Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
49. Mulai Menggali


__ADS_3

Aruna menatap nanar keluar jendela. Bukan takut tapi ia tak nyaman dengan kehadiran Gayo yang diketahuinya sebagai dukun santet semasa hidupnya.


“ Lepaskan Aku...,” kata hantu Gayo lagi sambil menatap lekat kearah Aruna dengan rongga mata yang kosong.


“ Aku tak bisa membantumu. Maaf...,” sahut Aruna.


“ Kau bisa jika Kau mau...,” kata hantu Gayo setengah memaksa.


Aruna tahu jika hantu Gayo tak akan mau pergi jika ia tak membantunya. Aruna menghela nafas panjang lalu terjadi lah pembicaraan diantara keduanya.


“ Bagaimana caranya...?” tanya Aruna.


“ Tolong bakar jasadku. Lalu sebarkan abuku di laut...,” sahut hantu Gayo.


“ Kenapa Aku harus melakukannya. Jangan menipuku hanya karena Aku tak tau apa-apa...,” kata Aruna.


“ Kau salah paham. Aku menyesali perbuatanku saat Aku hidup dulu dan Aku tau dosaku tak termaafkan. Tapi Aku tak ingin menambah dosaku dengan memberi kesempatan pada iblis itu untuk menggunakan jasadku lalu memanfaatkannya untuk melukai orang lain nanti...,” sahut hantu Gayo dengan suara serak hingga mengejutkan Aruna.


“ Apa iblis itu masih menunggui jasadmu...?” tanya Aruna.


“ Iya...,” sahut hantu Gayo sambil menganggukkan kepalanya.


Mendengar hal itu membuat Aruna terkejut. Namun karena tak ingin terlalu lama berinteraksi dengan hantu Gayo, Aruna pun menyanggupi permintaannya.


“ Insya Allah Aku usahakan membantumu nanti...,” kata Aruna lirih namun masih bisa didengar oleh hantu Gayo.


Saat mendengar Aruna menyebut asma Allah, Gayo nampak memalingkan wajahnya kearah lain.


“ Jangan sebut itu saat bersamaku...,” pinta hantu Gayo sambil meringis kesakitan.


“ Kenapa...?” tanya Aruna pura-pura tak tahu.


“ Kau tau kan kalo hidupku dipenuhi perbuatan jahat dan terkutuk. Aku menyembah iblis dan menjadikannya penolongku. Aku menggunakan kekuatan iblis untuk membungkam musuh-musuhku. Dan hal yang paling Aku dan sembahanku benci adalah saat Kalian mengagungkan nama Tuhan di depan Kami...,” sahut Gayo ketus.


“ Kenapa Kau bersekutu dengan iblis. Bukan kah awalnya Kau orang yang taat beragama. Kau pasti tau kalo bersekutu dengan iblis akan berakhir di neraka...,” kata Aruna.


“ Mereka yang memaksaku menjadi jahat. Kekasihku direbut, Aku dihina, orangtuaku disakiti. Tak ada yang menolong Kami saat Kami dizolimi. Aku terpaksa menggunakan ilmu hitam untuk melindungi diri...,” sahut hantu Gayo.


“ Niatmu benar tapi cara yang Kau lakukan salah...,” kata Aruna prihatin.


“ Aku tau...,” sahut hantu Gayo.


“ Sekarang kau terperangkap di sana itu karena ulahmu juga...,” kata Aruna setengah kesal.


“ Iya Aku tau. Bisa kan Kamu menolong menyempurnakan jasadku...?” tanya hantu Gayo penuh harap.


“ Insya Allah...,” sahut Aruna.


“ Makasih...,” kata hantu Gayo lalu lenyap begitu saja.


Aruna menghela nafas panjang sambil mengusap wajahnya dengan kasar kemudian bergegas menutup daun jendela yang terbuka. Setelahnya Aruna membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil memikirkan cara menolong Gayo. Karena lelah Aruna pun terlelap.


\=====


Aruna kembali melintas di depan ruangan misterius itu pagi ini. Ia sengaja melakukannya karena belum banyak mahasiswa yang datang. Setelah memastikan tak ada orang yang melihatnya, Aruna pun masuk ke dalam ruangan itu.


Tiba di dalam ruangan Aruna menghampiri lantai yang terangkat. Ia berjongkok untuk melihat lebih dekat apa yang ada di balik lantai yang terangkat itu. Hanya ada tanah rata yang mengeluarkan bau tak sedap. Dan Aruna tersentak kaget saat sebuah bayangan hitam keluar dari dalam tanah itu dan langsung melesat cepat seolah ingin menyerangnya.


“ Allahu Akbar...!” kata Aruna.


Bayangan hitam yang sedianya ingin menyerang Aruna terlihat berhenti dan melayang di udara saat Aruna bertakbir. Sesaat kemudian bayangan hitam itu menampilkan wujud aslinya seperti apa yang pernah dilihat Aruna tempo hari.


“ Pergi lah, jangan ganggu Aku...!” kata makhluk itu dengan lantang sambil menyeringai marah.


Tak ingin ambil resiko Aruna bergegas keluar dari tempat itu. Tiba di luar ruangan ia mendapati Kautsar tengah berdiri di sana hingga membuatnya terkejut.

__ADS_1


“ Astaghfirullah aladziim...,” kata Aruna sambil meraba dadanya untuk menetralisir keterkejutannya.


“ Kenapa susah banget bilangin Lo. Gue udah bilang jangan ke sini, bandel banget sih...,” gerutu Kautsar sambil menatap tajam kearah Aruna.


“ Ada yang harus Gue kerjain makanya Gue ada di sini...,” kata Aruna dengan enggan.


“ Apaan...?” tanya Kautsar.


“ Bukan urusan Lo...,” sahut Aruna sambil berlalu.


“ Gue tau ada sesuatu di sana dan Gue harap Lo ga bermain-main sama dia...,” kata Kautsar sambil menatap punggung Aruna yang menjauh.


Aruna menghentikan langkahnya lalu berbalik menghadap Kautsar dengan mimik tak suka.


“ Lo masih ngawasin Gue...?” tanya Aruna.


“ Ga, buat apa...,” sahut Kautsar.


“ Lo tau darimana kalo di dalam sana ada sesuatu...?” tanya Aruna hingga membuat Kautsar tersenyum tipis.


“ Bukan cuma Lo yang ngerti hal ghaib Aruna. Temen Gue juga ada yang ngerti walau pun ga sepeka Lo. Dia juga yang bilang supaya ga masuk ke sana karena cuma nyari mati...,” sahut Kautsar.


Aruna terkejut namun berusaha tetap tenang Ialu mendekati Kautsar.


“ Apa lagi yang temen Lo tau...?” tanya Aruna penasaran.


“ Traktir Gue makan, baru Gue kasih tau semuanya...,” sahut Kautsar enteng.


“ Ck, dasar cowok aneh. Ga modal banget sih Lo. Ayo buruan, tapi jangan mahal-mahal ya...,” kata Aruna sambil berdecak sebal.


“ Kita liat aja nanti...,” sahut Kautsar sambil mengekori Aruna.


Kini Aruna dan Kautsar tengah berada di sebuah kedai nasi. Terlihat dipadati pengunjung yang akan berangkat kerja dan kuliah di pagi hari. Harga makanan di kedai yang tak menguras kantong membuat kedai selalu ramai didatangi pengunjung.


“ Cepet ceritain apa yang temen Lo bilang...,” kata Aruna setengah memaksa hingga Kautsar menghentikan suapannya.


“ Kelamaan Lo. Sambil ngomong kan bisa...,” sahut Aruna.


“ Ga baik makan sambil ngomong, ntar keselek...,” kata Kautsar santai.


Aruna terdiam. Ia terpaksa mengalah karena tak mau kehilangan informasi penting yang dibawa Kautsar. Setelah Kautsar menghabiskan makanannya, Aruna pun tersenyum.


“ Terus gimana...?” tanya Aruna.


“ Kita ngobrol di luar aja Run. Liat banyak yang ngantri tuh...,” sahut Kautsar sambil menunjuk orang-orang yang berdiri menunggu pengunjung lain selesai makan karena terbatasnya meja dan kursi yang tersedia di kedai itu.


Kemudian Kautsar dan Aruna keluar dari kedai itu dan menuju parkiran. Aruna yang merasa ‘dikerjai’ pun mulai kesal.


“ Kenalin aja Gue sama temen Lo yang peka itu biar Gue nanya langsung sama dia nanti...,” pinta Aruna.


“ Ga bisa Run...,” sahut Kautsar sambil menggelengkan kepalanya.


“ Kenapa...?” tanya Aruna curiga.


“ Dia udah meninggal setahun yang lalu...,” sahut Kautsar sedih.


“ Lo jangan bohong ya. Jangan-jangan Lo cuma mau ngadalin Gue aja. Lo sengaja bikin cerita palsu biar Gue percaya dan nraktir Lo tadi...,” kata Aruna kesal.


“ Kalo Gue ngadalin Lo untuk traktiran Lo tadi itu emang bener. Tenang aja, insya Allah kapan-kapan Gue ganti. Tapi cerita tentang makhluk ghaib di ruangan itu nyata Run...,” sahut Kautsar.


Aruna yang terlanjur kesal bersiap pergi meninggalkan tempat itu tapi Kautsar berhasil mencegahnya.


“ Temen Gue namanya Doni. Dia meninggal karena terkena serangan dari sesuatu yang menghuni ruangan itu saat dia ga sengaja masuk ke ruangan itu karena merasa terpanggil. Setelahnya Doni mendadak sakit dan meninggal dua hari kemudian. Tubuhnya gosong dan bau kaya mayat. Kata orang pinter yang ngobatin, dia kena santet. Sebelum meninggal, Doni pesen sama Gue supaya ga deket-deket sama ruangan itu karena ada sesuatu yang jahat di sana...,” kata Kautsar dengan mimik serius.


