
Malam itu Aruna tidur lebih awal karena merasa sangat mengantuk. Kautsar hanya tersenyum dan membiarkan istrinya tidur karena dia masih harus menyelesaikan pekerjaan kantor yang tersisa.
" Udah sholat Isya Sayang...?" tanya Kautsar saat melihat Aruna naik ke atas tempat tidur.
" Udah...," sahut Aruna sambil menguap.
" Bagus. Tapi Kamu kan belum makan malam...," kata Kautsar.
" Ntar aja. Aku ngantuk banget nih. Mau tidur sebentar, jam sembilan bangunin Aku ya. Kita makan bareng nanti...," pinta Aruna sambil memejamkan mata.
" Ok...," sahut Kautsar sambil mengecup kening Aruna dengan sayang.
Kautsar menarik selimut lalu menutupi tubuh Aruna hingga ke pinggang. Biasanya Aruna protes tapi kali ini dia nampak tak punya tenaga untuk menolak.
Kautsar pun turun dari tempat tidur lalu pergi ke kamar sebelah untuk mengambil tas kerjanya. Rupanya Kautsar memilih melanjutkan pekerjaannya di kamar sambil menemani Aruna tidur.
Kautsar melakukan itu karena tak ingin repot bolak balik ke kamar jika Aruna memerlukan sesuatu mengingat sikapnya yang cenderung manja belakangan ini. Selain itu Kautsar memang mengkhawatirkan istrinya dan merasa Aruna akan lebih aman bersamanya.
Aruna yang baru saja terlelap nampak mengerutkan keningnya. Kemudian tanpa sadar ia membalikkan tubuhnya. Gerakan Aruna sempat membuat Kautsar menoleh. Namun karena tak terjadi sesuatu, Kautsar pun melanjutkan pekerjaannya.
Rupanya Aruna tengah bermimpi. Bukan. Tapi Aruna sedang diperlihatkan situasi dimana seminar yang tadi ia hadiri tengah berlangsung.
Aruna seolah diajak menyusuri ruangan demi ruangan yang ada di sekitar area seminar. Aruna tersenyum melihat kesibukan panitya penyelenggara acara. Ia teringat saat dirinya ada di posisi mereka.
Kemudian Aruna dibawa menuju ruang seminar. Saat itu ia melihat sang MC cantik sedang berbincang dengan dua orang panitya. Di dekat pintu terlihat beberapa gadis belia nampak berdiri sambil menatap tak suka kearah sang MC cantik yang kemudian Aruna tahu bernama Aira.
Saat itu Aira mencoba merekomendasikan salah satu gadis yang ada di pintu untuk menggantikannya. Rupanya Aira memang sedang tak enak badan hari itu. Tapi kedua panitya acara menolak permintaannya.
" Kenapa harus mereka Ra. Kamu adalah pilihan terbaik. Cuekin aja mereka, ga usah diambil pusing. Yang penting Kamu bisa jalanin tugas Kamu dengan baik...," kata ketua panitya.
" Tapi...," ucapan Aira terputus.
" Kamu tenang aja Ra. Ntar si Arman bantuin Kamu kok...," kata sang ketua panitya.
" Oh jadi Aku ga sendiri ya. Kalo gitu Aku setuju...," sahut Aira sambil tersenyum.
Kemudian terdengar suara riuh di pintu ruangan menandakan para tamu undangan telah hadir. Para panitya termasuk Aira nampak bergerak menempati posisinya masing-masing.
__ADS_1
Aruna melihat para tamu berdatangan. Ia juga melihat Hasby dan dirinya masuk ke dalam ruangan. Aruna tersenyum melihat dirinya yang tampil dengan baik siang itu. Wajahnya pun terlihat berbinar dan itu membuatnya terlihat jauh lebih cantik dari biasanya.
Aruna kembali diperlihatkan jalannya seminar. Juga saat Hasby tampil sebagai pembicara. Saat itu Aruna ingat jika ia harus mengamati Aira. Dan saat menoleh Aruna melihat bagaimana Aira tersungkur dari kursinya lalu membentur lantai.
Aruna pun mengikuti kemana Aira dibawa. Rupanya Aira dibawa ke ruangan yang disiapkan sebagai klinik dadakan. Setelah meletakkan Aira di atas tempat tidur, para panitya yang kebanyakan pria itu menyingkir untuk memberi kesempatan pada sang dokter menangani Aira.
Dibantu seorang perawat, sang dokter nampak cekatan mengecek kondisi Aira.
" Apa Kita punya persediaan pembalut Sus...?" tanya sang dokter.
" Ga punya dok. Emang kenapa, apa dokter...," ucapan sang perawat terputus.
" Bukan Saya tapi Mbak Aira. Ternyata dia pingsan karena nyeri haid. Mungkin ini hari pertama dan di luar prediksi. Bisa kan Kamu beli pembalut sebentar ke mini market di depan sana...," kata sang dokter sambil menyerahkan selembar uang berwarna merah ke tangan sang perawat.
" Baik dok. Saya beli sekarang...," sahut sang perawat lalu bergegas keluar dari ruangan itu.
Sang dokter nampak mengamati Aira sejenak. Ia tahu jika Aira saat ini tengah mengandung. Tapi ia sengaja menyembunyikan hal itu karena itu adalah aib yang mungkin memang sengaja disembunyikan oleh Aira atau justru Aira tak tahu sama sekali jika dirinya hamil. Sang dokter berencana memberitahu Aira saat dia siuman nanti.
