Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
285. Siapa Mukhlis


__ADS_3

Kautsar terus menatap kearah sosok Mukhlis yang baru saja melintas itu. Kautsar melihat Mukhlis berhenti di depan meja tempatnya bekerja saat masih hidup dulu dan berdiri di sana untuk beberapa saat. Beruntung belum banyak karyawan yang hadir, hingga tak perlu khawatir mereka akan menjerit ketakutan.


Kautsar menahan nafas saat Mukhlis menoleh kearahnya lalu membuka mulut seolah ingin mengatakan sesuatu.


Dan di saat bersamaan ponsel Kautsar berdering. Kautsar yang masih terpana menatap Mukhlis itu nampak tak menggubris ponselnya yang terus berdering. Hal itu membuat Reyhan mengerutkan keningnya lalu menepuk punggung Kautsar dengan keras.


" Woooii !. HP Lo bunyi tuh, bengong aja dari tadi...!" kata Reyhan lantang hingga mengejutkan Kautsar.


Kautsar tergagap lalu bergegas meraih ponsel yang masih disimpannya di dalam tas. Ia nampak tersenyum saat mengetahui siapa yang menghubungi sepagi ini. Reyhan yang berdiri di sampingnya terlihat mencibir lalu menjauh karena tak ingin menjadi pengganggu pasangan yang sedang bahagia itu.


" Assalamualaikum Sayang...," sapa Kautsar.


" Wa alaikumsalam...," sahut Aruna dari seberang telepon.


" Tumben telephon Aku sepagi ini. Kangen ya sama Aku...," kata Kautsar sambil tersenyum usil.


" Ck, Kamu tuh ya. Iya sih Aku emang kangen sama Kamu, tapi Aku telephon bukan karena itu. Ada hal lain yang perlu Aku tanyain. Kamu dimana sekarang, Kamu baik-baik aja kan...?" tanya Aruna cemas.


" Alhamdulillah Aku baik-baik aja kok. Aku di kantor sekarang...," sahut Kautsar sambil mengerutkan keningnya karena bingung dengan pertanyaan Aruna.


" Oh gitu. Mmm..., selain Kamu ada siapa di situ...?" tanya Aruna.


" Tadi sih ada Reyhan, tapi udah cabut waktu tau Kamu yang nelepon Aku. Sekarang Aku sendirian. Ada apa sih Sayang...?" tanya Kautsar penasaran.


" Aku baru aja dapat penglihatan. Sedikit aneh makanya Aku mau mastiin aja sama Kamu...," sahut Aruna.


" Mastiin apa...?" tanya Kautsar tak sabar.


" Mukhlis yang Kamu bilang teman Kamu itu...," sahut Aruna menggantung.

__ADS_1


" Kenapa sama Mukhlis...?" potong Kautsar cepat sambil menatap kearah meja dimana sosok Mukhlis berdiri tadi.


" Apa dia datang ke kantor pagi ini...?" tanya Aruna hati-hati namun membuat Kautsar terkejut.


" Kamu tau juga kalo dia datang ke sini pagi ini Sayang ?. Ya Allah, kenapa bisa pas banget sih. Asal Kamu tau ya, Aku baru aja ngeliat sosoknya melintas di belakang Reyhan. Dia melayang pelan ke meja bekas tempatnya kerja dulu. Yang bikin Aku ga nyaman karena dia nengok ke arahku terus buka mulut kaya mau ngomong sesuatu...," sahut Kautsar sambil berbisik.


" Terus...?" tanya Aruna.


" Terus dia ngilang ga tau kemana sekarang. Itu gara-gara Reyhan ngasih tau kalo ada yang telephon. Tapi caranya yang ngagetin itu bikin Mukhlis hilang dari pandanganku..., " sahut Kautsar.


Ucapan Kautsar membuat Aruna tersenyum. Namun ia merasa tenang karena arwah Mukhlis tak melakukan apa pun pada suaminya.


" Jadi apa artinya semua ini Sayang...?" tanya Kautsar.


" Keliatannya ada sesuatu yang ingin dia sampaikan...," sahut Aruna.


" Mungkin karena baginya Kamu adalah orang yang baik dan tulus. Makanya dia merasa jika Kamu bisa membantunya. Apa semasa hidupnya hubungan Kalian cukup dekat...?" tanya Aruna.


" Ga juga. Mukhlis itu orangnya tertutup tapi lumayan ramah sih kalo sama Aku. Soalnya dia sering nyapa Aku kalo pas Aku ga sengaja lewat. Makanya Aku juga sering nyapa dia. Ga pernah ada obrolan penting diantara Kami. Hanya sekedar basa basi aja. Tapi Reyhan malah bingung ngeliat Aku bisa dekat sama Muklis dan ngobrol banyak hal. Padahal kata Reyhan si Mukhlis ga seramah itu sama dia atau teman-teman lainnya...," sahut Kautsar.


