Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
231. Di Taman


__ADS_3

Kenzo terus menggandeng tangan Ria hingga keduanya berada di loby kantor yang telah sepi. Ria menatap sang kekasih yang terus membisu sejak tadi.


Perlahan Ria melepaskan genggaman tangan Kenzo dan itu membuat Kenzo menoleh kearahnya.


" Kenapa...?" tanya Kenzo.


" Kamu yang kenapa. Kamu marah Ken...?" tanya Ria.


Kenzo menghela nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan sang kekasih.


" Aku cemas mikirin Kamu dari tadi tau ga ?. Aku chat ga dibales, Aku telephon ga diangkat, Aku tanya sama semua temen Kamu ga ada yang tau. Kamu nih kenapa sih Ri...?" tanya Kenzo tak mengerti.


" Aku Gapapa kok. Aku kan lagi kerja tadi. Jadi ga tau kalo Kamu chat atau telephon...," sahut Ria.


" Coba cek ponsel Kamu. Liat berapa kali Aku chat dan telephon Kamu...," pinta Kenzo.


Ria pun segera meraih ponselnya di dalam tas. Ria nampak menghela nafas lalu tersenyum kearah Kenzo.


" Iya. Maaf ya, Aku benar-benar ga denger apa pun tadi...," kata Ria.


" Ya udah lah. Kalo udah kaya gini mau bilang apa. Marah juga percuma. Iya kan...?" tanya Kenzo sambil melengos.


" Jangan marah dong Sayang. Tapi ngomong-ngomong makasih ya udah jemput Aku barusan. Aku takut banget lho Sayang...," kata Ria sambil menggelayut manja di lengan Kenzo.


" Sama-sama. Lagian kenapa ruangannya Bu Kalisha itu gelap kaya gitu sih. Emangnya Kamu lagi ngapain di sana...?" tanya Kenzo penasaran.


" Tadi Bu Kalisha nyuruh Aku ngerjain laporan penjualan. Katanya sih dia mau ngeliat cara kerja Aku langsung. Menurut dia keberhasilan ku menuntaskan pekerjaan selama ini ya karena dibantu sama team dan bukan hasil buah pikiranku sendiri. Yah, dengan kata lain dia meragukan kemampuanku...," sahut Kalisha.


" Terus...?" tanya Kenzo.


" Yah kaya yang Kamu liat tadi. Aku ada di dalam ruangannya. Rasanya waktu begitu cepat berjalan. Aku aja ga ngeh kalo ini udah lewat Maghrib. Soalnya di dalam ruangan Bu Kalisha itu hening banget Sayang. Terlalu hening sampe suara detak jam dinding aja ga kedengaran. Aku rasa kalo Aku kentut pasti langsung ketauan saking sepinya...," kata Ria dengan mimik lucu.


Kalimat terakhir Ria juga membuat Kenzo tertawa. Dengan gemas ia menarik Ria ke dalam pelukannya lalu mengecup kepala sang kekasih.


" Kalo emang hening harusnya Kamu bisa denger waktu bel selesai kerja tadi berdering dong Sayang. Biasanya kan Kamu juga selalu berani menentang ketidak adilan. Tapi kenapa sama Bu Kalisha Kamu ga berani...?" tanya Kenzo tak mengerti.


" Kan udah Aku bilang kalo Aku ga denger apa pun tadi...," sahut Kalisha hingga membuat Kenzo mengurai pelukannya.


Keduanya saling menatap sejenak. Ada berbagai kecurigaan di kepala Kenzo namun ia tak ingin mengatakannya karena tak ingin membuat Ria cemas.

__ADS_1


" Kita pulang sekarang ya. Kamu pasti capek seharian dikurung di ruangan gelap itu...," ajak Kenzo.


" Ruangan itu tadi ga gelap kaya gitu kok Sayang. Terang juga kaya ruangan lainnya. Nah pas Aku selesai dari toilet aja ruangan jadi gelap. Mungkin lampunya putus...," kata Ria meluruskan dugaan keliru sang kekasih.


" Atau sengaja dipadamkan...," gumam Kenzo lirih.


" Kamu bilang apa Sayang, ga jelas...?" tanya Ria.


" Bukan apa-apa kok...," sahut Kenzo cepat sambil membuka pintu Taxi yang sengaja dipesannya sejak tadi.


" Tapi Aku denger Kamu ngomong sesuatu tadi...," kata Ria setengah memaksa.


" Ga ada. Jalan ya Pak...!" kata Kenzo kepada supir Taxi.


" Baik Mas...," sahut supir Taxi lalu mulai melajukan kendaraannya keluar dari area perusahaan.


Ria pun hanya duduk pasrah di samping Kenzo. Dalam perjalanan keduanya kembali membisu karena sibuk dengan pikiran masing-masing.


Ria masih mencoba mencerna apa yang terjadi di ruangan Kalisha tadi. Ia mencoba mengingat setiap detail kalimat yang dilontarkan Kalisha juga keheningan di ruangan itu yang menurutnya terasa aneh.


