Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
310. Salah Duga


__ADS_3

Hari itu Rasyid telah kembali dari Papua. Ia dan rekan-rekannya langsung menghadap atasan mereka sebelum kembali ke rumah masing-masing. Setelahnya Rasyid nampak berbincang hangat dengan rekan-rekannya termasuk Raka dan Yoga.


" Keliatan kurusan Lo, tambah item juga...," gurau Raka.


" Masa sih. Tapi Gue di sana justru paling putih lho...," sahut Rasyid.


" Percaya. Kan di sana emang kebanyakan penduduknya berkulit gelap...," sahut Yoga cepat sambil mencibir.


Ucapan Yoga membuat semua rekannya tertawa.


" Lo udah ngabarin Sheina belum Syid...?" tanya Raka tiba-tiba.


" Belum, Lo ga ngasih tau dia kalo Gue pulang hari ini kan...?" tanya Rasyid.


" Ga kok. Gimana mau ngasih tau, wong Sheina kabur terus kalo ngeliat Gue...," sahut Raka.


" Kok gitu. Lo bikin masalah ga sama dia...?" tanya Rasyid.


" Perasaan Gue ga pernah ngomong macam-macam sama dia. Tapi gapapa, yang penting kan hubungan Lo sama dia baik-baik aja. Kalo hubungan Gue sama dia mah ga penting. Iya ga...," kata Raka yang diangguki Rasyid.


" Gue jadi penasaran sama cerita Lo tentang makhluk berbulu yang Lo liat itu Ka...," kata Rasyid.


" Oh itu. Kalo Gue ga ngeliat sendiri penampakan makhluk itu, rasanya Gue ga mau percaya kalo makhluk kaya gitu hidup di dunia nyata dan bukan cuma di film...," sahut Raka.


" Gimana wujudnya Ka...?" tanya Rasyid.


" Mirip orang sih, tapi berbulu dan wajahnya serem gitu. Apalagi mulutnya bertaring tajam juga. Hiiyy..., ga kebayang deh kalo kena gigitannya...," sahut Raka sambil bergidik ngeri namun membuat Rasyid tersenyum.


" Kalo korban pembunuhan yang mayatnya mirip sama mayat anak perempuan itu gimana Ka, apa udah ada kemajuan...?" tanya Rasyid.


" Belum Syid. Itu aja Gue dapat bocoran dari temen Gue yang kebetulan nanganin kasusnya...," sahut Raka.


" Gitu ya. Tapi belum ada yang tau kan kalo Kita lagi nyelidikin makhluk berbulu itu...?" tanya Rasyid lagi.


" Kalo soal itu Lo tenang aja. Cuma Gue sama Lo yang punya misi rahasia ini...," sahut Raka mantap.


" Bagus deh...," kata Rasyid sambil menguap.


" Udah sana pulang, pasti capek banget kan. Tidur dulu baru ntar ngasih surprise buat Sheina...," kata Raka.


" Iya deh. Gue balik duluan ya Ka. Assalamualaikum..., " pamit Rasyid sambil berjalan meninggalkan Raka.


" Wa alaikumsalam..., " sahut Raka sambil tersenyum.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


Reaksi dokter Sheina saat melihat Rasyid hadir di depan matanya sungguh di luar dugaan.


Jika Rasyid mengira ia akan dihujani pelukan dan ciuman oleh sang kekasih, nyatanya itu tak terjadi.


Awalnya Rasyid sengaja menunggu dokter Sheina di parkiran Rumah Sakit. Saat itu sang dokter pulang sore karena ia bekerja di shift pertama yaitu pukul lima pagi hingga tiga sore. Dokter Sheina pulang sedikit terlambat karena harus membantu salah satu pasiennya.


Setelah melewati loby, dengan santai dokter Sheina melangkah menuju parkiran Rumah Sakit. Saat hampir mencapai mobil ia melihat seorang pria dengan gerak-gerik mencurigakan tengah berdiri tak jauh dari mobilnya. Mengira jika itu adalah pencuri atau orang yang berniat jahat, dokter Sheina pun segera menghubungi security.


" Dimana orangnya dok...?" tanya dua orang security bertubuh besar saat mereka tiba di hadapan dokter Sheina.


" Itu di sana...," sahut dokter Sheina setengah berbisik sambil pura-pura sibuk mengetik sesuatu di ponselnya.


Kedua security segera menghampiri Rasyid dan menegurnya. Rasyid pun memperlihatkan kartu anggota kepolisian yang ia miliki. Rasyid juga menjelaskan rencananya hingga kedua security itu pun mengangguk tanda mengerti.


Namun sayang, saat Rasyid menoleh ternyata dokter Sheina telah meninggalkan parkiran itu dengan menggunakan Taxi dan sengaja meninggalkan mobil miliknya di sana.


Melihat hal itu Rasyid pun bergegas mengejar sang kekasih dengan motor kesayangannya. Kemudian Rasyid menghadang Taxi dengan cara berhenti tepat di depan Taxi hingga membuat dokter Sheina ketakutan.


