Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
205. Ayo Berdamai !


__ADS_3

Aruna hanya diam seolah tek mendengar pertanyaan Bianca. Ia nampak sibuk atau pura-pura sibuk hingga membuat Bianca kesal.


" Saya lagi ngomong sama Kamu Aruna...!" kata Bianca lantang sambil meletakkan berkas yang dipegangnya dengan kasar ke atas meja kerjanya.


" Oh, lagi ngomong sama Saya toh. Kirain sama kertas-kertas itu...," sahut Aruna santai tanpa menatap kearah Bianca.


" Tatap wajah Saya kalo lagi bicara dengan Saya Aruna...!" kata Bianca gusar.


" Harus ya...?" tanya Aruna cuek.


" Ck, Kamu ini Mahasiswi atau bukan sih Aruna. Kenapa nilai budi pekertimu rendah sekali. Bukannya di sekolah dan di kampus Kamu diajarkan etika saat bicara dengan seseorang...?" tanya Bianca kesal.


Aruna tersenyum lalu menegakkan kepalanya. Ia menatap Bianca dengan berani dan itu cukup mengejutkan Bianca.


" Ibu Bianca yang terhormat tak perlu meragukan status Saya dan kredibilitas Saya. Sebelumnya Saya ga pernah seperti ini. Saya hanya melakukannya seperti apa yang Anda lakukan. Dengan kata lain sikap Saya adalah cerminan dari sikap Anda Bu Bianca. Jadi jika Anda ingin dihargai, ada baiknya Anda menghargai lawan bicara Anda lebih dulu. Jika Anda sudah merendahkan Saya, jangan harap Saya akan respect terhadap Anda...!" kata Aruna tegas.


Untuk sesaat Aruna dan Bianca saling menatap dan mengamati satu sama lain. Aruna yang merasa muak dengan sikap dan cara Bianca memperlakukan dirinya pun berniat tak ingin mengalah. Aruna nampaknya siap dengan resiko yang harus ditanggungnya termasuk dipecat dengan tidak hormat dan harus mencari tempat magang baru yang pasti merepotkan nanti.


Tanpa diduga Bianca tersenyum lalu melembutkan tatapannya. Hal yang tentu saja membingungkan Aruna. Namun Aruna tetap dengan posisinya yang siaga dan super jutek itu.


" Ok. Saya minta maaf ya Aruna. Saya memang harus melakukan ini. Ada pun alasan di balik semua ini ga bisa Saya kasih tau sama Kamu. Tapi percaya lah, Saya ga pernah membenci Kamu Aruna...," kata Bianca sambil tersenyum.


Aruna nampak mengerjapkan matanya saat mendengar dan melihat sikap Bianca yang melunak. Sesuatu yang Aruna pikir tak akan pernah ia lihat, namun kini nyata terjadi di depan matanya.


Yang lebih mengejutkan lagi adalah Bianca berjalan menghampirinya lalu mengulurkan tangan kearahnya.


" Ayo Kita berdamai sekarang. Gimana Aruna...?" tanya Bianca masih dengan senyumnya yang sangat misterius itu.


" Berdamai...?" ulang Aruna.


" Iya. Kenapa, Kamu ga mau ya...?" tanya Bianca.


" Kita ga pernah musuhan atau berperang. Untuk apa berdamai...?" tanya Aruna sambil tersenyum sinis.


" Saya tau. Tapi sikap Kamu yang selalu bertentangan dengan Saya itu..., oh ralat. Sikap Saya yang mungkin tak berkenan di hati Kamu bikin hubungan Kita terasa kaku. Karena itu Saya berniat memperbaiki semuanya sekarang. Dan Saya rasa ini belum terlambat. Bukan begitu Aruna...?" tanya Bianca.


Aruna nampak melengos mendengar ucapan Bianca yang semula menyalahkannya tadi. Beruntung Bianca segera meralat ucapannya agar jurang yang tercipta antara keduanya tak semakin dalam.

__ADS_1


Setelah menimbang beberapa saat akhirnya Aruna setuju. Ia berdiri lalu menyambut uluran tangan Bianca dengan hangat.


" Maafin Saya juga kalo sikap Saya bikin Bu Bianca ga nyaman...," kata Aruna sambil tersenyum tulus.


" Gapapa. Saya mencoba maklum karena Kamu kan masih sangat muda Aruna...," sahut Bianca sambil ikut tersenyum.


Aruna mengangguk walau dalam hati tak setuju dengan ucapan Bianca. Setelah bersalaman keduanya kembali duduk di kursi masing-masing dan melanjutkan pekerjaan mereka.


\=\=\=\=\=


" Aneh...," kata Kenzo dan Ria bersamaan saat Aruna menceritakan perdamaiannya dengan Bianca.


Saat itu mereka tengah berdiri menunggu Kautsar di halte depan kantor.


