Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
163. Ingatan


__ADS_3

Jenasah Edi dimakamkan di pemakaman umum. Puri dan ketiga anaknya nampak melepas kepergian Edi dengan wajah datar seolah tak ada kesedihan di sana. Sikap mereka membuat mama Elan yang sangat menyayangi Edi pun kecewa.


" Kenapa Kamu dan Anak-anakmu ga memperlihatkan ekspresi sedih saat Edi meninggal ?. Sehina itu kah dia di hadapan Kalian...?" tanya mama Elan sambil berurai air mata.


Puri hanya melirik kearah mertuanya itu tanpa menjawab. Ketiga anaknya pun nampak merapat kearah Puri seolah ingin menjadi perisai sang mama. Hal itu membuat Aruna, Kautsar dan Kenzo tersentuh.


" Sssttt, udah Ma. Jangan sekarang, malu banyak orang...," pinta ayah Elan.


Mama Elan terdiam lalu kembali menatap liang lahat Edi yang mulai ditimbun tanah. Setelah pembacaan doa yang panjang, satu per satu pelayat mulai meninggalkan area pemakaman.


Puri dan ketiga anaknya tetap berada di sana. Ketiganya bersimpuh di sisi makam Edi sambil membacakan surah Al Fatihah untuk almarhum Edi. Di belakang mereka terlihat bi Ijah dan Rama berdiri menunggu.


Setelah selesai melantunkan doa untuk almarhum suaminya, Puri bangkit diikuti ketiga anaknya.


" Mam... ma. Ki... ta ke ma... na se... ka... rang...?" tanya Cinta terbata-bata.


Pertanyaan Cinta membuat kedua orangtua Elan bingung.


" Kalian pulang ke rumah Sayang. Emang mau kemana lagi...?" tanya mama Elan tak mengerti.


" Ke rumah Papa Nek...?" tanya Edwin.


" Iya Sayang...," sahut mama Elan cepat.


" Tapi Kami ga suka di sana Nek. Kalo tinggal di sana bikin Kami ingat sama Papa...," kata Edwin mewakili kedua saudaranya.

__ADS_1


Ucapan Edwin membuat kedua orangtua Elan tersentuh. Mereka tersenyum karena mengira jika 'ingatan' yang dimaksud Edwin adalah sesuatu yang indah dan menyenangkan. Tapi keduanya terkejut saat Edwin melanjutkan ucapannya.


" Di sana Papa selalu membuat Aku, Edgar dan Cinta ketakutan, merasa tak berharga dan terzholimi. Kami ga mau mengingat itu Nek. Itu sangat menyakitkan untuk Kami...," kata Edwin lirih.


" Apa maksud Kamu Edwin...?" tanya Kenzo penasaran.


" Ini pasti Abang Kenzo ya. Keponakan tersayang Papa...," sahut Edwin dengan senyum kecut sambil mengulurkan tangannya.


Kenzo menyambut tangan Edwin lalu menggenggamnya erat. Aruna, Kautsar, Elan, Nina dan kedua orangtua Elan lagi-lagi dibuat terkejut dengan pernyataan Edwin.


" Kenapa Kamu ngomong gitu Edwin. Papa Kamu pasti sayang juga sama Kalian kan...?" tanya Kenzo tak enak hati.


" Papa ga pernah sayang sama Kami Bang. Papa malu punya anak kaya Kami. Buat Papa Kami cuma aib yang harus ditutupi bahkan kalo bisa dibuang jauh karena ga berharga...," sahut Edwin sedih.


" Itu bohong !. Papa bahkan ga rela ngeluarin uangnya untuk biaya Kami sekolah. Kata Papa sekolah untuk anak cacat itu mahal. Jadi Kami ga boleh banyak nuntut ini itu. Kami ga pernah jajan kaya teman-teman. Kami ga pernah tau gimana rasanya duduk di kantin sekolah dan makan bersama teman-teman karena Kami ga punya uang...!" sahut Edwin dengan wajah merah padam.


