Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
23. Pembagian Tugas


__ADS_3

Aruna masih mematung di hadapan sosok serigala besar yang selama ini mengintainya. Ia menunggu apa yang hendak dikatakan oleh makhluk jadi-jadian itu. Walau jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, Aruna tetap berusaha tenang karena yakin makhluk berukuran besar yang tengah berdiri di depannya itu tak akan menyakitinya.


Sementara itu di dekat api unggun para guru masih asyik berbincang dengan tokoh masyarakat yang datang berkunjung. Salah satu koordinator perkemahan siswa bernama Ahmad nampak tersentak kaget lalu memalingkan wajahnya ke penjuru perkemahan. Ahmad merasa jika suasana malam itu sangat berbeda.


“ Kenapa Pak Ahmad...?” tanya Husna.


“ Gapapa Bu, Saya mau patroli dulu ngecek Anak-anak ya Bu...,” sahut Ahmad.


“ Perlu ditemani ga Pak...?” tanya guru lain yang bernama Romi.


“ Ga usah Pak Romi. Bapak dan guru lain di sini aja nemenin Pak Mulya...,” sahut Ahmad sambil beranjak dari dekat api unggun.


Kemudian Ahmad mulai memantau tenda-tenda siswa. Jika masih ada siswa yang bicara Ahmad akan menegur dan mengingatkan mereka dari luar tenda.


“ Tidur jangan ngobrol !. Siapkan tenaga untuk kegiatan besok. Saya ga mau denger ada yang ngeluh sakit atau capek besok. Salahkan diri sendiri karena ga memanfaatkan kesempatan istirahat ini untuk tidur. Paham Kalian...?!” tanya Ahmad lantang.


“ Paham Pak...!” sahut para siswa dari dalam tenda.


“ Bagus, sekarang Kalian tidur. Kalo Saya masih denger ada suara, Kalian Saya hukum berdiri di depan api unggun semalaman...,” ancam Ahmad.


Tak ada sahutan. Rupanya para siswa tak ingin dihukum karena mereka sudah cukup kelelahan hari itu.


Ahmad tersenyum lalu kembali melangkahkan kakinya menyusuri jajaran tenda siswa. Saat melintas di depan tenda nomor sebelas, ia berhenti karena melihat ada seorang gadis tengah berdiri di belakang tenda. Ahmad menajamkan penglihatannya untuk memastikan jika sosok gadis yang dilihatnya adalah manusia bukan hantu.


Ahmad membulatkan matanya saat mengenali gadis itu yang ternyata adalah Aruna. Selama ini Ahmad beberapa kali mendengar julukan ‘cewek aneh’untuk Aruna yang disematkan oleh para siswa di sekolah. Julukan itu disandang Aruna karena gadis itu kerap bertingkah aneh menurut pandangan para siswa. Ahmad tak mengerti dimana letak keanehannya namun sekarang Ahmad melihat sendiri salah satu keanehan Aruna.


“ Sedang apa Kamu di sana malam-malam begini Aruna...?!” tanya Ahmad hingga mengejutkan Aruna.


“ Eh, maaf Pak. Saya lagi cari angin Pak...,” sahut Aruna sambil bergegas melangkah kearah tenda.


“ Cari angin ?. Kamu jangan mengada-ada ya Aruna. Ini alam terbuka dan udah pasti banyak angin. Angin macam apa lagi yang Kamu cari...?” tanya Ahmad sambil menatap lekat kearah Aruna.


Aruna membisu karena tak bisa menjawab. Sesekali gadis itu nampak melirik kearah pohon rambutan besar di belakang tenda dengan tatapan cemas hingga membuat Ahmad curiga.

__ADS_1


“ Ada apa di pohon itu Aruna. Kok Kamu ngeliat ke sana terus...?” tanya Ahmad.


“ Ga ada apa-apa Pak...,” sahut Aruna cepat.


“ Oh ya, kok Saya ga percaya ya. Coba Saya liat...,” kata Ahmad sambil mengarahkan senter yang dibawanya ke atas pohon rambutan.


Melihat Ahmad akan menyorot pohon rambutan besar di belakangnya, Aruna pun bergerak cepat merebut senter dari tangan sang guru.


“ Jangan Pak...,” kata Aruna lirih.


“ Kenapa Aruna, kembalikan senter Saya...!” kata Ahmad galak namun Aruna menggelengkan kepalanya.


“ Pohon itu jangan disenterin Pak, ntar makhluk penunggu pohon rambutan itu marah dan membahayakan Kita semua. Apa Bapak mau kalo perkemahan Kita berantakan gara-gara siswa dan guru kesurupan...?” tanya Aruna sambil menatap lekat kearah Ahmad.


Ucapan Aruna membuat Ahmad terkejut sekaligus takut. Perlahan Ahmad menurunkan tangannya yang terulur kearah Aruna sambil menghela nafas panjang.


