Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
228. Kena Lo !


__ADS_3

Ternyata pemilik sepasang mata itu memang Kalisha. Dia mendengar semua apa yang diucapkan Erlan tadi. Kalisha merasa iri dan marah melihat keberuntungan yang diperoleh Ria.


" Tertawa lah selagi bisa Ria. Sebab setelah ini Lo bakal nangis darah...," gumam Kalisha sambil menyeringai.


Sesaat kemudian Kalisha pun berlalu. Aruna menoleh dan tak sengaja melihat Kalisha melintas. Kemudian Aruna menghela nafas panjang dan berharap jika semua orang yang saat ini berada bersamanya akan baik-baik saja.


" Mudah-mudahan Kalisha ga bikin sesuatu yang membahayakan mereka...," batin Aruna penuh harap.


Bukan tanpa alasan Aruna berharap seperti itu. Belakangan ini Aruna seperti tak mengenal lagi sosok Kalisha. Bagi Aruna, Kalisha seolah menjadi sosok yang berbeda dari yang pernah Aruna kenal dulu.


Dulu Kalisha sempat dekat dengan Aruna. Dan saat itu Aruna mengenal Kalisha sebagai gadis baik yang sembunyi di balik sikap arogannya.


Namun sekarang justru Aruna merasa tak nyaman saat berada dekat dengan Kalisha. Alasannya adalah karena aura buruk yang menguar dari dalam diri Kalisha membuat gadis itu menjadi sosok yang sulit ditebak dan penuh misteri.


\=\=\=\=\=


Setelah penobatan Kenzo sebagai pimpinan sementara di perusahaan itu. Perubahan pun dirasakan Kenzo. Orang-orang yang semula memandang remeh padanya kini berbalik memuja.


Namun Kenzo tak besar kepala. Ia bukan seorang pria yang 'gila hormat' dan mengharuskan semua karyawan tunduk saat berhadapan dengannya. Kenzo tetap merasa dirinya sama seperti sebelumnya hanya berada di ruangan yang berbeda.


" Selamat pagi Pak...," sapa Aruna ramah saat melihat Kenzo memasuki ruangannya.


" Ck, apaan sih Lo Run. Biasa aja kali. Capek Gue dihormatin kaya gitu...," sahut Kenzo sambil berdecak sebal.


" Kok capek. Emang harus begitu Ken. Selama berada di lingkungan perusahaan semua orang harus mentaati peraturan perusahaan termasuk menyapa atasan yang kebetulan melintas di depan Kita...," kata Aruna.


" Emang ada aturan kaya gitu ?. Kok Gue baru denger...," kata Kautsar tak percaya.


" Emang bukan aturan tertulis tapi itu adalah salah satu adab dan tata tertib bersikap seorang karyawan pada atasannya...," sahut Aruna.


" Tau ah gelap...," kata Kenzo sambil berlalu dan itu membuat Aruna naik darah.


" Dih, ga jelas Lo Ken. Untung aja Gue inget kalo Lo atasan Gue. Kalo ga udah abis Lo...!" damprat Aruna.


Kenzo nampak membuka pintu dan memperlihatkan kepalanya saja dari balik pintu. Ia menatap Aruna dengan tatapan tak bersahabat dan itu membuat Aruna terkejut karena saat itu ia baru saja selesai memaki Kenzo.

__ADS_1


" Kamu bilang sesuatu Aruna...?" tanya Kenzo.


" Ga Ken...!" sahut Aruna cepat namun membuat Kenzo mengerutkan keningnya.


" Ken ?. Ken siapa maksud Kamu Aruna?. Bukannya Kamu bilang ada aturan tak tertulis tentang bagaimana adab bawahan pada atasannya tadi...?" tanya Kenzo tanpa senyum.


Aruna yang sadar pun segera meralat ucapannya.


" Maaf Pak. Maksud Saya, bukan apa-apa Pak Kenzo...," kata Aruna sambil tersenyum.


" Oohh... gitu. Ok, silakan lanjutkan pekerjaanmu Aruna...," kata Kenzo sambil menutup pintu.


" Baik Pak...," sahut Aruna sambil mengepalkan tangan karena menahan geram.


Di dalam ruangannya Kenzo pun tak kuasa menahan tawa. Nampaknya ia tertawa sangat puas karena berhasil mengerjai Aruna.


" Salah Lo sendiri pake ngingetin aturan tak tertulis perusahaan segala. Sekarang jadi senjata makan Tuan kan ?. Rasain Lo...," gumam Kenzo sambil tersenyum penuh kemenangan.


Namun senyum Kenzo memudar saat ia melihat layar monitor CCTV yang ada di ruangannya.


Di sana ia melihat bagaimana sikap Drajat terhadap beberapa karyawan gudang. Terlihat jelas jika saat itu Drajat tengah meluapkan emosinya pada tiga karyawan gudang yang nampaknya sangat kelelahan dan mengantuk.


