
Aruna masih mematung di tempat saat Kautsar mendekatinya. Ia bingung harus menjawab apa atas pertanyaan suaminya itu.
" Aku tanya sekali lagi, Kamu darimana Aruna...?" tanya Kautsar dengan lembut.
" A... Aku habis cari angin...," sahut Aruna gugup.
" Cari angin...?" ulang Kautsar.
" Iya. Tapi sekarang Aku udah mulai ngantuk. Sebaiknya Kita tidur biar besok ga kesiangan. Iya kan...?" tanya Aruna sambil pura-pura menguap lalu mendorong Kautsar agar menepi.
" Tunggu Aruna...!" panggil Kautsar mencoba mengejar Aruna yang melesat cepat ke kamar mandi namun gagal.
Akhirnya Kautsar memilih menunggu di ruang tengah sambil sesekali menatap pintu kamar mandi yang tertutup.
Sedangkan di dalam kamar mandi Aruna terlihat sedang membasuh wajahnya dengan air. Ia nampak menggelengkan kepalanya sambil berpikir jawaban apa yang harus ia berikan saat Kautsar bertanya nanti.
" Udah malem, ga mungkin Kautsar nanyain yang aneh-aneh kan. Kalo maksa ya cuekin aja kan beres...," gumam Aruna sambil tersenyum.
Setelah selesai membasuh wajahnya, Aruna pun pergi ke ruang tengah dimana Kautsar sedang menunggunya. Malam itu lagi-lagi kamar mereka dikuasai orangtua masing-masing hingga memaksa mereka tidur di sofa.
Aruna nampak salah tingkah saat Kautsar menatapnya dengan intens. Seolah tak terjadi apa-apa, Aruna pun langsung membaringkan tubuhnya di sofa dan mengabaikan Kautsar.
" Kamu darimana dan kenapa bajumu sobek kaya gini Aruna...?" tanya Kautsar.
Aruna tersentak karena baru menyadari jika piyama tidur yang ia kenakan sobek di beberapa bagian. Mungkin karena tersangkut ranting pohon atau justru sobek saat ia bertarung dengan Shofia tadi.
" Aku udah bilang kalo abis cari angin Kautsar. Kenapa sih Kamu ga percaya...?" tanya Aruna kesal.
" Angin apa yang Kamu temuin sampe bikin bajumu robek dan kotor di sana sini Aruna...?" tanya Kautsar ketus hingga membuat kedua mata Aruna membulat.
Aruna bangkit dari posisi duduknya dan menghadap kearah Kautsar. Ia menatap Kautsar dengan tatapan yang tajam dan tanpa senyum.
" Kamu nuduh Aku melakukan sesuatu yang buruk Kautsar...?" tanya Aruna.
" Kalo emang ga ngerasa ngelakuin sesuatu yang aneh ya tinggal jawab aja kan gampang...," sahut Kautsar sambil melengos.
__ADS_1
" Jadi Menurutmu apa yang Aku lakukan di luar malam-malam kaya gini. Apalagi pas balik ke Rumah pakaianku kotor dan sobek...," kata Aruna.
" Yah mana Aku tau. Kan Kamu yang keluar Aruna...," sahut Kautsar cuek.
" Aku ga ngelakuin apa yang ada di kepala Kamu Kautsar...!" kata Aruna marah.
" Emangnya Kamu tau apa yang ada di kepalaku...?" tanya Kautsar sambil mengetuk keningnya.
" Kamu pasti nuduh Aku selingkuh kan...?" tanya Aruna sambil mengepalkan tangannya.
" Terus kalo ga selingkuh, Kamu ngapain di luar sana malam-malam kaya gini ?. Siapa pun bakal curiga ngeliat istrinya pulang dalam kondisi kaya Kamu Aruna...," kata Kautsar dingin sambil menjauhi Aruna.
" Kautsar...!" panggil Aruna lantang.
" Sssttt..., tahan suara Kamu Aruna. Ada orangtua Kita di dalam. Apa Kamu mau mereka tau apa yang Kita ributin sekarang...?" tanya Kautsar sambil melangkah menuju ruang tamu.
Aruna hanya bisa menatap punggung Kautsar sambil menghela nafas panjang. Entah mengapa hatinya terasa sakit saat melihat Kautsar mengabaikannya seperti itu.
Aruna melirik jam dinding yang menunjukkan pukul tiga dini hari. Itu artinya Aruna sudah pergi selama hampir empat jam.
Sementara itu di ruang tamu Kautsar nampak menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa. Ukuran sofa yang lebih kecil dibanding dengan sofa ruang tengah membuatnya sedikit tak nyaman karena ia tak bisa membaringkan tubuhnya di sana.
" Ayo lah Kautsar. Jangan tunjukkan kecemburuan yang berlebihan. Dia bisa besar kepala nanti...," gumam Kautsar sambil memejamkan matanya.
