Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
113. Kecewa


__ADS_3

Rumah duka tempat jenasah Robi disemayamkan nampak dipadati pengunjung. Jenasah Robi yang tiba saat jam sepuluh pagi, langsung diurus sebagai mana mestinya.


Setelah dimandikan, dikafani dan disholatkan, jenasah Robi pun dibawa ke tempat pemakaman.


Iring-iringan motor tampak mengikuti ambulans dari belakang. Sebagian besar adalah para mahasiswa teman sekampus Robi.


Aruna dan genknya menunggu di depan area pemakaman. Tak lama kemudian Kautsar pun tiba dan langsung mendekat kearah iringan jenasah.


Saat itu lah Kautsar melihat Wenni, mantan adik kelasnya itu. Wenni terlihat sedih dan berkali-kali menghapus air matanya. Di sampingnya berdiri Viola yang merupakan teman dekat Wenni.


Untuk sejenak tatapan Wenni dan Kautsar bertemu. Wenni nampak tersenyum sedangkan Kautsar terlihat canggung apalagi saat Wenni mendekatinya. Viola yang sejak awal menemani Wenni pun tampak menyingkir seolah memberi kesempatan pada Wenni untuk berbicara empat mata dengan Kautsar.


" Apa kabar Tsar...?" tanya Wenni.


" Alhamdulillah baik. Kamu sendiri gimana kabarmu Wen...?" tanya Kautsar.


" Aku juga baik, seperti yang Kamu liat...," sahut Wenni sambil tersenyum kecut.


Kautsar pun menganggukkan kepalanya. Kemudian Wenni melanjutkan ucapannya dan membuat Kautsar terkejut.


" Akhirnya Robi mati juga. Sudah selayaknya sampah masyarakat kaya dia mati. Iya kan Tsar...?" tanya Wenni.


" Aku ga setuju. Bagaimana pun semua orang punya kesempatan bertobat. Kita ga pernah tau sebesar apa dosanya tapi Allah itu kan Maha Pengampun. Masalahnya, Robi sempet bertobat atau ga di akhir hidupnya...," sahut Kautsar.


Jawaban Kautsar membuat Wenni tertawa. Dan itu justru membuat Kautsar tak.nyaman.


" Aku yakin dia ga pernah bertobat..." kata Wenni di sela tawanya.


" Ssstt, hentikan tawamu itu Wen. Ga pantas kan Kita tertawa saat ada orang lain berduka. Apalagi ini di pemakaman...," kata Kautsar mengingatkan sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.


" Ups, sorry. Aku lupa...," sahut Wenni dengan senyum mengejek hingga membuat Kautsar menggelengkan kepalanya.


" Kamu berubah Wen. Padahal yang Aku ingat Kamu ga kaya gini dulu...," gumam Kautsar namun masih bisa terdengar oleh Wenni.


" Aku berubah. Semua karena Kamu Kautsar...," sahut Wenni ketus.


" Aku, kok bisa...?" tanya Kautsar tak mengerti.


" Iya. Tapi gapapa. Aku udah maafin semuanya kok. Sekarang Aku mau Kita memperbaiki semuanya seperti semula. Bisa kan Tsar...?" tanya Wenni.

__ADS_1


" Memperbaiki seperti apa maksudmu...?" tanya Kautsar.


Di saat yang sama Kautsar melihat Aruna di kejauhan hingga ia pun tersenyum. Aruna dan teman-temannya nampak berjalan bersama rombongan pelayat lainnya dan akan melintas di samping Kautsar. Wenni salah sangka dan mengira jika senyum di bibir Kautsar itu ditujukan untuknya. Wenni pun segera menyambung ucapannya.


" Kita bisa menjalin hubungan seperti dulu Tsar. Tapi Aku mau kali ini Kita benar-benar mewujudkan dugaan semua orang kalo Kita emang pacaran...," kata Wenni sambil menatap Kautsar penuh harap.


Kautsar tak merespon ucapan Wenni. Ia justru mengulurkan tangannya dan meraih tangan Aruna yang kebetulan melintas di sampingnya.


" Kemana aja sih Sayang, Aku cariin baru nongol sekarang...," kata Kautsar sambil menarik tangan Aruna hingga sang istri menabrak tubuhnya.


" Ya Allah, ngagetin aja sih Kamu...," kata Aruna sambil menepuk lengan Kautsar dengan keras hingga Kautsar meringis kesakitan.


Sikap Kautsar dan Aruna membuat Wenni tak nyaman. Ia menatap Aruna lekat seolah ingin melahapnya.


