
Aruna menjalani masa datang bulan perdananya dengan perasaan cemas karena merasa selalu diikuti oleh sosok misterius. Karena tak ingin menanggungnya seorang diri, Aruna pun menyampaikan kegelisahannya kepada ummi Syarifah, istri ustadz Zaid yang merupakan guru spiritualnya.
“ Sejak kapan Kamu merasa diikuti Nak...?” tanya ummi Syarifah.
“ Mmm..., sejak Aku haidh di hari pertama Ummi...,” sahut Aruna.
“ Kamu pernah liat bagaimana bentuknya...?” tanya ummi Syarifah.
“ Belum Ummi. Aku hanya liat sepasang mata dan kadang denger suara geraman mirip suara binatang yang lagi marah...,” sahut Aruna.
“ Ummi pikir dia ga bermaksud jahat sama Kamu Nak. Kalo dia berniat menyakitimu harusnya sudah dia lakukan sejak pertama kali mulai mengintai Kamu kan...?” tanya ummi Syarifah.
“ Jangan-jangan dia nunggu waktu yang tepat Ummi...,” kata Aruna cemas.
“ Dia memang nunggu waktu yang tepat. Bukan untuk menyakitimu tapi justru dia ingin bicara sama Kamu Nak. Keliatannya ada sesuatu yang ingin dia sampaikan. Kamu ingat hantu yang ngikutin Oma Kamu dulu kan ?. Dia juga mengikuti Oma Kamu sampe beberapa waktu. Akhirnya dia menyampaikan apa keinginannya setelah bertemu orang yang bisa mengerti dia yaitu Kamu...,” sahut ummi Syarifah yang diangguki Aruna.
“ Jadi Aku harus apa Ummi...?” tanya Aruna.
“ Menunggu, hanya itu. Jangan lupa tetap jaga dzikirmu ya Aruna...,” sahut ummi Syarifah.
“ Insya Allah, makasih Ummi. Sekarang Aku pulang dulu ya...,” kata Aruna lalu mencium punggung tangan ummi Syarifah dengan takzim.
Ummi Syarifah melepas kepergian Aruna dengan sedikit gelisah. Dia tau ada sesuatu yang tengah mengintai Aruna. Walau tidak mengandung aura negatif, namun ummi Syarifah tetap merasa khawatir dengan keselamatan Aruna.
“ Kenapa Mi, kok bengong aja. Sampe salam Abi aja ga dibalas...?” tanya ustadz Zaid mengejutkan sang istri.
“ Eh, wa alaikumsalam. Maaf Abi, Ummi lagi ngeliatin Aruna...,” sahut ummi Syarifah.
“ Mana Aruna, ga ada siapa-siapa kok di sini...,” kata ustadz Zaid.
“ Tadi dia di sini Bi, sekarang udah pulang...,” sahut ummi Syarifah sambil melangkah masuk ke dalam rumah.
“ Ada apa Aruna ke sini, apa ada masalah ?. Hari ini kan Aruna ga ada jadwal belajar sama Kamu Mi...?” tanya ustadz Zaid.
“ Aruna bilang lagi diikutin sama sosok misterius Bi. Dia ga tau itu apa, makanya nanya sama Ummi gimana cara menghadapinya. Ummi tau kalo sosok itu ga jahat makanya Ummi nyuruh Aruna nunggu aja apa maunya sosok misterius itu. Insya Allah sih ga bahaya. Kalo menurut Abi gimana...?” tanya ummi Syarifah.
“ Memang ga berbahaya untuk Aruna tapi bisa berbahaya untuk orang-orang di sekitar Aruna...,” sahut ustadz Zaid sambil menatap jauh ke depan.
“ Maksud Abi apa...?” tanya ummi Syarifah karena khawatir telah salah memberi jawaban pada Aruna tadi.
“ Sama yang kaya Ummi bilang ke Aruna tadi. Kita hanya bisa nunggu sosok misterius itu menampakkan diri...,” sahut ustadz Zaid sambil tersenyum.
Mendengar jawaban suaminya membuat ummi Syarifah terdiam sambil menatap punggung suaminya yang berjalan kearah kamar.
\=====
Ujian kenaikan kelas telah usai. Semua siswa hanya menunggu hasil ujian dengan hati berdebar. Untuk mengisi waktu pihak sekolah mengadakan kegiatan berkemah selama tiga hari yang dikoordinir langsung oleh guru-guru.
Para siswa diberi kebebasan memilih, ingin ikut bergabung atau tidak. Aruna termasuk siswa yang memilih ikut bergabung. Arka dan Diana mengijinkan Aruna ikut serta karena mereka menganggap kegiatan itu bernilai positif salah satunya bisa melatih kemandirian siswa nanti.
Arka dan Diana mengantar Aruna ke sekolah yang merupakan titik keberangkatan rombongan itu.
“ Jangan misah dari rombongan ya Nak, ikuti semua perintah guru. Dan ingat, ga usah gubris apa pun yang Kamu lihat dan dengar nanti. Tetap fokus dan jaga sholat...,” kata Diana mengingatkan.
“ Iya Ma...,” sahut Aruna.
