
Setelah berpisah dengan Aruna dan Kautsar di parkiran Rumah Sakit, dokter Sheina pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju kediamannya.
Dalam perjalanan berkali-kali dokter Sheina mengusap matanya yang basah. Rasa haru melingkupi hatinya usai mendengar pernyataan 'cinta' Alam tadi.
" Andai Kamu masih hidup pasti Aku akan lebih bahagia mendengarnya Alam...," gumam dokter Sheina.
Karena tak sanggup menahan tangis akhirnya dokter Sheina memilih menepi di pinggir jalan. Ia menundukkan kepalanya di atas kemudi lalu menangis di sana.
Saat sedang menangis, tiba-tiba kaca pintu mobil diketuk oleh seseorang. Dokter Sheina terkejut lalu menghentikan tangisnya. Ia menoleh dan melihat seorang pria muda nampak berdiri di samping mobilnya. Pria itu mengenakan kaos coklat dengan celana dan sepatu polisi. Mengira dirinya melakukan kesalahan karena berhenti di sembarang tempat, dokter Sheina pun segera menurunkan kaca mobil.
" Maaf Pak, Saya memang salah. Tapi Saya bakal segera pergi dari sini kok...," kata dokter Sheina cepat.
Sang polisi nampak tersenyum mendengar kalimat yang diucapkan dokter Sheina. Polisi itu juga sedikit mengerutkan keningnya karena melihat sisa air mata di wajah dokter cantik itu.
" Maaf kalo mengganggu. Tapi saat ini Saya ga sedang bertugas. Saya hanya mau mengingatkan supaya jangan berhenti di sini. Tempat ini sepi dan rawan kejahatan. Sebaliknya Anda segera pergi dari sini Bu...," kata sang polisi dengan santun.
" Oh gitu ya. Makasih udah diingetin. Saya mendadak aja berhenti di sini karena mendadak mata Saya kelilipan tadi. Karena khawatir membahayakan makanya Saya menepi...," sahut dokter Sheina.
Namun sang polisi nampak tersenyum tipis karena tahu jika dokter Sheina sedang berbohong.
" Maaf kalo terdengar lancang. Apa Ibu sedang ada masalah. Keliatannya Ibu baru aja menangis ya...?" tanya polisi itu sambil mengamati dokter Sheina dengan lekat.
" Oh ga kok. Alhamdulillah Saya gapapa. Kalo gitu Saya pergi sekarang, makasih sekali lagi karena udah diingetin...," kata dokter Sheina sambil tersenyum.
" Rasyid...," kata polisi itu sambil mengulurkan tangannya hingga membuat dokter Sheina terkejut.
" Maaf, maksudnya apa ya...?" tanya dokter Sheina tak mengerti.
Polisi muda bernama Rasyid itu nampak tersenyum mendengar pertanyaan dokter Sheina.
" Saya bilang nama Saya Rasyid. Apa Saya boleh tau nama Ibu...?" tanya Rasyid dengan santun.
__ADS_1
" Oh gitu. Maaf kalo Saya mendadak jadi telmi. Senang berkenalan dengan Pak Rasyid. Nama Saya Sheina...," sahut dokter Sheina sambil menyambut uluran tangan sang polisi.
" Jangan panggil Saya Pak. Keliatannya umur Kita ga beda jauh. Bisa panggil Saya Rasyid aja supaya lebih santai...," kata Rasyid.
" Ok. Kalo gitu Saya juga minta dipanggil nama aja tanpa embel-embel Ibu. Bisa kan...?" tanya dokter Sheina dengan mimik lucu.
Sang polisi muda itu pun tertawa lepas. Kemudian ia menganggukkan kepalanya pertanda setuju dengan permintaan dokter Sheina.
" Sekarang Kamu mau kemana...?" tanya Rasyid.
" Saya mau pulang...," sahut dokter Sheina cepat.
" Pulang ?. Ini masih jam dua siang. Bukannya ini masih jam kerja ya ?. Kalo diliat dari pakaian Kamu keliatannya Kamu juga seorang pekerja...," kata Rasyid.
" Saya baru aja selesai kerja. Saya kerja shift malam dan baru pulang Dzuhur tadi...," sahut dokter Sheina sambil tersenyum.
" Oh gitu. Sayang banget ya...," kata Rasyid.
" Sayang kenapa...?" tanya dokter Sheina tak mengerti.
