Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
167. Pembagian Tugas


__ADS_3

Aruna, Kenzo dan Ria ditempatkan di divisi yang berbeda. Meski pun begitu mereka tak mempermasalahkan hal itu dan berusaha profesional dalam bekerja.


Aruna teringat nasehat bijak sang suami saat ia membicarakan kemungkinan dia dan kedua temannya akan ditugaskan di divisi yang berbeda.


" Gapapa, itu bagus buat Kamu, Kenzo dan Ria...," kata Kautsar.


" Lho kok bagus sih. Kalo ditempatin di divisi yang sesuai sama mata kuliah yang Kita ambil sih enak. Tapi kalo ntar ditaro di divisi yang sama sekali berbeda gimana...?" tanya Aruna.


" Justru itu bagusnya. Kalian bisa masuk ke bidang yang baru dan bertambah wawasan. Dunia kerja itu hampir sama kaya kehidupan lho Sayang. Seringkali kejadian kuliahnya fakultas apa, eh kerjanya di bagian apa. Kaya temanku yang Sarjana Pendidikan eh malah kerja jadi security. Ada juga yang Sarjana Komunikasi malah jadi OB di kantorku...," kata Kautsar menjelaskan.


" Kok mereka mau sih...?" tanya Aruna tak mengerti.


" Awal lulus kuliah semua masih berusaha ada di jalurnya masing-masing. Tapi saat usia bertambah dan tuntutan hidup makin banyak, terpaksa beralih supaya bisa bertahan hidup. Apalagi buat mereka yang udah berkeluarga. Jeritan lapar dari anak dan istri membuyarkan semuanya. Karena itu mereka rela banting stir jadi apa pun supaya bisa tetap makan...," kata Kautsar lagi.


Ucapan Kautsar membuat Aruna tertegun.


" Ga banyak yang bisa kerja di bidang yang emang dia minati. Aku adalah salah satu diantara jutaan lulusan Sarjana yang bisa kerja sesuai dengan minat dan bakatku..Makanya Aku bersyukur dan berusaha mengerjakan tugasku semaksimal mungkin...," kata Kautsar menambahkan.


Aruna nampak menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Ia bersiap untuk segala kemungkinan termasuk berbeda divisi dengan Kenzo dan Ria.


Dan kini Aruna, Kenzo dan Ria sedang berada di ruangan Manager Personalia. Mereka mendengarkan semua pengarahan sang Manager dengan serius.


Saat pertama kali masuk ke dalam ruangan,Manager Personalia yang bernama Simon nampak menyambut kehadiran Kenzo dan kedua temannya itu dengan ramah. Tapi Kenzo mengingatkan Simon agar tak memperlakukan dia dan kedua temannya berbeda dari karyawan lain.


" Lho kenapa Mas. Biasanya juga gapapa...," kata Simon sambil mengerutkan keningnya.


" Iya, itu kan situasinya beda Pak Simon. Kalo itu kan Saya lagi nemenin Kakek Saya. Nah kalo sekarang Saya dan teman Saya lagi magang di sini. Perlakukan Kami yang wajar aja. Kalo Kami melakukan kesalahan dan patut dimarahi ya lakukan aja. Kami bakal terima kok. Iya kan Run, Ri...?" tanya Kenzo sambil menatap kedua temannya bergantian.


" Betul Ken...," sahut Aruna dan Ria bersamaan hingga membuat Simon tertawa.


" Jangan sampe karyawan tetap di sini iri sama Kami dan bikin masalah yang justru bikin Kami ga enak nantinya...," sela Aruna.


" Kalo soal itu Kalian ga usah khawatir. Di kantor ini anti bullying. Selain itu di penjuru kantor ini udah dipasang CCTV, jadi ga ada gerak-gerik karyawan yang lolos dari kamera...," kata Simon sesumbar.


Aruna hanya tersenyum kecut mendengar ucapan Simon. Ia tahu jika CCTV juga memiliki kelemahan. Aruna hanya bisa menatap kearah lain untuk mengalihkan perhatiannya selama Simon mengatakan hal-hal yang tak masuk akal. Bukan rahasia umum jika karyawan baru seringkali menjadi bulan-bulanan karyawan senior. Apalagi status mereka bertiga hanya lah karyawan magang.


Setelah Simon memberi beberapa pengarahan penting, Aruna dan kedua temannya pun diminta mengikuti seorang karyawan senior.


" Martha akan menunjukkan di divisi mana Kalian akan bekerja nanti...," kata Simon.

__ADS_1


" Baik Pak...," sahut Aruna, Ria dan Kenzo bersamaan.


" Nanti Kamu antar mereka ke divisi masing-masing ya...," kata Simon sambil menyerahkan catatan kecil kepada Martha.


