Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
200. Pucat ?


__ADS_3

Kautsar dan Aruna masih saling menatap dengan tatapan yang sulit digambarkan. Perlahan Aruna menyingkirkan tangan Kautsar yang sedang mengusap perutnya itu.


" Maksud Kamu bayi Kita tuh apa sih. Kamu ngira kalo Aku lagi hamil ya...?" tanya Aruna.


" Iya. Bukannya Kamu ga kedatangan tamu bulanan bulan ini Sayang...?" tanya Kautsar.


" Itu bukan artinya Aku hamil Tsar. Siklus bulanan ku kan emang ga teratur dan Kamu juga tau itu...," kata Aruna sambil melengos.


" Tapi Aku yakin Kamu lagi hamil setelah ngeliat makhluk itu di samping tadi Sayang...," sahut Kautsar.


" Makhluk apa sih maksud Kamu...?" tanya Aruna mencoba mengetes sang suami.


" Awalnya Aku pikir Aku cuma berhalusinasi. Tapi Aku yakin setelah mencoba mencocokkannya dengan perubahan sikapmu belakangan ini. Bukan kah makhluk itu memang suka dengan wanita hamil dan menyusui...?" tanya Kautsar sambil menatap tajam kearah Aruna.


" Jadi Kamu juga berpikir sama kaya Aku Sayang...?" tanya Aruna yang diangguki Kautsar.


" Tapi Aku yakin ga salah liat. Itu pasti kuyang. Iya kan...?" tanya Kautsar.


" Iya. Tapi Aku ga berpikir jika Aku lah wanita itu karena Aku emang ga merasa kalo Aku hamil. Justru Aku pikir di sekitar rumah Kita ini ada wanita yang lagi hamil...," sahut Aruna cepat.


" Tapi Aku yakin Kamu yang hamil Sayang...," kata Kautsar tak mau kalah.


" Ok, apa pun itu. Bisa ga Kita liat makhluk itu sekarang. Aku khawatir dia mencelakai orang lain nanti...," pinta Aruna.


" Maaf Sayang. Kali ini Aku menolak untuk membantu orang lain. Karena bagiku keselamatan Kamu dan bayi Kita lebih penting dari apa pun...," sahut Kautsar tegas.


" Kamu ga bisa egois kaya gitu dong Sayang. Kamu tau kan gimana Aku. Aku ga mungkin diem aja ngeliat kezholiman di depan mataku...," kata Aruna gusar.


" Terserah Kamu mau bilang Aku egois kek, jahat kek. Pokoknya Aku bilang jangan keluar artinya Kamu ga boleh keluar. Paham...?!" kata Kautsar tegas sambil mempererat pelukannya.


" Tapi Aku belum tentu hamil Tsar...!" kata Aruna sambil mendorong tubuh suaminya agar menjauh.


" Kalo gitu Aku bakal bikin Kamu hamil secepatnya...," sahut Kautsar sambil mulai mencumbu Aruna.


" Aku ga mau hamil sekarang Tsar. Aku belum lulus kuliah...!" jerit Aruna tapi diabaikan begitu saja oleh Kautsar.


Aruna terus menjerit namun hanya sesaat. Karena detik berikutnya ia dan Kautsar telah tenggelam dalam hasrat yang memabukkan.


Sementara itu di luar rumah terlihat kepala tanpa tubuh yang tadi dilihat Aruna dan Kautsar nampak melayang pergi sambil mendengus kesal.


\=\=\=\=\=


Pagi itu Aruna kembali bekerja seperti biasa. Sesekali ia melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya lalu menatap kearah pintu. Nampaknya Aruna sedang menunggu seseorang.


Hasby membuka pintu lalu masuk ke dalam ruangan dan Aruna pun bergegas berdiri untuk menyambut.

__ADS_1


" Selamat pagi Pak...," sapa Aruna dengan ramah.


" Selamat pagi Aruna. Kok sendiri, mana Bu Bianca...?" tanya Hasby.


" Belum datang Pak. Keliatannya beliau agak terlambat hari ini...," sahut Aruna.


" Oh gitu, sayang sekali. Padahal Kita harus menghadiri seminar penting di hotel X siang ini. Bisa Kamu hubungi Bu Bianca dan tanyakan kesediaannya untuk menemani Saya siang ini Aruna...?" tanya Hasby.


" Baik Pak. Saya akan hubungi Bu Bianca secepatnya...," sahut Aruna cepat.


" Bagus. Terima kasih Aruna..., " kata Hasby sambil tersenyum.


" Sama-sama Pak...," sahut Aruna cepat lalu bergegas meraih ponselnya untuk menghubungi Bianca saat Hasby masuk ke dalam ruangannya.


Bianca tak merespon sama sekali meski pun Aruna telah menghubunginya berkali-kali.


" Gue coba sebentar lagi deh...," gumam Aruna sambil menghela nafas panjang.


Kemudian Aruna kembali melanjutkan pekerjaannya. Tiba-tiba pintu terbuka dan memperlihatkan wajah Bianca yang terlihat pucat.


" Selamat pagi Bu, apa Ibu baik-baik saja...?" tanya Aruna dengan santun.


" Pagi juga Aruna. Saya baik-baik aja kok. Ada apa Kamu menghubungi Saya...?" tanya Bianca sambil duduk di kursi tepat di hadapan Aruna.


