Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
258. Ria dan Kenzo


__ADS_3

Sementara itu dokter Sheina mulai merasa tak nyaman karena ia tahu beberapa perawat menggunjingkan dirinya. Hal yang menjadi isi pembicaraan mereka adalah seputar suara laki-laki di ruang kerjanya. Kemudian dokter Sheina meminta Alam yang 'berbeda alam' dengannya untuk sedikit menjauh beberapa waktu darinya.


" Kenapa...?" tanya Alam.


" Karena sekarang Aku digosipin g*la sama beberapa perawat..., " sahut Sheina gusar.


" G*la, kok bisa...?" tanya Alam tak mengerti.


" Karena Aku sering ketauan ngomong sendiri di ruangan...," sahut dokter Sheina.


" Tapi Kamu kan ngobrol sama Aku...," kata Alam.


" Tapi mereka ga ngerti karena mereka ga bisa ngeliat Kamu Alam...," sahut dokter Sheina berusaha sabar.


" Kamu juga ga bisa ngeliat Aku tapi Kamu mau ngerti Aku dokter Sheina...," kata Alam.


" Itu berbeda Alam. Aku terbiasa dengan kehadiranmu sejak lama. Kamu ingat kan kalo awal Kita ketemu dulu Aku juga kaget setengah mati mendengar suara tanpa wujud milikmu ini...?" tanya dokter Sheina.


Alam terdiam karena ingat betapa takutnya dokter Sheina saat ia menyapanya pertama kali dulu. Kemudian Alam menghela nafas berat lalu menganggukkan kepalanya namun tentu saja dokter Sheina tak bisa melihat yang dia lakukan.


Merasa tak ada jawaban dokter Sheina pun memanggil Alam untuk memastikan jika makhluk tak kasat mata itu masih berada di sana.


" Alam...?!" panggil dokter Sheina.


" Iya Aku masih di sini...," sahut Alam.


" Kamu belum jawab pertanyaanku Alam. Apa Kamu ingat gimana reaksi ku saat Kamu menyapaku pertama kali dulu...?" tanya dokter Sheina.


" Iya...," sahut Ala cepat.


" Gimana reaksiku saat itu Alam...?" tanya dokter Sheina.


" Kamu ketakutan...," sahut Alam hingga membuat dokter Sheina tersenyum.


" Begitu juga yang para perawat rasakan Alam. Itu manusiawi kan...?" tanya dokter Sheina.


" Iya iya itu manusiawi. Dan sayangnya Aku ga akan pernah bisa merasakan sisi manusiaku karena Aku ini sudah mati...!" kata Alam ketus lalu melesat pergi entah kemana.


" Bukan itu maksudku Alam. Alam...!" panggil dokter Sheina namun tak ada jawaban.


Sang dokter cantik nampak memijit keningnya karena ia baru saja menyinggung seseorang, bukan tapi sesuatu yang tak kasat mata yang selama ini selalu setia menemaninya.


" Maafkan Aku Alam...," gumam dokter Sheina sambil melangkah gontai menyusuri koridor Rumah Sakit.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


Pagi itu di kediaman orangtua Kenzo di Malang.


Beberapa orang terlihat sibuk keluar masuk rumah. Sementara Erlan dan istrinya nampak sedang berbincang akrab dengan para tetangga dan kerabat yang datang berkunjung. Diantara mereka terlihat Galang, Agung, Fadil, Kautsar dan tentu saja Kenzo sang calon pengantin.


" Sudah siap Mas Kenzo...?" tanya ketua RT.


" Insya Allah siap Pak RT...," sahut Kenzo mantap hingga membuat semua orang tersenyum.


" Mas Kenzo tenang aja. Setelah ini Saya jamin ga akan ada gosip yang beredar di sekitar Kita. Saya bakal kasih tau warga status Mas Kenzo dan Mbak Ria nanti...," kata ketua RT.


" Iya Pak, makasih...," sahut Kenzo.


Ketua RT mengangguk lalu berdiri saat seorang pria mengenakan sorban memasuki rumah. Ternyata itu adalah ustadz Alwi yang akan memimpin prosesi akad nikah Kenzo dan Ria.


" Lo udah siap Ken...?" tanya Galang.


" Sebenernya Gue gugup sih...," sahut Kenzo sambil nyengir.


" Ck, tadi pede banget bilang siapnya...," sindir Kautsar.


" Jangan gitu Tsar. Lo kan yang paling senior diantara Kita, ajarin Gue kek bukannya malah ngeledekin kaya gitu...," kata Kenzo kesal hingga membuat keempat temannya tertawa.


" Gitu doang...?" tanya Kenzo tak percaya.


