Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
134. Tugas Untuk Aruna


__ADS_3

Hafiz nampak mengikuti sang Kakek yang kini pergi ke taman belakang rumah. Di sana sang Kakek nampak duduk termenung sambil menundukkan kepalanya.


Hafiz membiarkan sang Kakek dalam kondisi seperti itu hingga beberapa saat. Setelah hampir setengah jam berlalu namun sang Kakek nampak tak ingin mengakhiri kebisuannya, Hafiz pun mulai cemas lalu mendekati sang Kakek.


" Kakek Gapapa kan...?" tanya Hafiz sambil menyentuh pundak sang Kakek dengan lembut.


Sang Kakek nampak mendongakkan wajahnya untuk menatap Hafiz lalu tersenyum.


" Kakek gapapa Hafiz...," sahut sang Kakek sambil menyentuh kepala Hafiz dengan lembut.


" Alhamdulillah. Aku pikir Kakek ga akan ngomong sama Aku...," kata Hafiz.


" Kenapa Kamu berpikir kaya gitu...?" tanya sang Kakek.


" Soalnya Kakek baru aja denger cerita buruk tentang Bang Moa dan Aldi. Setau Aku Kakek kan sangat menyayangi mereka. Yah, siapa tau kehilangan mereka bikin Kakek jadi lupa kalo masih punya cucu lain selain Bang Moa dan Aldi...," sahut Hafiz sambil tersenyum kecut.


Ucapan Hafiz mengejutkan sang Kakek namun tak membuatnya marah. Kakek Aldi justru tertawa dan itu makin membuat Hafiz bingung.


" Jadi menurutmu Aku pilih kasih terhadap semua Cucuku...?" tanya sang Kakek.


" Bukan itu maksudku...," sahut Hafiz tak enak hati.


" Aku akui Aku memang memberi sedikit perhatian lebih kepada Moa dan Aldi. Tapi itu bukan tanpa alasan Hafiz...," kata Kakek Aldi sambil mengusap kepala Hafiz.


" Maksud Kakek apa...?" tanya Hafiz sambil duduk di samping sang Kakek.


" Moa itu dan Aldi berbeda dari cucu-cucuku yang lain termasuk Kamu. Moa itu orang yang temperamental sedang Aldi terlalu tertutup. Tapi Aku baru sadar jika tindakanku justru membuat perpecahan diantara semua Cucuku. Aku sama sekali ga bermaksud pilih kasih. Aku hanya ingin Cucuku tau jika Aku akan selalu ada untuk mereka meski pun kedua orangtua mereka tak peduli. Aku berharap dengan hartaku Aku bisa memenuhi semua keinginan Kalian. Tapi rupanya Aku salah...," kata Kakek Aldi dengan mata menerawang.


" Niat Kakek ga salah kok. Cuma caranya yang sedikit keliru. Tapi gapapa, selama ini Kami berusaha mengerti semua tindakan Kakek. Tapi kalo bisa Kakek juga perhatiin Cucu Kakek yang lain. Bukan Aku ya, tapi Dian, Feri dan Eka. Mereka juga ingin Kakek memberi perhatian lebih sama seperti Kakek menyayangi Bang Moa dan Aldi...," pinta Hafiz sambil menyentuh punggung tangan sang Kakek.


" Terima kasih Hafiz...," kata sang Kakek sambil menganggukkan kepalanya.


" Sama-sama Kek. Sekarang apa yang mau Kakek lakukan...?" tanya Hafiz.


" Kakek bingung Fiz. Apa Kamu punya saran...?" tanya Kakek Aldi.


" Mmm..., Kakek bisa ngeluarin sejumlah uang untuk sedekah dan infaq atas nama Aldi dan Bang Moa. Insya Allah itu bisa sedikit meringankan langkah mereka di akherat nanti...," sahut Hafiz hati-hati.

__ADS_1


" Iya Kamu benar. Lakukan Fiz. Kakek mau Kamu atur semuanya ya...," kata sang Kakek antusias.


" Jangan Aku aja Kek. Ntar malah salah paham sama yang lain. Kakek suruh juga Cucu Kakek yang lain untuk membantu...," protes Hafiz.


" Iya iya. Kamu tenang aja. Ntar Kakek suruh si Feri bantuin Kamu...," sahut sang Kakek sambil tersenyum.


" Ok, kalo gitu Aku setuju Kek...," kata Hafiz sambil mengacungkan jempolnya.


" Eh, ngomong-ngomong kemana Reymond dan teman-temannya Fiz...?" tanya Kakek Aldi.


" Mereka di luar Kek. Abis ngeliat Kakek ngamuk tadi katanya mereka jadi takut ngeliat Kakek...," gurau Hafiz.


" Mana mungkin. Mereka pasti tau kalo Aku kan ga marah sama mereka...," sahut Kakek Aldi.


" Iya Kek. Apa Kakek mau ngobrol sama mereka...?" tanya Hafiz.


" Bukan mereka, tapi Aruna sama Kautsar aja. Bisa Kamu panggilkan mereka Fiz...?" pinta sang Kakek.