" Apanya yang aneh...?" tanya Aruna.


" Kenapa mendadak dia berubah sikap sama Lo. Emangnya Lo ga curiga Run...?" tanya Ria.


" Sedikit...," sahut Aruna sambil nyengir.


" Nah itu artinya masih ada yang harus Lo waspadai dari sikap Bu Bianca itu Run...," kata Kenzo cepat.


" Ck, kenapa belakangan ini Gue ngerasa Lo jadi oneng ya Run...," kata Ria gemas.


" Sia*an Lo. Gue ga gitu ya Ri...!" protes Aruna sambil menatap kesal kearah Ria.


" Tapi emang itu kenyataannya kok...," kata Ria tak mau kalah.


" Ga...!" sahut Aruna.


" Iya...!" kata Ria tak kalah lantang.


Sikap Aruna dan Ria membuat Kenzo tertawa geli. Menyadari Kenzo menertawakan mereka keduanya pun balik menatap Kenzo dengan tatapan tak suka.


" Ups sorry. Abisnya Lo berdua lucu banget sih...," kata Kenzo sambil menahan tawa.


Aruna dan Ria pun melengos sedangkan Kenzo langsung menghentikan tawanya. Untuk sejenak ketiganya terdiam. Tiba-tiba Ria menepuk punggung Aruna dan memintanya melihat ke suatu tempat.

__ADS_1


Aruna mengikuti arah telunjuk Ria dan memicingkan mata saat melihat Bianca masuk ke dalam sebuah mini bus hitam. Terlihat mencurigakan karena sebelum masuk ke dalam mini bus itu Bianca nampak menoleh ke kanan dan ke kiri seolah ingin memastikan jika tak ada seorang pun yang memperhatikan gerak-geriknya.


" Ga nyangka di kota ini Bu Bianca punya temen ya Run...," kata Ria sambil tersenyum.


" Gue rasa wajar sih. Bu Bianca kan emang menyenangkan untuk sebagian orang...," sahut Aruna dengan menekankan kata menyenangkan hingga membuat Ria dan Kenzo tertawa.


Sesaat kemudian Aruna pun ikut tertawa. Tak lama kemudian Kautsar tampak menghentikan motornya di depan mereka.


Setelah berpamitan kepada Kenzo dan Ria, Kautsar pun memacu motornya dengan kecepatan sedang.


Saat tiba di sebuah tikungan, Aruna melihat mini bus yang ditumpangi Bianca sedang parkir di depan sebuah rumah mewah. Semula Aruna ingin mengabaikan itu. Tapi rasa penasarannya lebih besar dibanding rasa tak pedulinya. Maka Aruna meminta Kautsar berhenti untuk mengintai Bianca.


" Kita mampir ke tukang batagor itu dulu ya Sayang...," pinta Aruna.


" Yang dekat mini market aja ya, rasanya udah dijamin enak...," kata Kautsar.


" Ga mau. Aku maunya batagor yang itu...," kata Aruna sambil menunjuk kearah gerobak batagor yang parkir tak jauh dari mini bus yang ditumpangi Bianca tadi.


Kautsar menghela nafas panjang karena tak kuasa menolak permintaan istrinya itu. Ia pun menepikan motornya persis di belakang gerobak batagor.


Dengan antusias Aruna menghampiri penjual batagor itu lalu memesan seporsi batagor. Kautsar yang memang kurang suka dengan batagor memilih membeli minuman dingin di penjual minuman.


Saat sedang menikmati sepiring batagor, Aruna melihat Bianca keluar dari rumah mewah itu. Bianca nampak mengambil seduatu dari dalam mini bus lalu kembali Iagi ke dalam rumah. Aruna menegakkan tubuhnya agar bisa mengamati dengan jelas apa yang dilakukan Bianca.


" Itu tempat apaan sih Mas. Keliatannya rame banget...?" tanya Aruna sambil menunjuk ke rumah mewah itu dengan ujung dagunya.


" Oh itu kan rumahnya paranormal terkenal itu Mbak. Yang namanya Pasko gitu lah kalo ga salah...," sahut penjual batagor.


" Paranormal...?" tanya Aruna tak percaya.


Seolah paham dengan keheranan Aruna, sang penjual batagor pun melanjutkan ucapannya.


" Paranormal sekarang mah elit Mbak. Tinggal aja di rumah gedong, pakaiannya bagus, koleganya kebanyakan artis dan pejabat. Mereka juga ga malu pasang iklan di media cetak atau elektronik. Kalo jaman dulu jadi dukun kan harus ngumpet-ngumpet karena malu. Beda sama sekarang...," kata sang penjual batagor sambil tersenyum simpul.


" Oh gitu ya...," kata Aruna sambil menganggukkan kepalanya.


Setelah lama menunggu tapi tak melihat tanda Bianca akan keluar dari rumah mewah itu, Aruna pun memutuskan pulang.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2