" Baik Pak...," sahut Martha dengan takzim


Kemudian Martha mengajak Aruna dan kedua temannya keluar dari ruangannya. Sepanjang perjalanan Martha terus bicara mengenai keunggulan perusahaan itu hingga membuat Kenzo tersenyum bangga.


" Nah di sini divisi marketing. Mbak Ria ada di divisi ini ya...," kata Martha sambil tersenyum.


" Baik Bu, makasih...," sahut Ria antusias.


" Ini Pak Budi, beliau Super Visor yang akan mengajari Anda di sini...," kata Martha lagi.


" Selamat pagi Pak, Saya Ria calon karyawan magang...," sapa Ria dengan santun.


" Selamat pagi Mbak Ria. Semoga Kita bisa bekerja sama dengan baik ya...," kata Budi dengan ramah.


" Baik, makasih Pak...," sahut Ria.


" Kalo gitu selamat bekerja, Kami pamit dulu Pak Budi...," kata Martha.


Kini tinggal Kenzo dan Aruna yang mengikuti Martha. Aruna menoleh kearah Kenzo. Terlihat jelas wajah Kenzo yang kesal dan itu membuat Aruna bingung.


" Kenapa Lo...?" tanya Aruna.


" Kenapa Ria harus kerja sama orang itu sih. Ga bisa sama yang laen aja gitu...," sahut Kenzo ketus hingga membuat Aruna tersenyum.


" Lo jelous...?" tanya Aruna sambil menahan tawa.


" Dikit...," sahut Kenzo hingga membuat Aruna tertawa.


" Ada apa ya...?" tanya Martha sambil menoleh kearah Aruna dan Kenzo.


" Maaf Bu, ga ada apa-apa kok...," sahut Aruna cepat.


" Oh gitu. Nah ini ruang sekretaris. Mbak Aruna diperbantukan di sini ya. Sebenarnya ada dua sekretaris di sini. Tapi berhubung yang satu sedang cuti hamil, maka tugas Mbak Aruna adalah menggantikan tugas sekretaris yang cuti itu untuk membantu tugas sekretaris utama yang namanya Bu Lian...,' kata Martha.


" Baik Bu. Tapi yang mana orangnya Bu...?" tanya Aruna sambil mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan.

__ADS_1


" Keliatannya belum datang. Biasanya memang gitu kalo hari Senin. Mbak Aruna tunggu aja di sini ya...," sahut Martha.


" Tapi Bu Lian udah tau kan kalo ada karyawan magang yang diperbantukan di sini Bu...?" tanya Aruna cemas.


Pertanyaan Aruna membuat Kenzo mengerutkan keningnya karena merasa heran. Tak biasanya Aruna bersikap seperti itu. Sedikit berbeda dan itu membuat Kenzo bertanya-tanya dalam hati.


" Tenang aja. Bu Lian udah tau kok. Mbak Aruna bisa memperkenalkan diri nanti...," sahut Martha.


" Baik Bu, makasih...," sahut Aruna.


" Sekarang Saya harus mengantar Mas Kenzo. Gapapa kan kalo ditinggal sendiri di sini...?" tanya Martha seolah mengerti kegelisahan Aruna.


" Iya Bu, gapapa...," sahut Aruna sambil tersenyum.


" Ok, selamat bekerja dan semangat...," kata Martha antusias hingga membuat Aruna dan Kenzo tertawa.


Setelahnya Martha dan Kenzo berlalu meninggalkan Aruna seorang diri di ruangan sekretaris. Aruna mencoba menepis kegelisahannya dengan mengeluarkan ponselnya. Aruna tersenyum saat ponselnya berdering dan mengetahui Kautsar lah yang menghubunginya.


" Assalamualaikum...," sapa Aruna.


" Wa alaikumsalam. Gimana Sayang, Kamu ditaro di divisi apa...?" tanya Kautsar.


" Aku ditugasin bantuin sekretaris senior karena sekretaris yang satunya lagi cuti...," sahut Aruna.


" Oh gitu. Tapi kok ga semangat...?" tanya Kautsar.


" Males aja kerja di bagian ini. Biasanya kan mereka ga mentolerir kesalahan sekecil apa pun. Terus auranya juga ga enak di sini...," sahut Aruna sambil memijit keningnya.


" Banyak dzikir aja ya. Ga usah negatif thinking. Berusaha semaksimal yang Kamu bisa, salah itu biasa dimarahin ya wajar. Pokoknya jangan kalah sebelum berperang. Ok Sayang...?" tanya Kautsar memberi semangat.


" Ok, makasih Sayang...," sahut Aruna sambil tersenyum.


" Aku kerja dulu ya. Assalamualaikum..., " kata Kautsar.


" Wa alaikumsalam..., " sahut Aruna lalu memasukkan ponselnya ke dalam tas.


Saat Aruna mendongakkan kepalanya ia terkejut melihat seorang wanita berdiri tegak di ambang pintu dan tengah menatap kearahnya.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2