Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
153. Tekad Genk Comot


__ADS_3

Aruna, Galang dan Agung tiba di depan kamar rawat inap Kenzo. Bersamaan dengan itu kedua orangtua Kenzo keluar dari kamar dan berpapasan dengan mereka.


" Kebetulan Kalian datang. Tolong temani Kenzo sebentar ya. Om sama Tante harus ketemu dokter. Katanya ada hal penting yang mau disampein...," kata mama Kenzo.


" Iya Tante...," sahut Aruna, Galang dan Agung bersamaan.


Kemudian ketiganya masuk ke dalam kamar dan melihat Kenzo sedang duduk berdzikir sambil memegang untaian tasbih. Kenzo tersenyum lebar melihat kehadiran teman-temannya. Namun matanya seolah menyiratkan kekecewaan saat tak melihat kehadiran Ria di sana.


" Ria lagi belanja sama Fadil sebentar Ken...," kata Aruna untuk menenangkan Kenzo.


" Oh gitu...," sahut Kenzo sambil tersenyum malu-malu.


" Gimana keadaan Lo Ken...?" tanya Agung.


" Alhamdulillah enakan. Lo liat kan sekarang badan Gue lebih seger daripada kemarin...?" tanya Kenzo.


" Ck, ga usah bohong bisa ga sih. Kenapa Lo ga bilang kalo Lo sakit Ken ?. Lo ga nganggep Kita temen ya sampe Lo ga mau cerita apa pun soal penyakit Lo...," kata Agung kesal.


" Maaf Gung. Bukan itu maksud Gue. Gue cuma ga mau bikin Lo dan yang lain khawatir..., " sahut Kenzo.


" Tapi sikap Lo ini justru bikin Kita khawatir Ken...," kata Galang.


Aruna hanya mendengarkan perdebatan ketiga pria di hadapannya itu sambil mengedarkan pandangan ke penjuru kamar. Ia menelan saliva dengan sulit saat melihat bayangan hitam yang sama tengah berdiam di belakang Kenzo.


Aruna pun bergeser menjauh dari ketiga temannya lalu mencoba berinteraksi dengan bayangan hitam kebiruan yang melekat erat di belakang Kenzo.


" Hentikan sekarang atau Kau akan menyesal...," kata Aruna dalam hati sambil menatap lekat ke belakang Kenzo.


Menyadari ada seseorang yang mengetahui keberadaannya, bayangan hitam itu nampak terkejut. Ia merenggangkan pelukannya lalu menatap Aruna.


" Kau bicara denganku, apa Kau bisa melihatku...?" tanya bayangan hitam itu ragu.


" Aku bisa melihatmu...!" sahut Aruna cepat.


" Oh ya. Memang bagaimana wujudku...?" tanya bayangan hitam itu sambil tersenyum mengejek seolah menantang Aruna.


" Ck, Kau sungguh mau Aku mengatakan bagaimana wujudmu...?" tanya Aruna.


" Iya...," sahut makhluk itu.


" Kau, binatang melata yang menjijikkan karena hidup dari menghisap kehidupan makhluk lainnya. Jika berupa hewan kecil mungkin Kau hanya menghisap darah sesuai kebutuhanmu. Tapi karena Kau siluman lintah, maka Kau tak akan berhenti menghisap darah korbanmu hingga dia mati kehabisan darah...," kata Aruna sambil memicingkan matanya.


Ucapan Aruna membuat makhluk itu tertawa. Dia menjauh dari Kenzo lalu bergeser perlahan mendekati Aruna.


Suara benda besar dan berat yang diseret terdengar saat makhluk itu melata menghampiri Aruna. Kenzo, Agung dan Galang nampak menoleh ke kanan dan ke kiri seolah mencari sumber suara itu.


" Suara apaan tuh Ken...?" tanya Galang.


" Ga tau Lang. Gue juga baru denger kali ini...," sahut Kenzo.

__ADS_1


" Itu pasti suara mayat yang lagi diseret ke kamar mayat...," kata Agung asal hingga membuat Galang kesal lalu menepuk punggungnya dengan keras.


" Jaga omongan Lo Gung, Rumah Sakit nih. Kenzo kan lagi sakit, Lo sadar ga sih gimana efeknya buat orang yang sakit waktu denger omongan Lo tadi...?!" tanya Galang sambil menatap tajam kearah Agung.


" Eh iya, sorry Ken. Gue ga maksud ngomong kaya gitu tadi. Gue cuma bercanda Ken...!" kata Agung panik sambil memeluk Kenzo erat.


" Iya Gue paham kok Gung. Santai aja...," sahut Kenzo sambil menepuk punggung Agung dengan lembut.


" Kebiasaan...," gerutu Galang sambil melengos.


" Sorry...," ulang Agung sungguh-sungguh namun diabaikan oleh Galang.


Suasana tak menyenangkan itu pun berakhir saat Ria dan Fadil masuk ke dalam kamar. Rupanya Ria sengaja membeli beberapa jenis cemilan untuk mereka selama menemani Kenzo di sana.


" Gimana kabar Kamu Yang...?" tanya Ria sambil mengusap kepala Kenzo dengan sayang.


" Alhamdulillah baikan. Apalagi ngeliat Kamu datang...," sahut Kenzo sambil tersenyum.


Ucapan Kenzo jelas membuat genk Comot mendelik kesal karena merasa tak 'dianggap'.


" Gombal terus, sampe lupa sama yang nemenin daritadi...!" sindir Agung hingga membuat semua tertawa.


Sedangkan di sudut kamar terlihat Aruna yang mematung sambil menatap makhluk siluman lintah di hadapannya itu.


" Siapa yang menyuruhmu melakukan itu...?" tanya Aruna.


