Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
98. Malam Pertama


__ADS_3

Pesta usai saat jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Aruna dan Kautsar pun masuk ke sebuah kamar di hotel bintang lima yang memang sengaja dibooking oleh Arka dan Diana khusus untuk mereka. Kamar itu pun telah dihias dengan cantik untuk menyambut kedatangan keduanya.


Aruna nampak mematung di ambang pintu karena terkejut sekaligus kagum saat melihat kamar yang akan ia dan Kautsar tempati itu. Kautsar yang berdiri di belakang Aruna pun tersenyum lalu bertanya hingga mengejutkan Aruna.


" Kenapa...?" tanya Kautsar.


" Mmm, Aku pindah ke kamar lain aja ya...," sahut Aruna.


" Lho kenapa...?" tanya Kautsar tak mengerti.


" Gapapa. Lebih baik Aku gabung sama Ria aja...," sahut Aruna sambil membalikkan tubuhnya dan bersiap pergi ke kamar Ria.


Namun langkah Aruna terhenti saat Kautsar menahannya dengan menyilangkan lengannya di ambang pintu.


" Minggir Tsar...," kata Aruna gusar.


" Please jangan pergi Aruna. Ini kan malam pengantin Kita. Masa Kamu mau ninggalin Suami Kamu ini sendirian di sini. Apa kata orang kalo tau sepasang pengantin yang terlihat bahagia ini justru tidur pisah kamar di malam pertamanya...," keluh Kautsar dengan wajah sayu.


Aruna nampak salah tingkah mendengar ucapan Kautsar. Perlahan namun pasti Kautsar melangkah hingga membuat Aruna mundur teratur. Setelahnya Kautsar menutup pintu kamar yang posisinya ada di belakang tubuhnya sambil tetap menghadap Aruna.


" Aku mau ke toilet...," kata Aruna tiba-tiba sambil membalikkan tubuhnya.


Namun karena gaun yang dikenakan sangat panjang dan berat membuat gerakan Aruna melambat. Dan kesempatan itu dimanfaatkan Kautsar dengan memeluk Aruna dari belakang dengan erat.


" Kamu kok gugup gitu sih Run. Kenapa...?" tanya Kautsar sambil berbisik di telinga Aruna.


" Aku ga gugup kok...," bantah Aruna.


" Oh ya. Kalo gitu coba liat Aku. Perasaan dari tadi Kamu ga pernah ngeliat Aku lho Run...," kata Kautsar sambil menyentuh dagu Aruna.


" Aku malu Kautsar...," sahut Aruna lirih sambil memejamkan matanya.


" Kita kan udah sah secara hukum agama dan negara. Bahkan beberapa kali Kita juga tidur bersama Aruna, kenapa masih malu sih...?" tanya Kautsar sambil mengecup pipi Aruna dengan lembut beberapa kali.


" Tapi itu kan beda Kautsar. Selama ini Kita tidur bersama karena terpaksa oleh keadaan. Itu juga Kita ga ngapa-ngapain kan...," sahut Aruna gusar.


" Emangnya sekarang Kita mau ngapain...?" goda Kautsar sambil tersenyum.

__ADS_1


" Stop bikin Aku malu Kautsar...!" kata Aruna sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan Kautsar.


" Abisnya Kamu lucu banget sih Aruna...," sahut Kautsar sambil tertawa.


" Aku bukan pelawak Tsar...," kata Aruna judes hingga membuat Kautsar kembali tertawa.


Melihat wajah Aruna yang serius tanpa senyum membuat Kautsar menghentikan tawanya lalu menangkup wajah Aruna dengan kedua telapak tangannya.


" Apa Aku udah bilang kalo hari ini Kamu cantik banget Aruna...?" tanya Kautsar sambil menatap wajah Aruna dengan intens.


" Mana sempet, Kamu kan lagi sibuk ngurusin temen Kamu yang namanya Sally itu...," sahut Aruna sambil melengos.


" Cemburu...?" tanya Kautsar.


" Banget...," sahut Aruna malu-malu hingga membuat Kautsar membelalakkan matanya karena tak percaya dengan jawaban Aruna.


" Masya Allah, akhirnya. Apa itu artinya cintaku ga bertepuk sebelah tangan Aruna...?" tanya Kautsar penuh harap.


" Iya...," sahut Aruna lirih namun masih terdengar jelas di telinga Kautsar.


Mendengar jawaban Aruna membuat Kautsar bahagia. Kemudian Kautsar memeluk Aruna erat sambil mendaratkan ciuman bertubi-tubi di wajah sang istri hingga membuatnya tertawa.


