pikir pasti Amanda juga begitu karena dia kan lagi hamil...," kata Dito ketus.


" Iya iya. Makasih ya Pa...," sahut istri Dito.


" Jangan kasih tau Amanda kalo Aku yang beli rujaknya. Aku ga mau dia besar kepala dan berpikir kalo Aku mengijinkannya melahirkan bayi itu...," kata Dito sambil membanting pintu.


Istri Dito menggelengkan kepala melihat sikap suaminya. Setelahnya ia memindahkan rujak itu ke atas piring lalu memberikannya kepada Amanda yang sembunyi di kamar.


Efek yang diinginkan Dito pun terlihat sore harinya. Amanda mengalami sakit perut hebat dan terpaksa dilarikan ke Rumah Sakit. Saat dokter mengecek kondisi kehamilannya, ternyata bayi itu masih bertahan dan bisa diselamatkan.


Dito pun makin kesal saat mengetahui bayi dalam rahim Amanda berhasil selamat. Yang mengejutkan adalah saat dokter mengatakan jika usia kandungan Amanda saat itu mendekati tujuh bulan. Itu artinya kecil kemungkinan untuk Amanda melakukan aborsi karena bisa membahayakan jiwanya.


Dito pun kembali ke rumah sang dukun dan memintanya melakukan sesuatu.


" Ini belum 24 jam dan Kau memintaku melakukan dua hal berbeda Dito. Kau tau konsekwensinya kan...?!" hardik sang dukun.


" Aku tau. Ini ada uang tambahan, Aku rasa ini lebih dari cukup kan Mbah. Apalagi jumlahnya lebih besar dari yang Aku kasih semalam...," kata Dito sambil meletakkan amplop coklat berisi uang di pangkuan sang dukun.


Sang dukun nampak memindai amplop itu dengan ekor matanya. Setelahnya dia tersenyum lalu memasukkan uang itu ke balik pakaiannya.


" Kau mau Aku lakukan apa lagi Dito...?" tanya sang dukun sambil membakar kemenyan.


" Habisi saja bayi itu Mbah...," kata Dito cepat.


" Kau serius ?. Apa Kau tak akan menyesal...? " tanya sang dukun.


" Aku akan lebih menyesal jika menyaksikan anak haram itu hidup berkeliaran di depanku Mbah...," sahut Dito.


" Baik. Cara apa yang Kau inginkan...?" tanya sang dukun.


" Terserah Mbah aja, yang penting beres...," sahut Dito.


Dukun itu nampak menyeringai mendengar jawaban Dito. Di depan mata Dito sang dukun mengeluarkan sebuah boneka terbuat dari ijuk lalu menyayatnya berkali-kali dengan silet yang telah ia mantrai.


Saat sang dukun melakukan itu Dito nampak bergidik ngeri. Ia membayangkan tubuh sang bayi hancur karena disayat berulang kali.

__ADS_1


Setelah selesai melakukan aksinya, sang dukun nampak mengambil tali lalu mengikatkan tali itu ke tangan dan kaki boneka itu.


" Kenapa diikat Mbah...?" tanya Dito.


" Ini supaya ruh bayi itu ga bisa membalas dendam. Dia hanya bisa menunjukkan wujudnya tapi ga bakal bisa menyentuh Kamu atau Aku...," sahut sang dukun.


" Kenapa harus muncul di depanku Mbah. Hancurkan saja dia supaya ga mengganggu Aku...!" kata Dito panik.


" Aku hanya dukun Dito. Yang menguasai nyawa kan Sang Pencipta semesta. Jadi jika Sang Pencipta menghendaki dia berseliweran di muka bumi Aku ga bisa berbuat apa-apa. Tapi Kamu ga usah takut Dito. Dia ga akan mengganggumu. Percaya lah...," kata sang dukun.


" Saya pegang janjinya ya Mbah...," kata Dito sambil mengusap peluh di keningnya.


Dukun itu hanya tersenyum sambil mengangguk.


Sedangkan di saat bersamaan Amanda kembali merasakan sakit di perutnya. Amanda pun jatuh pingsan karena tak kuasa menahan sakit.


Saat di perjalanan menuju ruang bersalin bayi dalam rahim Amanda lahir tanpa disadari siapa pun. Setelahnya bayi itu melesat pergi entah kemana seolah ada kekuatan tak kasat mata yang membawanya. Tinggal Amanda yang masih tak sadarkan diri dengan darah yang membasahi bagian bawah tubuhnya.


Saat dokter mengecek bagian bawah tubuh Amanda didapati tanda usai melahirkan hingga membuat sang dokter bertanya.


" Mana bayinya...?" tanya sang dokter.


" Masih di dalam rahim pasien dok...," sahut salah seorang perawat.


" Pasien sudah melahirkan, bayi apa lagi yang Kamu maksud...," kata sang dokter hingga mengejutkan tiga perawat yang saat itu ada di dalam ruang bersalin.


" Tapi Kami belum melakukan apa pun dok...," sahut salah seorang perawat.


" Ck. Kalian ceroboh sekali. Cari bayi itu di sepanjang koridor yang tadi Kalian lewati. Pasien ini baru aja melahirkan tapi Kalian malah bertingkah seolah ga terjadi apa-apa...!" kata sang dokter kesal.


Dua orang perawat bergegas keluar dari ruang bersalin lalu menyusuri jalan yang tadi mereka lewati. Mereka terlihat bingung karena tak melihat jejak darah sedikit pun di lantai koridor yang menandakan Amanda telah melahirkan di perjalanan.


" Aneh banget sih, ga ada apa-apa di sini. Kalo pun pasien melahirkan masa Kita ga tau...," kata salah satu perawat.


" Betul. Orang melahirkan juga pasti ada bekasnya. Kita ga liat atau denger apa pun tadi...," sahut perawat lainnya.


Karena lelah mencari akhirnya kedua perawat itu kembali ke ruang bersalin.


Sedangkan di tempat lain terlihat sang dukun tengah menggenggam sesuatu yang berlumuran darah. Ia nampak tertawa saat mengetahui misinya berhasil.


" Apa itu Mbah...?" tanya Dito penasaran.


" Ini bayi yang Kau inginkan itu Dito. Lihat lah...!" kata sang dukun sambil memperlihatkan jasad bayi berlumuran darah dalam genggaman kedua tangannya.


Kemudian sang dukun meletakkan bayi itu dalam sebuah peti kayu yang telah ia rajah sebelumnya.


Dito pun tersenyum puas melihat hasil kerja sang dukun. Setelahnya Dito bergegas pergi ke Rumah Sakit untuk melihat kondisi Amanda.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2