
Setelah beberapa saat saling memeluk, Aruna dan ketiga temannya pun saling mengurai pelukan.
" Lo gapapa kan Run...?" tanya Agung sambil mengamati Aruna dari atas kepala hingga ujung kaki.
" Alhamdulillah gapapa. Kalian sendiri baik-baik aja kan...?" tanya Aruna.
" Alhamdulillah baik juga...," sahut Agung yang diangguki Fadil dan Galang.
" Terus kemana Ria...?" tanya Aruna sambil mengedarkan pandangannya.
" Ria ikut nganterin Kenzo ke Rumah Sakit pake Ambulans tadi...," sahut Fadil.
" Apa Kenzo baik-baik aja...?" tanya Aruna cemas.
" Belum tau Run. Rencananya sih Kita mau nyusul ke Rumah Sakit...," sahut Galang.
" Oh kalo gitu sekarang aja. Udah ga ada yang ditunggu lagi kan...?" tanya Aruna.
" Ga tau, sebentar Gue tanya sama polisi dulu ya. Soalnya daritadi Kita dimintain keterangan sama Polisi Run...," sahut Fadil.
" Ok, kalo gitu Gue tunggu di luar aja ya...," kata Aruna.
" Biar Gue temenin deh...," kata Agung menawarkan diri.
" Ok, jangan jauh-jauh ya. Gue sama Galang ke sana sebentar...," kata Fadil yang diangguki Aruna dan Agung.
Kemudian Agung dan Aruna keluar dari penginapan. Mereka menuju kedai kopi yang letaknya tepat di seberang penginapan. Kedai itu terlihat ramai pengunjung yang penasaran dengan kejadian di penginapan.
Aruna dan Agung terlihat cuek seolah-olah tak tahu apa-apa. Mereka nampak duduk santai sambil menunggu pesanan mereka diantar.
" Kenapa Lo ngelakuin itu Run...?" tanya Agung.
" Ngelakuin apa...?" tanya Aruna.
" Nyuruh Kita keluar tapi Lo masuk sendirian ke dalam. Apa Lo ga sadar kalo itu berbahaya buat Lo...," sahut Agung gusar.
" Oh itu. Gue refleks aja Gung. Tapi kan sekarang Gue udah keluar dengan selamat...," kata Aruna santai.
" Lo ga tau gimana cemasnya Gue ninggalin Lo di dalam sana sendirian, padahal Kita cuma temen segenk. Apalagi Kautsar yang statusnya Suami Lo...," kata Agung sambil memalingkan wajahnya kearah lain karena tak ingin Aruna tahu sorot matanya yang berbeda.
" Kautsar. Apa dia telephon Lo tadi ?. Terus Lo bilang apa sama dia...?" tanya Aruna.
" Sebaiknya Lo telephon Kautsar secepatnya Run. Kasian dia pasti cemas banget nunggu kabar dari Lo...," kata Galang tiba-tiba.
" Iya, ntar aja pas di Rumah Sakit. HP Gue lowbatt nih...," sahut Aruna.
" Ya udah Kita berangkat sekarang aja bareng Polisi yang mau ke sana...," ajak Fadil yang disetujui ketiga temannya.
__ADS_1
\=\=\=\=\=
Aruna baru saja selesai menunaikan sholat Dzuhur di musholla Rumah Sakit. Wajahnya terlihat letih. Aruna pun mengedarkan pandangan ke penjuru musholla dan melihat beberapa orang tengah berbaring di sana.
Aruna pun bergeser ke tepi dan ikut membaringkan tubuhnya sekedar menghilangkan rasa penat yang mendera tubuhnya.
Saat itu lah bayangan saat ia dan hantu Kemala mengejar Yusi kembali melintas.
Hantu Kemala yang melihat Yusi melarikan diri dengan motor pun nampak menatap kepergian wanita itu dengan gusar. Nampaknya Kemala tak ingin meninggalkan Aruna begitu saja.
Setelah Aruna mendapat tumpangan dari orang yang kebetulan melintas, maka hantu Kemala terlihat lebih tenang. Ia melesat cepat mengejar Yusi sedangkan Aruna mengikuti hantu Kemala dari jauh.
" Kita ke sana ya Pak, kalo bisa lebih cepat lagi...," pinta Aruna pada pengendara motor itu.
" Bisa sih Kak, tapi kalo boleh tau mau apa Kakak ke sana...?" tanya sang pengendara motor.
" Lho, memangnya ini kearah mana Pak...?" tanya Aruna tak mengerti.
" Ini kearah hutan yang ada di dataran tinggi sana Kak...," sahut sang pengendara motor.
" Oh gitu. Saya memang sedang ada perlu ke hutan itu. Mau ambil beberapa daun obat Pak...," kata Aruna berbohong.
" Oh begitu rupanya. Tapi hati-hati ya Kak. Cepat kembali sebelum senja. Karena kabarnya di hutan itu banyak binatang buas dan makhluk halus yang marah kalo daerahnya diinjak tanpa ijin...," kata sang pengendara motor sambil menghentikan motor tepat di depan dataran tinggi itu.
" Baik Pak. Makasih udah ngingetin Saya. Nah ini ada sedikit uang untuk gantiin bensin yang kepake tadi ya Pak. Sekali lagi makasih...," kata Aruna dengan santun lalu bergegas masuk ke dalam hutan.
