Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
110. Penasaran


__ADS_3

Giliran Kautsar dan ayah Robi yang masuk ke dalam ruangan. Kautsar nampak membisu saat ayah Robi mengusap kepala Robi sambil mengucapkan sesuatu.


" Awalnya dia anak yang baik. Tapi sesuatu terjadi dan bikin dia berubah...," kata ayah Robi seolah sedang bicara dengan dirinya sendiri.


Kautsar pun hanya mendengarkan tanpa menyela sama sekali. Ayah Robi pun melanjutkan ucapannya.


" Dua tahun yang lalu Saya dapat musibah. Saya difitnah makan uang kantor alias korupsi. Padahal demi Allah Saya ga ngelakuin itu. Tapi ga ada yang percaya sama Saya termasuk atasan Saya...," kata ayah Robi hingga mengejutkan Kautsar.


" Pasti menyakitkan dituduh melakukan sesuatu yang emang sama sekali ga Kita lakukan...," sahut Kautsar setengah kesal.


" Betul Nak. Apalagi Saya harus ditahan beberapa waktu karena kasus itu. Saya juga terpaksa ninggalin keluarga Saya. Kondisi itu bikin semua tanggung jawab yang semula ada di pundak Saya beralih ke Robi sebagai anak tertua. Robi terpaksa cuti kuliah dan kerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan Mama dan adiknya karena semua aset dan tabungan milik Kami diblokir...," kata ayah Robi sambil menghembuskan nafasnya dengan kuat.


" Saya ikut prihatin Om. Tapi Robi ga pernah cerita apa pun soal itu. Yah, walau pun Kami ga dekat. Tapi selentingan tentang kabar keluarga Om itu juga ga pernah Saya denger lho Om...," kata Kautsar.


" Begitu ya. Kasusnya emang belum sampe meledak jadi ga sampe disorot media. Saya ga bisa bayangin kalo sampe media tau. Pasti anak dan istri Saya yang jadi korbannya...," sahut ayah Robi.


" Betul Om. Terus gimana caranya Om ngebuktiin kalo Om ga bersalah...?" tanya Kautsar penasaran.


" Robi yang melakukan semuanya, walau pun Saya ga setuju dengan cara yang dia pake...," sahut ayah Robi.


" Robi ?. Emang Robi pake cara apa Om...?" tanya Kautsar.


" Robi menggunakan jasa seorang dukun yang memiliki ilmu hitam untuk mengeluarkan Saya dari penjara. Saya terlambat tau dan itu jelas bikin Saya kecewa...," sahut ayah Robi sambil menerawang ke masa lalu.


Ayah Robi ingat saat mendapat kabar jika orang yang memfitnahnya tiba-tiba meracau tak jelas. Di depan polisi orang yang memfitnahnya itu membuat pengakuan jika dia lah yang telah memfitnah ayah Robi. Dalangnya adalah atasan ayah Robi sendiri. Ternyata mereka berdua telah bersekongkol menjatuhkan nama baik ayah Robi yang terkenal jujur itu.


Setelah mendengar pengakuan keduanya, ayah Robi pun dibebaskan dari penjara.


Ayah Robi senang karena akhirnya dia bisa bebas. Tapi ada yang mengganjal dalam benaknya. Siapa orang yang telah memaksa mereka mengakui semuanya. Usut punya usut ternyata semua karena ulah Robi.


Robi sengaja melakukan sesuatu agar kedua orang yang telah menzolimi sang papa bisa tertangkap dan mempertanggungjawabkan semuanya.


Awalnya ayah Robi bangga karena mengira sang putra sulung kini menjadi orang yang dewasa dan dapat diandalkan. Namun kebanggaan itu pupus saat dia mengetahui apa yang telah dilakukan Robi untuk membuat dua orang seterunya itu masuk bui.


" Dukun...," gumam Kautsar namun masih terdengar jelas oleh ayah Robi.

__ADS_1


" Iya Nak. Dengan bantuan dukun Robi memang berhasil mengeluarkan Saya dari penjara. Tapi itu bikin dia ketagihan. Setelahnya dia sering menggunakan jasa dukun untuk membantunya menyelesaikan masalah. Jujur Saya khawatir Robi melakukan sesuatu yang ga wajar dan membahayakan orang lain yang otomatis akan berimbas pada dirinya sendiri nanti...," kata ayah Robi sambil menatap sang anak dengan tatapan gusar.


