Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
87. Kedatangan Shofia


__ADS_3

Kemudian Kautsar mengurai pelukannya dan menatap Aruna dengan lembut.


" Kamu ga usah khawatir, Aku ga bakal tertarik sama dia. Lagi pula dia kan lagi dirawat di Rumah Sakit Jiwa dan butuh waktu lama untuk sembuh total...," kata Kautsar sambil merapikan anak rambut Aruna ke belakang telinganya.


" Rumah Sakit Jiwa...?" tanya Aruna tak percaya.


" Iya. Kata Reyhan sih Nyonya Shofia ditemukan dalam kondisi linglung dan luka parah di rumahnya. Setelah diobati di Rumah Sakit Umum justru kondisi mentalnya yang sakit. Makanya dia dimasukin ke Rumah Sakit Jiwa...," sahut Kautsar.


" Luka kenapa...?" tanya Aruna pura-pura tak tahu.


" Ga tau. Aku kira itu karena Kamu Aruna. Tapi ngeliat Kamu bingung gini Aku jadi lega karena itu artinya Kamu ga terlibat sama luka yang diderita Nyonya Shofia itu...," sahut Kautsar sambil kembali memeluk dan mengecup kening Aruna.


Mendengar cerita Kautsar tak membuat kekhawatiran Aruna surut. Ia bahkan berniat mencari tahu kondisi Shofia kini entah bagaimana pun caranya.


\=\=\=\=\=


Dua bulan setelah Shofia menjalankan operasi plastik di Korea, wanita itu kembali ke Indonesia. Kulit wajah dan lengan serta sebagian tubuhnya yang terkena cakaran Aruna kini telah hilang. Kini kulitnya terlihat mulus tanpa cacat dan itu membuat Shofia bangga.


Hari itu Shofia nampak berjalan dengan anggun memasuki perusahaan tempat Kautsar bekerja. Di belakangnya terlihat Aida dan Lucas yang turut mendampingi Shofia.


Shofia dan Aida memilih duduk di kursi tamu sedangkan Lucas nampak menemui receptionist untuk mengkonfirmasi jadwal bertemu dengan direktur perusahaan.


Shofia terlihat mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan. Ada kegelisahan di wajahnya seolah ia sedang menunggu sesuatu.


" Gimana Luc...?" tanya Shofia saat Lucas berjalan menjauhi meja receptionist.


" Bisa Nyonya. Kita diminta tunggu sebentar karena saat ini Pak Bagas sedang ada tamu...," sahut Lucas.


" Berapa lama lagi Kita harus nunggu...?" tanya Shofia tak sabar.


" Paling lama lima belas menit. Soalnya tamunya udah dari tadi kok...," sahut Lucas sambil melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


" Oh gitu...," kata Shofia dengan nada kecewa.


Kemudian Shofia berdiri dan berjalan menuju kantin perusahaan. Ia memutuskan menunggu di kantin karena yakin jika tamu Bagas akan keluar setengah jam lagi.


Lucas dan Aida hanya bisa saling menatap karena mengerti jika Shofia sedang tak ingin ditemani.


" Pasti melelahkan ya punya Bos kaya gitu...," kata Lucas sambil melirik Aida.


" Sedikit...," sahut Aida sambil tersenyum.

__ADS_1


" Saya salut sama Kamu Aida. Kok bisa-bisanya bertahan ngadepin Nyonya Shofia yang moodian dan arogan itu...," kata Lucas sambil menggelengkan kepalanya.


" Ini kan salah satu resiko pekerjaan Saya sebagai asistennya Nyonya Shofia Pak...," sahut Aida sambil tersenyum kecut.


" Iya Saya tau. Tapi selama Saya kerja sama Nyonya Shofia, Kamu adalah asisten pribadi terlama yang dimiliki Nyonya Shofia lho Da...," kata Lucas.


" Masa sih Pak...?" tanya Aida sambil menoleh kearah Lucas.


" Iya. Selama ini cewek yang jadi asisten pribadinya Nyonya Shofia hanya bertahan dua Minggu. Paling lama sebulan. Sedangkan Kamu udah hampir empat tahun kan...?" tanya Lucas.


" Iya...," sahut Aida cepat.


" Makanya Saya salut sama Kamu Aida...," kata Lucas.


" Saya emang ga punya pilihan untuk kerja di tempat lain. Makanya Saya berusaha menjalankan pekerjaan Saya tanpa banyak protes Pak...," sahut Aida.


" Kok bisa begitu. Maksudnya Kamu terpaksa kerja sama Nyonya Shofia Da...?" tanya Lucas tak percaya.


" Iya Pak...," sahut Aida sambil menundukkan kepalanya.


" Lho kok bisa. Kalo boleh tau apa penyebabnya...?" tanya Lucas penasaran.


Aida nampak menghela nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan Lucas.