" Eh, sorry Wen. Ngomong apa tadi...?" tanya Kautsar sambil memeluk pinggang Aruna lalu membawanya mendekat.


" Bukan apa-apa...," sahut Wenni sambil melengos.


" Oh gitu. Kenalin Wen, ini Istriku. Namanya Aruna. Sayang kenalin ini temenku namanya Wenni...," kata Kautsar hingga mengejutkan Aruna dan Wenni.


Jika Aruna terkejut karena tak menyangka akan melihat Wenni di pemakaman Robi. Sedangkan Wenni justru sebaliknya. Ia nampak terkejut saat mengetahui Kautsar telah menikah. Padahal info yang ia dapat mengatakan jika Kautsar masih sendiri hingga detik ini. Dan itu salah satu sebab yang membuatnya datang ke kota Malang.


" Hai, namaku Aruna. Salam kenal ya...," sapa Aruna dengan ramah sambil mengulurkan tangannya.


" Wenni ini Adik kelas Aku di Teknik juga dulu. Tapi dia pindah kuliah ke Jakarta. Iya kan Wen...?" tanya Kautsar pura-pura tak tahu.


" Iya...," sahut Wenni sambil mengangguk cepat.


" Oh gitu...," kata Aruna.


" Terus tau kalo Robi meninggal darimana...?" tanya Aruna.


" Dari temenku...," sahut Wenni.


" Siapa...?" tanya Kautsar.


" Viola...," sahut Wenni.


" Yang anak ekonomi itu ya...?" tanya Kautsar yang diangguki Wenni.

__ADS_1


" Iya...," sahut Wenni sambil mengangguk.


" Oh gitu...," kata Aruna sambil tersenyum.


" Kalo gitu Aku ke sana dulu ya. Ada yang mau Aku sampein sama orangtuanya Robi. Seneng bisa ketemu Kalian apalagi melihat Kamu bahagia Tsar...," kata Wenni sambil beranjak menjauh dari Aruna dan Kautsar.


" Maksudnya apa sih...?" tanya Aruna sambil menatap curiga kearah Kautsar.


" Bukan apa-apa. Kita ke sana gabung sama yang lain yuk...," ajak Kautsar sambil menggamit lengan Aruna dan membawanya melangkah.


Aruna mengangguk lalu mengikuti langkah suaminya. Sedangkan di kejauhan Wenni nampak menatap kecewa kearah Kautsar dan Aruna.


" Gimana Wen, apa Kautsar setuju sama usul Lo tadi...?" tanya Viola.


" Lupain aja Vi...," sahut Wenni.


" Lho kenapa...?" tanya Viola tak mengerti.


" Kautsar udah married. Tuh istrinya...," sahut Wenni dengan nada kecewa sambil menunjuk Kautsar yang tengah merengkuh Aruna.


" Ah masa sih. Lo yakin Kautsar ga lagi bohong...?" tanya Viola.


" Gue yakin Kautsar jujur Vi. Dia ga pernah kaya gitu sama cewek termasuk Gue. Kalo dia berani manggil Sayang apalagi sampe meluk tuh cewek, itu artinya hubungan mereka emang istimewa kan...," sahut Wenni sambil menyembunyikan matanya yang basah.


" Iya. Kautsar emang bukan type cowok kaya gitu...," kata Viola lirih.


Untuk sejenak keduanya terdiam hingga proses pemakaman Robi pun selesai. Setelahnya Wenni nampak bergerak untuk mendekati kedua orangtua Robi namun Viola menahannya.


" Eh, Lo mau ngapain Wen...?" tanya Viola sambil mencekal tangan Wenni.


" Mau ketemu sama orangtuanya Robi lah, apalagi emangnya...," sahut Wenni.


" Jangan nekad Wen. Sekarang bukan saat yang tepat buat bilang semuanya...," kata Viola.


" Gue ga yakin ada waktu yang tepat selain hari ini Vi. Gue cuma mau bilang kalo mereka punya Cucu laki-laki dari Gue. Anak hasil hubungan har*m Gue sama Robi...," kata Wenni sinis.


Viola tampak tak kuasa mencegah Wenni yang menepis tangannya lalu melangkah lebar menuju orangtua Robi yang sedang menerima ungkapan bela sungkawa dari para pelayat.


Dari kejauhan Viola bisa melihat jika Wenni nampak menunggu agar bisa dekat dan menyapa orangtua Robi.

__ADS_1


" Semoga ga ada drama lagi dan Anak Lo bisa secepatnya dapat status ya Wen...," gumam Viola sambil menghela nafas panjang.


\=\=\=\=\=


__ADS_2