" Mmm, maaf kalo Saya lancang. Keliatannya yang Om khawatirkan itu udah terjadi Om...," kata Kautsar hati-hati.


" Begitu ya...," sahut ayah Robi sambil tersenyum kecut.


Kautsar ingin memberitahu banyak hal namun ia urungkan karena tak ingin mendahului Aruna.


Beberapa saat kemudian ayah Robi dan Kautsar pun keluar dari kamar. Setelah berbincang sejenak, Kautsar dan Aruna memutuskan pulang ke rumah.


\=\=\=\=\=


Setelah membersihkan diri dan makan malam, Aruna dan Kautsar pun berbincang di ruang tengah sambil menonton berita yang ditayangkan televisi.


Kemudian Kautsar menceritakan isi pembicaraannya dengan ayah Robi di ruangan rawat inap Robi tadi. Aruna nampak menyimak dengan serius lalu mengangguk kan kepalanya.


" Aku udah tau...," kata Aruna.


" Tau darimana...? " tanya Kautsar.


" Dari jin yang berwujud bayi merah itu lah...," sahut Aruna.


" Ini sulit Tsar. Robi udah terlalu jauh melangkah...," sahut Aruna dengan enggan.


" Maksud Kamu gimana sih Sayang...?" tanya Kautsar sambil menatap Aruna lekat.


Aruna meluruskan punggungnya lalu menghadapkan tubuhnya kearah Kautsar.


" Jin berwujud bayi merah itu datang ke kamar rawat inap Robi tadi...," kata Aruna.


" Lho ngapain, bukannya tadi Kamu udah berhasil ngusir dia ya...?" tanya Kautsar tak mengerti.


" Itu betul. Tapi rupanya ada sesuatu yang bikin dia ga bisa pergi...," sahut Aruna.


" Apaan...?" tanya Kautsar.

__ADS_1


" Dia datang untuk nagih bayaran atas kerja kerasnya selama ini...," sahut Aruna.


" Kerja keras apa dan bayarannya apa...?" tanya Kautsar penasaran.


" Kan Papanya Robi udah bilang tadi kalo selama ini Robi melakukan banyak hal yang berhubungan dengan dukun. Nah Kamu tau kan siapa yang disuruh dukun untuk melakukan semuanya ?. Ya si bayi merah itu lah. Selama ini dia terus kerja dan kerja, tanpa terima bayaran. Kali ini dia datang menagih bayaran karena merasa apa yang dia lakukan udah banyak dan over limit...," sahut Aruna.


" Terus bayarannya apa dong. Jangan bilang kalo jin bayi merah itu minta nyawanya si Robi...," kata Kautsar hati-hati.


" Kamu bener banget Sayang...," sahut Aruna sambil mencubit pipi Kautsar dengan gemas.


" Astaghfirullah aladziim..., " kata Kautsar sambil menggelengkan kepalanya.


Aruna dan Kautsar terdiam sesaat sambil saling menatap bingung.


" Apa ga ada yang bisa Kamu lakukan untuk membantu nya Sayang...?" tanya Kautsar.


" Ga ada. Tapi tunggu sebentar. Bukannya Kamu ga suka ya sama si Robi. Tapi kok justru Kamu yang penasaran dan pengen bantuin dia...?" tanya Aruna tak mengerti.


" Aku emang ga suka sama Robi. Banyak alasannya yang bikin Aku ga suka sama dia. Tapi ngeliat kedua orangtuanya bikin Aku ga tega. Mereka orang baik, mereka pasti sedih kalo anaknya meninggal gitu aja tanpa sempet bertobat...," sahut Kautsar sambil melengos.


Aruna mengangguk tanda setuju. Namun sesaat kemudian ia tersentak karena teringat sesuatu.


" Oh iya Aku inget. Apa ketidak sukaanmu itu ada hubungannya sama Wenni...?" tanya Aruna sambil menatap Kautsar curiga.


" Sedikit banyak sih ada...," sahut Kautsar jujur.


" Ceritain dong, Kamu kan udah janji...," pinta Aruna.


" Yakin mau denger ceritanya...? " tanya Kautsar.


" Iya...," sahut Aruna cepat.


" Ga jelous...?" tanya Kautsar lagi.


" Ish, buruan deh...," sahut Aruna sambil mencubit pinggang Kautsar hingga membuat sang suami meringis kesakitan.

__ADS_1


" Ok. Jangan dipotong ya, dengerin aja...," kata Kautsar lalu memulai ceritanya.


\=\=\=\=\=


__ADS_2