“ Ponselnya aktifin terus ya Nak...,” kata Arka.
__ADS_1
“ Ok Papa. Tapi kalo Aku ga jawab panggilan jangan terus menerus telephon ya. Mungkin Aku lagi sibuk ngikutin materi dari guru...,” sahut Aruna.
“ Iya Sayang, Papa ngerti. Papa bakal telephon saat jam istirahat dan menjelang tidur aja kok, gimana...?” tanya Arka yang diangguki Aruna.
Arka dan Diana pun tersenyum. Tak lama kemudian mereka tiba di depan sekolah. Setelah berpamitan, Aruna pun berlari kecil ke dalam sekolah untuk bergabung dengan teman-temannya.
Arka dan Diana masih berdiri di depan sekolah hingga bus yang membawa rombongan melaju meninggalkan sekolah.
“ Aruna keliatan seneng banget ya Pa...,” kata Diana sambil membuka pintu mobil.
“ Iya Ma. Aruna merasa senang karena Kita percaya dia bisa menjaga diri dengan baik nanti. Apalagi pergi bareng teman-teman itu bakal jadi pengalaman yang tak terlupakan seumur hidup...,” sahut Arka.
“ Walau pun pergi tanpa Kita...,” kata Diana sedih.
“ Ayo lah Ma. Aruna udah besar lho, jangan dikekepin terus. Ga baik. Biarkan dia menikmati masa remajanya, Kita bisa mengawasi dia dari jauh kan...,” kata Arka.
“ Iya iya. Papa sama Aruna emang kompak kalo soal beginian...,” sahut Diana sambil berdecak sebal.
Ucapan Diana membuat Arka tertawa. Sesaat kemudian Arka melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu.
\=====
Lokasi perkemahan terlihat ramai. Tenda-tenda berjajar rapi di lahan yang luas itu. Aruna dan ketiga teman wanitanya menempati satu tenda bernomor sebelas. Di belakang tenda terlihat rimbun pohon rambutan dan semak-semak khas alam terbuka.
Ketiga teman Aruna bernama Noni, Mika dan Sheila. Mereka dari kelas yang berbeda namun berteman dekat karena pulang pergi sekolah selalu bersama. Hanya Aruna yang tak pernah pulang bersama dengan mereka. Meski pun begitu keempatnya langsung klik saat digabungkan oleh guru mereka.
“ Kenapa Kita dapat tenda ini sih, ga enak tau...,” keluh Noni sambil cemberut.
“ Terima aja lah Non. Emangnya Lo mau tenda nomor berapa, kan semua sama aja. Warna dan bentuknya juga sama...,” kata Sheila.
“ Tapi tempatnya kan beda. Di sini jauh dari api unggun. Terus liat deh, di belakang tenda Kita ada pohon rambutan gede banget kaya gitu. Serem tau ga...,” sahut Noni.
“ Lo ngomong apaan sih Mik. Jangan nakutin Gue dong...!” kata Noni marah.
“ Siapa yang nakutin Lo, Gue kan cuma bilang kalo rumpun bambu tuh lebih serem daripada pohon rambutan...,” sahut Mika tak mau kalah.
“ Sssttt..., udah jangan berisik. Semua tenda sama aja. Lagian pohon rambutan atau pohon bambu ga akan ngaruh kok. Kalo emang hati Kita tulus dan ga punya niat jahat di sini, insya Allah makhluk penghuni pohon itu ga bakal gangguin Kita...,” kata Aruna menengahi.
“ Betul Aruna, Gue setuju sama Lo...,” sahut Sheila sambil mengacungkan jempolnya.
Sedangkan Mika dan Noni saling menatap kemudian mengangguk. Sesaat kemudian keempatnya keluar dari tenda untuk berkumpul di dekat api unggun sesuai instruksi guru mereka.
Dari tempatnya berdiri Aruna mengamati sekelilingnya dengan tenang. Namun saat menoleh kearah tenda nomor sebelas, Aruna nampak terkejut. Di belakang tenda tepatnya di balik rimbun dedaunan pohon rambutan, Aruna melihat seekor anjing berukuran sangat besar tengah bertengger di dahan pohon rambutan itu.
“ Aruna, Kamu dengar Saya ga...?!” tanya seorang guru dengan lantang hingga mengejutkan Aruna.
“ Dengar Pak...,” sahut Aruna cepat.
“ Coba ulangi apa yang Saya ucapkan tadi...!” kata sang guru.
Mika, Noni dan Sheila nampak khawatir namun kemudian mereka tersenyum lega saat Aruna mampu mengulangi kalimat yang diucapkan pak guru dengan jelas dan lengkap.
“ Ok, sekarang bersiap untuk sholat Maghrib ya. Yang non muslim boleh istirahat di dalam tenda dan jangan membuat kegaduhan...!” kata sang guru.
“ Baik Pak...!” sahut para siswa bersamaan lalu membubarkan diri.
Aruna dan ketiga temannya melangkah menuju tenda sambil membahas tingkah ajaib Aruna tadi.
