Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
42. Hantu Janson


__ADS_3

Kereta api yang ditumpangi Aruna tengah berhenti di sebuah stasiun untuk menjemput penumpang. Gerbong tempat Aruna duduk berada jauh dari stasiun dan berada di pinggir sawah. Suasana di luar sangat gelap dan sepi hingga membuat sebagian penumpang memilih menutup gorden jendela karena merasa tak nyaman. Sedangkan Aruna yang masih teringat pada kedua orangtua dan dua sahabatnya nampak tak terganggu dengan suasana di luar kereta.


“ Insya Allah Aku bakal kembali dengan sesuatu yang bikin Kalian bangga...,” gumam Aruna sambil tersenyum.


Namun senyum Aruna memudar saat melihat sosok pria berpakaian seragam lusuh tengah bersandar di luar jendela kereta. Sosoknya yang tinggi besar membuat Aruna sedikit menegakkan tubuhnya agar bisa melihat sosok pria itu secara utuh.


Aruna tertegun saat pria itu menoleh. Wajah bule dengan kulit pucat khas orang Eropa menjadi pertanda jika dia bukan penduduk asli tempat itu. Ada luka di kepala dan perut yang mengeluarkan darah berwarna kehitaman, sangat kontras dengan seragam yang dikenakannya. Aruna yakin jika pria itu adalah hantu seorang serdadu Belanda yang dulu menjajah Indonesia.


“ To... looonngg...,” kata pria itu dengan suara lirih sambil meletakkan telapak tangannya di jendela.


Saat bersamaan kereta mulaimbergerak dan melaju perlahan meninggalkan tempat itu. Tangan serdadu Belanda itu nampak terlepas menyisakan bekas darah di jendela. Aruna terus menatap pria itu yang terlihat makin jauh. Saat Aruna mengedipkan matanya, sosok hantu pria berpakaian seragam itu lenyap begitu pun dengan bercak darah di jendela.


Aruna menghela nafas panjang lalu memejamkan matanya. Sesaat kemudian Aruna pun tertidur dan mulai bermimpi.


Dalam mimpinya Aruna melihat seorang pria bule berpakaian seragam tengah diikat di sebuah tiang bambu. Nampaknya pria itu tertangkap oleh para pejuang dan tengah diinterogasi. Pria itu hanya diam meski pun berbagai siksaan menerpa tubuhnya.


“ Ngomong bang*at. Dimana pasukanmu sembunyi...?!” tanya salah seorang pejuang sambil memukul kepala pria itu dengan batu hingga membuat kepala pria itu terluka.


“ Sa... Saya ti... tidak tau. Saya bukan tentara...,” sahut pria bule itu dengan bahasa Indonesia yang terbata-bata.


“ Kowe bohong ya. Kalo bukan tentara, kok pake baju seragam...!” hardik pejuang lain sambil menarik kerah baju pria bule itu.


“ Sa... ya me... nya... mar supaya bisa ketemu Sarti...,” sahut pria bule itu.


Jawaban pria Belanda itu mengejutkan semua orang. Mereka menoleh bersamaan kearah seorang wanita yang berdiri diantara kerumunan orang. Salah seorang pria menghampiri Sarti lalu menamparnya dengan keras hingga gadis itu terpelanting ke tanah.


“ Bocah edan, bikin malu orangtua. Kamu kenal sama dia Sarti ?. Atau jangan-jangan Kamu jadi pengkhianat yang ngasih tau sama Belanda dimana pasukan Kita berada...?!” tanya pria yang tak lain adalah ayah Sarti itu dengan marah.


“ Ampuunn Pak, ampuunn...,” sahut Sarti sambil menangis ketakutan.


“ Ga usah nangis, jawab sekarang Sarti...!” kata ayah Sarti sambil mengarahkan senapan yang dibawanya kearah Sarti.


“ Sabar Pak, jangan gegabah. Nanti Bapak menyesal...,” kata seorang pemuda sambil meraih senapan dari tangan ayah Sarti.


