Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
315. Beda Rasa


__ADS_3

Setelah menikmati layanan spa di salon langganan, Aruna dan Kautsar memilih melanjutkan menikmati hari dengan masuk ke sebuah kafe. Mereka duduk berhadapan sambil saling menautkan jari seperti remaja yang tengah jatuh cinta.


" Kenapa ngeliatin terus sih, Aku jadi malu nih...," kata Aruna sambil membuang tatapannya kearah lain.


" Aku kagum liat Kamu lho Bund. Udah punya anak tiga tapi masih cantik dan awet muda. Jadi jangan salahin Aku kalo tambah sayang sama Kamu...," sahut Kautsar sambil mengeratkan genggamannya.


" Gombal banget sih Kamu. Inget ya, udah punya buntut di rumah...," kata Aruna sambil menepuk lengan Kautsar.


" Inget dong. Kan bikinnya sama Kamu...," sahut Kautsar sambil tertawa hingga membuat Aruna ikut tertawa.


Seorang pelayan kafe datang dengan membawa pesanan Aruna dan Kautsar. Saat itu tak sengaja Aruna melihat suster Ina tengah melintas di depan kefe. Wajah sang perawat terlihat pucat seperti kekurangan darah.


" Makasih ya Mbak...," kata Kautsar pada pelayan kafe.


" Sama-sama Pak, selamat menikmati...," sahut sang pelayan dengan ramah.


Kautsar pun mengangguk lalu menoleh kearah istrinya.


" Liat apaan sih Bund, serius amat...?" tanya Kautsar.


" Itu Yah. Bukannya itu suster Ina ya...," kata Aruna.


" Iya. Kenapa dia, jangan-jangan sakit. Mukanya pucet banget ya Bund...," sahut Kautsar.


" Aku ke sana ya Yah...," kata Aruna sambil bersiap meninggalkan kursinya namun urung dilakukan karena Kautsar mencegahnya.


" Ga usah Bund. Kamu liat, udah ada orang lain yang nolongin kan. Sekarang sebaiknya Kamu duduk dan makan biar Kamu punya tenaga untuk menyusui si kembar nanti...," kata Kautsar.


Ucapan Kautsar membuat Aruna terkejut. Ia mengerutkan keningnya karena merasa jika Kautsar tengah menyembunyikan sesuatu.


" Ada apa sih Yah. Tumben Kamu ngelarang Aku nolongin orang...?" tanya Aruna sambil menyesap teh tarik di hadapannya.

__ADS_1


" Gapapa. Aku kurang nyaman aja kalo Kamu deket-deket sama dia...," sahut Kautsar.


" Suster Ina kan cewek Yah, masa Kamu jelous sama dia...?" tanya Aruna tak percaya.


" Bukan itu Bund. Aku ngerasa kalo dia itu sedikit licik dan manipulatif. Makanya Aku ga mau dia terlalu deket sama Kamu. Oh iya, ada baiknya Kamu ingetin Kak Sheina supaya hati-hati sama perawat yang satu itu...," sahut Kautsar cepat.


Aruna tak mengerti mengapa suaminya bicara seperti itu. Namun Aruna mengangguk pertanda ia mengiyakan permintaan Kautsar tadi. Aruna sadar jika insting suaminya sangat kuat. Jika Kautsar bicara serius seperti tadi, itu artinya memang ada sesuatu yang tak lazim dan patut diwaspadai dari diri suster Ina.


Selain itu Aruna merasa kondisinya belum fit usai melahirkan, hingga ia sedikit kesulitan mengendus hal negatif termasuk mengenali kehadiran manusia serigala lain di sekitarnya.


\=\=\=\=\=


Kekhawatiran Kautsar tentang suster Ina pun terbukti.


Malam itu suster Ina kembali bertugas mendampingi dokter Sheina saat menjalani operasi Caesar pada salah satu pasiennya.


Suster Ina terlihat menggigil hebat saat menyaksikan darah yang mengalir dari perut wanita di hadapannya. Saat itu dokter Sheina sedang membelah perut pasien dengan pisau bedah untuk mengeluarkan bayinya. Sheina menyadari gerakan tak biasa itu dan segera meminta suster Ina keluar dari ruang operasi.


" Kamu, keluar sekarang...!" kata Sheina tegas sambil menatap suster Ina dengan tatapan tajam.


