Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
104. Kok Gitu ?


__ADS_3

Bung Sam kemudian berhenti menimang makhluk merah itu. Kini ia mengangkat tubuh makhluk merah itu dan menghadapkan wajah sang makhluk kearahnya.


" Kenapa pulang...?!" tanya bung Sam.


Makhluk merah itu terlihat mendengus hingga asap kehitaman kembali terlihat keluar dari mulut dan hidungnya.


" Dia membakarku. Karena rasanya sakit makanya Aku pulang dan berharap kau akan membantuku...," sahut makhluk merah itu.


" Oh ya. Bagaimana mungkin Kau bisa kalah begitu saja...?" tanya bung Sam.


" Kekuatannya di luar dugaan. Dia hanya seorang wanita biasa tapi Aku heran kenapa dia punya kekuatan seperti itu...," sahut makhluk merah itu hingga membuat bung Sam terdiam sejenak.


" Kau tak perlu kembali ke sana. Dia bukan tandinganmu. Sekarang pergi lah...," kata bung Sam sambil melempar makhluk itu ke udara dan makhluk merah itu pun lenyap begitu saja.


Kemudian bung Sam nampak mondar-mandir di ruangan itu sambil berpikir bagaimana cara mengalahkan Aruna dan membuat gadis itu bertekuk lutut sesuai keinginan Robi.


\=\=\=\=\=


Dua hari kemudian.


Robi kembali mendatangi Aruna di kampus. Saat itu Aruna sedang berjalan seorang diri karena harus menyerahkan tugas kuliah pada sang dosen.


Robi mulai melancarkan aksinya. Ia pura-pura melintas tak jauh dari Aruna dan berharap Aruna mengejarnya atau minimal memanggil namanya. Namun sayangnya Aruna tetap cuek dan itu membuat Robi bingung.


" Aneh. Dia ga ngeliat atau pura-pura ga ngeliat. Harusnya kan dia manggil Gue atau bahkan ngejar-ngejar Gue. Tunggu sebentar lagi deh, siapa tau emang dia ga ngeliat Gue...," kata Robi dalam hati sambil memperbaiki posisi berdirinya agar terlihat lebih jelas oleh Aruna.


Namun setelah sekian lama menunggu toh Aruna tak kunjung memanggil namanya dan itu membuat Robi kesal. Dengan tak sabar ia menghampiri Aruna dan berharap melihat 'sesuatu' di kedua mata Aruna.


" Hai Aruna...," sapa Robi dengan ramah.


" Hai, lho kok di sini...?" tanya Aruna bingung.


" Kebetulan lewat aja. Darimana, kok ga masuk kelas. Ga ada dosen atau...," ucapan Robi terputus karena Aruna memotong dengan cepat.


" Mau nyerahin tugas ke Dosen...," sahut Aruna sambil tersenyum.


" Oh gitu. Gimana kalo ntar siang...," lagi-lagi ucapan Robi terputus karena Aruna memotong dengan cepat.

__ADS_1


" Sorry Rob, Aku ke sana dulu ya. Itu Dosen Aku kayanya mau pergi deh...," kata Aruna sambil berlari mengejar sang dosen yang tengah berjalan menuju parkiran kampus.


Robi nampak membelalakkan matanya karena tak percaya melihat sikap Aruna yang sungguh di luar dugaan.


" Kok gitu sih. Tapi gapapa, dia kan emang beda dari cewek kebanyakan...," batin Robi menyenangkan diri sambil menggelengkan kepalanya.


Robi tak patah semangat. Ia tetap berdiri di tempat itu dan menunggu Aruna kembali ke kelasnya.


" Coba Gue tunggu sebentar lagi, dia pasti lewat sini kalo mau masuk kelas kan...," gumam Robi penuh harap.


Sayangnya Aruna yang sudah membaca gelagat aneh Robi memilih jalan lain untuk kembali ke kelas. Saat tiba di kelas Aruna nampak menghela nafas lega.


" Kenapa Run, kaya dikejar setan aja Lo...?" tanya Ria.


" Ga kok. Gue abis lari karena hampir telat nyerahin tugas ke Pak Omar tadi...," sahut Aruna lalu meneguk air mineral yang diambil dari dalam tasnya.


" Tapi udah kan, terus apa kata Pak Omar...?" tanya Ria.


" Dia bilang kalo Gue telat semenit aja, dia ga mau nerima tugas Gue...," sahut Aruna sambil tersenyum kecut.