" Ga usah terlalu dipikirin. Yang penting Kamu ga lupa berdzikir biar ga kesambet...," kata Kenzo.


Taxi pun melaju cepat membelah jalan raya yang mulai lengang.


Sementara itu di dalam ruangan kerjanya Kalisha tampak kacau. Tubuhnya berkeringat dan nafasnya tersengal-sengal seolah baru saja berlari ribuan meter.


Perlahan Kalisha keluar dari tempat persembunyiannya. Kondisinya terlihat jauh lebih baik karena saat itu Kalisha sudah kembali ke wujud manusianya.


Kalisha pun menekan saklar lampu untuk menerangi ruangannya. Kemudian Kalisha duduk di atas sofa sambil meluruskan kedua kakinya. Kalisha nampak sedang berusaha mengingat apa yang baru saja dialaminya.


" Aku ga pernah menduga kalo berdekatan sama Ria bisa bikin naluri serigalaku bangkit begitu saja. Siapa sebenernya dia. Kenapa aroma darahnya sangat memikat dan membuatku ingin meneguknya...?" gumam Kalisha sambil menyigar rambutnya dengan jemari tangannya.


Teringat jika tadi jemarinya ikut berubah, Kalisha pun menarik tangannya yang sedang merapikan rambutnya lalu mengamatinya. dengan seksama.


" Jari ini juga tadi ikut bergetar saking hebatnya keinginan untuk menghirup darah wanita itu...," gumam Kalisha lagi.


Kemudian Kalisha berdiri dan berjalan pelan menuju ke jendela. Ia berhenti di sana lalu menatap ke langit malam sejenak. Kalisha tak menemukan bulan di langit sana. Hanya ada bintang yang menghias malam. Setelahnya Kalisha nampak menghela nafas panjang.


" Keliatannya Aku harus mulai berhati-hati. Dan Aku harus bisa mendapatkannya sebelum yang lain menyadarinya...," gumam Kalisha sambil tersenyum licik.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


Di tempat lain terlihat Aruna dan Kautsar tengah duduk sambil menatap langit lepas. Saat itu mereka sedang menikmati malam di taman kota.


Kautsar dengan senang hati mengabulkan keinginan sang istri yang minta diantar ke taman saat pulang kerja tadi.


Dan kini keduanya nampak duduk di kursi taman sambil menikmati jagung bakar dan segelas teh manis hangat.


" Kamu senang ya Sayang...?" tanya Kautsar sambil menatap wajah Aruna yang berbinar itu.


" Banget. Makasih ya Sayang...," sahut Aruna sambil menyentuh pipi sang suami dengan lembut.


" Sama-sama. Selagi bisa dan ga berbahaya untuk Kamu dan bayi Kita, insya Allah bakal Aku antar kemana pun Kamu mau...," kata Kautsar sambil merengkuh bahu Aruna dengan sayang.


Aruna pun tersenyum mendengar ucapan Kautsar. Ia menyandarkan kepalanya di bahu sang suami sambil menatap beberapa anak kecil yang berlarian di taman. Meski pun malam hari namun penerangan taman yang cukup memadai membuat orangtua tak khawatir membiarkan anak-anak mereka bermain di sana.


Tiba-tiba suara perut Aruna terdengar bergemericik hingga membuat Kautsar dan Aruna tertawa geli.


" Kasian, Anak Ayah lapar lagi kayanya. Padahal abis makan jagung bakar lho Nak...," kata Kautsar di sela tawanya.


" Iya. Sekarang kan emang udah waktunya makan Ayah...," sahut Aruna sambil mengusap perutnya yang mulai membuncit itu.


" Mau makan apa Sayang ?. Mau dibeliin aja atau mau mampir ke rumah makan...?" tanya Kautsar sambil ikut mengusap perut Aruna.


" Mau beli burger aja boleh ga...?" tanya Aruna sambil menunjuk penjual burger yang mangkal di depan taman.


" Boleh. Aku liat cara jualannya bagus dan tempatnya juga bersih. Kamu mau berapa banyak...?" goda Kautsar.


" Sepuluh boleh...?" tanya Aruna dengan mimik lucu.


" Ga boleh. Satu aja ya. Makan malamnya pake nasi aja biar nanti malam Bundanya ga bangun-bangun terus...," sahut Kautsar hingga membuat Aruna tertawa.


" Oh ada yang curcol rupanya. Ayah Kamu capek digangguin terus kalo lagi tidur Nak, makanya Ayah ngomong gitu tadi...," kata Aruna di sela tawanya.


" Bukan capek. Tapi kasian aja sama Kamu yang kebangun terus gara-gara nyari makanan tengah malam...," sahut Kautsar sambil mencubit pipi Aruna dengan gemas lalu segera melangkah menuju penjual burger.


Aruna pun tertawa sambil mengusap pipinya yang tadi dicubit Kautsar. Tawa Aruna terhenti saat mendengar suara gemerisik dari rimbunan daun pohon mahoni yang terletak tak jauh dari tempat duduknya.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2