“ Saya ga ngerti apa yang Kamu omongin Aruna. Saya memang ga percaya sama hantu, tapi ngeliat sikap Kamu barusan kayanya Saya harus mulai berpikir ulang. Kalo gitu tolong Kamu bilang sama makhluk penunggu pohon itu


“ Insya Allah bisa Pak...,” sahut Aruna sambil menyerahkan senter milik Ahmad yang tadi direbutnya.


“ Baik lah. Kalo udah selesai, Kamu harus masuk tenda lagi Aruna. Saya ga mau dibilang pilih kasih gara-gara ngebiarin Kamu berdiri di luar kaya gini...,” kata Ahmad sambil berlalu.


“ Siap Pak...,” sahut Aruna sambil tersenyum.


Setelah Ahmad menjauh, Aruna kembali menghadap pohon rambutan. Namun sayangnya Aruna tak mendapati serigala besar itu di sana. Dengan langkah gontai Aruna kembali ke dalam tenda. Ia sedikit kesal karena gagal mengetahui tujuan serigala besar itu mengikutinya selama ini.


\=====


Pagi harinya semua siswa diminta berkumpul di dekat api unggun karena mereka akan mendapat tugas dari para guru.


“ Supaya gampang Kita akan buat kelompok. Ada kelompok yang bertugas belanja kebutuhan Kita, memasak, mengambil air di sungai dan sisanya mengikuti kegiatan yang dipandu Bu Husna. Kalian ga perlu khawatir, semua siswa akan mendapat bagian. Jika hari ini dia kebagian tugas mempersiapkan keperluan semua peserta maka hari berikutnya dia mengikuti kegiatan yang dipandu para guru. Ga ada yang boleh iri, tetap bekerja sama dan jangan lengah...!” kata Romi dengan lantang.


“ Siap Pak...!” sahut semua siswa bersamaan.

__ADS_1


“ Apa ada pertanyaan...?” tanya Romi.


Mika nampak mengacungkan jarinya. Semua mata mengarah padanya seolah menunggu pertanyaan apa yang akan dilontarkan oleh Mika. Romi nampak menganggukkan kepalanya pertanda Mika boleh bertanya.


“ Apa Kita harus ngambil air di sungai Pak ?. Kenapa ga pake air dari kran aja supaya lebih mudah...?” tanya Mika.


“ Pertanyaan bagus. Kita berkemah di sini selain untuk refreshing juga sedang melatih kreatifitas siswa. Ga selamanya Kita mendapatkan semua yang Kita perlukan dengan mudah. Itu sebabnya Kita manfaatkan sumber daya alam yang tersedia dan ga jauh dari lokasi Kita berkemah. Awalnya Kalian akan kesal tapi setelah itu Kalian bakal berterima kasih sama Kami karena bisa merasakan serunya bersahabat dengan alam...,” sahut Romi sambil tersenyum.


Pembagian kelompok pun dimulai. Aruna dan ketiga temannya kebagian tugas mengambil air di sungai. Ada tiga kelompok yang bertugas mengambil air untuk keperluan dapur. Dan kelompok Aruna dijadwalkan paling akhir mengambil air yaitu setelah sholat Ashar nanti. Sebelumnya mereka ikut bergabung dengan siswa lain mengikuti materi yang diberikan para guru.


\=====


Setelah menunaikan sholat Ashar berjamaah, Aruna dan ketiga temannya pun bersiap mengambil air di sungai. Romi nampak mendatangi mereka untuk memberi arahan.


“ Ingat ya anak-anak, jangan kelamaan di sungai apalagi sampe menjelang Maghrib...,” kata Romi.


“ Baik Pak...,” sahut Aruna dan ketiga temannya.


“ Kalo ga sanggup membawa sendiri, panggil kawan laki-laki untuk membantu. Bapak juga akan stand by di sini untuk ngawasin Kalian. Kalian tau kan apa hukuman buat anak yang ga patuh...?” tanyaRomi penuh penekanan.


“ Siap Pak...,” sahut Aruna dan ketiga temannya.


Kemudian Aruna dan ketiga temannya bergegas melangkah menuju sungai yang letaknya sekitar tujuh ratus meter dari lokasi perkemahan. Mereka berempat terlihat santai dan terus bicara. Sesekali keempatnya tertawa seolah tak merasa keberatan dengan tugas yang diberikan oleh sang guru.


“ Tempatnya indah banget ya, ga nyesel deh ikutan ke sini...,” kata Mika sambil menatap ke sekelilingnya dengan tatapan kagum.


“ Iya. Sayangnya Kita kebagian ngambil air sore jadi ga bisa main-main di sungai...,” keluh Noni.


“ Eh, siapa bilang Kita ga bisa main-main. Kan Kita bisa balik sebelum Maghrib. Masih ada waktu satu setengah jam lagi kok buat Kita balik ke kemah...,” kata Sheila sambil melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


Mendengar ucapan Sheila membuat Aruna, Mika dan Noni tersenyum. Setelah memasukkan air ke dalam dua jirigen besar, keempatnya lanjut bermain air.


\=====

__ADS_1


__ADS_2