
Rasyid terbangun di rumah Sheina saat jam menunjukkan pukul 10 pagi. Rasyid meregangkan tubuhnya sambil menguap panjang. Kemudian Rasyid mematung sejenak untuk mengingat sejak kapan ia berada di kamar itu.
Tidurnya sangat nyenyak, bahkan Rasyid bermimpi buruk. Dalam mimpi itu Rasyid melihat Sheina meninggal dunia. Rasyid memegang dadanya untuk menetralisir detak jantungnya yang tiba-tiba mengg*la.
" Sheina...," gumam Rasyid lalu bergegas turun dari tempat tidur.
Rasyid masuk ke kamar mandi karena mendengar suara air mengalir. Semula Rasyid mengira istrinya sedang mandi, namun sayang ia tak mendapati istrinya di sana. Rasyid hanya melihat kran air terbuka dan mengalirkan air.
Rasyid menghela nafas panjang karena yakin jika itu ulah istrinya yang kadang tak menutup kran dengan baik. Sudah berkali-kali Rasyid mengingatkan sang istri agar menutup rapat kran setelah digunakan. Biasanya Sheina hanya tersenyum sambil mengucapkan kalimat pendek yang Rasyid sukai.
" Iya Sayang...," kata Sheina lembut tiap kali Rasyid menegurnya.
Tiba-tiba Rasyid merasa rindu, teramat sangat rindu pada sosok wanita yang dinikahinya itu. Ia ingin memeluk dan mencumbu Sheina lalu membisikkan kalimat cinta di telinganya. Bergegas Rasyid melangkah keluar setelah membasuh wajahnya dengan air.
Saat membuka pintu kamar Rasyid merasa suasana rumah sangat sepi. Rasyid menoleh ke meja makan, di sana terlihat hidangan yang tertata rapi. Nampaknya Bi Mey telah menyiapkan semuanya sejak tadi.
Rasyid pun melangkah mendekati meja lalu meraih cangkir berisi kopi dan membawanya ke teras rumah. Di sana ia melihat Bi Mey sedang sibuk menata tanaman. Bi Mey tersenyum melihat Rasyid.
" Udah bangun Mas...," sapa Bi Mey.
" Iya Bi. Sheina kemana Bi...?" tanya Rasyid sambil duduk di kursi teras lalu meneguk kopinya.
" Mbak Sheina belum pulang Mas. Katanya bantuin temennya yang harus operasi dadakan. Mungkin nanti sore baru pulang...," sahut Bi Mey.
" Siapa nama temennya dan dimana operasinya sampe Sheina ga bisa pulang...?" tanya Rasyid tak mengerti.
" Katanya sih di luar kota gitu Mas...," sahut Bi Mey.
" Oh gitu ya, kok tumben sih...," kata Rasyid setengah tak percaya.
" Saya juga ga ngerti Mas. Soalnya Mbak Sheina keliatan buru-buru banget waktu telephon tadi, suaranya juga putus-putus kaya ga ada signal...," kata bi Mey menambahkan.
Rasyid mengangguk lalu kembali mengamati aksi Bi Mey yang mengangkat pot tanaman agar mudah menyapu kotoran di sekitar pot.
__ADS_1
Tak lama kemudian Bi Mey selesai menata tanaman. Ia meletakkan kembali sapu di sudut teras. Setelahnya Bi Mey berjalan menghampiri Rasyid yang nampak suntuk karena tak melihat istrinya saat bangun tidur.
" Saya udah masak lauk kesukaan Mbak Sheina dan Mas Rasyid. Mbak Sheina pesen, kalo Mas Rasyid bangun harus makan biar ga sakit...," kata Bi Mey sambil tersenyum.
" Tapi Saya lagi males makan Bi...," sahut Rasyid.
" Ayo lah Mas, masa tega ngeliat Saya dimarahin Mbak Sheina gara-gara suaminya ga mau makan...?" tanya Bi Mey sambil menghiba.
Rasyid tertawa kecil melihat sikap Bi Mey. Akhirnya Rasyid mengalah, ia mengiyakan permintaan Bi Mey walau saat itu ia sedang tak ingin makan.
" Iya, Saya mau makan Bi...," kata Rasyid.
" Alhamdulillah. Saya siapin sebentar ya Mas...," sahut Bi Mey antusias.
" Iya. Ga usah dipanasin lagi Bi, yang itu aja...!" kata Rasyid saat melihat Bi Mey melangkah cepat menuju ruang makan.
" Iya Mas...!" sahut Bi Mey.
Rasyid tersenyum lalu menatap deretan tanaman hias di depannya. Ia ingat jika Sheina sangat suka dengan jenis tanaman itu.
" Sayang, Kamu di situ ya...?!" panggil Rasyid.