" Wah, gawat banget tuh. Berarti Lo beruntung Run...," kata Ria.


" Gue kirain gara-gara asyik itu sama Kautsar, Lo lupa sama tugas kuliah...," kata Ria cuek.


Ucapan Ria mendapat reaksi berupa tepukan keras dari Aruna di lengan Ria hingga gadis itu menjerit kecil.


" Gue ga semaniak itu ya Ri. Asal Lo tau, Gue justru dibantuin Kautsar ngerjain tugas itu...," kata Aruna sambil mendelik kesal.


" Sakit Arunaaa...!" kata Ria lantang sambil membulatkan matanya.


" Berisik !. Liat tuh Bu Dosen udah dateng...," sahut Aruna.


Ria akan membalas memukul Aruna, namun suara Kenzo yang memanggil namanya dari belakang membuatnya urung melakukan niatnya. Sedangkan Aruna nampak tersenyum hingga membuat Ria melengos kesal.


Tak lama kemudian kelas kembali tenang.Semua mahasiswa nampak fokus mendengarkan sang dosen memberi penjelasan termasuk Aruna. Namun meski pun saat itu posisi Aruna tengah menatap ke depan, ingatan tentang sikap aneh Robi tadi terus menari di kepalanya.


" Aku yakin Robi pasti merencanakan sesuatu yang buruk. Atau jangan-jangan dia yang ngirim makhluk merah itu ke rumah. Kalo itu benar, siap-siap aja buat nanggung resikonya Rob...," batin Aruna gelisah.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


Siang itu Robi nampak mendatangi rumah bung Sam. Tujuannya hanya satu yaitu mempertanyakan keberhasilan bung Sam mengerjakan tugasnya.


Saat tiba di sana Robi disambut oleh asisten bung Sam yang telah ia kenal sebelumnya bernama Yon.


" Selamat siang Pak Yon. Bung Sam ada ga...?" tanya Robi.


" Eh, Mas Robi. Bung Sam lagi ritual Mas. Baru aja mulai. Ada apa ya...?" tanya pak Yon sambil mempersilakan Robi masuk.


" Mau ada perlu lah, masa mau ngobrol biasa aja. Saya tau Bung Sam orang sibuk makanya Saya ke sini pasti punya tujuan...," sahut Robi sedikit kesal.


" Oh gitu. Sayangnya Bung Sam baru banget mulai ritual. Kalo udah kaya gitu Saya ga berani ganggu Mas, khawatir dimarahin...," kata pak Yon.


" Biasanya berapa lama ritualnya Pak...?" tanya Robi.


" Tergantung pesanan Mas. Kalo sulit ya lama ritualnya, bisa sampe malam. Tapi kalo gampang, paling sejam juga udah selesai...," sahut Pak Yon hingga membuat Robi menganggukkan kepalanya.


" Kalo yang sekarang sulit atau gampang Pak Yon...?" tanya Robi.


" Saya ga tau Mas. Saya ga pernah nanya sedetail itu soal urusan pasien yang datang ke sini. Lagian itu kan ga pantes. Emangnya Mas Robi masih mau nunggu...?" tanya pak Yon.


" Iya deh. Tanggung udah sampe sini...," sahut Robi.


" Tapi bisa sampe malam lho Mas. Saya juga ga bisa nemenin Mas Robi karena Saya masih banyak kerjaan di dalam...," kata pak Yon mengingatkan.


" Iya gapapa. Kalo Saya capek, ntar Saya pulang kok...," sahut Robi.


" Ok kalo gitu. Saya ke dalam dulu ya Mas. Kalo mau minum silakan ambil sendiri. Tuh di sebelah sana...," kata pak Yon sambil menunjuk dapur kecil yang terlihat dari teras rumah.


" Iya iya. Udah Pak Yon ke dalam aja. Ngedengerin Pak Yon ngomong kok kepala Saya malah tambah pusing ya...," sahut Robi sambil memijit keningnya.


Yon nampak tersenyum simpul melihat tingkah Robi. Kemudian Yon pun masuk ke dalam rumah dan menutup pintu. Dari balik gorden jendela Yon bisa melihat Robi yang duduk dengan gelisah.


" Gimana ga pusing, udah ngeluarin uang banyak tapi hasilnya nihil...," gumam Yon sambil menyeringai.


Sesaat kemudian Yon membalikkan tubuhnya. Ia berjalan ke kamar sambil menguap. Rupanya pekerjaan yang dikatakan Yon tadi adalah tidur sambil memeluk guling kesayangannya.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2