
Hari itu Kautsar tiba di rumah saat jam menunjukkan pukul lima sore. Aruna yang baru selesai mandi dibuat terkejut dengan kehadiran Kautsar yang terlihat duduk menonton televisi sambil menikmati secangkir kopi.
" Ya Allah ngagetin aja sih. Kapan Kamu pulang Tsar...?" tanya Aruna sambil menutup pintu kamar.
" Sepuluh menit yang lalu...," sahut Kautsar.
" Tumben jam segini udah pulang, biasanya habis Maghrib...," kata Aruna sambil melangkah menuju dapur.
" Kan udah janji mau nganterin Kamu...," sahut Kautsar sambil melirik Aruna yang terlihat fresh dengan rambut basahnya itu.
Aruna menganggukkan kepala tanda mengerti. Kemudian dia membuka lemari dan mengeluarkan mie instant. Nampaknya Aruna hendak memasak mie instant itu dan menawari Kautsar.
" Aku mau masak mie, Kamu mau ga...?" tanya Aruna.
" Dimasakin sekalian...?" tanya Kautsar penuh harap.
" Iya...," sahut Aruna cepat.
" Aku mau. Tolong pakein cabe rawit tiga sama sawi ya Run...," kata Kautsar sambil beranjak menuju kamar.
" Siap Bos...!" sahut Aruna lantang disambut tawa Kautsar.
Setelah membersihkan diri Kautsar bergabung dengan Aruna di meja makan. Kemudian keduanya menyantap mie instant hasil racikan Aruna dengan lahap sambil berbincang santai hingga menjelang Maghrib.
Saat adzan Maghrib berkumandang, Kautsar bergegas pergi ke musholla untuk menunaikan sholat Maghrib berjamaah. Sedangkan Aruna merapikan peralatan makan lalu menunaikan sholat Maghrib di kamar.
Saat jam menunjukkan pukul enam tiga puluh, Aruna mengajak Kautsar pergi ke lokasi yang dimaksud Aruna kemarin malam.
Kautsar dan Aruna berboncengan di atas motor yang melaju dengan kecepatan sedang. Atas permintaan Aruna, motor pun berhenti tepat di pinggir jalan dimana terbentang persawahan yang luas.
" Kamu yakin di sini tempatnya Run...?" tanya Kautsar.
" Iya. Dulu tumpukan mayatnya ada di sebelah sana...," sahut Aruna sambil menunjuk ke tengah persawahan.
Kautsar mengikuti arah yang ditunjuk Aruna dan tiba-tiba merasakan hawa dingin yang menerpa tubuhnya hingga membuat bulu kuduknya meremang.
" Kita ke sana yuk...," ajak Aruna.
" Ok...," sahut Kautsar lalu mulai memimpin jalan.
Lalu keduanya berjalan meniti pematang sawah dengan hati-hati dan meninggalkan motor di pinggir jalan. Beruntung sinar bulan di langit sedikit membantu hingga Kautsar bisa melihat sekelilingnya dengan jelas.
Kautsar yang melangkah sambil menggandeng tangan Aruna pun berhenti saat merasakan langkah kakinya semakin berat seolah dibebani benda berat. Kautsar menoleh kearah Aruna karena ingin bertanya pada sang istri tentang apa yang ia alami saat itu. Sayangnya ia justru melihat Aruna yang tengah mematung sambil menatap ke satu titik.
Kautsar mengikuti arah tatapan Aruna dan terkejut saat melihat penampakan orang-orang yang tengah disiksa di sebuah lahan kosong. Jerit kesakitan dan teriakan minta tolong terdengar saling bersahutan hingga membuat Kautsar menggigil menahan marah.
" Pria itu yang datang ke kamarku Tsar...," kata Aruna sambil menunjuk seorang pria berambut gondrong dan bercelana hitam.
Kautsar melihat kearah pria yang dimaksud Aruna tengah dalam keadaan tangan terikat dan kaki diberi pemberat besi berukuran besar. Rupanya para tentara Jepang yang menyiksanya sengaja memberi pemberat besi itu agar semua tawanan tak bisa lari. Pria itu sengaja dipisahkan dari tawanan lain dan mengalami penyiksaan yang berbeda.
Pria berambut gondrong itu terlihat sangat mengenaskan dengan luka di sekujur tubuh dan wajahnya. Kautsar ikut meringis saat bayonet milik tentara Jepang itu dihujamkan berkali-kali kearah pria itu. Darah dan nanah nampak mengalir dari luka baru termasuk luka lama yang hampir mengering. Bisa dibayangkan bagaimana rasa sakit yang harus ditanggung oleh pria itu.
Tikaman bayonet yang berlangsung berulang-ulang membuat pria berambut gondrong itu jatuh tersungkur bersimbah darah. Ia terkapar di tanah dan tampak tak bergerak lagi.