" Aku juga cinta sama Kamu Kautsar. Please jangan buat Aku kecewa ya...," pinta Aruna hingga membuat Kautsar tersenyum.


" Bukannya terbalik ya. Biasanya kan Kamu yang hobi banget bikin Aku kecewa...," sahut Kautsar.


" Kautsar...," panggil Aruna manja sambil membenamkan tubuhnya ke dalam pelukan suaminya itu.


Kautsar pun tertawa keras lalu kembali mencium Aruna. Kali ini ciuman yang lebih menuntut dan Aruna pun tak menolaknya. Ia bahkan membalas ciuman sang suami.


" Aku mau Kamu Aruna...," bisik Kautsar di sela ciuman panas mereka.


Aruna menganggukkan kepalanya dan itu membuat Kautsar tersenyum bahagia.


Malam itu dinding pembatas yang dibangun Aruna untuk melindungi diri dan hatinya dari pesona Kautsar pun runtuh. Ia menyerahkan diri seutuhnya kepada Kautsar, pria yang ia nikahi empat bulan yang lalu.


Kautsar seolah menemukan oase di Padang pasir. Sesuatu yang lama ia kejar kini ada di depan mata. Seolah tak pernah puas, Kautsar terus mengajak Aruna berkelana dalam lautan asmara meski Aruna sudah nampak kelelahan.

__ADS_1


" Capek...?" tanya Kautsar saat pertempuran panas mereka berakhir.


" Iya...," sahut Aruna malu-malu.


" Maafin Aku ya Sayang. Kamu membuatku ga ingin berhenti...," bisik Kautsar sambil mengecup kening Aruna.


" Tapi ini udah berjam-jam lho. Apa Kamu ga mau istirahat...?" tanya Aruna sambil mencubit hidung Kautsar dengan gemas.


" Sebenernya sih ga. Tapi ngeliat Kamu yang kecapean Aku jadi ga tega...," sahut Kautsar.


" Jadi Kita berhenti dulu ya. Aku ngantuk mau tidur...," pinta Aruna.


" Ok...," sahut Kautsar sambil tersenyum.


" Makasih Sayang...," kata Aruna sambil mengecup pipi Kautsar dengan cepat lalu menutupi wajahnya dengan selimut karena malu.


Kautsar pun tersenyum bahagia mendengar Aruna memanggilnya dengan sebutan sayang. Apalagi Aruna juga memberinya ciuman tanpa diminta. Hal yang tak pernah Aruna lakukan selama empat bulan pernikahan mereka.


\=\=\=\=\=


Aruna terbangun dalam pelukan Kautsar. Ia tersenyum saat teringat percintaan panas yang dilaluinya bersama Kautsar beberapa jam yang lalu.


Perlahan Aruna mendongakkan wajahnya untuk menatap Kautsar yang saat itu tertidur pulas. Dengan hati-hati Aruna menyentuh wajah Kautsar dengan punggung tangannya lalu mengecup bibirnya lembut.


Kemudian Aruna menatap kearah dirinya sendiri dan sadar jika saat itu ia berada dalam keadaan tanpa busana di balik selimut. Ia memejamkan matanya sambil tersenyum tipis.


Tiba-tiba Aruna menoleh saat melihat kelebatan bayangan berseliweran di balik jendela kamar. Aruna nampak mengerutkan keningnya lalu bergegas mengenakan pakaiannya.


Setelahnya Aruna turun dari tempat tidur. Meski telah ia lakukan perlahan, namun rasa nyeri di bagian int*mnya masih terasa dan itu membuatnya meringis.


Namun kelebatan bayangan di luar jendela kamar tempatnya menginap memaksanya untuk bergerak lebih cepat. Dengan hati-hati Aruna pergi ke balkon kamar untuk melihat bayangan apa yang sejak tadi berseliweran di sana. Sebelum membuka pintu Aruna kembali menoleh ke tempat tidur untuk memastikan Kautsar tak terbangun saat ia membuka pintu balkon.


Aruna menyelinap keluar dan membiarkan pintu balkon terbuka. Angin malam yang dingin segera menyapa Aruna saat kakinya menginjak lantai balkon itu. Aruna menghirup udara malam sejenak sambil memejamkan mata.


Telinga Aruna yang tajam mendengar kehadiran sosok lain dan kini tengah mengepung dirinya. Bukan hanya satu tapi berjumlah belasan atau bahkan ratusan.


Sedetik kemudian Aruna membuka matanya dengan kedua bola matanya yang berubah menjadi merah. Aruna pun menggeram sambil menyeringai seolah menunjukkan jika ia tak gentar dengan kehadiran 'mereka'.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2