Bukannya merekrut tenaga tambahan, Drajat justru menekan para karyawan gudang untuk bekerja over time dan dengan upah lembur yang tak sepadan.


Perusahaan memang memiliki kebijakan memberi upah lembur sebesar seratus ribu rupiah untuk dua jam lembur pada karyawan gudang. Ada tambahan uang makan sebesar dua puluh lima ribu rupiah dan kopi yang disediakan langsung oleh perusahaan dan diatur oleh Drajat selaku kepala gudang.


Kenyataan di lapangan berbeda jauh dengan kebijakan yang diterapkan perusahaan. Uang lembur yang sampai ke tangan para karyawan gudang hanya separuh yaitu lima puluh ribu rupiah. Sedangkan uang makan hanya lima belas ribu rupiah dan tanpa kopi.


Hal ini membuat semua karyawan gudang mengeluh. Dan Kenzo tahu semuanya karena ia pernah ada di posisi itu.


" Kena Lo sekarang...!" gumam Kenzo sambil menjentikkan jarinya.


Kemudian Kenzo memanggil dua security perusahaan dan mengajak mereka mengunjungi gudang saat itu juga.


Aruna yang kini hanya bekerja seorang diri pun nampak menatap bingung kepergian sang atasan.

__ADS_1


Jika dulu Aruna biasa berkeluh kesah dengan Bianca, maka kini Aruna hanya bisa menyimpannya dalam hati.


Bianca memang ditarik kembali ke perusahaan pusat di Jakarta setelah hari penobatan Kenzo sebagai pimpinan perusahaan. Dan Bianca pun pulang ke Jakarta bersama Erlan dan istrinya.


" Mukanya Kenzo keliatan serius banget sih. Jangan-jangan ada sesuatu yang penting. Apalagi pake bawa security segala. Wah gimana nih, kasih tau Ria ga ya...," gumam Aruna sambil berdiri menatap kepergian Kenzo.


Kemudian Aruna meraih ponselnya dan berniat menghubungi Ria. Namun ia urungkan saat ia ingat jika status Kenzo sekarang adalah pimpinan perusahaan. Jadi Kenzo berhak kemana pun dan bersama siapa pun untuk keperluan apa pun karena itu adalah perusahaan milik keluarganya.


" Ish, nyebelin banget sih jadi sekretaris nya si Kenzo. Serba salah...," kata Aruna sambil menghentakkan kakinya.


Aruna pun kembali duduk. Namun kegelisahannya membuatnya tak bisa duduk dengan tenang. Akhirnya dengan terpaksa Aruna menghubungi suaminya. Beruntung saat itu Kautsar sedang meninjau proyek hingga bisa sedikit menghibur Aruna dengan menunjukkan lokasinya bekerja saat itu.


Sedangkan Kenzo melangkah cepat menuju lokasi dimana tiga karyawan gudang sedang dimarahi oleh Drajat.


Suara Drajat terdengar lantang dan berapi-api. Tiga karyawan nampak tak berkutik karena rasa lelah yang mendera. Selain itu kebutuhan anak istri di rumah yang membayang di kepala mereka membuat mereka hanya bisa pasrah saat dimarahi.


" Kalian denger ga sih apa yang Saya bilang ?!. Atau Kalian mau...," ucapan Drajat terputus saat Kenzo memotong cepat.


" Mau apa Pak Drajat...?!" tanya Kenzo lantang.


Drajat dan ketiga karyawan gudang itu pun menoleh kearah Kenzo yang berjalan santai mendekati mereka. Ketiga karyawan gudang yang notabene teman lama Kenzo itu nampak tersenyum melihat kehadiran Kenzo. Hal berbeda justru diperlihatkan Drajat. Wajah Drajat langsung memucat saat melihat kehadiran Kenzo.


" Pak Kenzo...," panggil Drajat dengan suara bergetar.


" Ini masih jam kerja. Kenapa Pak Drajat menghabiskan waktu untuk memarahi mereka. Perusahaan membayar Bapak untuk menghandle pekerjaan dan bukan menghambatnya...!" kata Kenzo dengan mimik tak suka.


" Oh, maaf Pak Kenzo. Saya sedang mengingatkan mereka supaya...," ucapan Drajat lagi-lagi terputus.


" Kalian sudah keliatan lelah. Istirahat setengah jam, setelah itu temui Saya di ruangan Saya...!" perintah Kenzo pada tiga karyawan gudang di hadapan Drajat.


" Baik Pak...!" sahut ketiga karyawan gudang itu bersamaan.


Ketiganya pun tersenyum lalu bergegas pergi meninggalkan Drajat dan Kenzo yang berdiri saling berhadapan.


" Kena Lo sekarang...!" kata salah satu karyawan gudang sambil mencibir.

__ADS_1


Drajat hanya menatap kesal kearah tiga karyawan gudang itu sambil mengepalkan tangannya.


\=\=\=\=\=


__ADS_2