Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
302. Bulu Anjing ?


__ADS_3

Polisi masih menyelidiki penyebab kematian anak perempuan di belakang toilet Rumah Sakit tempat dokter Sheina bertugas. Dan itu membuat dokter Sheina tak nyaman karena khawatir kedoknya terbongkar.


Saat melintas di loby Rumah Sakit dokter Sheina tak sengaja berpapasan dengan dua orang polisi berpakaian lengkap. Hati dokter Sheina langsung menciut karena dikejar rasa bersalah. Apalagi salah satu dari dua polisi itu menyapanya.


" Selamat pagi dokter Sheina...! " sapa Raka yang memang telah mengenal dokter cantik itu.


" Se... selamat pagi. Ya Allah, Raka !. Ngagetin aja sih...," kata dokter Sheina hingga membuat Raka tersenyum.


" Kok kaget sih...?" tanya Raka.


" Ya kaget dong, Aku pikir ada polisi mau nangkap Aku...," sahut dokter Sheina hingga membuat Raka dan rekannya tertawa.


" Kalo ga melakukan kesalahan ngapain takut, emangnya Kamu melakukan kesalahan baru-baru ini...?" tanya Raka dengan tatapan menyelidik.


" Jangan mulai deh. Emang ada apa Kamu di sini...?" tanya dokter Sheina pura-pura tak tahu.


" Semalam ada anak perempuan meninggal di belakang toilet. Apa Kamu ga tau Shei...?" tanya Raka.


" Oh itu, Aku udah dengar dari suster Mita. Terus gimana, apa penjahatnya udah ketangkep...? " tanya dokter Sheina.


" Belum. Masih proses pengumpulan barang bukti. Makanya mulai hari ini sampe seminggu ke depan Kamu bakal sering liat Aku di sini...," sahut Raka sambil tersenyum.


" Oh gitu. Ok, selamat bertugas. Aku ke ruanganku dulu ya. Pasien ku pasti ga sabar menunggu...," kata dokter Sheina.


" Silakan. Eh, sebentar. Semalam Rasyid datang buat jemput Kamu, Kalian ketemu ga...?" tanya Raka.


" Sayangnya ga. Aku udah pulang waktu dia jemput...," sahut dokter Sheina sambil melangkah.


Raka mengangguk sambil tersenyum penuh makna. Rupanya usahanya menahan Rasyid untuk tak bertemu dokter Sheina semalam berhasil.


" Dia pasti ngamuk ga karuan nanti...," gumam Raka sambil tersenyum simpul.


\=\=\=\=\=


Rasyid sedang duduk di dalam mobil patroli sambil mengamati rekan-rekannya yang bertugas di jalan raya.


Rasyid terpaksa duduk di dalam mobil karena merasa tak enak badan. Itu terjadi saat tak sengaja ia melihat seekor anjing hitam melintas di depannya. Melihat bulu di tubuh anjing hitam itu mengingatkan Rasyid pada makhluk hitam berbulu yang memangsa anak perempuan di belakang toilet Rumah Sakit beberapa hari yang lalu. Tiba-tiba Rasyid merasa mual lalu bergegas berlari ke pinggir jalan raya dan muntah hebat di sana.


Beberapa rekan Rasyid terkejut dan segera membantunya. Mereka memberikan sebotol air mineral juga mengoleskan minyak kayu putih di kening dan leher Rasyid.


" Lo kenapa Syid...?" tanya salah seorang rekan Rasyid.


" Masuk angin kali...," kata rekan Rasyid yang lain.


" Istirahat dulu di mobil Syid. Atau mau diantar ke klinik aja...?" tanya rekan Rasyid.

__ADS_1


" Ga usah. Biar Gue di mobil aja sebentar. Gapapa kan...?" tanya Rasyid tak enak hati.


" Gapapa lah. Lo di sini aja dulu. Ntar kalo udah enakan Lo bisa gabung lagi sama Kita...," sahut rekan Rasyid yang diangguki rekan lainnya.


" Makasih ya...," kata Rasyid dengan suara pelan.


" Sama-sama. Kita lanjut tugas lagi ya Syid...!" kata rekan Rasyid sambil berlalu.


Rasyid mengangguk lalu menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. Matanya menatap ke depan dan kembali teringat dengan sosok makhluk berbulu hitam itu. Rasyid tak mengerti mengapa ia terus terbayang dengan sosok makhluk berbulu hitam yang memangsa anak kecil itu. Ia menghela nafas panjang lalu memejamkan matanya.


Lagi-lagi Rasyid teringat dengan jasad anak perempuan yang berhasil dievakuasi oleh tim medis malam itu. Dari tempatnya berdiri Rasyid bisa melihat jelas luka menganga di leher anak perempuan itu. Terlihat basah dan masih mengalirkan darah segar. Wajah pucat anak perempuan itu terus membayang di kepalanya.


Rasyid bisa membayangkan bagaimana takutnya anak perempuan itu saat melihat makhluk hitam berbulu itu ada di depannya. Lalu makhluk hitam itu membawanya pergi tanpa ia bisa bersuara karena rasa takutnya melebihi ambang batas. Dan Rasyid juga bisa merasakan bagaimana sakitnya anak perempuan itu saat makhluk hitam berbulu itu menggigit lehernya.


" Sshhh..., makhluk apa sih itu sebenernya. Kenapa Gue terus teringat sama makhluk itu. Bahkan bayangan makhluk itu berhasil mengalahkan bayangan Sheina di kepala Gue. Ini sungguh ga masuk akal...," gumam Rasyid kesal.