" Tapi kenapa dok...?" tanya suster Ina tak mengerti.


" Saya bilang keluar, artinya Kamu harus keluar. Sekarang...!" kata dokter Sheina.


Suster Ina masih bertahan di tempatnya hingga membuat Sheina kesal. Sheina menoleh kearah salah satu perawat dan memintanya membawa suster Ina keluar dari ruangan itu.


" Suster Mita, tolong bawa Suster Ina keluar sekarang...!" kata dokter Sheina.


" Baik dok !. Ayo Na...," ajak suster Mita sambil menarik tangan suster Ina agar keluar dari ruangan.


Dengan berat hati suster Ina keluar dari ruangan sambil menahan malu. Setelah membawa suster Ina keluar, suster Mita kembali untuk membantu dokter Sheina menyelesaikan tugasnya.

__ADS_1


Setelah menyelesaikan tugasnya, Sheina pun berniat kembali ke ruangannya. Sheina sengaja memilih jalan pintas supaya lebih cepat sampai di ruangannya. Jalan pintas itu berbentuk sebuah lorong panjang selebar kurang dari satu meter dan hanya cukup dilalui satu orang. Jalan pintas itu jarang dilalui saat malam hari karena penerangan yang minim.


Langkah Sheina terhenti karena dihadang oleh seseorang di tengah lorong. Sheina menyipitkan matanya karena mengenali sosok orang yang tengah berdiri di depannya itu.


" Jadi apa maumu Suster Ina...?" tanya Sheina.


" Saya ga suka dokter memperlakukan Saya kaya gitu. Bisa kan diucapkan dengan kalimat dan sikap yang baik...," protes suster Ina.


" Saya melakukan itu untuk kebaikanmu Suster Ina. Saya justru khawatir kalo pake bahasa santun seperti yang Kamu mau, Kamu akan lebih malu lagi nanti...," kata Sheina sambil tersenyum penuh makna.


" Apa maksud dokter...?" tanya suster Ina tak mengerti.


" Karena Kamu ga akan punya kesempatan untuk lari. Kamu hanya akan berakhir malu karena membiarkan mereka melihatmu berubah jadi manusia serigala Suster...!" kata Sheina tegas hingga mengejutkan suster Ina.


Suster Ina tampak mundur beberapa langkah saking terkejutnya. Rupanya ia tak menyangka jika Sheina mengetahui jati dirinya.


" Aku juga tau Kamu masih sulit mengendalikan hasratmu saat melihat darah. Makanya Aku memintamu keluar dari ruangan itu tadi...," kata Sheina.


Suster Ina jatuh bersimpuh di lantai. Ia menangis karena malu telah berprasangka buruk pada dokter Sheina tadi.


" Maafkan Saya dok. Tolong jangan pecat Saya...," kata suster Ina di sela tangisnya.


" Bukan wewenangku memecatmu Suster. Tapi Aku sarankan Kamu berhenti menjadi perawat sebelum aksimu ketauan dan membuatmu celaka nanti...," kata Sheina sambil berlalu.


Suster Ina makin menundukkan wajahnya. Rasanya sulit melepas pekerjaan yang sangat ia sukai itu. Namun suster Ina juga khawatir ucapan dokter Sheina terbukti nanti.


Suster Ina bangkit dari posisi bersimpuhnya lalu melangkah gontai meninggalkan lorong itu. Ia merasa enggan meninggalkan profesinya itu dan masih butuh waktu untuk mencari pekerjaan lain.


Sheina menatap kepergian suster Ina dengan perasaan iba. Ia tahu jika suster Ina berasal dari klan yang berbeda dengannya. Itu lah yang membuat mereka tak punya ikatan batin yang kuat saat pertama kali bertemu. Menurut Sheina perasaannya pada suster Ina berbeda jauh dengan perasaannya saat pertama kali bertemu George, Matilda dan Aruna.


" Aku ingin membantumu atas nama kemanusiaan tapi rasanya sulit. Kita berbeda karena berasal dari klan yang berbeda. Itu yang membuatku ragu karena Aku tau Kamu ga akan sama saat berubah...," gumam Sheina sambil menghela nafas panjang.

__ADS_1


Kemudian Sheina membalikkan tubuhnya untuk melanjutkan langkahnya menuju ruangannya.


\=\=\=\=\=


__ADS_2