Aruna akhirnya tiba di dalam hutan dan melihat pertempuran yang tengah berlangsung. Awalnya Aruna mengira jika itu adalah pertempuran antara Yusi dengan hantu Kemala. Rupanya ia salah. Itu adalah pertempuara Yusi dengan laki-laki yang ia panggil Pak Tuo. Sedangkan hantu Kemala dan teman-temannya nampak bertengger di atas pohon sambil menyaksikan pertempuran itu.
" Serahkan jimat itu Yusi. Kau tak layak memegangnya lebih lama...!" kata pak Tuo lantang.
" Siapa bilang Aku tak layak. Aku lebih layak memegangnya dibandingkan Kau. Selama ini Aku lah yang telah banyak menyerahkan tumbal. Kau hanya perantara yang tak akan bisa melakukan semuanya tanpa Aku...!" sahut Yusi galak.
" Aku memang perantara, tapi berkat bantuanku usahamu lancar. Uang mengalir dan Kau hidup bergelimang harta...," kata pak Tuo tak mau kalah.
" Harta itu memang seharusnya menjadi milikku. Kau membohongiku dan mengatakan kesempurnaan itu Kudapat jika Aku mau menyerahkan Kemala. Tapi Kau justru memanfaatkannya untuk kepentinganmu sendiri. Sekarang Aku menyesal telah menyerahkan anakku padamu...!" kata Yusi berapi-api.
Mendengar kalimat penyesalan Yusi membuat pak Tuo tertawa sedangkan hantu Kemala nampak menggeleng sambil tersenyum sinis.
" Aku memang menginginkan anakmu sebagai pemuas hasratku Yusi. Kau sudah tua dan tak menarik lagi. Aku perlu gadis muda untuk menguji keperkasaanku. Dan Kemalamu itu menarik hatiku. Tapi Kau jangan lupa. Aku memberi imbalan besar setelah Kau menyerahkan Kemala...!" kata pak Tuo.
Mendengar pembicaraan Yusi dan pak Tuo membuat Aruna meradang.
" Serahkan jimat yang Kau ambil tadi padaku Aruna...," kata hantu Kemala tiba-tiba.
" Untuk apa Kemala...?" tanya Aruna tak mengerti.
" Mereka meributkan sesuatu yang membuatku muak. Biar Aku akhiri ini semuanya sekarang...," sahut hantu Kemala.
__ADS_1
" Iya, akhiri semuanya sekarang...!" kata teman-teman Kemala saling bersahutan.
Aruna mengangguk kemudian menyerahkan bungkusan jimat itu kepada hantu Kemala.
Setelah menerima jimat itu hantu Kemala nampak melayang mendekati arena pertempuran. Ia berdiri diantara Yusi dan pak Tuo yang langsung menghentikan pertempuran saat melihat hantu Kemala.
" Kemala..., apa itu Kau...?" tanya Yusi dengan suara bergetar.
" Iya. Apa kabar Mama...?" tanya hantu Kemala sambil menekankan kata mama.
" A... Aku baik...," sahut Yusi gugup.
" Meributkan benda laknat ini Mama...?" tanya hantu Kemala sambil memperlihatkan jimat itu di tangannya.
" Berikan padaku Nak...," pinta Yusi dengan wajah berbinar.
" Jangan...!" kata pak Tuo lantang sambil merangsek maju.
Namun terlambat. Hantu Kemala telah melempar jimat itu ke atas hingga membuat Yusi dan pak Tuo berlomba meraihnya. Dan hantu Kemala nampak mulai berhitung hingga membuat Aruna bingung.
" Satu... dua... tiga...," gumam hantu Kemala.
" Duaarrr... duaarrr...!"
Jimat yang diperebutkan Yusi dan pak Tuo meledak hingga menimbulkan suara yang memekakkan telinga. Cahaya menyilaukan disusul api pun langsung menyambar orang terdekat yaitu Yusi dan pak Tuo yang memang tengah memperebutkan benda itu.
Dalam sekejap tubuh Yusi dan pak Tuo terbakar hebat. Keduanya menjerit kesakitan sambil berlarian ke sana kemari.
Aruna nampak mematung di tempat menyaksikan bagaimana tubuh Yusi dan pak Tuo habis dilalap si jago merah. Meski pun tubuh keduanya ditelan api yang berkobar, keduanya tetap hidup dalam keadaan utuh sambil menjerit kesakitan.
Sesaat kemudian Aruna tersadar dan segera memanfaatkan waktu yang tersisa untuk mengantar Kemala dan teman-temannya menyebrang dimensi.
" Terima kasih Aruna. Hanya Tuhan saja yang bisa membalas jasamu ini...," kata hantu Kemala dengan mata berkaca-kaca.
" Sama-sama Kemala. Hanya ini yang bisa Kulakukan saat ini. Insya Allah akan Aku lakukan yang terbaik untuk Kalian nanti. Pergi lah dengan tenang dan selamat jalan...," sahut Aruna.
Hantu Kemala dan teman-temannya nampak berdiri menghadap Aruna sambil membungkukkan tubuh.
Setelahnya mereka nampak saling menatap sambil tersenyum.
Hantu Kemala dan teman-temannya saling bergandengan tangan. Lalu perlahan melayang ke atas disertai perubahan wujud mereka ke saat dimana mereka tampil dengan penampilan terbaik.
Sebuah cahaya putih keperakan nampak menjemput Kemala dan teman-temannya lalu melesat pergi dan hilang begitu saja.
Aruna mengira semuanya telah berakhir. Ternyata kejadian mengejutkan pun kembali terjadi hingga membuat Aruna menganga tak percaya.
bersambung
__ADS_1