" Pak Hasby yang minta Saya menghubungi Ibu...," sahut Aruna tak mau disalahkan.


" Ada seminar hari ini di hotel X dan Pak Hasby minta Bu Bianca untuk mendampingi beliau...," sahut Aruna.


" Gitu ya, padahal Saya lagi ga enak badan. Biar Saya temui Beliau langsung dan minta Kamu menggantikan Saya ya Aruna...," kata Bianca sambil melangkah menuju ruangan Hasby.


" Tapi Bu...," ucapan Aruna terputus karena Bianca melambaikan tangannya pertanda ia tak menerima penolakan.


Aruna nampak mengerucutkan bibirnya karena kesal. Entah mengapa belakangan ini ia tak suka berada di tempat keramaian. Aruna selalu merasa kepalanya pusing dan tak nyaman saat berinteraksi dengan banyak orang.


" Apa jangan-jangan Gue beneran hamil ya...," gumam Aruna sambil menyentuh perutnya perlahan.


Gerakan Aruna yang sedang menyentuh perut juga dilihat oleh Bianca. Ia melangkah cepat melewati Aruna sambil mengatakan sesuatu yang tak Aruna inginkan.


" Saya udah bilang sama Pak Hasby kalo Kamu yang akan mendampingi Beliau siang nanti Aruna...," kata Bianca sambil tersenyum penuh makna.


" Baik Bu...," sahut Aruna pasrah.


" Berkasnya yang ini dan yang ini ya...," kata Bianca sambil menyerahkan dua buah map berisi berkas yang harus dibawa oleh Aruna nanti.


" Iya Bu, makasih...," sahut Aruna sambil tersenyum kecut.

__ADS_1


" Ada baiknya Kamu memoles wajahmu sedikit biar terlihat lebih fresh Aruna. Wajah pucatmu itu ga menarik sama sekali dan bikin mata Saya sakit ngeliatnya...," kata Bianca sambil berlalu.


" Baik Bu...," sahut Aruna sambil menatap punggung Bianca dengan tatapan tak suka.


Bianca duduk di depan mejanya dan mulai melihat-lihat dokumen penting yang ada di mejanya. Jika sudah seperti itu Aruna tak lagi berani bersuara karena biasanya Bianca akan marah jika dia mengganggunya walau pun hanya dengan pertanyaan sederhana.


Sepuluh menit kemudian Bianca nampak mendongakkan wajahnya untuk menatap Aruna. Bianca nampak kesal melihat Aruna yang serius dengan pekerjaannya dan mengabaikan permintaannya tadi.


" Kamu masih di sini Aruna...?!" tanya Bianca dengan suara lantang hingga mengejutkan Aruna.


" Astaghfirullah aladziim. Eh, iya Bu. Maaf, maksud Ibu apa ya...?" tanya Aruna tak mengerti.


" Ck, Kamu ga denger ya apa yang Saya bilang tadi Aruna...?" tanya Bianca kesal.


" Maaf Bu, yang mana ya...?" tanya Aruna sungguh-sungguh.


" Saya udah nyuruh Kamu supaya memoles wajah Kamu yang pucat itu biar ga keliatan kaya orang sakit Aruna. Masa gitu aja harus diulangi sih...!" kata Bianca gemas.


" Oh itu. Emangnya sekarang Bu ?. Bukannya itu buat ntar siang saat Saya mendampingi Pak Hasby ya...?" tanya Aruna salah tingkah.


" Aruna, Kamu...!" ucapan Bianca terputus saat Aruna berdiri sambil mengembangkan telapak tangannya.


" Iya iya Bu, Saya paham. Saya kerjain sekarang ya Bu. Permisi...," kata Aruna sambil menyambar tasnya lalu melangkah cepat menuju toilet.


Bianca menggelengkan kepalanya sambil menatap Aruna yang menjauh. Setelahnya Bianca nampak menghela nafas panjang lalu menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.


Aruna pun tiba di toilet dan langsung ke depan cermin. Di sana ia bertemu Ria yang baru saja selesai buang hajat.


" Ngapain Lo Run...?" tanya Ria saat melihat Aruna mematut diri di depan cermin.


" Ga tau nih. Masa Gue disuruh moles muka Gue lagi sama Bu Bianca. Katanya muka Gue pucat kaya orang sakit. Padahal dia yang mukanya pucat mirip mayat karena ga ada darah di dalam tubuhnya...," sahut Aruna kesal.


Jawaban Aruna membuat Ria tertawa geli. Melihat temannya tertawa membuat Aruna kesal lalu mencubit pinggang Ria dengan keras hingga gadis itu menjerit kesakitan.


" Sakiitt Run...!" jerit Ria.


" Rasain...," kata Aruna.


" Sadis Lo Run...," kata Ria sambil meringis.


" Biarin. Nah gimana Ri, muka Gue udah keliatan fresh kan...?" tanya Aruna.


" Udah. Udah cakep. Buruan balik ke ruangan Lo biar ga kena semprot sama Nenek Lampir itu lagi...," kata Ria mengingatkan sambil berjalan keluar dari toilet.


Aruna tersentak lalu bergegas meraih tasnya. Setelahnya ia melangkah cepat menuju ruangannya. Namun langkah Aruna terhenti saat melihat Bianca tengah berada di dekat meja kerjanya seolah sedang mencari sesuatu.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2