
Setelah menjalani sejumlah pemeriksaan, Amanda dinyatakan kritis. Rahimnya rusak parah dan harus diangkat. Organ intim*mnya pun mengalami cidera berat. Yang paling mengenaskan adalah trauma yang akan disandang Amanda kelak jika ia bisa melewati masa kritisnya itu.
Sementara itu Dito pun siuman setelah dua hari dua malam dirawat di ruang UGD. Saat ini Dito telah dipindahkan ke ruang rawat inap.
Istri Dito merasa bahagia karena melihat suaminya pulih perlahan. Setidaknya itu bisa mengurangi sedikit beban di hatinya usai mendengar berita tentang Amanda.
" Gimana keadaan Papa sekarang...?" tanya istri Dito dengan lembut.
" Hmmm...," sahut Dito tanpa sekali pun menatap sang istri.
" Aku tau ini bukan waktu yang tepat. Tapi Aku harus kasih tau Papa karena Aku ga mau disalahkan nanti. Amanda..., dia juga dirawat di Rumah Sakit ini Pa. Sekarang Amanda kritis karena luka luar dan dalam. Bahkan rahim Amanda juga harus diangkat karena rusak...," kata istri Dito sambil menangis.
Dito hanya mematung tanpa ekspresi. Namun air matanya mengalir deras membasahi wajahnya yang pucat. Istri Dito pun memeluk sang suami dengan erat lalu keduanya menangis bersama.
\=\=\=\=\=
Dito pulih lebih cepat dan bisa pulang ke rumah dua hari kemudian.
Namun terjadi keanehan. Sejak Dito pulih ia selalu menangkupkan kedua lengannya seolah sedang menggendong sesuatu. Terkadang Dito menatap kearah kedua lengannya seolah sedang menatap sesuatu yang tak kasat mata lalu tersenyum lebar.
" Di sini ya sama Kakek. Jangan kemana-mana lagi...," bisik Dito sambil menepuk lembut lengannya.
Istri Dito sadar jika suaminya tak lagi sama. Dito seolah tenggelam dalam dunianya sendiri. Saat Kenzo dan beberapa karyawan gudang menjenguknya, mereka pun mendapati Dito yang jauh berbeda dengan sebelumnya.
" Pak Dito kayanya jadi gila ya Ken...," bisik teman Kenzo.
" Mungkin masih dalam pengaruh obat makanya dia bersikap begitu...," sahut Kenzo asal.
" Mana mungkin Ken. Udah jelas Pak Dito ga kenal sama Kita. Dari tadi Kita di sini dan ngajak dia ngomong tapi ga direspon sama sekali. Dia malah asik sama tangannya yang entah lagi gendong apaan...," kata teman Kenzo yang lain dengan kesal.
Kenzo nampak terdiam dan kembali menatap Dito yang duduk sambil mengayun sesuatu dalam gendongannya.
Saat Kenzo menceritakan apa yang dilihatnya kepada Aruna, jawaban mengejutkan pun ia peroleh.
__ADS_1
" Yang dibilang temen Lo bener Ken. Pak Dito jadi gila. Itu harga yang harus dia bayar karena sudah menjual anak dan cucunya kepada iblis. Masih ada hal lain yang menunggunya dan itu sulit diceritain...," kata Aruna.
" Bukannya Lo bilang kalo anaknya Amanda udah maafin dia Run...?" tanya Kenzo.
" Justru itu yang membuatnya didera rasa bersalah Ken. Apalagi dia juga ngeliat bagaimana penderitaan Amanda saat harus melayani suaminya. Dua pukulan telak itu wajar kalo bikin otaknya terbalik kan...," sahut Aruna ketus.
Kenzo mengangguk tanda mengerti. Ia nampak menghela nafas panjang saat melihat Aruna melangkah cepat mendahuluinya menuju lift.
Kenzo pun kembali menghela nafas panjang saat mendapat berita duka dari salah satu rekannya. Rupanya Amanda meninggal dunia setelah kritis selama delapan hari. Dito pun dikabarkan harus dilarikan ke Rumah Sakit Jiwa karena tak kuasa mendengar berita duka itu.
\=\=\=\=\=
Sore itu kota Malang diguyur hujan deras. Banyak karyawan perusahaan Kakek Kenzo yang memilih bertahan di loby sambil menunggu hujan reda. Diantara mereka terlihat Kenzo dan Ria.
Keduanya nampak bersandar di dinding sambil berbincang banyak hal. Tak lama kemudian mereka menoleh saat nama mereka disebut. Rupanya Kautsar datang untuk menjemput Aruna.