“ Lebih baik Saya bunuh anak ini daripada orang lain yang melakukannya. Saya ga mau punya anak  pengkhianat negara Mas...,” sahut ayah Sarti sambil menitikkan air mata.

__ADS_1


“ Aku bukan pengkhianat Pak...!” kata Sarti lantang sambil mengusap darah yang mengalir dari sela bibirnya.


“ Kalo Kamu bukan pengkhianat, jelaskan apa hubunganmu sama Londo itu...!” kata ayah Sarti tak kalah lantang.


“ Aku sama Janson cuma berteman. Justru dia yang selama ini ngasih informasi penting buat Kita Pak. Dia pegawai di kamp tentara Belanda. Tugasnya mencatat semua yang berkaitan dengan pergerakan pasukan Belanda setiap hari. Mulai dari senjata, bahan bakar bahkan makanan untuk para tentara. Janson juga ga suka bangsanya menjajah Kita Pak. Dia kabur dengan menyamar jadi tentara karena cuma tentara yang bebas keluar masuk kamp itu. Aku janji bakal jemput dia tapi keburu keduluan sama yang lain...,” sahut Sarti menjelaskan.


Penjelasan Sarti membuat suasana menjadi tegang. Sebagian percaya dengan cerita Sarti, selebihnya tak merespon. Pemimpin para pejuang pun mencoba menengahi.


“ Baik lah Sarti. Jika dia memang bisa memberi informasi penting, Kita akan memberinya kesempatan untuk tinggal di sini bersama Kita. Tapi jika suatu saat dia terbukti sebagai mata-mata Belanda, Kalian berdua akan mati di tanganku...,” kata sang pemimpin sambil menatap Sarti dengan tatapan tajam.


“ Siap Pak...,” sahut Sarti mantap.


“ Ga bisa kaya gitu Pak. Terlalu berbahaya buat Kita...,” kata salah seorang pejuang.


“ Betul Pak...!” sahut semua orang.


“ Saya mengerti, tapi Sarti berhak dapat kesempatan. Kalian ga lupa kan kalo Sarti selalu memberi informasi yang tepat dan Kita selalu berhasil menggempur Belanda di tempat yang tak terduga. Rupanya informasi yang Sarti berikan itu asalnya dari dia. Jadi Kita kasih dia kesempatan. Kalian bisa mengawasi setiap pergerakannya dan jangan biarkan dia pergi tanpa pengawalan...!” kata sang pemimpin sambil menunjuk kearah pria bule yang masih terikat itu.


“ Siap Pak...!” sahut para pejuang dengan nada kecewa.


Setelah memberi perintah, sang pemimpin pejuang meninggalkan tempat itu disusul semua orang. Sarti pun mendekati Janson lalu melepaskan ikatannya. Kemudian Sarti memberi segelas air kepada Janson yang langsung meneguknya hingga tandas.


“ Makasih Sarti...,” kata Janson sambil tersenyum.


“ Sama-sama. Maafkan mereka ya...,” pinta Sarti.


“ Pasti. Mereka juga keluargaku kan...,” sahut Janson.


“ Mana bisa begitu. Kami dan Kamu berbeda Janson...,” kata Sarti.


“ Hanya warna kulit Kita yang beda Sarti, tapi Kita sama-sama manusia yang cinta damai...,” sahut Janson sambil tersenyum penuh makna.


Sarti pun tersenyum. Ia mengerti jika hubungannya dengan Janson akan terhalang restu dari banyak pihak nanti. Tapi kegigihan Janson membuktikan ketulusannya membuat Sarti tersentuh.


Kedekatan Sarti dan Janson yang memang lebih dari teman itu membuat iri, apalagi saat keduanya menikah. Banyak pemuda yang menaruh hati pada Sarti harus menelan kecewa karena Sarti lebih memilih Janson untuk menjadi pendamping hidupnya. Sedangkan gadis sebaya Sarti tak suka melihat kebahagiaan Sarti yang berhasil memikat Janson.

