
Kemudian Aruna mengulurkan tangannya untuk menyentuh Alam yang kini ada di hadapannya. Sedangkan Kautsar nampak membantu Aruna seperti biasa. Ia berdiri tepat di samping sang istri sambil melantunkan dzikir yang panjang.
Melihat sepasang suami istri yang tengah khusu itu membuat dokter Sheina kagum. Ia menunggu sambil menatap Aruna dengan cemas.
" Berdoa lah sesuai keyakinan Anda dokter. Itu bisa membantu Aruna agar lebih mudah mendapatkan informasi yang Kita perlukan...," kata Kautsar sambil tetap menundukkan kepalanya.
Mendengar ucapan Kautsar membuat dokter Sheina terkejut.
" Aku juga muslim Kautsar...," bisik dokter Sheina.
" Kalo gitu berdzikir lah. Jangan bengong begitu. Aku khawatir dokter malah menambah beban Istriku karena harus mengobati Anda yang ketempelan makhluk halus lain nanti...," kata Kautsar santai tapi menusuk tepat di hati dokter Sheina.
" Kamu...," ucapan dokter Sheina terputus saat Kautsar menyilangkan jari telunjuk di depan bibirnya.
Melihat hal itu dokter Sheina pun menghela nafas panjang lalu mulai berdzikir. Ada senyum tipis terukir di bibirnya saat ia merasakan ketenangan yang luar biasa saat ia berdzikir.
Sedangkan Aruna mulai bisa melihat peristiwa dimana Alam tengah terbaring sakit. Bukan di Rumah Sakit tapi di sebuah ruangan besar yang Aruna yakini adalah kamar pribadi Alam.
Aruna mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan dan melihat kamar tidur yang luas dan bagus. Semua perabotan di dalam kamar bisa dipastikan memiliki harga yang mahal karena terbuat dari bahan terbaik.
Kemudian Aruna menoleh kearah pintu saat pintu terbuka. Aruna melihat seorang wanita paruh baya masuk sambil membawa nampan berisi sepiring nasi dan segelas air.
Wanita itu tersenyum lalu meletakkan nampan di atas meja nakas. Setelahnya ia menyentuh lengan Alam dengan lembut untuk membangunkannya.
" Alam bangun Nak. Makan dulu ya...," kata wanita itu dengan lembut.
Alam membuka matanya lalu tersenyum tipis. Wajah pucatnya menyiratkan jika sakit yang dideritanya cukup parah dan telah lama ia alami.
" Ibu...," panggil Alam.lirih.
" Iya. Makan dulu abis itu minum obat ya...,"/sahut ibu Alam.
" Apa ini udah waktunya makan Bu...?" tanya Alam sambil menatap jam dinding.
” Udah. Yuk makan...," sahut ibu Alam sambil menyiapkan sesendok makanan ke dalam mulut Alam.
Alam terlihat kesulitan menelan hingga berkali-kali sang ibu harus membantunya minum agar mudah menelan makanan.
__ADS_1
" Udah Bu, Alam ga kuat lagi mau muntah...," kata Alam.
" Baik lah. Kamu makan lumayan banyak siang ini. Sekarang minum obatnya terus istirahat. Ibu harap Kamu cepet sembuh ya Nak...," kata ibu Alam sambil tersenyum.
" Iya Bu...," sahut Alam lirih lalu berusaha minum obat yang diberikan sang ibu.
Setelahnya Alam pun kembali menyandarkan tubuhnya di sandaran tempat tidur. Sambil memejamkan mata Alam mengangguk saat sang ibu pamit keluar kamar.
Aruna melihat jika ibu Alam nampak tersenyum diam-diam. Dan Aruna merasa curiga lalu mendekati nakas dimana obat Alam tersimpan. Aruna terkejut saat melihat obat depresi diantara obat-obatan itu.
" Pantesan Alam ga berkutik. Dia minum obat yang ga sesuai sama penyakitnya. Kamu dapat obat itu darimana Alam...?" tanya Aruna sambil menatap arwah Alam.
" Dari dokter Mudji, dia dokter pribadi keluarga Kami. Emangnya kenapa Aruna...?" tanya Alam.
" Obat itu ga sesuai sama jenis penyakitmu Alam...," sahut Aruna singkat.
" Maksudmu dokter memberi obat yang salah ?. Mana mungkin Aruna. Dia itu dokter kepercayaan keluarga Kami. Dulu Kakek juga diobati sama dia dan sembuh. Makanya Ayahku memintanya mengobati penyakitku...," kata Alam.
" Mmm..., mungkin ada yang salah di sini. Sebentar Aku coba liat lagi...," kata Aruna.
Kemudian Aruna kembali fokus mengamati peristiwa sebelum kematian Alam. Aruna melihat ibu Alam tengah berbincang-bincang dengan seorang pria yang diduga sebagai dokter Mudji.