Namun ingatan saat Aruna kembali dalam kondisi pakaian kotor dan sobek menari-nari di kepala Kautsar hingga membuatnya kembali membuka mata. Ia marah saat mengira Aruna baru saja mengkhianatinya. Dan Kautsar tak terima dikhianati. Ia pun bangkit dan berjalan menuju ruang tengah.
Dengan langkah besar Kautsar pun mendatangi Aruna yang tergolek di sofa. Aruna yang memang masih belum tidur nampak terkejut lalu duduk menghadap Kautsar.
" Ada apa...?" tanya Aruna.
Kautsar tak menjawab. Ia justru meraih piyama yang dikenakan Aruna lalu merobeknya dengan kuat hingga kancing piyama Aruna berjatuhan ke lantai. Kemudian Kautsar menatap bagian depan tubuh Aruna dengan tatapan intens dan penuh hasrat.
Aruna yang tak siap dengan 'serangan' Kautsar pun nampak terkejut dan berusaha menutupi tubuhnya dengan menyilangkan tangannya di depan dada.
Melihat hal itu membuat Kautsar makin marah. Ia menarik tangan Aruna lalu mencekalnya dengan kuat dan mulai menciumi leher Aruna lalu menyesapnya dengan kuat. Kautsar juga menind*h tubuh Aruna hingga membuat sang istri ketakutan.
__ADS_1
" Berhenti Kautsar, Kamu nyakitin Aku...!" kata Aruna.
Kautsar tersentak lalu menghentikan aksinya. Perlahan ia melepaskan cekalan tangannya lalu menatap Aruna sejenak. Setelahnya ia bangkit meninggalkan Aruna begitu saja.
Aruna pun bangkit sambil berusaha menutupi bagian depan tubuhnya. Jantungnya berdetak cepat karena semua yang Kautsar lakukan padanya tadi.
Dalam hati Aruna merasa kecewa mendapati sikap Kautsar yang menunjukkan ketidak percayaan. Padahal Kautsar pernah berjanji akan mempercayainya. Aruna menghirup udara sebanyak-banyaknya saat setetes air mata jatuh di ujung matanya.
Sedangkan Kautsar nampak duduk di teras rumah dengan perasaan kacau. Ia menyesali tindakannya tadi. Ia akui ia cemburu dan marah hingga meragukan kesetiaan Aruna.
" Ga ada bekas apa pun di sana. Ga ada aroma laki-laki atau jejak merah di sana. Aruna ga selingkuh. Dia ga selingkuh...," gumam Kautsar sambil mengusap rambutnya.
Kautsar terus duduk menyesali tindakannya di teras hingga menjelang Subuh. Kautsar pun masuk ke dalam rumah karena ia harus bersiap menunaikan sholat Subuh berjamaah di musholla.
Di dalam rumah ia melihat semua orang telah bangun dan bersiap menunaikan sholat Subuh termasuk Aruna. Saat itu Aruna tampak cantik dalam balutan mukena warna maroon.
" Darimana Kamu Tsar...?" tanya Ahmad saat melihat Kautsar baru saja memasuki rumah.
" Dari teras Yah. Ga bisa tidur gara-gara banyak kerjaan...," sahut Kautsar berbohong.
" Ga usah terlalu ngoyo sama kerjaan. Semua kan ada porsinya. Kerjaan urus di kantor, udah sampe rumah ya fokusmu harus sama yang di rumah. Jangan sampe gara-gara kerjaan Kamu mengabaikan Istrimu...," kata Ahmad.
" Iya Yah...," sahut Kautsar.
" Lagi pula Kamu masih muda. Jangan Bebani pikiranmu dengan sesuatu yang di luar kemampuanmu. Nanti bisa-bisa stroke sebelum umur empat puluh...," kata Ahmad lagi.
" Masa gitu sih Yah...?" tanya Kautsar tak percaya.
" Ayah serius. Dulu ada temen Ayah yang kaya gitu. Saking sibuknya kerja sampe lupa sama anak dan istri. Tujuannya sih emang baik mau membahagiakan anak dan istrinya itu. Tapi dia lupa kalo badan manusia itu kan bukan mesin. Eh, belum sampe umur empat puluh malah stroke. Kasian kan anak istrinya. Makanya Ayah bilangin Kamu...," sahut Ahmad gemas sambil menepuk punggung Kautsar dengan gemas hingga membuat Kautsar tertawa diikuti Arka.
" Udah siap Pak Ahmad...?" tanya Arka.
" Udah. Kita berangkat sekarang aja. Biar Kautsar nyusul nanti...," ajak Ahmad yang diangguki Arka.
Kautsar pun bergegas mengganti pakaian. Saat melintas di depan Aruna ia berhenti sejenak untuk menatap sang istri yang tampak membalikkan tubuhnya kearah lain.
__ADS_1
\=\=\=\=\=