Suara orang merintih kesakitan di luar ruangan membuat sang dokter menoleh. Nalurinya sebagai dokter menuntunnya keluar untuk melihat apa yang terjadi dan meninggalkan Aira seorang diri.
Sang dokter berpapasan dengan dua orang pria berseragam panitya dan bertanya siapa yang sakit.
" Tapi Saya denger suara rintihan tadi...," kata sang dokter hingga membuat kedua pria itu saling menatap bingung.
" Gimana keadaan Aira dok...?" tanya salah satu pria mencoba mengalihkan pembicaraan.
" Masih pingsan...," sahut sang dokter.
" Sakit apa dok...?" tanya kedua pria itu.
" Dia kelelahan dan mengalami nyeri haid...," sahut sang dokter mencoba menutupi kondisi yang sebenarnya.
Saat sang dokter sedang berbincang dengan kedua pria itu, di dalam ruangan terlihat sesuatu berwarna hitam nampak melayang di udara.
Aruna membelalakkan matanya karena ia tahu jika itu adalah kepala kuyang. Berambut hitam berantakan dengan wajah menyeramkan dan organ dalam yang terburai di bawah kepalanya. Hanya saja Aruna tak tahu darimana kuyang itu berasal.
Kuyang itu nampak mengitari ruangan dimana Aira berada. Lalu ia berhenti tepat di atas perut Aira. Wajah menyeramkannya nampak menyeringai dengan suara yang menggeram pelan.
__ADS_1
Rupanya suara geraman sang kuyang membuat Aira siuman. Perlahan ia membuka matanya lalu mengedarkan pandangan ke penjuru ruangan. Saat menoleh kearah atas, Aira terkejut melihat penampakan kuyang yang tengah menyeringai.
Aira nampak menelan saliva nya dengan sulit. Ia ingin menjerit namun tak ada suara yang bisa keluar. Ia menggelengkan kepalanya saat kuyang itu menatap kearah perutnya. Dengan sigap Aira menutupi perutnya dengan kedua lengannya sambil menekuk kedua kakinya. Dan itu adalah kesalahan fatal untuk Aira.
Rupanya kuyang itu langsung masuk menyerang ke bagian bawah tubuh Aira yang saat itu tersingkap saat dia menekuk kedua kakinya.
Dengan beringas kuyang itu menghisap darah yang keluar dari organ int*m Aira. Rupanya Aira memang sedang mengandung dan kuyang itu tahu bagaimana kondisi Aira hingga ia mengincarnya.
Tubuh Aira bergetar hebat dengan kedua mata membelalak ke atas saat sang kuyang menghisap kuat janin yang berada di rahimnya. Bahkan tubuh Aira pun terjatuh ke lantai saking kuatnya getaran itu. Saat terjatuh itu lah Aira menjerit sekuat-kuatnya hingga sang dokter dan kedua pria yang sedang berbincang itu terkejut. Mereka menerobos masuk ke dalam ruangan dan mendapati Aira tergeletak di lantai dengan darah yang menggenang di bawah tubuhnya.
Aruna pun terbangun dengan posisi duduk. Terlihat peluh membasahi wajah dan tubuhnya. Kautsar menoleh dan segera menghampiri Aruna.
" Kamu kenapa Sayang...?" tanya Kautsar sambil mengusap keringat yang ada di kening Aruna dengan punggung tangannya.
" Ter... nyata..., MC cantik itu ja...di korban kuyang...," sahut Aruna terbata-bata.
Kautsar terkejut lalu memeluk Aruna erat. Ia percaya dengan apa yang diucapkan Aruna karena Aruna memang terkadang mendapat petunjuk melalui mimpi.
Kautsar merasakan tubuh Aruna bergetar dalam pelukannya. Ia tahu jika sang istri sangat shock saat itu. Kautsar meraih air minum dari atas meja nakas lalu memberikannya pada Aruna. Terlihat Aruna menyambutnya dengan antusias lalu meneguk air dalam gelas itu hingga tandas.
" Apa Kamu baik-baik aja Sayang...?" tanya Kautsar dengan lembut.
" Aku gapapa. Tapi Aku liat gimana kuyang itu mengeksekusi janin di rahim Aira...," sahut Aruna dengan mata berkaca-kaca.
" Aira...?" ulang Kautsar.
" Aira nama MC cantik yang Aku ceritain sama Kamu tadi sore Tsar...," kata Aruna menjelaskan.
Kautsar pun mengangguk lalu kembali memeluk Aruna. Ada rasa khawatir dalam hati Kautsar mengingat kondisi Aruna yang ia yakini juga tengah hamil. Namun Kautsar tak ingin memperlihatkan kekhawatirannya itu karena tak ingin Aruna cemas.
" Karena Kamu udah bangun, Kita makan sekarang aja ya...," kata Kautsar.
" Boleh deh. Emang udah jam berapa sekarang...?" tanya Aruna.
" Jam delapan...," sahut Kautsar sambil membantu Aruna turun dari tempat tidur.
Keduanya pun berjalan beriringan menuju ruang makan untuk makan malam. Saat makan malam berlangsung Aruna kembali menceritakan mimpinya secara detail kepada Kautsar.
__ADS_1
bersambung