
Dari kejauhan George dan Matilda nampak mengawasi Aruna dengan lekat karena khawatir makhluk yang dilihat Aruna akan menyakiti gadis itu. Tapi ternyata makhluk itu hanya menunjukkan eksistensinya sebentar sebelum kemudian lenyap tanpa jejak.
Tak lama kemudian Kenzo dan Ria nampak berjalan menghampiri dengan wajah kusut.
“ Kenapa Lo...?” tanya Aruna.
“ Susah banget soalnya Run, sampe sakit nih kepala Gue...,” sahut Ria hingga membuat Aruna tersenyum.
“ Lo juga Ken...?” tanya Aruna sambil menatap Kenzo.
“ Ga lah, itu mah kecil buat Gue...,” sahut Kenzo sambil menjentikkan jarinya.
“ Kecil tapi kok lama ngerjainnya...,” sindir Ria.
“ Itu karena Gue nungguin Lo Ri. Ntar kalo Gue tinggal juga Lo ngambek dan ngomong ga ada yang care lah, ga solider lah...,” sahut Kenzo.
“ Emang Gue kaya gitu...?” tanya Ria salah tingkah.
“ Iya. Apalagi temen Lo yang pinter ini udah selesai daritadi dan ninggalin Lo...,” sahut Kenzo sambil melirik Aruna.
“ Jangan nyalahin Gue dong. Itu salah Lo berdua kenapa ga mau belajar. Kan udah tau kalo pagi ini ada mid test dan dosennya lumayan killer. Mana bisa Gue ngasih bocoran. Yang ada Gue yang disuruh keluar...,” kata Aruna membela diri.
Kenzo dan Ria nampak terdiam mendengar ucapan Aruna. Tak lama kemudian terlihat Galang yang menghampiri mereka.
“ Kenapa Lang, kok muka Lo panik banget...?” tanya Kenzo.
“ Adik Gue dirawat di Rumah Sakit. Kata Nyokap sih kecelakaan...,” sahut Galang.
“ Inna Lillahi wainna ilaihi rojiuun, yang sabar ya Lang...,” kata Aruna prihatin.
“ Kok Lo malah ngucap istirja sih Run, kan adiknya Galang ga meninggal...,” kata Ria.
“ Itu ungkapan kalo Kita kena musibah Ri. Hakekatnya semua udah ketentuan dari Allah makanya Kita ngucap istirja. Artinya kan semua berasal dari Allah dan hanya kepada Allah akan kembali...,” sahut Aruna sambil tersenyum.
“ Oh gitu ya. Sorry deh, Gue ga paham kalo soal itu...,” kata Ria tak enak hati.
“ Gapapa, Kita bisa belajar sama-sama ntar ya Ri...,” sahut Aruna bijak.
“ Iya Run. Terus gimana keadaannya Lang...?” tanya Ria sambil menoleh kearah Galang.
“ Mau dioperasi secepatnya karena ada tulang rusuk yang patah...,” sahut Galang lirih.
“ Woooii...!, lagi ngomongin apaan nih. Serius amat...?” tanya Fadil tiba-tiba hingga mengejutkan Aruna dan ketiga temannya.
“ Adiknya Galang kecelakaan dan harus dioperasi Dil...,” sahut Kenzo.
“ Wah, pasti perlu biaya banyak tuh Lang...,” kata Agung.
“ Itu lah, makanya Gue bingung. Ini kan hampir akhir semester, Gue belum lunasin biaya kuliah. Uang yang tadinya mau ditransfer buat biaya kuliah terpaksa dialihkan buat nambahin biaya operasi Adik Gue...,” sahut Galang bingung.
__ADS_1
Aruna dan keempat temannya terdiam sejenak lalu menganggukkan kepala.
“ Lo tenang aja Lang. Kalo soal biaya kuliah Kita bisa patungan buat nalangin. Iya kan guys...?” tanya Agung sambil menatap keempat temannya satu per satu.
“ Iya...,” sahut Aruna, Fadil, Ria dan Kenzo bersamaan.
“ Yang bener, Kalian serius...?” tanya Galang dengan mata berkaca-kaca.
“ Insya allah serius Lang...,” sahut Agung mantap.
“ Kalo gitu Gue kasih tau orangtua Gue sekarang ya, biar mereka ga bingung. Kasian kalo mereka harus kepikiran sama Gue di sini...,” kata Galang yang diangguki lima anggota genk comot.
