
Jika Jon, Jen dan Jun sedang dibuat kebingungan karena tak menemukan jalan keluar, hal sebaliknya justru terjadi pada Jan.
Dengan mudahnya Jan menemukan jalan keluar dari tempat persembunyian genknya selama ini. Jan tiba di tepi jalan raya dan bermaksud menunggu kendaraan yang lewat. Namun setelah lelah menunggu tak ada satu pun kendaraan yang lewat dan itu membuatnya cemas.
" Kenapa sepi banget sih. Mana nih mobil yang biasa bolak-balik lewat sini...," gumam Jan sambil mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru.
Tiba-tiba kedua mata Jan berbinar saat melihat sebuah motor melaju kearahnya. Jan pun segera berdiri menghadang di tengah jalan untuk menghentikan motor itu. Namun saat motor kian mendekat Jan pun terkejut. Ia melihat motor itu dikendarai oleh almarhum Moa. Di belakangnya terlihat almarhum Aldi yang duduk membonceng. Wajah keduanya terlihat pucat dengan rongga mata yang menghitam. Dan jika diamati rongga mata itu kosong karena tak memiliki bola mata.
Jan pun terpaku sesaat lalu menjerit keras dan berlari ketakutan. Jan lari ke sembarang arah saking takutnya. Ia tak menyadari saat sebuah mobil melaju cepat dari arah berlawanan. Mobil itu dengan cepat menabrak Jan lalu melindas tubuhnya. Jan bisa merasakan sakit yang luar biasa saat roda-roda mobil itu menggilas tubuhnya.
Saat sedang mengejang sekarat, arwah Aldi datang menghampirinya dan berkata.
" Selamat jalan ke neraka...," bisik Aldi sambil tersenyum puas.
" Ja... jangan ting... galin Gue. Tolong maafin Gue. Al... di...," kata Jan terbata-bata.
Arwah Aldi tak menjawab. Ia nampak melayang di atas tubuh Jan sebentar lalu melayang pergi entah kemana saat supir mobil yang menabrak Jan datang mendekat.
Supir mobil itu terlihat mengamati Jan yang sekarat lalu tersenyum penuh makna. Dengan sigap ia melucuti jam tangan mahal yang melingkar di pergelangan tangan Jan. Ia juga mengambil dompet berisi uang dari dalam saku cela*a panjang Jan. Setelahnya ia menarik kalung emas yang melingkar di leher Jan dengan kasar hingga membuat Jan memejamkan mata karena lehernya tergores.
Jan masih sempat menarik kerah baju supir itu lalu membisikkan sesuatu.
" Kau boleh ambil semuanya, tapi tolong bawa Aku ke Rumah Sakit...," pinta Jan lirih.
" Sorry Gue sibuk. Lagian Gue ga kenal sama Lo. Urus diri Lo sendiri dan thanks buat semuanya...," sahut sang supir sambil tertawa lalu bergegas masuk ke dalam mobil.
Sesaat kemudian sang supir melajukan mobilnya meninggalkan tubuh Jan yang mulai membeku. Akhirnya Jan tewas dalam keadaan mengenaskan tepat di tengah jalan raya. Kedua matanya menatap kosong kearah langit dengan satu tangan terangkat seolah ingin meminta pertolongan.
\=\=\=\=\=
__ADS_1
Di saat Jan meregang nyawa, Jen dan Jun masih berkutat mencari jalan keluar. Akhirnya mereka tiba di sebuah tempat yang asing karena hanya ada sebuah bangunan kecil mirip WC berukuran 1 x 1 meter persegi.
" Tempat apaan nih, kayanya Gue baru liat ada kaya ginian di sekitar tempat Kita...," kata Jun.
" Mirip kakus jaman dulu Jun...," sahut Jen setelah mendorong daun pintu.
" Kakus jaman dulu tuh kaya gimana Jen...?" tanya Jun tak mengerti.
" Ya kaya gini lah. Lo liat aja sendiri...," sahut Jen sambil menepi agar Jun bisa melihat ke bagian dalam bangunan kecil itu.
Hanya ada sebuah lubang untuk pembuangan kotoran manusia di sana, sebuah ember lengkap dengan gayung dan seember air berwarna kecoklatan.
" Anj*ng bau banget sih...," kata Jun sambil membanting pintu.
Di saat bersamaan pintu yang harusnya mengeluarkan suara keras saat dibanting itu, ternyata tertahan oleh sebuah benda asing. Jun dan Jen saling menatap saat melihat jika benda yang menahan daun pintu itu adalah telapak tangan berlumur darah.