" Lo Gapapa Syid...?" tanya Raka tiba-tiba hingga mengejutkan Rasyid.


" Kok Lo di sini, ngapain...?" tanya Rasyid.


" Gue kebetulan lewat dan ngeliat Lo di sini. Lo kenapa, sakit...?" tanya Raka.


" Gue barusan muntah, mungkin masuk angin...," sahut Rasyid sambil memijit keningnya.


" Muka Lo pucet banget Syid. Mau Gue anter ke klinik ga...?" tanya Raka.


" Iya Ka. Dari tadi ditawarin ke klinik ga mau. Siapa tau kalo sama Lo Rasyid mau pergi...," sela rekan Rasyid lainnya.


" Tuh, Lo denger sendiri kan Syid. Ayo Gue anter ke klinik...," kata Raka sambil menarik lengan Rasyid dan membawanya masuk ke mobil yang dikendarainya.


Rasyid pun menurut karena tak punya alasan untuk menolak. Selain itu kepalanya benar-benar pusing hingga membuat kedua matanya ingin terpejam.


" Gue bawa Rasyid dulu ya guys...!" kata Raka sambil menstarter mobilnya.


" Siap Ka, makasih ya...!" sahut rekan-rekan Rasyid bersamaan.


" Sama-sama...," sahut Raka lalu melajukan mobilnya meninggalkan rekan-rekannya yang sedang bertugas itu.


Raka membawa Rasyid ke klinik yang memang disediakan khusus untuk para anggota polisi. Letaknya tak jauh dari kantor mereka.


" Jadi Rasyid kenapa dok...?" tanya Raka.


" Kecapean aja Mas. Kurang tidur juga kayanya...," sahut sang dokter sambil menulis resep.


" Maklum lah banyak pikiran dok...," kata Rasyid sambil tersenyum.

__ADS_1


" Mikirin apa sih Mas Rasyid, ga punya istri ga punya anak kok sampe ngedrop begini. Atau jangan-jangan lagi mikirin calon istri ya...," kata sang dokter sambil tersenyum penuh makna.


" Bisa aja nih dokter. Saya jadi malu...," sahut Rasyid.


" Ga usah malu. Wajar kok usia segini mulai mikirin pendamping hidup. Tapi jangan sampe stress ya. Nah ini obatnya, diminum sampe habis biar ga ngedrop...," kata sang dokter.


" Makasih dok...," kata Rasyid dan Raka bersamaan.


" Sama-sama. Tetap di sini sampe cairan infusnya habis ya. Kalo udah kuat jalan boleh keluar, kalo ga kuat ya berbaring aja sampe benar-benar pulih...," kata sang dokter sambil berlalu.


" Iya dok...," sahut Rasyid pasrah.


" Emangnya Lo mikirin apaan Syid. Kok sampe kaya gini sih...?" tanya Raka.


" Kalo Gue bilang lagi mikirin makhluk berbulu hitam yang Gue liat itu Lo percaya ga...?" tantang Rasyid.


" Percaya...," sahut Raka cepat hingga mengejutkan Rasyid.


" Jangan bilang sekarang Lo percaya kalo ada genderuwo makan anak-anak...," kata Rasyid sambil mencibir.


" Iya iya Gue salah. Maaf. Tapi Gue serius sama omongan Gue barusan Syid...," kata Raka berusaha meyakinkan Rasyid.


" Oh ya. Apa yang bikin Lo percaya...?" tanya Rasyid.


Raka menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan tak ada yang mendengar apa yang akan ia sampaikan nanti. Rasyid pun hanya menggelengkan kepalanya karena yakin Raka hanya pura-pura serius. Namun Rasyid terkejut saat mendengar Raka mengatakan sesuatu.


" Gue nemuin beberapa helai bulu hitam pendek di tubuh anak perempuan itu. Gue lagi menyelidiki ini diam-diam dan berharap kalo bulu itu hanya kebetulan ada di sana...," kata Raka setengah berbisik.


" Terus gimana hasilnya...?" tanya Rasyid penasaran.


" Hasilnya udah final tapi lumayan bikin Gue kaget. Setelah diteliti DNA yang terdapat di bulu hitam itu mengandung unsur manusia dan hewan sekaligus...," sahut Raka.


" Masya Allah. Apa ada yang kaya gitu Ka...?" tanya Rasyid tak percaya.


" Ada, dan itu buktinya. Sebenernya Gue sengaja nemuin Lo di lapangan tadi karena Gue ga sabar mau ngomongin ini sama Lo. Ternyata Lo malah sakit. Tapi beruntung juga sih karena Kita bisa ngebahas ini di sini...," kata Raka.


Rasyid nampak mengangguk lalu memejamkan mata sejenak. Setelahnya ia menatap Raka lekat.


" Gue juga ga tau ini ada hubungannya atau ga. Gue sakit gara-gara ngeliat anjing hitam lewat di depan Gue tadi. Pas ngeliat anjing itu Gue malah kebayang saat makhluk hitam itu meluk anak perempuan itu dan menghirup darahnya...," kata Rasyid sambil bergidik ngeri.


" Jangan-jangan itu adalah petunjuk Syid. Masuk akal dong kalo bulu hitam itu emang milik manusia jadi-jadian...," kata Raka antusias.


" Iya, manusia jadi-jadian. Setengah manusia setengah anjing. Gitu kan maksud Lo...?" tanya Rasyid.


" Betul...!" sahut Raka.

__ADS_1


Keduanya pun adu toast pertanda telah menemukan kesamaan pemikiran. Kini keduanya berniat mencari tahu siapa sebenarnya manusia jadi-jadian itu.


bersambung


__ADS_2