Para tentara Jepang yang yakin jika pria itu telah tewas seperti yang lain pun menyeret tubuhnya kearah tumpukan mayat yang berada di sisi lain lahan itu. Mereka melempar tubuh pria itu ke atas tumpukan mayat yang telah membusuk lalu beranjak pergi.
__ADS_1
Pria itu terlihat membuka matanya lalu berusaha beringsut turun dari tumpukan mayat itu namun gagal. Kondisi tubuhnya yang lemah ditambah luka yang parah membuat ia tak sanggup bergerak.
Saat kritis itu lah pasukan Jepang kembali datang lalu melemparkan mayat lain ke atas tubuhnya. Pria itu terlihat kesulitan bernafas karena terhimpit. Dan tak lama kemudian pria itu meninggal dunia dalam keadaan terhimpit di tengah tumpukan mayat.
Kautsar menoleh kearah Aruna saat ia mendengar Aruna mengatakan sesuatu. Rupanya Aruna tengah berinteraksi dengan arwah pria itu.
" Aku mengerti penderitaanmu. Sekarang Kamu bisa pergi dengan tenang. Aku dan Kautsar akan membantumu dan semua yang tewas di tempat ini semampu Kami...," kata Aruna lirih sambil berusaha menahan air mata yang hendak jatuh.
Hantu pria itu menganggukkan kepalanya lalu lenyap begitu saja. Kemudian Kautsar memimpin doa dan Aruna mengaminkan doa tersebut. Mereka berharap arwah para pahlawan tak dikenal itu kembali ke haribaan Allah dengan tenang.
Usai doa dilantunkan, Aruna dan Kautsar melihat cahaya putih yang jumlahnya tak terhitung nampak berkelap kelip seperti kunang-kunang di kegelapan malam. Titik-titik cahaya putih itu berkumpul membentuk sebuah cahaya yang berukuran besar. Satu titik cahaya tampak membelot dari kumpulan itu lalu terbang kearah Kautsar dan Aruna.
" Aku mewakili semuanya mengucapkan terima kasih pada Kalian terutama Kamu Aruna...," kata sebuah suara yang diyakini sebagai suara arwah pria berambut gondrong itu.
" Sama-sama. Aku juga mewakili semua orang mengucapkan terima kasih padamu dan mereka semua yang telah gugur demi kemerdekaan Indonesia. Jasamu dan mereka semua tak terhingga. Allah yang akan membalas pengorbananmu dan teman-temanmu itu. Sekarang pergi lah dengan tenang. Selamat jalan pahlawan...," kata Aruna dengan suara parau.
Mendengar ucapan Aruna membuat arwah itu tersenyum. Ia kembali ke wujudnya yang berupa cahaya kecil itu lalu berputar sejenak mengelilingi tubuh Aruna dan Kautsar. Setelahnya cahaya itu bergabung dengan cahaya besar yang masih setia menunggunya. Sesaat kemudian cahaya itu melesat ke langit malam dan lenyap begitu saja.
" Alhamdulillah Kita berhasil Kautsar. Mereka udah pergi ke tempat yang seharusnya...," kata Aruna sambil mengusap air matanya.
" Masya Allah. Maksud Kamu kumpulan cahaya yang melesat ke langit itu adalah wujud lain dari arwah mereka Aruna...?" tanya Kautsar takjub hingga membuat Aruna menoleh kearah Kautsar.
" Kamu liat juga Tsar...?" tanya Aruna tak percaya.
" Iya. Apalagi cahaya itu kontras banget sama langit malam. Siapa pun pasti bisa ngeliat itu Aruna...," sahut Kautsar.
" Ga semua orang bisa ngeliat itu Tsar...," kata Aruna hingga mengejutkan Kautsar.
" Masa sih. Terus gimana nih...?" tanya Kautsar bingung.
" Alhamdulillah, syukur deh kalo gitu...," kata Kautsar sambil menghela nafas lega.
" Kita pulang sekarang yuk. Tapi sebelumnya Kita mampir dulu ke masjid ya Tsar...," pinta Aruna.
" Boleh, sekalian sholat Isya ya Run. Udah hampir jam delapan nih...," sahut Kautsar yang diangguki Aruna.
Kautsar kembali mengulurkan tangannya yang langsung disambut oleh Aruna. Kemudian keduanya meninggalkan persawahan itu sambil bergandeng tangan.
Usai menunaikan sholat Isya di masjid, Aruna menemui pengurus masjid untuk menginfakkan sejumlah uang.
" Atas nama siapa Mbak...?" tanya sang pengurus masjid.
" Hamba Allah aja Pak...," sahut Aruna.