Ucapan Rasyid tentu saja membuat wajah dokter Sheina merona. Ia tak menyangka bisa bertemu dengan seorang pria yang lumayan berani mengajaknya makan siang. Walau diucapkan dengan santai tapi dokter Sheina tahu jika Rasyid serius dengan ucapannya.
" Atau Saya boleh kan minta nomor ponsel Kamu...?" tanya Rasyid sambil menyodorkan ponselnya.
Dokter Sheina tampak ragu memberi nomor ponselnya pada Rasyid karena mereka baru saja bertemu dan berkenalan. Rasyid yang mengerti keraguan dokter Sheina pun mengatakan sesuatu yang membuat wanita itu tersenyum.
" Jangan khawatir, Saya bukan Polisi gadungan yang mencoba menjerat wanita. Kalo Kamu ragu, Kamu bisa telephon atasan Saya kok. Saya dinas di Polres... Cari nama Saya di sana, insya Allah rekan-rekan Saya kenal siapa Saya...," kata Rasyid sambil menepuk dadanya.
" Ok. Saya percaya...," sahut dokter Sheina sambil tersenyum lalu meraih ponsel Rasyid dan mengetik nomor ponselnya di sana.
Rasyid nampak tersenyum lebar saat berhasil mendapatkan nomor ponsel wanita cantik di hadapannya itu. Kemudian Rasyid menghubungi nomor dokter Sheina untuk memastikan jika wanita di hadapannya itu tak memberinya nomor palsu.
__ADS_1
Dokter Sheina terkejut saat mendengar ponselnya berdering. Ia bergegas meraih ponselnya dan melihat nomor asing di layar ponselnya.
" Itu nomor Saya. Tolong disave yaa...," pinta Rasyid sungguh-sungguh.
" Ok...," sahut dokter Sheina cepat.
" Kalo gitu Saya antar Kamu sampe ke jalan besar sana ya. Kunci pintu mobil baik-baik, Saya bakal ngawal Kamu pake motor...," kata Rasyid.
" Iya, makasih...," sahut dokter Sheina.
" Sama-sama...," sahut Rasyid lalu memberi kode pada dokter Sheina agar mengikutinya.
Kemudian dokter Sheina melajukan kendaraannya perlahan sesuai arahan Rasyid. Entah mengapa sikap Rasyid membuat sisi hati dokter Sheina kembali menghangat. Ia pun tersenyum diam-diam sambil mengamati Rasyid dari belakang.
Akhirnya dokter Sheina pun tiba di jalan utama. Rasyid melambaikan tangannya meminta agar dokter Sheina menepi.
" Ada apa...?" tanya dokter Sheina.
" Sampe sini aja ya, Saya kan ga pake helm. Di depan sana jalan utama yang mengharuskan Kita mengenakan atribut lengkap saat berkendara. Saya malu kalo ditilang sama rekan Saya gara-gara ga pake helm. Gapapa kan kalo cuma sampe sini...?" tanya Rasyid.
" Gapapa, Saya paham kok. Makasih ya udah nganterin sampe sini. Saya pergi dulu. Assalamualaikum..., " kata dokter Sheina.
" Wa alaikumsalam, hati-hati ya...," sahut Rasyid yang diangguki dokter Sheina.
Kemudian perlahan mobil dokter Sheina melaju menyusuri jalan raya dan meninggalkan Rasyid di belakangnya. Dari kaca spion mobilnya dokter Sheina bisa melihat jika Rasyid masih di sana sambil terus mengamati mobilnya.
" Duh, mimpi apa sih semalam. Bisa ketemu plus kenalan sama Polisi ganteng kaya gitu. Mudah-mudahan ini pertanda baik buat hidupku...," gumam dokter Sheina sambil tersenyum.
Di sepanjang perjalanan senyum terus menghiasi wajah dokter Sheina. Wanita cantik itu juga mulai berdendang riang mengikuti alunan lagu yang diputarnya.
Entah mengapa, bertemu dengan Rasyid dan berkenalan dengannya telah membuat dokter Sheina melupakan kesedihannya akibat kehilangan Alam. Air mata yang sempat menemaninya tadi kini berganti dengan tawa penuh semangat.
__ADS_1
Dokter Sheina terus seperti itu hingga mobilnya memasuki komplek perumahan tempatnya tinggal selama ini. Namun saat melewati gerbang perumahannya, dokter Sheina berubah menjadi murung. Sangat berbeda dengan dokter Sheina beberapa menit yang lalu.
\=\=\=\=\=