
Sejak Kautsar mengakui perasaannya kepada Aruna, hubungan keduanya terlihat makin dekat. Kautsar dan Aruna menjelma bak sepasang kekasih yang sedang dilanda cinta. Meski pun mereka telah berstatus suami istri yang sah di hadapan hukum agama dan negara, nampaknya mereka masih berusaha menahan diri dalam bersikap. Dan hal itu justru membuat 'orang terdekat' yang mengenal mereka merasa gemas.
" Kenapa sih masih kaku aja kalo ngomong sama Kautsar. Dia itu kan Suami Lo Run...," kata Ria kesal.
" Justru karena dia Suami Gue makanya Gue ga bisa sembarangan ngomong Ri. Suami itu kan pengganti orangtua. Jadi kalo Istri salah langkah yang kena imbasnya bukan lagi orangtua tapi Suami...," sahut Aruna mencoba memberi pengertian.
" Iya Bu Ustadzah. Terus gimana dong, Kita kan harus pergi...," kata Ria gusar.
" Ga seru kan kalo ada satu yang ga ikut. Yah, anggap aja ini jalan-jalan Kita terakhir sebelum Kita pisah nanti...," kata Fadil yang diangguki Agung.
" Dan Lo tetep harus ikut Run. Kali ini Kita bukan sekedar jalan-jalan tapi juga harus ngerjain tugas...," sela Kenzo mengingatkan.
" Kalian tenang aja. Biar ntar Gue omongin dulu sama Kautsar. Mudah-mudahan dia ngijinin Gue pergi...," kata Aruna sambil meneguk ice lemon tea di hadapannya.
" Kayanya Lo ga usah nunggu sampe besok buat dapat ijin Suami Lo itu Run...," kata Kenzo tiba-tiba.
" Maksud Lo apaan...?" tanya Aruna tak mengerti.
" Kautsar ada di meja sebelah sana tuh. Lagi ngobrol santai sama cewek cantik...," sahut Kenzo sambil mengarahkan ujung dagunya kearah sudut ruangan.
Aruna dan Ria pun menoleh kearah yang dimaksud Kenzo. Di sana mereka melihat Kautsar tengah duduk berhadapan dengan seorang wanita bule berparas cantik. Dari gesture tubuhnya terlihat jika wanita itu tertarik pada Kautsar dan itu membuat Aruna kesal.
" Wah cantik banget, siapa tuh Run. Jangan-jangan selingkuhannya Kautsar...," kata Ria memanasi Aruna.
" Ga usah jadi kompor Lo ya. Itu rekan bisnisnya Kautsar...," sahut Aruna kesal sambil memukul lengan Ria hingga gadis itu menjerit.
" Awww..., sakit Run...!" kata Ria lantang hingga membuat beberapa pengunjung kafe itu menoleh kearahnya termasuk Kautsar.
Bukannya panik, Kautsar justru tersenyum lalu bergerak menghampiri Aruna dan genknya.
" Kamu di sini juga Run...?" sapa Kautsar ramah.
" Iya. Kamu sendiri lagi ngapain...?" tanya Aruna.
" Lagi meeting sama klien. Tuh di sana...," sahut Kautsar.
" Berdua aja...?" tanya Aruna tak suka.
" Ga kok, Kami bertiga. Satu orang temanku lagi ke toilet. Nah itu dia...," sahut Kautsar sambil menunjuk seorang pria yang baru saja duduk di samping kliennya.
Aruna terlihat mengangguk tanda mengerti.
" Ehm, maaf ya. Masih ada orang lain di sini selain Aruna lho...," sindir Ria sambil mencibir.
__ADS_1
Ucapan Ria membuat Kautsar dan genk Comot tertawa.
" Iya ngerti. Apa kabar Kalian semua...?" tanya Kautsar setelah tawanya reda.
" Alhamdulillah baik...," sahut empat anggota genk Comot bersamaan hingga membuat Kautsar tersenyum.
" Alhamdulillah. Kalo gitu Aku ke sana dulu ya. Kalian lanjut aja ngobrolnya, ntar tagihannya biar Aku yang bayar...," kata Kautsar.
" Yeeeyy..., bisa nambah lagi dong...," sambut Kenzo.
" Iya. Kalian boleh makan minum sepuasnya, dibungkus juga boleh...," kata Kautsar mantap.
" Ok, siapa takut...," sahut Kenzo antusias.
" Makasih Tsar...," kata ketiga anggota genk Comot lainnya bersamaan.
