Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
90. Muca Dan Mici


__ADS_3

Kautsar nampak mengulum senyum sepanjang pagi ini. Bagaimana tidak. Ia merasa senang karena berhasil tidur bersama Aruna. Walau hanya memeluk Aruna namun itu berhasil membuatnya tidur lebih nyenyak.


Sedangkan Aruna nampak sibuk membantu mama dan mertuanya menyiapkan sarapan di dapur.


Setelahnya mereka berenam sarapan bersama. Canda tawa memenuhi ruang makan hingga membuat Aruna dan Kautsar terlihat enggan meninggalkan rumah.


" Pergi lah. Jangan sampe kedatangan Kami malah menghambat aktifitas Kalian...," kata Ahmad.


" Betul. Kalo Kalian bolos hanya karena ingin menyenangkan Kami justru itu membuat Kami merasa bersalah...," kata Arka.


" Ya udah, Kami pergi dulu...," pamit Aruna dan Kautsar.


Kemudian Aruna dan Kautsar pun berangkat bersama seperti biasa diiringi tatapan keempat orangtua mereka.


" Kenapa senyum-senyum terus sih. Ada yang lucu ya...?" tanya Aruna saat mereka mampir ke SPBU.


" Bukan lucu tapi menyenangkan...," sahut Kautsar.


" Apanya...?" tanya Aruna tak mengerti.


" Tidur sambil meluk Kamu itu ternyata obat paling ampuh lho Run. Buktinya Aku tidur nyenyak dan pas bangun badan jadi terasa lebih seger. Padahal biasanya Aku susah tidur dan bangun tidur kepala jadi pusing...," bisik Kautsar sambil tersenyum.


" Kamu seger tapi badan Aku yang remuk...," sela Aruna kesal.


" Kok gitu...?" tanya Kautsar.


" Kamu tidurnya mepet Aku terus Tsar. Sampe Aku susah bergerak...," sahut Aruna namun membuat Kautsar tertawa.


" Maaf deh, mungkin karena tempatnya aja yang sempit jadi Aku refleks mepet Kamu terus biar ga jatuh. Makanya supaya terbiasa, Kita tidur sama-sama aja yuk Run. Aku janji ga bakal macem-macem sampe Kamu ijinin Aku...," pinta Kautsar penuh harap.


" Gimana nanti aja Tsar...," sahut Aruna jengah hingga membuat Kautsar tak melanjutkan ucapannya saat melihat reaksi Aruna.


" Minggu lalu Nyonya Shofia datang ke kantor Run...," kata Kautsar sambil melajukan motornya setelah selesai mengisi bahan bakar.


" Oh ya, mau ngapain ?. Bukannya Kamu bilang dia lagi dirawat di Rumah Sakit Jiwa...?" tanya Aruna.


" Aku ga tau persis, katanya sih mau ketemu Bos. Kami sempet ngobrol sebentar. Keliatannya dia udah sembuh. Dan luka yang dibilang Reyhan itu ga ada sama sekali...," sahut Kautsar.


" Apa dia gangguin Kamu lagi...?" tanya Aruna.


" Ga sih. Tapi Aku ga nyaman aja sama kedatangannya itu...," sahut Kautsar gusar.

__ADS_1


Aruna terdiam karena bingung harus bicara apa. Ia mencium gelagat aneh dari kedatangan Shofia ke kantor suaminya itu.


\=\=\=\=\=


Aruna baru keluar dari kelas saat ekor matanya menangkap pergerakan di salah satu pohon besar yang ada di ujung parkiran. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan jika tak ada seorangpun yang mengamatinya. Beruntung suasana kampus sore itu lumayan lengang.


Aruna pun melesat cepat menuju pohon terbesar yang rantingnya terlihat bergoyang tak wajar.


Saat tiba di atas pohon Aruna mematung sejenak saat melihat dua manusia tengah bercinta layaknya hewan. Aruna tahu persis jika dua makhluk di depannya bukan lah manusia tapi siluman. Pakaian yang mereka kenakan sangat tak lazim dan sedikit menunjukkan identitas mereka.


Tak sengaja tatapan Aruna bertemu dengan tatapan sepasang makhluk yang tengah bercinta itu.


" Maaf, Aku ga tau kalo ada Kalian di sini...," kata Aruna sambil membuang pandangannya kearah lain.


Kedua makhluk jadi-jadian itu nampak tersenyum lalu menyudahi kegiatan mereka. Setelahnya mereka merapikan pakaian yang mereka kenakan lalu duduk di salah satu ranting pohon tepat di belakang Aruna.


" Kamu pasti bukan manusia biasa ya...," kata salah satu makhluk itu.