Tak lama kemudian Galang menghubungi kedua orangtuanya. Ia sengaja melakukan video call agar orangtuanya juga mengenal teman-teman baiknya yang telah bersedia membantunya. Orangtua Galang nampak terharu menyaksikan persahabatan Galang dengan kelima temannya itu.
“ Sekarang Bapak sama Mama ga usah pikirin uang kuliahku. Mereka berlima mau minjemin uang buat bayarin uang kuliahku. Jadi Bapak sama Mama fokus aja ngurusin Zema...,” kata Galang.
“ Masya Allah, sungguh baik hati Kalian Nak. Saya dan Mamanya Galang berterima kasih sama Kalian. Maafkan Kami karena udah bikin Kalian repot ya...,” kata bapak Galang dengan mata berkaca-kaca.
“ Gapapa Pak. Galang kan sahabat Kami, jadi wajar kalo Kami membantunya. Kami ga mau Galang sedih karena ga bisa ikut ujian...,” sahut Fadil mewakili teman-temannya.
“ Semoga Zema cepat sembuh ya Pak...,” kata Aruna.
“ Aamiin. Makasih ya Anak-anak...,” sahut bapak Galang sambil tersenyum.
“ Sama-sama Pak...,” sahut Aruna dan teman-temannya.
“ Kapan-kapan Kalian main ke sini ya. Bapak sama Mama Galang pengen jumpa langsung sama Kalian...,” kata mama Galang yang diangguki sang suami.
“ Maaf Kami harus pergi nemuin dokter, Kita ngobrol lagi lain kali ya...,” kata bapak Galang.
“ Iya Pak...,” sahut Galang dan kelima temannya.
“ Assalamualaikum...,” kata bapak dan mama Galang lalu mengakhiri pembicaraan mereka.
“ Wa alaikumsalam...,” sahut Galang dan kelima temannya sambil tersenyum.
“ Ok, kalo gitu kapan Kita ke ATM...?” tanya Agung.
“ Ntar aja pulang kuliah. Sekarang rame banget di sana, tuh liat aja...,” sahut Ria sambil menunjuk kearah gerai ATM yang dipadati mahasiswa yang ingin mengambil uang cash.
“ Gapapa kan Lang...?” tanya Aruna.
“ Gapapa Run. Kan batas pembayaran paling akhir hari Rabu. Masih ada waktu dua hari lagi kok...,” sahut Galang sambil tersenyum.
“ Kita usahain bayar hari ini biar Lo ga pusing lagi Lang...,” kata Fadil.
“ Ok, makasih ya guys...,” sahut Galang terharu.
“ Sama-sama. Udah yuk Kita cari makan dulu, laper nih Gue...,” kata Kenzo sambil melangkah menuju gerbang kampus.
__ADS_1
Aruna dan keempat temannya pun mengikuti Kenzo yang berjalan menuju pedagang kaki lima yang ada di luar kampus.
\=====
Malam itu Aruna sedang mengerjakan tugas kuliahnya. Aruna sudah berkali-kali menguap namun sayangnya tugas yang dikerjakannya memaksanya untuk tetap berjaga.
“ Ya Allah kenapa ngantuk banget sih...,” gumam Aruna sambil meyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi.
Sesaat kemudian Aruna terpejam dalam posisi kepala mendongak dan tangan memegang pulpen.
Aruna menoleh saat melihat beberapa orang berlarian sambil berteriak. Aruna mengerutkan keningnya karena merasa masuk ke dalam tayangan sebuah film jadul. Pakaian orang-orang dan rumah yang mereka tempati terlihat klasik dan unik.
Aruna memberanikan diri masuk ke dalam kerumunan orang yang tengah berkumpul itu lalu mendengarkan apa yang sedang mereka bicarakan.
“ Ini udah keterlaluan, ga bisa dibiarin lagi...,” kata seorang wanita berparas ayu bernama Ismi.
“ Belum tentu ini semua ulah si Gayo, jangan sampe Kita salah tangkap orang nanti...,” kata seorang pria.
“ Halaahh, siapa lagi kalo bukan dia. Si Gayo itu kan emang ga pernah suka ngeliat orang bahagia. Makanya dia iri dan selalu berusaha menghancurkan kebahagiaan orang lain...,” sahut Ismi ketus.
“ Tapi itu kan ada sebabnya. Andai dulu Kau tak merebut si Rasid, mungkin Gayo ga akan sakit hati dan mempelajari ilmu hitam. Sekarang bukan hanya Kamu yang disakiti tapi satu kampung kena imbasnya...,” kata seorang pria dengan berani.