__ADS_1


Namun semua itu tak berarti apa-apa saat mereka harus berhadapan dengan penjajah. Mereka semua bersatu menghadang pasukan Belanda yang mencoba menerobos masuk ke dalam desa. Semua orang menyaksikan bagaimana antusiasnya Janson menghadapi pasukan musuh yang notabene adalah rekan sebangsanya itu. Mengenakan kaos oblong, celana panjang dan sarung yang dililitkan ala ninja, Janson akan berdiri di baris terdepan sambil memegang senapan yang diarahkan ke pasukan musuh yang lari pontang panting menghadapi perlawanan para pejuang.


Hingga suatu saat Janson harus pergi dengan mengemban tugas penting dari pimpinan pejuang. Sarti yang tengah hamil muda hanya bisa mengantar sang suami hingga tepi hutan dimana ada lintasan kereta api. Meski pun tengah ‘mabuk’ karena efek kehamilannya, Sarti tetap ikut berjuang mencari berita.


“ Kalo pusing sebaiknya Kamu di rumah aja Sayang...,” kata Janson kala itu sambil mengusap perut Sarti dengan lembut.


“ Aku ga enak sama yang lain Mas...,” sahut Sarti.


“ Mereka juga ngerti kok, ga usah maksain diri lah. Kasian anak Kita...,” kata Janson.


“ Ini yang terakhir Mas. Setelah misi ini selesai Aku bakal mundur dan jadi Ibu rumah tangga biasa aja kaya wanita lain...,” janji Sarti hingga membuat Janson tersenyum.


“ Itu bagus. Aku ga sabar liat Indonesia merdeka biar Kita bisa hidup normal dan ga harus ketakutan kaya gini...,” kata Janson sambil memeluk Sarti erat.


“ Aamiin...,” sahut Sarti.


“ Keretanya datang, Aku pergi dulu ya Sayang. Tolong jaga anak Kita baik-baik. Bilang sama dia, Papa sayang sama dia...,” kata Janson dengan mata berkaca-kaca.


“ Iya Sayang, hati-hati ya...,” sahut Sarti sambil melambaikan tangannya.


Bersama beberapa pejuang Janson naik ke atas kereta. Lambaian tangan dan senyum Sarti kala itu adalah hal terakhir yang dilihat Janson. Setelah hari itu Janson tak lagi kembali ke desa itu. Bukan karena Janson lari dari tanggung jawabnya tapi karena Janson tertangkap oleh pasukan Jepang yang datang menjajah Indonesia.


Saat tertangkap Janson sedang mengenakan seragam curiannya dan itu membuatnya mengalami penyiksaan yang berat. Tentara Jepang memaksa Janson mengatakan dimana letak gudang senjata milik pasukan Belanda sambil terus memukuli kepala Janson dengan popor senapan hingga terluka. Darah pun membasahi sisi wajahnya yang pucat itu.


Sebelum mimpi itu usai, Aruna melihat jika perut Janson ditusuk dengan bayonet berkali-kali lalu dimasukkan sebatang bambu hingga perut Janson berlubang dengan darah yang membanjiri lantai.


“ Astaghfirullah aladziim..., malang banget nasibmu Janson...,” gumam Aruna sambil mengusap wajahnya yang berkeringat.


Aruna meraih botol berisi air mineral lalu meneguknya sambil melirik kearah jendela kereta. Lagi-lagi Aruna melihat sosok hantu Janson tengah berdiri melekat di jendela kereta sambil menatap penuh harap kearahnya.


“ Toloonnggg Akuu...,” kata hantu Janson hingga membuat Aruna iba.


“ Baik lah, Kita bicara saat Aku sampe nanti ya...,” sahut Aruna lirih.


Hantu Janson nampak tersenyum lalu lenyap begitu saja. Aruna mengerjapkan matanya sambil menyandarkan tubuhnya. Ia menatap hamparan sawah yang membentang luas di sepanjang sisi rel kereta api sambil mengingat mimpinya yang sebentar tadi.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2