" Tumben jam segini udah nyampe sini Tsar...," kata Kenzo sambil menjabat tangan Kautsar dengan erat.
" Kebetulan abis dari proyek dan pulang lebih awal tadi. Eh, di jalan ujan. Jadi inget kalo jas ujannya Aruna kan ada di bagasi motor. Makanya Gue jemput aja sekalian...," sahut Kautsar.
" Ya ga lah. Aku sama Kautsar kan beda. Mana mungkin bisa sama...," sahut Kenzo.
" Ish, Kamu tuh ya. Maksudku tuh perhatiannya. Liat deh, Kautsar tuh sayang banget sama Aruna sampe bela-belain jemput padahal ujan gede banget...," kata Ria.
" Biasa aja kali. Aku juga gitu kok...," sahut Kenzo sambil melengos karena merasa Ria tak menghargai sikap dan perhatiannya selama ini.
Ria yang sadar telah membuat Kenzo tersinggung pun nampak berusaha membujuk Kenzo. Ia menarik lengan baju Kenzo dan meminta maaf berkali-kali namun Kenzo pura-pura tak peduli. Ria pun terlihat panik dan terus bicara banyak hal.
Kautsar yang masih di sana pun tertawa melihat sikap Kenzo dan Ria. Tiba-tiba tawa Kautsar terhenti saat melihat Kalisha berjalan menghampirinya. Kautsar nampak menoleh ke kanan dan ke kiri seolah sedang mencari celah untuk kabur.
" Hai Kautsar. Ketemu lagi deh Kita...," sapa Kalisha sambil tersenyum lebar.
" Hai juga...," sahut Kautsar dengan enggan.
__ADS_1
" Rupanya Kalian saling mengenal ya...," kata Kalisha sambil menatap Ria, Kenzo dan Kautsar bergantian.
" Begitu lah. Lo kerja di sini juga Kal...?" tanya Kautsar basa-basi.
" Iya. Gue jadi Manager Marketing di sini Tsar. Nah Ria ini anak buah Gue. Gimana, hebat kan...?" tanya Kalisha bangga.
Kenzo dan Ria nampak memutar bola mata kesal saat mendengar ucapan sombong Kalisha. Diam-diam Kenzo menggenggam tangan Ria erat untuk menenangkannya.
" Aku gapapa kok Yang...," bisik Ria sambil tersenyum.
" Bagus. Dia ga tau sedang berurusan dengan siapa...," kata Kenzo dengan mimik lucu hingga membuat Ria tertawa kecil.
Sedangkan Kautsar berusaha mengendalikan emosinya melihat sikap Kalisha yang meremehkan Ria.
" Hebat, Gue salut sama Lo...," sahut Kautsar sambil mengacungkan ibu jarinya.
Kalisha nampak tersenyum puas melihat reaksi Kautsar. Ia mengira Kautsar mengaguminya dan mulai berpikir untuk mendekatinya. Namun suara lantang Ria saat menyebut nama Aruna membuatnya menoleh tak suka.
" Eh, itu Aruna Tsar...!" kata Ria lantang.
Kautsar pun menoleh dan tersenyum hangat kearah Aruna. Kemudian ia bergegas menghampiri Aruna lalu mengalungkan jaket miliknya ke pundak Aruna sekaligus mengecup kepalanya dengan sayang.
Aruna pun nampak tersenyum manis lalu mencium punggung tangan suaminya dengan takzim. Hal itu membuat Kalisha terkejut hingga membelalakkan matanya.
" Jadi Aruna itu...," ucapan Kalisha terputus saat Kenzo memotong cepat.
" Ibu betul. Mereka memang Suami Istri...," kata Kenzo sambil tersenyum.
Bagai petir menyambar di atas kepalanya, Kalisha langsung membeku mendengar ucapan Kenzo.
Dari tempatnya berdiri Kalisha bisa melihat bagaimana kemesraan Aruna dan Kautsar. Keduanya nampak tertawa bahagia. Kebahagiaan yang tulus hingga auranya pun menyebar ke sekelilingnya dan menimbulkan rasa hangat bagi siapa pun kecuali Kalisha.
Kalisha nampak mengepalkan tangannya lalu berbalik pergi meninggalkan loby tanpa disadari oleh Ria dan Kenzo. Kemudian Kalisha berlari menembus hujan tanpa menghiraukan seruan orang-orang yang memanggil namanya.
__ADS_1
bersambung