Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
238. Kecurigaan Angga


__ADS_3

Meninggalnya balita tetangga Ria menggemparkan warga. Pasalnya bukan baru kali ini saja terjadi kematian mendadak dari salah satu penghuni kontrakan. Dalam enam bulan sudah ada empat orang meninggal dunia dan semuanya adalah anak kecil berusia balita.


" Selama enam bulan Saya ngontrak di sini udah empat orang balita meninggal dunia. Kalian ngerasa ada yang aneh ga sih...?" tanya salah seorang penghuni kontrakan bernama Angga.


" Aneh kenapa...?" tanya Usman sang ketua RT.


" Yah, kalo ga ada apa-apa kok bisa tiba-tiba anak-anak meninggal dunia tanpa sebab...," sahut Angga.


" Jangan berbelit-belit deh Mas Angga. Saya udah males kalo disuruh mikir, capek...," sergah ketua RT kesal.


Angga memperbaiki posisi duduknya lalu mulai bicara serius. Beberapa warga yang memang begadang pun nampak mulai mendengarkan ucapan Angga.


" Meninggalnya empat balita itu masing-masing berselang empat puluh harian lho Pak. Apa Kalian ga ada yang ngeh soal ini...?" tanya Angga dengan mimik serius.


" Jangan jadi provokator Mas. Lagian emang jarak meninggal mereka empat puluh harian gitu...?" tanya salah seorang warga.


" Saya punya catatannya Pak. Nih liat...," kata Angga sambil memperlihatkan catatan di buku kecilnya.


Semua warga pun melihat bergantian buku kecil milik Angga. Semua terkejut saat mendapati angka jarak kematian keempat balita yang tertera di buku itu memang berkisar empat puluh hari.


" Astaghfirullah aladziim...! " kata semua orang bersamaan.


" Lo bener Angga. Wah, Gue jadi khawatir nih. Sebentar lagi kan Istri Gue melahirkan. Bisa-bisa anak Gue yang jadi korban selanjutnya karena di sini kan ga ada lagi balita kecuali calon anak Gue itu...," kata Parman panik.


" Makanya Lo lebih baik pindah Man. Secepatnya. Yang jauh sekalian...," saran Angga dengan serius.


" Tapi kemana Ga...?" tanya Parman.


" Kamana aja. Yang penting harus jauh dari sini. Bukan apa-apa Man, Gue khawatir justru makhluk halus itu udah mengintai bayi dalam rahim Istri Lo sejak lama...," sahut Angga sambil bangkit dari duduknya.


" Terus Kamu mau kemana Ga. Kita kan belum selesai ngebahas ini...," protes Usman.


" Mau pipis dulu sebentar Pak...," sahut Angga sambil nyengir.


" Pipis atau nengokin Istri Ga...?" ledek yang lain sambil tertawa.


" Sekalian lah Pak...," sahut Angga dengan cuek hingga menimbulkan tawa.

__ADS_1


" Wah alamat lama dong balik ke sininya...," kata yang lain.


" Sebentar kok Pak. Sejam Saya langsing balik ke sini...," sahut Angga sambil mempercepat langkahnya.


Warga kembali tertawa. Mereka pun kembali membahas temuan Angga tadi.


" Emang kerjaannya si Angga itu apaan sih Pak RT...?" tanya salah satu warga.


" Dia itu wartawan Mas...," sahut Usman cepat.


" Oh Pantesan bisa bikin catatan sedetail itu. Kita aja yang tinggal lama di sini ga ngeh sama kejadian yang menimpa tetangga Kita. Iya ga sih...?" tanya salah seorang warga.


" Betul...," sahut warga bersamaan.


" Ngomong-ngomong kan di catatannya si Angga balita yang meninggal ada empat. Tapi kemana orangtua mereka sekarang...?" tanya Parman penasaran.


" Rata-rata mereka pindah rumah setelah anak mereka meninggal dunia. Yah, selang sehari dua hari lah. Paling lama seminggu mereka langsung pindah dari sini. Alasannya sih klasik ya. Mereka ga bisa melihat tempat yang biasa dijadiin tempat bermain anak mereka sebelum meninggal dunia...," sahut Usman.


" Apa mereka semua meninggal mendadak Pak RT...?" tanya Parman penasaran.


" Saya udah empat bulan di sini Pak. Waktu balita sebelumnya meninggal, Saya kan lagi mudik ke kampung. Itu juga orantuanya langsung pindah jadi Saya ga sempet ketemu buat nyampein rasa bela sungkawa Saya. Baru kali ini Saya tau ada balita meninggal mendadak dan bisa ikut begadang sama Bapak-bapak di sini..., " sahut Parman.