Puri mendekat kearah Edwin untuk menenangkannya. Kedua orangtua Elan saling menatap seolah tak percaya dengan ucapan Edwin. Selama ini mereka telah mengeluarkan dana yang tak sedikit untuk membantu Edi mengobati ketiga anaknya. Jika mereka tak pernah berobat, lalu untuk apa uang itu. Pertanyaan itu terus menggema di kepala mereka.


" Maaf Ma, Yah. Bukan Aku tak bisa mengajari anakku sopan santun. Tapi yang terjadi emang seperti itu. Bang Edi ga pernah lagi menyentuh apalagi menyayangi anaknya setelah tau mereka memiliki kekurangan. Setiap hari hanya makian yang Bang Edi lontarkan untuk mereka. Jadi wajar kan kalo Anak-anak takut dan tak menyukai Papanya...," kata Puri sedih.


" Kenapa Kamu ga pernah cerita Puri. Mama pikir Kalian baik-baik aja. Asal Kamu tau ya, Mama sama Ayah juga ngasih Edi uang yang jumlahnya lumayan banyak untuk membantu biaya pengobatan anak-anakmu. Apa itu juga ga pernah sampe ke tangan Kalian...?" tanya mama Elan.


" Aku malah baru tau kalo Mama sama Ayah ngasih uang sama Bang Edi untuk ngobatin anak-anak. Selama ini Bang Edi selalu mengeluh kekurangan uang karena biaya sekolah anak-anak yang mahal. Dia ga pernah ngasih uang saku untuk anak-anak. Makanya Aku selalu minta Bi Ijah buatin bekal...," sahut Puri.


" Ya Allah, maafin Mama ya Nak. Mama ga tau kalo Edi sekejam itu sama Kalian...," kata mama Elan lalu memeluk Puri dan ketiga anaknya bergantian.

__ADS_1


Puri dan ketiga anaknya nampak tersenyum tulus dan itu membuat kedua orangtua Elan bahagia.


" Kalian jangan khawatir, setelah ini Kalian bisa berobat dan sembuh. Kakek yang biayain semuanya nanti...," kata ayah Elan.


" Insya Allah Papa Elan juga bakal bantu cari dokter yang handal untuk menyembuhkan Kalian...," kata Elan tiba-tiba hingga mengejutkan Puri dan ketiga anaknya.


" Apa Abang serius...?" tanya Puri.


" Iya Puri. Aku memang ga suka sama Papanya anak-anak. Tapi mereka bertiga ga salah apa-apa dan Aku ga punya alasan membenci mereka..., " sahut Elan bijak.


" Makasih Bang. Aku tau dosaku dan Bang Edi terlalu banyak. Tolong maafin Kami ya Bang...," kata Puri sambil menangis.


Nina maju memeluk Puri hingga membuat Puri makin keras menangis. Air mata yang sejak kemarin ditahannya akhirnya tumpah juga. Semula Puri mengira akan kehilangan keluarga setelah kematian Edi. Tapi nyatanya keluarga Edi masih menahannya bahkan berjanji membiayai ketiga anaknya.


Mengetahui sang mama menangis membuat Edwin, Edgar dan Cinta nampak panik. Mereka khawatir jika sesuatu yang buruk terjadi pada sang mama karena itu lah yang ada dalam ingatan mereka. Sang mama akan menangis tiap kali merasa sedih dan tersakiti. Siapa lagi pelakunya jika bukan papa mereka sendiri.


" Mama...!" panggil Edwin dan Cinta bersamaan.


" Gapapa anak-anak. Mama lagi bahagia karena sebentar lagi Kalian mau diobati. Jangan lupa berdoa kepada Allah supaya mata Edwin bisa kembali melihat, Edgar bisa ikut therapy bicara dan Cinta juga ikut therapy supaya bisa berjalan normal...," kata Elan.


Mendengar ucapan Elan membuat Edwin, Edgar dan Cinta tertawa bahagia. Ketiganya pun menghambur memeluk sang mama sambil melompat-lompat. Semua yang masih bertahan di sana pun ikut tertawa melihat tingkah lucu remaja kembar itu.


Dari tempatnya berdiri Rama dan Ijah bisa melihat tingkah Puri dan ketiga anaknya. Meski terlambat tapi keduanya yakin jika Puri dan ketiga anaknya akan menjemput kebahagiaan mereka.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2