
Sepanjang hari itu Kautsar dibuat gelisah karena beberapa kali melihat penampakan Mukhlis. Karenanya saat pulang dari kantor ia pun langsung menceritakan semuanya kepada Aruna.
" Aku juga diperlihatkan peristiwa sebelum kematian Mukhlis, makanya Aku nelephon Kamu tadi...," kata Aruna.
" Oh iya, kan Kamu belum cerita apa yang Kamu liat tadi. Emangnya Kamu dikasih liat apa sih...?" tanya Kautsar penasaran.
Aruna pun menceritakan apa yang dilihatnya tadi. Aruna juga mencocokkan penampilan Mukhlis semasa hidup dengan pria yang dilihatnya dalam kilasan peristiwa tadi.
" Itu memang Mukhlis Sayang...," kata Kautsar yakin.
" Gitu ya. Yang mengejutkan adalah ternyata Mukhlis meninggal karena diracun oleh seseorang...," kata Aruna.
" Inna Lillahi wainna ilaihi roji'uun. Pantesan arwahnya ga tenang kaya gitu. Siapa yang udah meracuni Mukhlis...?" tanya Kautsar.
" Seorang wanita. Aku ga yakin kalo itu Gladys...," sahut Aruna
" Tapi ini kan udah beberapa bulan sejak kematiannya. Kenapa baru sekarang arwahnya mengganggu Aku Sayang...?" tanya Kautsar tak mengerti.
" Bisa jadi itu disebabkan kartu undangan pernikahan yang mencantumkan namanya. Mau ga mau dia bangkit untuk meluruskan semuanya. Mungkin awalnya dia udah mencoba meminta tolong sama Kamu, tapi karena Kamu ga ngeh makanya pesan itu baru nyampe sekarang. Tepat di saat Gladys mengklaim dirinya akan menikah dengan almarhum Mukhlis...," sahut Aruna.
" Masuk akal. Terus apa yang diminta Mukhlis Sayang...?" tanya Kautsar.
" Keliatannya dia minta agar Kita mengungkap penyebab kematiannya itu. Mungkin ini melibatkan orang dekat karena wanita itu punya akses masuk ke rumah Mukhlis padahal pintu dalam keadaan terkunci...," sahut Aruna.
" Rasanya sulit. Aku ga punya saran buat Kita mulai darimana. Menurut Kamu gimana Sayang...?" tanya Kautsar.
" Ada alamat rumah Gladys tercantum di kartu undangan itu. Mungkin Kita bisa mulai dari sana...," kata Aruna ragu.
" Kamu betul. Kita mulai dari sana aja. Kapan Kita mulai...?" tanya Kautsar.
" Sebentar lagi. Jangan lupa ajak Kak Reyhan ya Sayang...," kata Aruna sambil meletakkan secangkir kopi di hadapan Kautsar.
" Kenapa harus ngajak Reyhan segala sih...?" protes Kautsar.
" Kamu akan tau nanti. Udah cepetan, hubungi dia sekarang biar Kita ga kemalaman nanti...," pinta Aruna.
Kautsar mengangguk lalu mendial nomor telephon Reyhan. Setelah bicara beberapa kalimat, nampaknya Reyhan setuju untuk ikut dalam misi kali ini. Kautsar pun mengakhiri pembicaraan mereka sambil tersenyum puas.
\=\=\=\=\=
__ADS_1
Malam itu Kautsar, Aruna dan Reyhan mendatangi rumah Gladys sesuai alamat yang tertera di kartu undangan. Tak sulit untuk mereka menemukan rumah Gladys, karena mereka menggunakan Taxi on line untuk sampai di sana.
" Kalo mau Saya bisa kok menunggu di sini Mas...," kata supir Taxi on line menawarkan diri.
" Kalo Bapak mau boleh...," sahut Reyhan.
" Tapi Kami agak lama Pak. Emang gapapa ya...?" tanya Aruna.
" Gapapa Mbak. Ini udah lumayan larut, udah waktunya Saya pulang. Paling ga Saya bisa dapat tambahan saat pulang nganterin Mas dan Mbak nanti...," sahut supir Taxi sambil tersenyum.
" Ok, Kami setuju kalo gitu. Bapak tunggu di sini ya. Tenang aja, Kami bakal kasih bonus buat Bapak nanti...," kata Kautsar.
" Makasih Mas. Saya ga akan kemana-mana kok. Jadi Kalian bisa santai dan ga usah terburu-buru..., " sahut supir Taxi yang diangguki Kautsar.
Kemudian Kautsar, Aruna dan Reyhan pun melangkah menuju rumah yang dimaksud dalam kartu undangan itu. Sebuah rumah besar berwarna biru nampak berdiri kokoh. Rumah bergaya modern minimalis itu terlihat berbeda dengan rumah lainnya.
" Kayanya ini mah rumah baru, Iya ga sih Run...?" tanya Reyhan.
" Iya Kak...," sahut Aruna.
" Jam segini bertamu pantes ga sih...?" tanya Reyhan sambil menatap ke sekelilingnya.
" Gimana cara nyari infonya Tsar ?. Sepi banget di sini. Ga ada orang sama sekali selain Kita...," kata Reyhan gusar.