Warga pun menganggukkan kepala tanda mengerti.


" Mmm, begini bapak-bapak. Sebaiknya Kita simpan aja dulu informasi dari Angga untuk sementara waktu. Kita fokus dulu membantu keluarga yang berduka. Keliatannya mereka akan memakamkan anaknya di kampung halaman orangtuanya. Jadi Kita harus membantu menyiapkan akomodasi dan biaya yang diperlukan. Gimana bapak-bapak...? " tanya Usman.


Semua warga saling menatap kemudian mengangguk setuju.


" Baik Pak RT...!" sahut warga bersamaan hingga membuat Usman tersenyum senang.


Setelahnya warga membubarkan diri dan mulai membantu orangtua balita yang meninggal itu.


Sementara itu Kenzo sedang berada di dalam perjalanan pulang menuju ke rumah setelah mengantar Ria ke penginapan tadi. Kenzo nampak tersenyum mengingat protes sang kekasih saat ia membooking kamar penginapan untuk satu Minggu ke depan.


" Lama banget sih Tsar. Apa ga mahal bayarnya...? " tanya Ria.


" Kamu ga usah pikirin soal itu, Aku yang bayar semuanya...," sahut Kenzo.

__ADS_1


" Iya Aku tau. Tapi tinggal seminggu di penginapan itu ga enak Ken. Aku ga mau. Lebih baik Kita cari rumah biasa aja...," kata Ria kesal.


" Iya. Emang itu niatku. Tapi cari rumah kan ga gampang Sayang. Apalagi yang lokasinya deket sama kantor. Aku ga mau ya kalo nyari rumah yang asal-asalan buat Kamu...," sahut Kenzo cepat.


" Tapi...," ucapan Ria terputus saat Kenzo memotong cepat.


" Udah malam. Sebaiknya Kamu istirahat dulu ya Sayang. Besok pagi Aku jemput jadi tunggu Aku di lobby. Ok...?" tanya Kenzo.


" Iya iya. Aku emang ga bakal menang ngelawan Kamu Ken...," sahut Ria sambil mengerucutkan bibirnya hingga membuat Kenzo tertawa.


Kemudian Kenzo memeluk Ria sejenak lalu mengecup kepalanya dengan sayang. Setelah memastikan Ria masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu, Kenzo pun meninggalkan penginapan itu.


Kenzo tiba di rumah saat jam menunjukkan pukul sebelas malam. Setelah membersihkan diri Kenzo pun membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Saat itu Kenzo kembali teringat bayangan hitam yang menggendong balita yang sama persis dengan balita yang meninggal dunia tadi.


" Ck, kok bisa-bisanya Ria tinggal di tempat yang ga kondusif kaya gitu. Udah rame, serem pula. Harus cepet cari solusi nih kayanya. Atau Aku tanya Aruna aja ya...," gumam Kenzo lalu meraih ponselnya dan mulai mendial nomor ponsel Kautsar.


Saat itu Kautsar juga baru selesai dengan pekerjaannya dan sedang melangkah menuju ke kamar.


" Kenzo, ada apaan ya...?" tanya Kautsar sambil membuka pintu kamar.


Dari ambang pintu Kautsar melihat Aruna yang sedang berbalik ke kanan dan ke kiri karena tak bisa tidur. Kautsar tersenyum lalu menghampiri sang istri.


" Belum tidur Sayang...?" tanya Kautsar.


" Ga bisa tidur...," rengek Aruna manja.


" Kenzo telephon Aku nih, mau diangkat ga...?" tanya Kautsar sambil memperlihatkan ponselnya.


Selama ini Kenzo memang kerap menghubungi Kautsar meski pun sesungguhnya ia perlu bantuan Aruna. Kenzo merasa kurang sopan jika menghubungi Aruna yang sudah bersuami itu. Maka Kenzo memilih menghubungi suami Aruna saat ia ingin berbincang dengan Aruna karena ia tak ingin terjadi salah paham antara Aruna dan Kautsar.


" Kenzo telephon jam segini, pasti ada yang penting. Aku terima aja ya...?" tanya Aruna yang diangguki Kautsar.


Kemudian Kautsar melangkah menuju ke kamar mandi dan meninggalkan Aruna yang bicara dengan Kenzo di telephon.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2