" Kenapa Pak, ada apa...?!" tanya dokter Sheina panik.


" Saya ga tau Bu. Motor itu tau-tau nikung terus berhenti di depan Kita...," sahut supir Taxi tak kalah paniknya.


" Jangan-jangan itu rampok Pak...," kata dokter Sheina dengan suara bergetar.


Kemudian Rasyid mengetuk kaca jendela tepat dimana dokter Sheina berada.


" Sheina keluar, ini Aku...!" kata Rasyid.


Dokter Sheina tertegun sesaat lalu membulatkan matanya saat Rasyid melepaskan helm yang dipakainya.


" Rasyid...!" jerit dokter Sheina sambil mendorong pintu mobil dari dalam.


Rasyid tertawa lalu merentangkan kedua tangannya untuk menyambut sang kekasih. Tapi rupanya ia salah duga. Bukan pelukan hangat yang ia dapat, dokter Sheina justru memukulinya bertubi-tubi dengan tas yang dibawanya.


" Awww...!, sakit Sayang...!" jerit Rasyid sambil berusaha menghindar.


" Biarin !. Suruh siapa nakutin Aku. Mau bikin Aku jantungan ya...?!" kata dokter Sheina marah.


" Jadi Ibu kenal sama orang ini...?" tanya supir Taxi hingga membuat dokter Sheina menghentikan aksinya.


" Iya Pak. Ini tunangan Saya...," sahut dokter Sheina dengan nafas terengah-engah.

__ADS_1


" Oh syukur lah, Saya Kirain penjahat tadi...," kata supir Taxi sambil tersenyum.


" Maafin Saya karena udah bikin kaget. Ini buat bayar ongkosnya ya Pak. Sekarang tunangan Saya ini ikut sama Saya...," kata Rasyid sambil menyerahkan dua lembar uang lima puluh ribuan.


" Makasih Pak...," kata supir Taxi dengan mata berbinar bahagia.


" Sama-sama. Ayo Sayang...," ajak Rasyid sambil menggamit tangan dokter Sheina dengan lembut.


" Siapa bilang Aku mau ikut sama Kamu...?!" kata dokter Sheina marah sambil menarik tangannya dari genggaman Rasyid.


" Iya Aku minta maaf deh, Aku kan cuma mau ngasih surprise sama Kamu. Selama ini surpriseku selalu gagal lho. Ga nyangka kali ini bisa berhasil...," kata Rasyid sambil tersenyum.


Dokter Sheina nampak mendengus kesal sambil membuang pandangannya kearah lain. Namun ia terkejut saat menyadari dirinya dan Rasyid tengah jadi tontonan para pengguna jalan raya.


" Kita pergi dari sini Syid...," ajak dokter Sheina tiba-tiba.


" Ok. Apa itu artinya Kamu ga marah lagi sama Aku...?" tanya Rasyid.


" Ntar aja bahasnya. Sekarang yang penting Kita cabut dari sini secepatnya. Aku malu jadi tontonan warga kaya gini...," kata dokter Sheina.


Rasyid pun tertawa lalu bergegas melajukan motornya tanpa memberi aba-aba. Dokter Sheina yang duduk di boncengannya pun terkejut dan refleks memeluk pinggang sang kekasih. Sesekali ia mendaratkan cubitan di pinggang Rasyid hingga pria itu tertawa lepas.


Tak lama kemudian Rasyid memarkirkan motornya di depan sebuah rumah makan.


" Aku lapar, Kita makan dulu ya...," kata Rasyid.


" Kamu...," ucapan dokter Sheina terputus saat Rasyid memotong cepat.


" Sssttt..., ntar aja marahnya. Emangnya Kamu ga capek marah-marah terus dari tadi?. Bukannya marah juga butuh energi ya. Makanya Kamu makan dulu supaya punya cukup tenaga buat ngomelin Aku. Kebetulan Aku juga kangen sama Omelan Kamu...," kata Rasyid sambil mengedipkan sebelah matanya.


Sikap Rasyid membuat kemarahan dokter Sheina mencair. Ia pun mengangguk dan membiarkan Rasyid menggenggam jemari tangannya. Lalu keduanya masuk ke dalam rumah makan sambil tersenyum bahagia.


" Kenapa ga ngabarin kalo mau pulang...?" tanya dokter Sheina saat mereka telah duduk berhadapan.


" Sengaja...," sahut Rasyid.


" Tapi Aku ga suka dikagetin kaya tadi...," kata dokter Sheina.


" Iya maaf. Gimana, udah siap kan...?" tanya Rasyid.


" Siap apanya...?" tanya dokter Sheina tak mengerti.


" Menikah...," sahut Rasyid sambil menatap sang kekasih dengan lekat.

__ADS_1


Dokter Sheina tersenyum lalu mengangguk. Dan itu membuat Rasyid bahagia. Ia meraih jemari sang kekasih lalu menggenggamnya dengan erat.


\=\=\=\=\=


__ADS_2