
Penyelidikan yang dilakukan pihak kepolisian secara marathon terhadap kasus di penginapan Yusi pun membuahkan hasil. Amar dan Zaldi yang sempat dikira buron datang menyerahkan diri didampingi pengacara pribadi Mansur yang bernama Ben.
Setelah menjalani pemeriksaan, Amar dan Zaldi ditetapkan sebagai tersangka karena terlibat dalam usaha melukai para pengunjung penginapan.
Zaldi dan Amar terlihat pasrah saat mereka dibawa ke dalam sel tahanan.
" Yang sabar ya Mas Zaldi, Mas Amar...," kata Ben sambil menepuk pundak Amar dan Zaldi bergantian.
" Iya Bang. Habis mau gimana lagi. Kami juga ga bisa lari. Ada keluarga yang nunggu Kami di rumah. Kasian mereka. Lagian Kami juga ga bisa jauh dari keluarga...," sahut Zaldi sambil tersenyum kecut.
" Kewajiban Kalian adalah mempertanggung jawabkan perbuatan Kalian. Soal nafkah keluarga Kalian ga perlu khawatir karena Pak Mansur bersedia menanggungnya selama Kalian dalam tahanan. Nanti setelah Kalian bebas, Kalian bisa bekerja di perusahaan beliau...," kata Ben meyakinkan.
" Iya Bang, makasih...," sahut Zaldi dengan mata berkaca-kaca.
" Tolong sampaikan rasa terima kasih Kami sama Pak Mansur ya Bang. Beliau emang orang baik. Kami nyesel karena hampir membunuhnya dulu...," kata Amar dengan penuh rasa sesal.
" Insya Allah akan Saya sampaikan. Sekarang Saya pergi dulu buat ngurus kasus ini...," pamit Ben yang diangguki Amar dan Zaldi.
\=\=\=\=\=
Di sebuah ruangan terlihat seorang wanita nampak duduk menunduk di lantai yang dingin. Rambutnya yang tergerai nampak kusut. Pakaian yang ia kenakan layaknya pakaian seragam di sebuah Rumah Sakit. Hanya kulit pucatnya yang membedakan dia dengan pasien lainnya.
Wanita itu mendongakkan wajahnya saat pintu ruangan terbuka. Sebuah sapaan ramah dari perawat membuat wanita itu tersenyum tipis.
" Selamat malam Nyonya Shofia. Waktunya makan malam dan minum obat ya...," kata sang perawat sambil tersenyum.
" Makan dan minum obat...," ulang Shofia lirih.
" Iya betul. Nyonya Shofia harus makan biar sehat dan minum obat supaya cepet sembuh...," kata sang perawat sambil meletakkan nampan berisi makan malam Shofia di atas meja.
" Kalo udah sembuh terus ngapain...?" tanya Shofia.
" Nyonya Shofia bisa pulang dan berkumpul sama keluarga lagi...," sahut sang perawat sambil mulai menyuapi Shofia.
__ADS_1
" Keluarga...?" tanya Shofia ragu.
" Iya keluarga. Emang Nyonya Shofia ga mau kumpul sama keluarga lagi, ga kangen sama mereka...?" tanya sang perawat hati-hati.
" Saya ga punya keluarga...," sahut Shofia ketus sambil membuang pandangannya kearah jendela kamar.
" Maaf, Saya ga tau...," kata sang perawat salah tingkah.
Shofia tak menjawab dan memilih diam. Selanjutnya ia menghabiskan makan malamnya tanpa mau bicara lagi. Sang perawat nampak berhati-hati memberikan obat karena khawatir Shofia akan mengamuk lagi.
" Setelah ini Nyonya Shofia bisa istirahat...," kata sang perawat sambil bersiap keluar kamar.
" Istirahat maksudnya tidur...?" tanya Shofia sambil menatap sang perawat dengan lekat.
" Iya tidur...," sahut sang perawat.
" Baik lah. Tapi Saya ga bisa tidur. Saya bisa tidur kalo Suster mau membacakan buku dongeng Snow White...," rengek Shofia hingga membuat sang perawat hampir tertawa.
Bagaimana tidak. Di usianya yang dewasa bahkan bisa dikatakan matang, Shofia masih memimpikan dirinya menjadi tuan putri. Namun saat teringat jika wanita di hadapannya itu adalah pasien Rumah Sakit Jiwa, sang perawat pun mengangguk cepat.
" Ok, tapi jangan lama-lama ya Sus...," pinta Shofia.
" Iya...," sahut sang perawat sambil tersenyum.
Kemudian perawat itu bergegas keluar dan kembali beberapa saat kemudian.
Shofia nampak mendengar kan cerita yang dibacakan oleh sang perawat dengan seksama. Sesekali ia tersenyum saat mendengar sang perawat membuat suara lucu. Lima belas menit kemudian Shofia pun tampak tertidur.
Perawat itu merapikan selimut Shofia lalu keluar dari kamar sambil mengulum senyum.
Setelah perawat keluar dari kamar, Shofia membuka matanya lalu menyibak selimut dengan kasar. