Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
290. Sarapan


__ADS_3

Aruna menghela nafas panjang setelah mengetahui jati diri si pocong merah. Kemudian Aruna menceritakan pengakuan pocong merah itu kepada semua orang yang ada di rumah itu. Bisa ditebak bagaimana reaksi mereka.


" Ya Allah, jahat banget sih Dita...," kata Gladys sambil menggelengkan kepalanya.


" Bukan jahat lagi, itu mah bejad namanya...," sahut Reyhan kesal.


" Bisa-bisanya dia menghabisi nyawa Kakek yang sangat menyayanginya itu...," kata Gladys lagi.


" Keliatannya Dita kesal saat tau kakeknya punya orang lain yang akan diberi warisan...," kata Kautsar.


" Dita salah sangka. Hak orang lain yang dimaksud Kakeknya adalah anak yatim piatu dan duafa yang tinggal di sekitar sini. Rupanya Kakek Dita biasa menyedekahkan sebagian hartanya untuk mereka...," sahut Aruna.


Semua tampak kecewa mendengar ucapan Aruna. Mereka tak habis pikir, cuma karena harta yang kelak akan jadi miliknya, Dita tega membunuh Kakek kandungnya. Dan Dita lebih memilih percaya pada pria yang sekarang jadi kekasihnya itu daripada mendengar ucapan sang kakek.


" Kenapa Sayang...?" tanya Kautsar saat melihat Aruna menoleh kearah pintu.


" Ini udah terlalu larut. Kita pulang sekarang yuk. Kamu dan Kak Reyhan kan besok harus kerja..., " kata Aruna mengingatkan.


" Betul Run. Lagian Kita juga udah kelamaan ninggalin supir Taxi on line di depan sana. Ga tau deh dia ngeliat pocong merah itu atau ga. Kalo tuh orang ngeliat juga, Gue jamin dia udah kabur tancap gas dari tadi...," kata Reyhan.


" Mudah-mudahan dia gapapa...," sahut Kautsar.


" Kalo gitu Kami pamit pulang dulu ya Dys. Insya Allah Kami balik lagi besok...," janji Aruna.


" Beneran ya Mbak Aruna. Aku takut banget lho sekarang...," kata Gladys.


" Ga usah takut. Jaga sholat lima waktu, kuatkan dzikir, ga usah ikut-ikutan naro penangkal setan atau sejenisnya kaya orang lain. Karena itu justru memanggil setan lain buat datang ke sini...," kata Aruna.


" Gitu ya...," sahut Gladys sambil mengangguk.


" Ini nomor ponselku, bisa Kamu hubungin kapan aja. Dan Kamu, tolong jaga Kakakmu ini ya...," kata Aruna sambil menepuk pundak adik Gladys sambil tersenyum.


" Iya Mbak Aruna tenang aja. Kalo soal jagain Mbakku ini Aku mah bisa. Kan selama ini Aku juga yang jagain Mbakku...," sahut adik Gladys sambil menepuk dada dengan bangga.


Jawaban adik Gladys membuat Aruna, Kautsar dan Reyhan tertawa.


" Iya iya percaya. Kami pulang dulu ya. Jangan lupa kunci pintu. Assalamualaikum..., " kata Aruna.


" Wa alaikumsalam...," sahut Gladys dan adiknya bersamaan.


Kautsar, Aruna dan Reyhan nampak bernafas lega saat melihat Taxi on line yang mereka pesan tadi masih setia menunggu tak jauh dari rumah yang ditempati Gladys. Rupanya sang supir tertidur di dalam mobil saat menunggu ketiga penumpangnya. Ia terbangun saat Reyhan mengetuk kaca mobil.


" Maaf Mas Saya ketiduran...," kata supir Taxi sambil mengucek matanya.

__ADS_1


" Gapapa Pak, wajar kalo ngantuk. Suasananya lumayan mendukung kok...," sahut Reyhan santai dan diangguki sang supir Taxi.


" Udah selesai urusannya Mas...?" tanya supir Taxi.


" Alhamdulillah udah Pak...," sahut Reyhan sambil duduk di samping sang supir.


" Kalo gitu Kita langsung ke alamat penjemputan tadi kan Mas...?" tanya supir Taxi.


" Iya Pak. Dari sana baru Kita ke rumah Saya. Ntar Saya kasih alamatnya sambil jalan...," kata Reyhan sambil menguap.


" Siap Mas...," sahut supir Taxi sambil menstarter mobil.


Dari jok belakang Kautsar menyodorkan lima lembar uang ratusan ribu kepada supir Taxi. Supir Taxi nampak terkejut sekaligus senang menerima uang pemberian Kautsar itu.


" Ini buat Saya Mas...?" tanya supir Taxi.


" Iya Pak...," sahut Kautsar.


" Tapi ini banyak banget Mas. Paling cuma abis dua ratus ribu buat nganterin. Apalagi ongkos yang tadi kan udah dibayar...," kata supir Taxi.


" Kan Saya janji mau kasih bonus buat Bapak tadi. Nah itu bonusnya. Terima ya Pak, makasih lho udah mau nunggu Kami sampe berjam-jam...," kata Kautsar sambil tersenyum.