Tak ada sahutan. Rasyid membuka pintu dan melongok keluar. Tak ada siapa pun di sana. Jalan di depan rumah terlihat sepi karena sebagian besar penghuni di perumahan itu sedang pergi bekerja.
Rasyid menghela nafas panjang lalu kembali menutup pintu pagar. Kemudian Rasyid melangkah masuk ke dalam rumah untuk makan sesuai permintaan Bi Mey tadi.
\=\=\=\=\=
Di saat yang sama di rumah Kautsar.
Aruna, George dan Matilda tengah duduk di ruang tengah sambil mengamati bayi kembar Aruna yang terlelap di box bayi. Sedangkan Kautsar tak ada di Rumah karena sedang bekerja.
" Apa Mas Rasyid benar-benar lupa sama kejadian malam itu Om...?" tanya Aruna.
__ADS_1
" Insya Allah. Mungkin ga seratus persen lupa. Paling tidak ingatannya tentang manusia serigala ga akan lagi hinggap di kepalanya...," sahut George.
" Kasian Mas Rasyid. Dia sangat mencintai Kak Sheina. Pasti dia bakal kaget banget kalo tau istrinya udah meninggal dunia. Dan yang bikin shock adalah istrinya meninggal karentersenyum.yang bersarang di pundaknya dan peluru berasal dari pistol miliknya...," kata Aruna dengan mata berkaca-kaca.
" Takdir mungkin kejam untuk Rasyid. Tapi untuk Sheina ini adalah yang terbaik. Dia meninggal setelah menemukan kebahagiaan yang ia cari selama ini. Apalagi di saat terakhirnya Rasyid ada bersamanya...," sela Matilda.
" Betul Sayang...," sahut George.
" Terus gimana sama orang terdekat Kak Sheina Om ?. Apa mereka ga akan curiga dengan kepergian Kak Sheina yang terkesan mendadak ini...?" tanya Aruna.
" Aku sudah siapkan skenario terbaik untuk menutupi kematian Sheina. Semua akan terlihat natural karena semua saksi telah dipulihkan termasuk Kautsar. Suamimu itu tak akan ingat apa pun termasuk proses kematian Sheina dan cara mengantarnya yang tak lazim itu...," sahut George.
" Jadi Kamu hanya tinggal mengikuti alurnya saja Nak. Ini mudah dan ga terlalu sulit kok...," kata Matilda menambahkan.
" Baik lah...," sahut Aruna sambil tersenyum.
Tiba-tiba Kanaya menangis dan itu membuat semua orang menoleh. Matilda dengan sigap menggendong Kanaya lalu menyerahkannya pada Aruna.
Mendengar saudarinya menangis, Khai pun terbangun dan mulai merengek. Giliran George yang beraksi. Jika Kanaya menangis dan minta disusui, Khai justru tersenyum saat George menggendongnya. George pun tertawa lalu membawa bayi mungil itu keluar untuk menghirup udara segar.
" Kembar tapi beda karakter...," kata Matilda sambil menggelengkan kepalanya.
" Iya Tante. Kalo Kanaya itu manja dan selalu ingin dinomor satukan. Beda sama Khai yang mandiri dan jarang nangis. Tapi Aku senang karena di saat sendirian Aku jadi ga terlalu repot mengasuh keduanya. Khai itu pengertian banget. Dia ga terganggu sama ulah kembarannya ini. Biasanya dia cuma senyum-senyum aja ngeliat Aku kerepotan nenangin Kanaya yang nangis...," sahut Aruna sambil tersenyum bahagia.
" Mereka anak-anak yang manis. Suatu saat Kakekmu pasti datang untuk menjenguk mereka Aruna...," kata Matilda sambil mengusap kepala Kanaya dengan lembut.
" Itu pasti Sayang. Dan Aku yakin Arnold akan membawa mereka pulang kampung untuk diperkenalkan pada klan Kita...," kata George dari ambang pintu.
" Aku ga bakal ijinin Anakku yang masih bayi ini dibawa pergi melintas samudra Om...," sahut Aruna sambil memeluk Kanaya dengan erat.
" Kamu ga bisa nolak Nak. Karena selama ini keturunan Arnold belum ada yang kembar, dia pasti melakukan berbagai cara agar bisa membawa Anak-anakmu ini. Tapi Kamu ga perlu khawatir, Kami pasti akan menjaganya dengan baik hingga Khai dan Kanaya akan merasa nyaman layaknya di rumah sendiri...," kata George sambil tersenyum.
Aruna terdiam mendengar ucapan George. Ia masih sulit membayangkan kedua anaknya dihadapkan pada pasukan manusia serigala yang jumlahnya ratusan atau bahkan ribuan itu.
__ADS_1
\=\=\=\=\=