Seolah terpaku di tempat, Jen dan Jun hanya bisa mengamati pergerakan tangan yang berujung pada sebuah sosok yang mereka kenal yaitu Aldi.
Aldi nampak menyeringai lalu mengulurkan. tangan kirinya lalu menarik tangan kanannya tepat sebatas pergelangan tangan. Terdengar suara berderak patah saat tangan kanan Aldi putus. Darah nampak mengalir deras dari pangkal lengan yang terputus itu. Lalu Aldi melemparkan potongan telapak tangannya itu ke tanah begitu saja.
Setelah mencapai tanah, tangan buntung itu nampak meregangkan jemari tangannya dengan membuat gerakan mencengkeram dan membuka beberapa kali.
Jen dan Jun nampak menatap nanar sambil menelan saliva dengan sulit. Hal itu terlihat dari jakun di leher mereka yang naik turun dengan cepat. Peluh membanjiri tubuh dan wajah keduanya dan kondisi ini sangat menakutkan untuk mereka. Apalagi saat tangan buntung itu merayap mendekati keduanya.
" Jeennn..., kok Gue ga bisa gerak ya. Kenapa nih Jeennn...?!" tanya Jun sambil melirik kearah Jen.
" Sama Jun. Gue juga ga bisa gerak. Padahal Gue udah mau pingsan rasanya ngeliat tangan buntung itu bergerak ke sini...!" sahut Jun.
" Gue mau pipis nih Jen !. Tuh kaaan..., Gue ngompol Jeenn...!" kata Jun sambil melirik ke bawah perutnya.
__ADS_1
Melihat kepanikan di wajah Jen membuat Jun tertawa. Namun tawa Jun terhenti saat merasa ada sesuatu yang merayap naik ke atas tubuhnya.
" Jun, tolong liatin apaan yang merayap ke badan Gue Jun. Liatin Jun...!" kata Jen lantang.
Jun pun menatap nanar kearah tangan buntung yang mulai bergerak merayap naik ke bagian atas tubuh Jen.
" Tangan buntung itu lagi merayap di kaki Lo Jen...," sahut Jun dengan suara bergetar.
" Yang bener Jun. Tolongin Gue Jun...!" pinta Jen panik.
" Gimana cara nolongin Lo Jen. Gue juga kan ga bisa bergerak...! " sahut Jun.
Tubuh Jen gemetar hebat saat tangan buntung itu masuk ke dalam cela*a panjangnya seolah mencari sesuatu. Sesaat kemudian kedua mata Jen membelalak saat tangan buntung itu meremas alat v*talnya bersamaan dengan darah yang muncrat membasahi pakaiannya.
Jeritan pun membahana di malam yang hening itu. Jun ikut bergidik ngeri saat melihat bagian bawah tubuh Jen dipenuhi darah yang terus mengalir dari sela pakaiannya. Tangan buntung yang tadi menyelinap ke dalam cela*a Jen pun merayap keluar dalam kondisi berlumuran darah.
Sesaat kemudian tubuh Jen jatuh terjengkang di tanah. Mengejang beberapa saat lalu diam tak bergerak.
Melihat temannya tewas Jun pun panik. Ia menangis dan menjerit memohon ampun kepada Aldi yang berdiri menatap kosong kearahnya.
" Tolong jangan bunuh Gue Al. Ampuni Gue. Gue minta maaf, tolong kasih kesempatan Gue buat bertobat dan memperbaiki semuanya. Gue janji ga akan melecehkan orang lagi...," kata Jun menghiba.
Aldi nampak tersenyum lalu menggelengkan kepalanya.
" Gue juga sering minta ampun sama Lo. Tapi Lo mengabaikan itu. Lo malah tertawa sambil terus ngelecehin Gue...," kata Aldi lirih.
" Gue salah, Gue minta maaf. Tolong jangan bunuh Gue ya Al...," pinta Jun sambil menangis.
Aldi menggelengkan kepalanya lalu berbalik pergi dan melayang menjauhi Jun. Mengira jika arwah Aldi mengampuninya, Jun yang kembali bisa bergerak pun berusaha lari. Namun langkahnya terhenti karena sesuatu menahannya dan mencekal kerah bajunya dari belakang. Jun menoleh ke belakang lalu menjerit keras saat melihat potongan tangan Aldi lah yang telah menahannya.
__ADS_1
\=\=\=\=\=