" Siap Kek...," sahut Hafiz cepat hingga membuat sang Kakek tersenyum.


" Kata Hafiz Kakek ingin bicara dengan Kami. Apa itu betul Kek...?" tanya Kautsar dengan santun.


" Betul. Ada hal yang ingin Aku tanyakan...," sahut Kakek Aldi.


" Tentang apa Kek...?" tanya Kautsar.


" Tentang Istrimu, Aruna...," sahut Kakek Aldi sambil melirik kearah Aruna.


" Maaf kalo terdengar lancang, tapi maksud Kakek apa ya...?" tanya Kautsar sambil bergeser ke depan untuk melindungi Aruna dengan tubuhnya.


Kakek Aldi tersenyum melihat sikap Kautsar yang terlihat sangat melindungi istrinya.


" Aku juga dulu sepertimu. Bersikap waspada jika ada yang bertanya tentang istriku. Tapi kali ini Aku hanya ingin tau apakah yang diucapkan Jon tentang pelecehan se* yang dilakukan Moa terhadap Aldi itu benar atau hanya lelucon...?" tanya Kakek Aldi.


" Kenapa Kakek tanya itu sama Istriku...?" tanya Kautsar sambil mengerutkan keningnya.


" Aku tau jika istrimu memiliki kelebihan Kautsar. Aku bisa melihatnya saat pertama kali Kita bertemu. Jangan tanya bagaimana Aku bisa tau, tapi begitu lah. Aku juga dikaruniai kelebihan oleh Allah untuk membaca kelebihan yang dimiliki oleh orang lain termasuk Istrimu...," sahut Kakek Aldi bijak.

__ADS_1


Kautsar dan Aruna saling menatap sejenak kemudian mengangguk.


" Gimana Sayang, apa Kamu mau ceritain sesuatu sama Kakeknya Aldi...?" tanya Kautsar sambil menatap Aruna.


" Ga masalah. Udah kepalang basah juga. Lagipula Kakek memang harus tau yang terjadi sebenarnya biar ga salah mengambil keputusan. Bukan begitu Kek...?" tanya Aruna sambil menoleh kearah Kakek Aldi.


" Betul Aruna. Terima kasih karena Kamu paham kemana arah pembicaraan Kita...," sahut Kakek Aldi.


Kemudian Aruna mulai menceritakan apa yang ia ketahui tentang Aldi. Termasuk bagaimana arwah Aldi berinteraksi dengannya. Kakek Aldi nampak mengepalkan tangannya saat mendengar cerita Aruna.


" Kasian Aldi. Tapi kenapa dia ga pernah cerita sama Kakek...?" gumam Kakek Aldi.


" Dia diancam Kek. Makanya dia ga berani buka mulut...," sahut Aruna.


" Kerusuhan di ruang tengah tadi, apa itu juga ulah Aldi...?" tanya Kakek Aldi.


" Bukan Kek. Nampaknya penghuni rumah Kakek lah pelakunya. Mereka ga suka sama Jon yang jahat itu. Mereka mengingatkan Kakek supaya hati-hati sama Jon karena dia ibarat musang berbulu domba. Saran Saya, suruh dia pergi jauh sebelum dia membuat ulah di dalam keluarga Kakek...," sahut Aruna.


" Baik lah. Aku juga ga berminat melihatnya apalagi menyuruhnya tinggal di rumahku bersama keluargaku. Ngomong-ngomong, apa menurutmu diantara Cucuku yang tersisa masih ada yang berperilaku menyimpang Aruna...?" tanya Kakek Aldi.


" Saya ga tau Kek. Kan Saya belum ketemu sama mereka semua...," sahut Aruna.


" Gitu ya. Nanti malam saat acara tahlilan semua Cucu, anak dan menantuku akan hadir. Kamu bisa mengamati mereka satu per satu Aruna...," kata Kakek Aldi.


" Apa boleh begitu Kek...?" tanya Aruna sambil mengulum senyum.


" Tentu saja boleh. Anggap aja ini perintah dari Kakek untukmu Aruna...," sahut Kakek Aldi tegas.


" Kalo Kakek udah kasih mandat kaya gini mana bisa Saya nolak. Saya khawatir Kakek marah dan Saya dijadiin perkedel...," gurau Aruna.


" Aku ga sekejam itu Aruna. Lagipula Aku harus berpikir seribu kali sebelum membuatmu jadi perkedel. Kamu liat gimana cara Kautsar menjagamu kan ?. Mungkin sebelum Aku menyentuh jarimu, Kautsar sudah membuatku jadi perkedel lebih dulu...," sahut Kakek Aldi sambil tertawa.


" Kakek bisa aja nih...," kata Kautsar dengan wajah merona hingga membuat Kakek Aldi kembali tertawa.


Aruna dan Kautsar pun ikut tertawa. Dari kejauhan Hafiz nampak tersenyum melihat sang Kakek bisa tertawa di tengah rasa sakit yang ia rasakan.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2