" Kenapa dia masih bertahan dan ga mati juga dokter...?" tanya ibu Alam sambil menampilkan wajah lelah.
" Sabar Nyonya. Sebentar lagi dia akan pergi sesuai dengan keinginan Nyonya...," sahut dokter Mudji hingga membuat wajah ibu Alam tersenyum.
" Bagus. Aku ga sabar menunggu saat itu...," sahut ibu Alam sambil tersenyum.
" Setelah Alam pergi, apa rencana Nyonya...?" tanya dokter Mudji.
" Banyak. Apalagi kalo bukan mengambil harta bagian Alam. Aku lelah menunggu dan akhirnya bisa menikmati semuanya segera...," sahut ibu Alam sambil tertawa.
Aruna nampak mengepalkan tangannya karena marah mendengar ucapan ibu Alam. Nalurinya sebagai seorang wanita yang baru saja kehilangan anaknya tampak berontak tak terima dengan kenyataan di depannya.
" Mana Ibu yang mengharapkan kematian Anaknya cuma karena harta. Dasar wanita ga waras...," maki Aruna dalam hati.
Kemudian Aruna diperlihatkan sebuah peristiwa dimana ayah Alam dan ibu Alam tengah bertengkar hebat.
__ADS_1
" Sudah waktunya kenapa Kamu masih diem aja sih Yah. Aku ga nemu cara lain selain ini. Lagipula hanya dengan cara ini semua masalah yang ada bisa diselesaikan...," kata ibu Alam.
" Tapi Alam Anak Kita Bu. Cuma dia yang tersisa dari semua anak yang Kita miliki...," kata ayah Alam gusar.
" Abis mau gimana lagi Yah. Andai Kamu bisa mencari cara untuk mendapatkan penggantinya mungkin semua bisa segera teratasi. Tapi liat buktinya. Sampe hari ini Kamu ga bisa mendapatkan apa pun...!" sahut ibu Alam marah.
" Bersabar sebentar lagi Bu. Aku pasti segera dapat penggantinya...," kata ayah Alam sambil berlalu.
" Kalo Ayah ga bisa dapatkan penggantinya, jangan salahkan Aku kalo menyerahkan Alam...!" kata ibu Alam setengah mengancam.
Ayah Alam tak peduli. Ia terus melangkah dan membuka pintu kamar Alam. Ia tersenyum saat melihat Alam menggeliat bangun.
" Ayah...," panggil Alam.
" Iya Nak. Ayah di sini...," sahut ayah Alam sambil menyentuh kepala sang anak.
" Apalagi yang Ayah ributkan dengan Ibu tadi ?. Emangnya Ibu minta apa sih sampe Ayah ga bisa menyanggupinya. Bukannya uang Ayah banyak, kenapa Ayah ga penuhi aja sih permintaan Ibu biar ga usah ribut. Aku pusing dengerin Kalian ribut setiap hari Yah...," kata Alam dengan mimik wajah putus asa.
" Ayah ga bisa penuhin keinginan Ibu Kamu karena dia memaksa Ayah memilih sesuatu yang ga mungkin Ayah pilih...," sahut ayah Alam dengan suara pelan.
" Memaksa memilih apa Yah...?" tanya Alam memaksa.
" Ibu minta Ayah pilih Kamu atau dia. Itu sama-sama sulit Nak. Buat Ayah Kalian ini penting dan ga bisa diganti dengan apa pun...," sahut ayah Alam gusar.
" Kenapa Ibu maksa Ayah memilih. Emangnya ada apa Yah...?" tanya Alam tak mengerti.
" Maaf kalo Ayah ga bisa cerita sama Kamu Nak. Sekarang Ayah harus pergi karena Ayah ada janji ketemu sama orang di luar...," kata ayah Alam sambil bergegas melangkah keluar kamar.
Alam hanya menatap kepergian Ayahnya sambil membisu. Ada rasa kecewa di dalam hatinya namun Alam berharap semoga semua bisa segera teratasi.
Setelah kepergian ayahnya Alam pun terlelap. Namun beberapa jam kemudian nafas Alam nampak tersengal-sengal. Ia kesulitan bernafas. Karenanya sang dokter pribadi langsung membawa Alam ke Rumah Sakit terdekat.
Namun selama Alam dirawat di Rumah Sakit tak sekali pun kedua orangtua Alam datang menjenguk. Hingga akhirnya Alam dibawa ke ruang operasi kedua orangtua Alam tak juga hadir untuk mendampingi.
Kedua orangtua Alam datang ke Rumah Sakit saat kabar meninggalnya Alam di meja operasi disampaikan oleh dokter Mudji.
Aruna nampak menghapus air mata yang jatuh di pipinya saat menyaksikan Alam meregang nyawa seorang diri tanpa didampingi kedua orangtuanya. Alam meninggal dunia dalam kesepian dan kesedihan yang berkepanjangan.
__ADS_1
bersambung