“ Inna Lillahi wainna ilaihi rojiuun...,” sahut Aruna prihatin.

__ADS_1


“ Sejak saat itu Gue selalu berusaha bilangin mahasiswa lain supaya ga deketin ruangan itu apalagi masuk ke sana. Dan Lo ga usah heran kalo security juga ngelarang semua mahasiswa ke sana karena mereka juga udah tau ada sesuatu di sana, walau ga tau pasti apa yang ada di sana...,” kata Kautsar.


“ Apa Lo percaya kalo ada sesuatu di sana...?” tanya Aruna.


“ Percaya lah. Kita kan memang hidup berdampingan sama makhluk ghaib. Jangan lupa mereka juga ciptaan Allah...,” sahut Kautsar cepat.


“ Oh gitu...,” kata Aruna sambil tersenyum.


“ Kenapa Lo nanya kaya gitu...?” tanya Kautsar.


“ Mmm... kalo Gue bilang sesuatu yang ada di sana minta tolong sama Gue buat nyempurnain jasadnya, Lo percaya ga...?” tanya Aruna hati-hati.


“ Emang dia ngomong gitu Run...?” tanya Kautsar tak percaya.


Aruna mengangguk lalu menceritakan semuanya. Kautsar nampak mendengarkan dengan seksama. Nampaknya Kautsar tertarik dengan cerita Aruna dan berniat membantunya.


“ Sekarang Gue bingung gimana cara bawa jasadnya keluar dari tempat itu. Terus bakarnya gimana...?” tanya Aruna bingung.


“ Kalo soal itu Gue bisa bantu. Ntar biar Gue yang bilang sama security supaya buka pintu buat ngeluarin jasad almarhumah Gayo. Terus Kita bawa ke tempat kremasi buat dibakar jadi Kita ga perlu ngebakar jasadnya...,” sahut Kautsar.


“ Lo serius mau bantuin Gue...?” tanya Aruna tak percaya.


“ Iya. Itu pun kalo Lo mau Gue bantuin...,” sahut Kautsar sambil berlalu.


“ Mau lah, tapi Lo bisa dipercaya ga...?” tanya Aruna sambil mengekori Kautsar.


“ Maksud Lo...?” tanya Kautsar sedikit kesal.


“ Maksud Gue, Lo bisa kan nyimpen rahasia. Gue ga mau orang lain tau soal rahasia ini...?” tanya Aruna sambil menatap Kautsar lekat.


“ Terserah Lo mau percaya sama Gue atau ga, Gue ga peduli...,” sahut Kautsar.


“ Eh tunggu dong. Iya deh Gue percaya sama Lo. Tapi Lo jadi kan mau bantuin Gue...?” tanya Aruna sambil mensejajari langkah Kautsar.


“ Insya Allah...,” sahut Kautsar sambil menganggukkan kepalanya.


“ Alhamdulillah..., makasih ya...,” kata Aruna sambil tersenyum.


“ Sama-sama. Jadi Kita ga musuhan lagi ya Run...,” kata Kautsar penuh harap.


“ Iya lah...,” sahut Aruna cepat hingga membuat Kautsar tersenyum.


\=====


Setelah Maghrib Kautsar dan Aruna melaksanakan niat mereka setelah sebelumnya berhasil membujuk kepala security yang memang paham dengan hal ghaib.


“ Saya setuju, mudah-mudahan setelah ini kampus Kita bisa lebih aman dan kondusif. Ga perlu was-was dan takut sama sesuatu yang tak kasat mata ...,” kata kepala security bernama Hadi.


“ Betul Pak...,” sahut Kautsar.


“ Kapan Kalian mau mulai...?” tanya Hadi.


“ Insya Allah malam ini Pak...,” sahut Kautsar cepat mewakili Aruna.


“ Kalo gitu akan Saya temani. Saya ga mau sesuatu terjadi sama Kalian nanti...,” kata Hadi.


“ Baik, makasih Pak...,” sahut Kautsar dan Aruna bersamaan.


“ Saya akan ajak Ustad Dayat untuk mendampingi Kita biar lebih aman...,” kata Hadi yang disetujui Kautsar dan


Aruna.


Dan kini Aruna, Kautsar, ustadz Dayat dan Hadi sudah berada di dalam ruangan misterius itu. Keempatnya nampak berdoa sebelum mulai mengambil jasad Gayo. Hadi dan Kautsar terlihat membawa linggis dan pacul untuk memudahkan pekerjaan.


Awalnya keramik lantai yang terangkat itu disingkirkan. Setelahnya Hadi dan Kautsar mulai menggali tanah. Baru beberapa saat menggali, tiba-tiba sebuah bayangan hitam melesat cepat mengejutkan Hadi dan Kautsar. Di saat bersamaan Aruna menatap keluar jendela dengan resah karena melihat bulan purnama penuh tengah menggantung di langit malam.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2