" Gitu ya. Terus apa ada yang spesial dari obrolan Kalian yang Kamu bilang sekedar basa basi itu...?" tanya Aruna.


" Aku lupa Sayang. Kan itu udah lumayan lama. Kejadiannya sebelum Mukhlis meninggal dunia...," sahut Kautsar.


" Coba ingat-ingat deh. Soalnya jawaban Kamu juga sedikit banyak bisa mengungkap misteri yang melingkupi Mukhlis saat ini. Atau gini, penyebab Mukhlis meninggal apa ?. Sakit kah, kecelakaan atau sebab lain...?" tanya Aruna.


" Mukhlis meninggal karena sakit. Waktu itu dia ga masuk kerja selama dua hari. Seorang teman mencoba mencari tau dan akhirnya datang ke rumah kontrakannya. Pas tiba di sana dia ngeliat banyak warga berkumpul di depan rumah Mukhlis. Rupanya Mukhlis ditemukan tak bernyawa di kontrakannya oleh warga sekitar...," sahut Kautsar.


" Apa hanya itu penyebab kematiannya...?" tanya Aruna.

__ADS_1


" Setau Aku sih emang cuma itu...," sahut Kautsar.


" Ok. Aku rasa info ini cukup. Makasih ya. Sekarang silakan lanjutkan pekerjaanmu dan selamat bekerja Sayang...," kata Aruna.


" Siap. Aku tutup ya, Assalamualaikum..., " kata Kautsar di akhir kalimatnya.


Sesaat kemudian Kautsar melihat karyawan yang menempati meja Mukhlis tiba lalu duduk di sana. Lagi-lagi Kautsar menghela nafas karena melihat sosok Mukhlis berdiri di depan meja seperti tadi. Tak ingin terpengaruh, Kautsar memilih mulai menyibukkan diri dengan pekerjaannya.


Sementara itu Aruna sedang memegang kartu undangan pernikahan Gladys dan Mukhlis. Ia mengamati nama pasangan pengantin yang tertera di kartu undangan itu dengan seksama.


Beberapa menit yang lalu Aruna tak sengaja melihat kartu undangan itu di lantai dekat meja rias. Entah bagaimana bisa sampai di sana, tapi saat itu Aruna tengah menyisir rambut sambil bercermin. Kemudian Aruna meraih kartu undangan yang terbuka itu. Saat itu lah Aruna melihat sekelebat peristiwa menarik di kepalanya.


Aruna mengerutkan keningnya karena merasa jika apa yang dilihatnya saat itu tak ada sangkut pautnya dengan dirinya.


Dalam kelebatan peristiwa itu Aruna melihat sosok pria berpakaian rapi tengah berdiri di ambang pintu rumahnya. Pria itu berwajah tirus, berambut lurus dengan kulit berwarna sawo matang. Pria itu terlihat menoleh ke kanan dan ke kiri seolah sedang menghindari sesuatu. Setelah yakin jika yang dikhawatirkan tak akan melintas, pria itu bergegas pergi.


Kemudian Aruna melihat ada seorang wanita yang masuk ke dalam rumah pria itu. Nampaknya wanita itu memiliki kunci cadangan sehingga bisa dengan mudah masuk ke dalam rumah. Wanita itu juga menoleh ke kanan dan ke kiri seolah berharap aksinya tak diketahui oleh siapa pun.


Setelah yakin tak ada yang melihat aksinya, wanita itu menerobos masuk ke dalam rumah sambil mengunci pintu. Wanita itu nampak tersenyum sambil mengusap semua perabotan di dalam rumah itu. Kemudian wanita itu meraih sebuah foto dan mengusapnya secara perlahan. Terlihat penuh perasaan, berbeda dengan saat ia mengusap semua perabotan di rumah itu tadi.


" Mukhlis. Bagaimana pun caranya, Kamu harus jadi milikku...," kata wanita itu sambil menyeringai penuh makna.


Aruna terkejut saat mengetahui pria yang dilihatnya tadi adalah Mukhlis. Aruna menduga jika wanita itu adalah Gladys, calon istri Mukhlis. Tapi nampaknya Aruna salah.


Karena jika wanita itu adalah calon istri Mukhlis, ia tak perlu melakukan sesuatu yang justru membahayakan jiwa Mukhlis. Karena Aruna melihat wanita itu melakukan sesuatu. Ia nampak menuangkan bubuk putih ke dalam penampungan air di dapur Mukhlis. Air itu biasanya dipakai Mukhlis untuk menyeduh kopi atau mie instant setelah sebelumnya dimasak terlebih dulu.


Setelah menuang bubuk putih wanita itu bergegas pergi meninggalkan rumah Mukhlis. Setelahnya Aruna melihat bagaimana Mukhlis memegangi perutnya. Wajah pria itu pucat dan sedikit membiru. Saat itu Aruna melihat jika Mukhlis mencoba menghubungi Kautsar. Dan itu lah yang membuatnya segera menghubungi Kautsar tadi.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2