" Iya. Itu yang Gue lakuin saat gugup menjelang akad nikah. Emangnya Lo ngarepin Gue ajarin apaan...?" tanya Kautsar sambil mengerutkan keningnya.


" Eh, Gue Kirain Lo punya resep khusus. Secara Aruna itu kan cewek yang super alias wonder woman...," sahut Kenzo sambil nyengir hingga membuat Kautsar menggelengkan kepala.


" Ck, untung Aruna ga datang. Kalo dia denger Lo ngomong kaya gini bisa abis Lo...!" sela Agung sambil mencibir.


Ucapan Agung membuat semua tertawa. Dan tawa mereka terhenti saat pintu kamar dimana Ria berada terbuka perlahan.


Semua orang menahan nafas saat melihat penampilan Ria yang mengenakan kebaya pengantin warna putih itu. Meski pun sederhana namun Ria terlihat sangat cantik hingga membuat Kenzo tak berkedip menatapnya.


" Woiii, sadar Ken...," bisik Fadil sambil menyenggol lengan Kenzo yang ada di sampingnya.


" Abisnya Ria cantik banget Dil. Iya ga sih...?" tanya Kenzo.


" Iya tau. Sekarang Lo ke meja buat akad nikah sana. Ngapain masih di sini. Kalo Lo ga mau, Ria buat Gue aja ya...," kata Fadil sambil menarik turunkan alisnya.


" Enak aja Lo. Ria tuh cuma buat Kenzo tau...," sahut Kenzo sambil berlalu.

__ADS_1


Fadil dan teman-temannya tersenyum mendengar ucapan Kenzo. Ia kembali duduk di samping Kautsar sambil mengatakan sesuatu.


" Sayang banget Aruna ga bisa liat ini ya Tsar...," kata Fadil.


" Iya. Abis mau gimana lagi, Aruna masih lemah banget. Sebenernya Gue juga ga tega ninggalin dia di rumah. Yah walau pun orangtua dan mertua Gue datang dan nemenin dia sekarang, tetep aja rasanya ada yang kurang. Kalo ga karena dipaksa hadir sama Aruna, belum tentu Gue ada di sini sekarang Dil...," sahut Kautsar.


" Gapapa Tsar. Mudah-mudahan denger cerita dari Lo ntar bisa bikin Aruna semangat dan cepet sembuh...," kata Fadil sambil menepuk punggung Kautsar dengan lembut.


" Aamiin, insha Allah iya Dil...," sahut Kautsar sambil tersenyum.


Di depan sana tampak Kenzo dan Ria yang duduk berdampingan. Keduanya terlihat gugup dan itu membuat semua orang tertawa.


" Ga usah gugup Nak. Biasanya juga main peluk aja ga liat sikon...," bisik Erlan menggoda anaknya.


" Itu kan beda Pa...," sergah Kenzo.


" Udah sih Pa, jangan digangguin terus Kenzonya. Ntar kalo gugup ga bisa ijab Kabul awas ya...," kata Nina sambil mencubit lengan suaminya.


Erlan nampak meringis sambil mengusap lengannya yang tadi dicubit sang istri sedangkan Kenzo justru tersenyum puas.


" Sudah siap ya Mas Kenzo...?" tanya ustadz Alwi.


" Insya Allah siap Pak Ustadz...!" sahut Kenzo mantap hingga membuat sang ustadz tersenyum.


" Baik, silakan Pak...," kata ustadz Alwi sambil menoleh kearah Papa Ria.


Papa Ria mengangguk lalu mengulurkan tangannya yang kemudian disambut oleh Kenzo. Kemudian mengalir lah kalimat ijab Kabul dari kedua pria itu.


Suasana pun menjadi hening dan semua hadirin mendengarkan pembacaan ijab kabul tersebut dengan seksama. Hingga tak lama kemudian kata sah pun menggema di ruangan itu.


" Saahhh... saaahhh...!" kata semua orang sambil bertepuk tangan.


" Alhamdulillah...," gumam Kenzo dan Ria bersamaan sambil saling menatap dan tersenyum.


" Cium Ken...!" teriak Galang tiba-tiba hingga membuat Kenzo dan Ria tersipu malu.


Semua orang pun tertawa mendengar ucapan Galang.


" Sabar ya Mas. Biar pengantinnya sungkeman dulu sama orangtuanya...," kata ustadz Alwi mengingatkan.


" Ok Pak Ustadz. Maaf cuma bercanda aja kok...," sahut Galang sambil nyengir hingga membuat semua kembali tertawa.


Kautsar yang tengah merekam moment pernikahan Kenzo dan Ria pun ikut tertawa.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2