" Aku manusia biasa sama kaya Kalian...," elak Aruna sambil menoleh ke belakang.


" Cuma manusia yang punya kelebihan khusus yang menyadari kehadiran Kami di sini...," kata salah satu makhluk itu.


" Oh ya. Emangnya Kalian ini apa...?" tanya Aruna sambil mengamati dua makhluk di depannya dengan seksama.


" Aku ga pernah ngeliat Kalian sebelumnya. Apa Kalian sedang menjalankan misi memata-matai seseorang...?" tanya Aruna.


Kedua siluman musang itu saling menatap kemudian tertawa keras. Saking kerasnya tubuh mereka berguncang hingga ranting pohon yang mereka duduki ikut berayun ke atas dan ke bawah.


" Apanya yang lucu sih...?" tanya Aruna kesal.


" Kamu...," sahut dua siluman itu bersamaan.


" Aku...?" tanya Aruna sambil menunjuk dirinya sendiri.


" Iya Kamu. Masa Kamu ga sadar kalo sedang Kami awasi. Tapi anehnya Kamu bisa tau kalo Kami sedang bercinta di atas pohon ini. Sungguh di luar dugaan...," sahut siluman musang itu sambil tersenyum penuh makna.


" Aku ga bermaksud ngintip ya...!" kata Aruna lantang hingga membuat dua siluman musang itu kembali tertawa.


Melihat tawa kedua siluman musang membuat Aruna ikut tertawa. Setelahnya Aruna duduk di salah satu dahan pohon berhadapan dengan kedua siluman musang itu.


" Kenapa Kalian mengawasi Aku. Siapa yang nyuruh...?" tanya Aruna langsung pada inti masalah.

__ADS_1


" Seorang wanita cantik, berkulit pucat dan berambut pirang...," sahut siluman musang berjenis kelamin wanita.


" Shofia...," gumam Aruna lirih.


" Betul. Kamu kenal sama dia...?" tanya siluman musang pria.


" Ga kenal dekat tapi Aku tau siapa dia. Manusia laknat yang menghalalkan segala cara untuk memenuhi ambisinya walau harus menabrak norma yang ada...," sahut Aruna ketus.


" Oh gitu. Keliatannya Kalian saling membenci ya...," kata siluman musang.


" Dia mencoba merayu Suamiku dan memanfaatkannya saat dia dalam kondisi tak berdaya. Apa salah jika Aku berusaha membela diri dan menyelamatkan rumah tangga Kami...?!" tanya Aruna kesal.


" Apa dia seperti itu...?" tanya siluman musang pria pada pasangannya.


" Aku rasa yang diucapkan gadis ini benar. Aku juga mencium gelagat yang aneh dari wanita itu saat pertama kali bertemu. Dia memiliki hasrat terpendam yang liar dan memabukkan...," sahut siluman musang wanita.


" Tapi dia adalah anak angkat Raja Kita...," kata siluman pria bingung.


" Hanya anak angkat. Toh jika dia melakukan hal yang sama padamu Aku pasti sudah membunuhnya...," sahut siluman musang wanita dengan ketus.


" Kenapa Kamu marah, Aku ga akan terpengaruh sama wanita itu Sayang...," rayu siluman musang pria sambil berusaha memeluk pasangannya.


" Ehm, tolong jangan abaikan Aku...," kata Aruna mengingatkan sepasang siluman itu sambil berdehem.


Kedua siluman musang itu tersadar lalu kembali mengamati Aruna dari atas kepala hingga ujung kaki.


" Entah mengapa Aku lebih memilih mempercayainya dibanding mengikuti kemauan anak manja itu...," kata siluman musang wanita.


" Aku juga...," sahut siluman musang pria sambil mengendus tubuh Aruna.


Ucapan kedua siluman musang itu membuat Aruna tersenyum. Ia senang karena tak harus bertempur dengan pasangan siluman musang itu. Apalagi bertempur untuk sesuatu yang tak seharusnya.


" Perkenalkan namaku Aruna...," kata Aruna sambil mengulurkan tangannya.


" Aku Mici dan dia Suamiku, namanya Muca...," sahut siluman musang bernama Mici sambil menjabat tangan Aruna.


" Senang mengenalmu Aruna...," kata Muca sambil berputar mengelilingi Aruna.


" Aku juga. Semoga Kita bisa jadi teman baik ya Muca dan Mici...," sahut Aruna sambil tertawa.


" Iya...," sahut Muca dan Mici bersamaan.

__ADS_1


Kemudian ketiganya terlibat pembicaraan santai di atas pohon itu tanpa menyadari sepasang mata lainnya tengah mengamati mereka.


bersambung


__ADS_2