" Sama-sama. Tapi Aku boleh pinjem Aruna sebentar ya...," kata Kautsar sambil menggamit tangan Aruna.
" Boleh dong. Lama juga gapapa kok...," sahut Ria mewakili teman-temannya.
Kautsar pun tersenyum lalu beranjak dari sana sambil menggandeng tangan Aruna.
" Mau ngapain sih Tsar...?" tanya Aruna.
" Ga perlu Tsar...," kata Aruna sambil berusaha menarik tangannya dari genggaman Kautsar.
Tapi Kautsar tak peduli. Ia mempercepat langkahnya lalu berhenti di hadapan teman dan kliennya itu.
" Maaf kalo ada sedikit gangguan tadi...," kata Kautsar dengan santun hingga membuat teman dan kliennya menoleh.
" Oh gapapa Pak. Mari silakan duduk...," sahut wanita bule itu sambil tersenyum.
" Iya makasih. Oh iya, kenalin ini Istri Saya, namanya Aruna...," kata Kautsar sambil merengkuh bahu Aruna.
" Istri. Lo udah married Tsar...?" tanya rekan kerja Kautsar yang bernama Reyhan itu sambil berdiri.
" Iya, udah tiga bulanan. Cuma belum sempet resepsi aja. Insya Allah kalo urusan udah kelar Kami bakal gelar resepsi. Iya kan Sayang...," kata Kautsar sambil menoleh ke arah Aruna.
" Iya...," sahut Aruna dengan wajah merona.
" Gue diundang dong...?" tanya Reyhan.
" Insya Allah...," sahut Kautsar mantap.
__ADS_1
" Sip deh. Oh iya, kenalin Saya Reyhan...," kata Reyhan sambil mengulurkan tangannya kearah Aruna.
" Aruna...," sahut Aruna sambil tersenyum.
" Nah, kalo ini Nyonya Sofia. Klien perusahaan tempat Aku kerja Run...," kata Kautsar.
" Selamat siang Nyonya Sofia...," sapa Aruna ramah.
" Selamat siang. Senang bisa mengenal Anda...," sahut Sofia sambil menjabat tangan Aruna erat.
Sambil menjabat tangan Aruna dengan erat, Sofia juga mengamati out fit yang dikenakan Aruna. Ada tatapan meremehkan di sana dan itu membuat Aruna tak nyaman. Saat itu Aruna memang sedang mengenakan pakaian kasual khas mahasiswa berupa celana panjang denim warna biru dan kemeja longgar berwarna hitam.
" Saya juga merasa senang bisa mengenal Anda...," kata Aruna sambil menarik tangannya karena merasa tak nyaman dengan sikap Sofia. Apalagi Aruna juga merasa ada hawa aneh yang menguar dari tubuh Sofia.
" Duduk Run...," kata Reyhan sambil menarik sebuah kursi untuk Aruna.
" Maaf, bukannya nolak atau ga sopan. Tapi Saya ke sini sama teman-teman Saya. Tuh, mereka di sana...," sahut Aruna sambil menunjuk meja dimana genk Comot berada.
" Oh gitu. Ya udah gapapa, Kita masih bisa atur pertemuan Kita kapan-kapan kan...," kata Reyhan sambil tersenyum.
" Insya Allah. Maaf, Saya permisi dulu ya...," pamit Aruna lalu beranjak pergi.
Kautsar, Reyhan dan Sofia kembali terlibat pembicaraan serius. Sedangkan Aruna nampak telah kembali bergabung dengan genknya.
" Udah Run...?" tanya Ria.
" Udah...," sahut Aruna cepat.
" Gitu doang...?" tanya Fadil.
" Terus Kalian maunya gimana ?. Kautsar lagi kerja, jadi Gue ga mungkin di sana kan...?" tanya Aruna.
" Iya sih. Lo ga curiga sama Tante bule itu Run...?" tanya Ria.
" Kenapa harus curiga...?" tanya Aruna.
" Feeling Gue tuh Tante bule ga beres Run. Lo harus hati-hati sama dia...," kata Ria sambil menatap kearah Sofia.
Aruna pun mengikuti arah tatapan Ria dan dalam hati setuju dengan pendapat Ria.
Dari jauh Aruna bisa melihat jelas jika ada kekaguman dan hasrat tersembunyi di balik tatapan Shofia yang tertuju kepada Kautsar. Diam-diam Aruna merasa kesal dan berharap Kautsar tak terjebak dalam pesona si tante bule itu.
\=\=\=\=\=
__ADS_1