" Alhamdulillah. Iya Mas, sama-sama...," sahut supir Taxi dengan mata berkaca-kaca.


Kemudian Taxi pun melaju cepat membelah jalan raya yang memang sepi itu. Aruna nampak menyandarkan kepalanya di bahu suaminya sedang Reyhan mulai terpejam. Hanya Kautsar yang terjaga. Ia nampak kesal mengingat kekejaman Dita pada sang Kakek.


\=\=\=\=\=


Setelah kembali dari masjid untuk sholat Subuh berjamaah, Kautsar bergegas ke dapur. Ia menyiapkan bahan-bahan untuk membuat lauk lalu ke kamar untuk membangunkan Aruna.


" Bangun Sayang, sholat Subuh dulu ya...," kata Kautsar sambil mengecup kening sang istri.


" Sebentar lagi ya, Aku masih ngantuk banget nih...," sahut Aruna sambil tetap memejamkan mata.


" Sholat dulu, abis itu Kamu boleh tidur lagi deh. Biar Aku yang bikin sarapan...," kata Kautsar.


Aruna mengerjapkan matanya lalu bangkit dari tidurnya. Sesaat kemudian Aruna melangkah menuju kamar mandi. Sedangkan Kautsar kembali ke dapur setelah menyiapkan perlengkapan sholat sang istri.


Tak lama kemudian Aruna terlihat keluar dari kamar sambil tersenyum. Ia melihat suaminya sedang sibuk bolak balik dari dapur ke ruang makan. Rupanya selain membuat sarapan Kautsar juga menyiapkan teh manis kesukaan Aruna. Saat melihat Aruna ia pun tersenyum.


" Lho, katanya masih ngantuk. Kok malah ke sini...?" tanya Kautsar.


" Ga bisa tidur lagi. Apalagi denger suara berisik kaya gini...," sahut Aruna sambil memeluk Kautsar.

__ADS_1


" Emangnya Aku berisik ya, kayanya ga tuh...," sahut Kautsar sambil tertawa.


" Masak apaan sih heboh banget...?" tanya Aruna.


" Semur ayam sama krupuk...," sahut Kautsar sambil meletakkan wadah berisi semur ayam di atas meja.


" Dari aromanya sih sedap ya. Tapi ga tau nih gimana rasanya...," ledek Aruna.


" Kamu ga usah khawatir. Kali ini dijamin semur buatanku enak ga kaya waktu itu...," kata Kautsar sambil mengacungkan ibu jarinya.


" Masa sih...?" tanya Aruna.


" Iya. Mau coba...?" tantang Kautsar.


" Boleh, siapa takut...," sahut Aruna sambil duduk lalu meraih sendok.


" Pelan-pelan aja Sayang. Ga ada yang minta kok...," kata Kautsar sambil mengusak rambut Aruna dengan gemas.


Aruna pun tersenyum lalu menyuapkan sedikit semur ayam ke dalam mulutnya. Kemudian Aruna terdiam sambil mengunyah perlahan. Kautsar yang berdiri di sampingnya nampak menatap cemas karena khawatir Aruna akan memuntahkan lagi makanan yang ia masak seperti beberapa waktu lalu.


" Gimana Sayang...?" tanya Kautsar.


Bukannya menjawab, Aruna justru lari ke dapur sambil menutup mulut dengan telapak tangan. Kautsar tahu jika istrinya menuju wastafel untuk memuntahkan makanan itu. Kautsar nampak menghela nafas panjang karena gagal membuat sarapan yang enak.


" Aneh, dimana lagi salahnya. Padahal Aku udah ikutin semuanya sesuai resep. Kok masih ga enak juga sih. Tapi menurut Aku ini lumayan kok...," gumam Kautsar.


Kemudian Kautsar melangkah ke dapur dan melihat Aruna baik-baik saja di sana.


" Kamu Gapapa Sayang ?. Lagi ngapain di sini...?" tanya Kautsar.


" Lagi nyari semur ayam. Masih ada ga sisanya ga...?" tanya Aruna.


" Ga ada. Aku cuma bikin itu aja. Kenapa nyari sisanya sih, yang di piring aja ga abis...," sahut Kautsar kesal.


" Aku nyari lagi karena mau nambah Sayang. Semur ayam buatan Kamu tuh enak banget...," kata Aruna hingga membuat wajah Kautsar berbinar.


" Yang bener, Kamu ga bohong...?" tanya Kautsar tak percaya.


" Bener, jempol deh buat Kamu. Kalo perlu Aku kasih jempol empat biar Kamu percaya...," sahut Aruna sambil mengacungkan kedua ibu jarinya.


" Empat...?" tanya Kautsar tak mengerti.


" Iya, ditambah dua jempol kaki kan jadi empat...," sahut Aruna sambil tersenyum.

__ADS_1


Kautsar pun tertawa mendengar ucapan Aruna. Kemudian ia menggamit tangan Aruna lalu membawanya ke ruang makan untuk melanjutkan sarapan mereka yang sempat terhenti tadi.


\=\=\=\=\=


__ADS_2