__ADS_1
“ Hampir copot jantung Gue waktu Aruna dibentak sama Pak Ahmad tadi...,” kata Noni sambil mengusap dadanya untuk menetralisir detak jantungnya.
“ Gue juga...,” sahut Sheila.
“ Untung Aruna pinter dan bisa niruin semua ucapan Pak Ahmad tadi. Kalo ga bisa gawat dong. Kita berempat bakal nanggung hukuman...,” kata Mika.
“ Kan emang gitu aturannya. Satu orang yang bikin masalah, teman satu tenda harus ikut nanggung hukumannya...,” sahut Noni.
“ Sorry ya udah bukan Kalian deg-degan tadi...,” kata Aruna tak enak hati.
“ Gapapa Run, nyantai aja...,” sahut Sheila sambil tersenyum.
“ Iya Run. Tapi kalo boleh jujur Gue belum siap kalo hari ini dihukum, masih capek, ngantuk. Mungkin kalo besok sih Ok lah...,” kata Mika sambil nyengir.
“ Eh, enak aja. Jadi Lo niat mau bikin ulah ya biar Kita berempat dihukum...?” tanya Sheila galak.
“ Bukan gitu maksud Gue Shei...,” sahut Mika tak enak hati.
Perdebatan Mika, Noni dan Sheila pun masih berlanjut. Aruna nampak tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Ia merasa ketiga temannya kali ini sangat unik. Bertengkar lalu akur, bertengkar lagi lalu akur lagi. Hampir sulit membedakan mereka sedang bergurau atau marah, karena yang terlihat hanya perdebatan tanpa henti. Akhirnya Aruna hanya bisa tertawa melihat tingkah ketiga temannya itu.
“ Kok Lo ketawa sih Run, seneng ya ngeliat Kita berantem...?” tanya Noni sewot.
“ Tau nih Aruna. Pisahin kek, malah diketawain. Dasar aneh...,” gerutu Sheila sambil melengos.
“ Abis Kalian tuh lucu banget tau ga sih. Berantem tapi ga jelas ngeributin apaan. Terus udahannya Kalian juga ketawa kan kaya orang gila. Daripada nungguin Kalian ketawa, lebih baik Gue ketawa duluan...,” sahut Aruna di sela tawanya.
Jawaban Aruna membuat ketiga temannya kesal. Aruna lari keluar tenda diikuti ketiga temannya. Akhirnya keempatnya berlarian di sekitar tenda sambil tertawa-tawa.
“ Aruna berhenti...!” panggil Noni, Mika dan Sheila bersamaan.
“ Ga mau...!” sahut Aruna.
Tapi langkah Aruna terhenti karena tubuhnya menabrak tubuh sang wali kelas. Di belakang sana Mika, Sheila dan Noni pun berhenti berlari sambil menatap cemas kearah Aruna.
“ Ngapain Kalian lari-lari. Ini hampir Maghrib lho...,” kata bu Husna sambil menatap Aruna dan ketiga temannya bergantian.
“ Iya Bu, maaf...,” sahut Aruna.
“ Saya kasih waktu lima menit untuk siap-siap. Cepat...!” kata bu Husna.
“ Siap Bu...!” sahut Aruna dan ketiga temannya lalu bergegas masuk ke dalam tenda untuk mengambil perlengkapan sholat.
Tak lama kemudian adzan Maghrib pun berkumandang. Lima menit kemudian keempatnya
pun bergegas ke lapangan untuk melaksanakan sholat Maghrib berjamaah.
Malam harinya saat semua siswa terlelap di dalam tenda, Aruna justru keluar dari tenda. Kemudian Aruna menoleh kearah api unggun. Di sana terlihat beberapa orang guru tengah berbincang dengan penduduk setempat yang dikenal sebagai tokoh masyarakat.
Aruna mengerutkan keningnya saat terdengar suara gemerisik dedaunan di balik pohon rambutan. Ia menatap kearah pohon rambutan dan lagi-lagi ia melihat seekor anjing besar di sana. Tanpa rasa takut Aruna mendekat kearah pohon rambutan itu lalu berdiri di sana sambil mendongakkan kepalanya.
Anjing besar yang bertengger di dahan rambutan itu kemudian turun dan mendekati Aruna. Kini Aruna berhadapan dengan anjing besar itu dalam jarak dua meter saja.
Dari jarak sedekat itu Aruna bisa melihat dengan jelas makhluk apakah yang terus mengintainya belakangan ini. Aruna merasa jika anjing besar di hadapannya lebih mirip serigala daripada seekor anjing. Serigala itu bertubuh sangat besar, tingginya mencapai kepala Aruna, bulu di tubuhnya berwarna hitam putih, dengan mulut yang dipenuhi taring dan sorot mata yang tajam.
Aruna tak merasa gentar sedikit pun saat berhadapan dengan serigala besar itu. Namun Aruna tertegun saat mendengar makhluk itu berbicara dengan bahasa manusia.
“ Apa kabar Aruna...,” sapa makhluk itu sambil menyeringai hingga taring-taringnya terlihat jelas.
__ADS_1
Untuk sesaat Aruna membisu karena takjub dengan kemampuan yang dimiliki makhluk di depannya.
Bersambung