Namun tiba-tiba sebuah motor melintas tepat kearah mereka bertiga. Aruna menoleh cepat karena mengenali wanita yang duduk mengendarai motor matic itu.
" Tolong hentikan dia Sayang...," pinta Aruna.
" Siap...," sahut Kautsar sambil melambaikan tangannya.
Wanita pengendara motor itu berhenti agak jauh dari ketiga orang di hadapannya. Ia tetap bersikap waspada karena tak ingin sesuatu yang buruk terjadi padanya.
Setelah wanita itu menghentikan motornya, Aruna pun segera mendekati wanita itu dan pura-pura menanyakan sesuatu.
" Maaf Mbak. Kami lagi nyari rumah Gladys. Apa Mbak tau dimana rumahnya...?" tanya Aruna.
" Mbak udah sampe di depan rumah Gladys...," sahut wanita itu.
" Maksudnya gimana ya Mbak...?" tanya Aruna seolah mengulur waktu.
__ADS_1
" Rumah biru itu rumahnya Gladys Mbak...," sahut wanita itu sambil menunjuk rumah di belakang Aruna.
" Masa yang ini Mbak. Mbak ga salah kan...?" tanya Aruna.
" Ga salah dong Mbak. Mungkin Mbak heran ya ngeliat rumah Gladys sebagus ini sekarang. Padahal rumah ini dulunya adalah salah satu rumah terjelek di kampung ini...," kata wanita itu sambil tersenyum sinis.
Aruna, Kautsar dan Reyhan pun saling menatap sejenak seolah menangkap aroma permusuhan dalam kalimat yang diucapkan wanita itu.
" Kalo ga ada lagi yang ditanyain, Saya pergi dulu ya Mbak...," kata wanita itu sambil bersiap menstarter motornya.
" Apa Mbak ga keberatan nemenin Kami buat masuk ke dalam rumahnya Gladys...?" tanya Aruna.
" Maaf Saya keberatan. Saya sama Gladys bukan orang yang akrab. Semua orang di kampung ini tau kalo Saya sama Gladys itu musuh bebuyutan. Jadi Saya ga sudi nginjak rumahnya. Yah, walau pun itu bukan miliknya. Tapi sejak Gladys tinggal di sana itu udah jadi rumahnya juga kan...," kata wanita itu sambil melengos.
" Maaf kalo lancang. Emangnya kenapa sampe Mbak musuhan sama Gladys. Apa karena laki-laki bernama Mukhlis...? " tanya Aruna hati-hati namun berhasil membuat wanita itu terkejut.
Entah karena sesama wanita atau memang Aruna yang pandai membujuk. Wanita itu dengan santainya bercerita tentang semua hal yang melibatkan dirinya, Gladys dan Mukhlis.
Reyhan dan Kautsar hanya bisa menggelengkan kepala melihat betapa piawainya Aruna mencari informasi.
" Mukhlis itu orangnya baik Mbak. Terlalu baik malah. Ga bisa ngeliat orang susah dan maunya ngebantu orang. Walau pun dia jarang ngomong, tapi warga suka dengan sikapnya itu. Mukhlis ngontrak di rumah Kakek Saya. Rencananya dia ngontrak di sana sampe rumahnya selesai dibangun. Kami sering ketemu saat Mukhlis ke rumah Kakek untuk bayar kontrakan dan karena itu hubungan Kami lumayan dekat. Semua orang tau kalo Kami dekat tapi Gladys mengacaukan semuanya. Dia masuk jadi orang ketiga di dalam hubungan Kami. Awalnya Saya ga tau. Tapi Saya kaget waktu tau Mukhlis membuat rumah itu untuk Gladys...," kata wanita itu yang kemudian diketahui bernama Dita.
" Mungkin Mukhlis dan Gladys punya hubungan atau bertunangan mungkin...," tebak Aruna.
" Mustahil Mbak. Mukhlis itu kan pendiem banget. Ga pernah keliatan pacaran atau apa kok. Satu-satunya wanita yang dekat sama dia ya cuma Saya. Makanya saat dia meninggal dan Gladys mengklaim rumah yang dibangun Mukhlis sebagai miliknya, Kami semua kaget. Tapi sayangnya Gladys punya bukti kalo itu rumahnya jadi warga ga bisa ngusir dia...," kata Dita kesal.
" Gitu ya...," gumam Aruna.
" Iya. Makanya sampe detik ini Saya masih kesal sama Gladys. Wong Saya yang deket sama Mukhlis kok bisa-bisanya dia yang dapetin warisannya...," kata Dita.
" Jadi Mbak Dita ga bisa anterin Saya ke rumahnya Gladys...?" tanya Aruna lagi.
" Maaf ga bisa. Saya permisi dulu ya Mbak...," kata Dita sambil melajukan motornya perlahan meninggalkan Aruna, Kautsar dan Reyhan.
" Ceritanya ga masuk akal banget ya...," kata Reyhan.
" Iya...," sahut Kautsar sambil menggaruk kepala.
Jika Kautsar dan Reyhan merasa cerita Dita hanya bualan kosong, hal berbeda justru terjadi dengan Aruna. Karena saat ini Aruna tengah berinteraksi dengan arwah Mukhlis yang tiba-tiba datang mendekatinya.
__ADS_1
bersambung