" Baik, terima kasih ya Mbak. Semoga amal ibadah Mbak dan Suami bermanfaat untuk umat dan mendapat ganjaran pahala dari Allah Subhannahu wata'ala. Aamiin...," kata sang pengurus masjid.
" Aamiin yaa Robbal'alamiin...," sahut Aruna dan Kautsar bersamaan.
" Makasih doanya Pak. Kalo gitu Kami permisi, Assalamualaikum...," kata Kautsar sambil menjabat tangan sang pengurus masjid.
" Wa alaikumsalam, hati-hati ya...," kata sang pengurus masjid yang diangguki Kautsar dan Aruna.
Sang pengurus masjid mengantar kepergian Aruna dan Kautsar hingga ke teras masjid. Tak lama kemudian Kautsar melajukan motornya meninggalkan masjid.
" Apa pahala infak tadi Kamu tujukan untuk arwah mereka Run...?" tanya Kautsar.
__ADS_1
" Iya. Hanya itu yang bisa Kita lakukan untuk mereka yang udah meninggal dunia kan...," sahut Aruna santai.
" Betul...," sahut Kautsar sambil tersenyum.
Dalam hati Kautsar makin mengagumi wanita yang ia nikahi beberapa hari yang lalu itu.
" Untung udah jadi Istri, jadi ga perlu khawatir ada cowok lain yang kepincut sama pesonamu ini Aruna...," gumam Kautsar.
" Adaa apa Tsar...?" tanya Aruna yang merasa mendengar Kautsar mengucapkan sesuatu.
" Bukan apa-apa. Pegangan yaa, Aku mau ngebut nih...," kata Kautsar sambil mempercepat laju motornya hingga membuat Aruna terlonjak kaget.
" Kautsaaarrr...!" jerit Aruna sambil memeluk Kautsar dari belakang hingga membuat Kautsar tertawa keras.
\=\=\=\=\=
Di bulan kedua usia pernikahan, hubungan Aruna dan Kautsar kian dekat. Aruna yang semula menjaga jarak dengan Kautsar pun perlahan mau membuka diri. Hal itu tak lepas dari usaha Kautsar yang menghujani Aruna dengan kasih sayang hingga membuat gadis itu luluh.
Namun di saat Aruna mulai membuka hati untuk Kautsar, ternyata ada wanita lain yang juga terpikat dengan pesona Kautsar. Wanita itu bernama Sally yang merupakan rekan kerja Kautsar di kantor.
Aruna mulai terganggu dengan sikap Sally yang terus 'mengejar' Kautsar meski pun telah ditolak berkali-kali seperti kali ini.
Di hari Minggu pagi Aruna dan Kautsar sedang bersantai di rumah. Kautsar mencuci motor sedangkan Aruna baru saja selesai mencuci pakaian.
Ponsel Kautsar berdering terus menerus hingga membuat Aruna yang tengah menonton televisi terusik. Aruna nampak memicingkan mata saat melihat nama Sally di layar ponsel milik Kautsar itu.
" Tsar ada telephon nih...!" panggil Aruna.
" Tolong diterima aja Run, lagi nanggung nih...!" sahut Kautsar.
" Ini dari Sally lho...!" kata Aruna.
" Iya gapapa, dia temen kantor Aku. Kalo dia nanyain Aku, bilang aja lagi keluar...," sahut Kautsar cuek.
Aruna mengangguk lalu menerima panggilan itu. Di seberang telephon Sally tampak antusias saat mengira Kautsar merespon panggilannya. Namun Sally harus menelan kecewa saat mendengar suara Aruna.
" Hallo, Assalamualaikum...," sapa Aruna.
" Wa alaikumsalam. Maaf, bisa bicara dengan Kautsar...?" tanya Sally.
" Kautsar lagi keluar. Apa ada pesan, biar nanti Saya sampaikan...," sahut Aruna santun.
" Maaf, ini dengan siapa ya...?" tanya Sally penasaran.
" Saya sepupunya Kautsar. Apa ada pesan...?" tanya Aruna lagi.
" Oh ga ada. Ntar Saya telephon lagi deh. Makasih...," kata Sally lalu mengakhiri pembicaraan mereka.
Aruna mengerutkan keningnya sambil menatap layar ponsel Kautsar. Kemudian Aruna menoleh kearah Kautsar yang sedang melangkah masuk ke dalam rumah.
" Jadi ada cewek lain yang juga berharap cintanya...," batin Aruna gusar sambil menggigit bibirnya.
Setelah meletakkan ponsel Kautsar di atas meja, Aruna pun bergegas masuk ke dalam kamar. Ada rasa asing yang menyelinap ke dalam hatinya saat ia tahu ada wanita lain yang tertarik pada suaminya. Dan sejujurnya Aruna merasa tak nyaman dengan hal itu.
bersambung
__ADS_1