" Berapa banyak...?" tanya Lucas hati-hati.


" Sangat banyak...," sahut Aida.


" Ck, Iya Saya tau. Tapi berapa banyak Aida...?" tanya Lucas sedikit kesal.


" Ratusan juta Pak...," sahut Aida.


" Untuk apa uang sebanyak itu Aida. Maafin Saya kalo lancang. Tapi kan orangtua Kamu hidup di desa. Pengeluaran hariannya pasti ga lebih banyak dari orang kota...," kata Lucas.


" Uang berbunga uang Pak. Nyonya Shofia memberi bunga yang tinggi dan mencekik. Sampe saat ini juga Saya masih harus mencicil hutang orangtua Saya yang dipotong langsung dari gaji Saya tiap bulan...," sahut Aida gusar.


" Saya ga nyangka Nyonya Shofia sejahat itu. Padahal kan Kamu sudah membantu mengurus semua keperluan pribadinya. Masa sih dia ga terketuk untuk membebaskan Kamu dan orangtuamu dari hutang yang ga ada ujungnya itu...," kata Lucas prihatin.


Aida hanya menggedikkan bahunya pertanda ia juga tak mengerti dengan jalan pikiran Nyonya Shofia.


Sementara itu di kantin terlihat Shofia tengah menikmati secangkir lemon tea dan makanan ringan. Sambil menatap layar ponselnya Shofia terus berselancar di dunia maya. Hingga sebuah suara yang dirindukannya membuatnya menoleh.

__ADS_1


Saat itu Shofia melihat Kautsar tengah melintas di depan kantin usai meninjau proyek di luar kantor.


Shofia nampak berdiri lalu melangkah cepat menghampiri Kautsar.


" Selamat siang Pak Kautsar...," sapa Shofia hingga membuat Kautsar menoleh.


Untuk sejenak Kautsar mematung sambil menatap Shofia. Ia membayangkan respon Aruna saat mengetahui dirinya kembali bertemu dengan Shofia.


" Oh Nyonya Shofia. Alhamdulillah Saya baik-baik aja Nyonya. Sedang apa Nyonya di sini...?" tanya Kautsar basa basi.


" Mau ketemu Pak Bagas karena ada beberapa hal yang mau Saya bahas tentang proyek kerja sama perusahaan...," sahut Shofia cepat.


" Oh gitu...," kata Kautsar sambil mengangguk kan kepala tanda mengerti.


" Tapi sayangnya Pak Bagas lagi kedatangan tamu dan Saya disuruh menunggu. Ga ada orang yang Saya kenal di perusahaan ini selain Kamu. Jadi bisa kan kalo Kamu nemenin Saya Pak Kautsar...?" tanya Shofia penuh harap.


" Tapi Saya juga lagi kerja Nyonya...," sahut Kautsar berusaha menolak.


" Kan nemenin Saya hanya di sini Pak Kautsar. Di kantin ini, ga kemana-mana kok. Ntar Saya yang bilang sama Pak Bagas kalo Saya yang minta ditemani biar Pak Kautsar ga dapet SP. Gimana, bisa kan...?" tanya Shofia penuh harap.


" Ok kalo gitu...," sahut Kautsar cepat hingga membuat Shofia tersenyum puas.


Kemudian Shofia dan Kautsar melangkah menuju meja dimana Shofia duduk tadi. Mereka nampak berbincang akrab. Bukan, tapi Shofia lah yang terus mengajak Kautsar bicara hingga membuat pria itu terlihat canggung.


Sepuluh menit kemudian Aida datang tergopoh-gopoh ke kantin menemui Shofia dan memberi tahu jika Bagas menunggu di ruangannya.


" Sekarang...?" tanya Shofia tak suka.


" Iya Nyonya...," sahut Aida tak enak hati.


" Ok sebentar. Apa Pak Kautsar bisa nemenin Saya ke ruangan Pak Bagas...?" tanya Shofia sambil menatap Kautsar dengan lembut.


Dari cara bicara dan sikap Shofia membuat Aida mengerti jika tuannya sedang tertarik pada sosok pria tampan di depannya itu.


" Maaf Nyonya, Saya ga ada kepentingan di ruangan itu. Lagi pula Pak Bagas bisa marah kalo tau Saya malah ikut campur urusan yang bukan urusan Saya. Bisa-bisa Saya dipecat nanti, padahal Saya betah kerja di sini...," sahut Kautsar.


" Gitu ya. Kalo gitu Saya permisi Pak Kautsar. Ayo Aida...," pamit Shofia yang diangguki Kautsar.


Aida mengangguk dan tersenyum kearah Kautsar lalu bergegas mengikuti Shofia yang berjalan lebih dulu.


Kautsar nampak mengusap wajahnya dengan kasar. Ia yakin jika kedatangan Shofia kali ini akan membuat hubungannya dengan Aruna memburuk.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2