" Seseorang yang membenci keluarganya...," sahut siluman lintah santai sambil memperlihatkan mulutnya yang basah dengan darah.


" Salah. Aku menghisap otaknya sedikit demi sedikit hingga perlahan dia menjadi lumpuh, cacat dan mati...," sahut siluman lintah itu dengan suara serak sambil menyeringai.


Ucapan siluman lintah itu membuat jantung Aruna mencelos. Ia merasa sedih dan hampir menangis membayangkan penderitaan yang Kenzo alami sebelum ia meninggal dunia.


" Aku ga bakal biarkan Kau melakukan itu...," kata Aruna dengan suara bergetar.


" Terlambat !. Aku telah mulai menghisap otaknya dan saat itu terjadi dia selalu merasakan sakit yang amat sangat di kepalanya. Saking sakitnya dia malah akan lebih memilih mati dibandingkan bertahan menahan sakit. Dan saat dia meregang nyawa Aku akan bersorak gembira karena Aku lah pemenangnya...," sahut siluman lintah dengan jumawa.


" Oh ya. Kita liat siapa yang jadi pemenangnya nanti...," kata Aruna sambil menghentakkan kakinya ke lantai hingga siluman lintah itu terpental membentur dinding.


Sikap Aruna membuat semua orang yang ada di dalam kamar itu menoleh kearahnya dan menatapnya bingung.


" Kenapa Lo Run...?" tanya Fadil.


" Ada kecoa Dil. Gue jijik sama binatang itu...," sahut Aruna sambil menatap tajam kearah siluman lintah yang melesat pergi meninggalkan kamar itu sementara waktu.


" Ngaco Lo Run. Mana ada kecoa di kamar VIP kaya gini...!" protes Ria.


" Tapi buktinya ada kok...," sahut Aruna tak mau kalah sambil meraih cemilan yang dibeli Ria tadi lalu memakannya.


Semua anggota genk Comot hanya menggelengkan kepala mendengar ucapan Aruna.

__ADS_1


Di tengah perbincangan santai dengan genknya, Aruna menyempatkan diri menelephon Kautsar. Ia memberi tahu keberadaannya di Rumah Sakit dan meminta Kautsar datang menjemputnya nanti.


" Apa ada yang serius Run...?" tanya Kautsar dari seberang telephon.


" Ada. Dan Aku harus cepet bertindak Tsar...," sahut Aruna.


" Apa Kamu udah nemuin sumber masalahnya...?" tanya Kautsar.


" Udah dan Aku butuh bantuan Kamu Tsar...," sahut Aruna hingga membuat Kautsar tersenyum senang.


" Ok. Insya Allah Aku jemput Kamu sepulang kerja nanti. Ada yang perlu Kusiapkan ga...?" tanya Kautsar.


" Kayanya ga ada. Aku udah siapin semuanya di tas. Tinggal Kamu aja yang ketinggalan karena ga bisa masuk ke dalam tas...," sahut Aruna sambil tersenyum.


" Aruna, awas Kamu ya...," kata Kautsar gemas hingga membuat Aruna tertawa.


Aruna mengakhiri percakapannya dengan sang suami lalu menoleh kearah teman-temannya. Melihat tatapan mereka membuat Aruna yakin jika mereka mendengarkan perbincangannya dengan Kautsar tadi.


" Kenapa...?" tanya Aruna pura-pura tak tahu.


" Jujur sama Kita Run. Penyakit Kenzo ini...," ucapan Ria terputus karena Aruna memotongnya dengan cepat.


" Iya iya, Kenzo emang sakit non medis. Itu pun kalo Lo semua percaya. Penyakit Kenzo karena ulah seseorang yang ga suka sama keluarganya...," kata Aruna hingga mengejutkan semua orang.


" Maksud Lo, Kenzo diguna-guna Run...?" tanya Ria dengan suara tercekat dan diangguki Aruna.


" Gue percaya..., " kata Kenzo dan Fadil bersamaan.


" Gue juga...," kata Agung dan Galang.


" Ok, Gue berusaha percaya. Terus Kita harus gimana Run...?" tanya Ria.


" Pertama-tama Lo harus percaya dulu Ri. Karena penyakit non medis itu kan sifatnya ghaib. Sedangkan Allah kan emang nyiptain yang nyata dan yang ghaib...," sahut Agung.


" Iya, Gue percaya...," kata Ria sambil menganggukkan kepalanya hingga membuat semua temannya tersenyum.


" Ok begini. Gue dan Kautsar bakalan nyoba menetralisir pengaruh ghaib yang nyerang Kenzo nanti...," kata Aruna.


" Jangan Lo berdua aja Run. Kalo boleh Kita juga mau bantuin Lo ngelawan serangan ghaib itu. Iya kan guys...?" tanya Galang sambil menatap semua temannya satu per satu.


" Betul Lang...!" sahut Fadil, Agung dan Ria bersamaan hingga membuat Aruna tersenyum.


" Ok, Kita sama-sama bantu Kenzo keluar dari pengaruh ilmu hitam itu ya. Tapi kalo Lo lagi halangan Lo ga bisa ikut Ri...," kata Aruna sambil menatap Ria.


" Gue udah selesai Run, udah mulai sholat juga kok tadi...," sahut Ria.


" Ok, Kita siap-siap sekarang ya...," kata Aruna yang diangguki semua temannya.


Kemudian Aruna mulai menjabarkan apa saja yang harus dilakukan teman-temannya saat ia menghadapi siluman lintah itu nanti. Walau Aruna tak mengatakan wujud makhluk ghaib yang menyerang Kenzo, semua anggota genk Comot tetap merasa gugup.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2