“ Hei, jangan bawa-bawa Aku ya. Memang dasar si Gayo aja yang jahat dan ga tau diri. Sudah buruk rupa dan miskin, eh masih berharap bersanding dengan si Rasid. Semua orang tau kalo hanya Aku yang layak bersanding dengan Rasid. Jadi kalo mau, ya salahkan mulut Kalian yang terus mengejek si Gayo itu. Lagi pula itu sudah lama berlalu, sudah dua puluh tahun lebih. Kita sudah tua sekarang. Harusnya dia bisa terima dan ga perlu menyakiti orang kan...,” sahut Ismi kesal.
“ Betul. Sudah berapa kali Mak Gayo ketauan menggunakan ilmu hitamnya untuk menyantet orang. Kita harus bertindak supaya ga jatuh korban lagi. Yang terakhir Atik mati dengan badan gosong dan Saifudin yang mati dengan perut besar dan badan penuh luka cambuk. Entah salah apa mereka sampe Mak Gayo tega berbuat kaya gitu...," kata seorang wanita berapi-api.
“ Kalo gitu Kita datangi rumahnya sore ini. Jangan lupa ajak tetua kampung dan semua warga. Sehebat apa pun dia kalo dikeroyok pasti kalah juga...,” kata seorang pria yang diangguki semua orang.
Satu per satu warga meninggalkan tempat itu meninggalkan Aruna yang berdiri kebingungan. Kemudian Aruna melihat sosok wanita berkebaya dan berambut putih tengah melintas di pematang sawah.Wanita itu terkejut saat ada warga yang memanggil namanya dengan marah sambil mengacungkan golok.
Wanita yang diyakini sebagai Gayo itu lari tunggang langgang. Beberapa kali ia terjatuh hingga masuk ke dalam sawah. Di kejauhan orang-orang nampak tertawa senang melihatnya terjatuh dan kotor.
Gayo berhasil keluar dari kubangan sawah dan bergegas pergi. Aruna terus mengikuti Gayo hingga ke rumahnya. Saat Gayo membuka pintu rumah, terlihat bermacam sajen di atas meja dan sosok anak laki-laki terikat di lantai. Dengan kejam Gayo menendang kepala anak itu hingga terdengar suara berderak.
Aruna menjerit tertahan saat menyadari anak kecil itu tak lagi bernafas karena luka mengenaskan di wajahnya. Darah terus mengalir dari matanya yang hanya berupa rongga kosong tanpa bola mata lalu terus merembes membasahi tikar pandan tempatnya berbaring. Aruna memalingkan wajahnya karena tak sanggup melihat jasad anak kecil itu.
Saat Aruna kembali berpaling ia melihat Gayo sedang dikepung oleh warga. Wajahnya penuh luka akibat sayatan senjata tajam. Rupanya hanya tubuh, tangan dan kaki Gayo yang kebal senjata sedangkan wajah dan lehernya tidak.
Makian terus terlontar dan Gayo hanya membisu. Gayo menatap rumahnya yang dilalap api akibat dibakar oleh warga dengan tatapan sedih. Itu lah saat terakhir ia bisa melihat dunia. Karena detik berikutnya seorang pria maju dan mencongkel kedua bola matanya. Darah mengalir membasahi wajahnya. Rambut putihnya pun basah dengan darah.
“ Ini yang Kau lakukan pada Anakku, sekarang Kau juga harus merasakan sakitnya kehilangan mata...!” kata pria itu lantang.
Saat tangan dan kakinya diikatkan pada seekor kuda kemudian diseret, Gayo juga tak bersuara. Ia baru bersuara saat tubuhnya dikubur hidup-hidup. Sumpah serapah terdengar dari mulutnya dan itu membuat semua orang yang mengeroyoknya ketakutan. Mereka pun meletakkan batu besar di atas tanah tempat tubuh Gayo dikubur tadi karena tak ingin Gayo kembali untuk membalas dendam.
Aruna membuka matanya dan tersadar jika masih berada di depan meja belajar. Aruna pun bergegas menyelesaikan tugasnya yang tertunda. Saat itu lah Aruna mendengar suara bisikan yang membuatnya menoleh kearah jendela kamar yang entah sejak kapan terbuka.
“ Lepaskan Aku...,” bisik suara itu.
Aruna membulatkan matanya saat melihat sosok Gayo berdiri di luar jendela kamarnya. Dengan wajah pucat, rongga mata kosong dan rambut putih yang terurai. Aruna beringsut menjauh karena tak nyaman dengan kehadiran Gayo.
__ADS_1
Bersambung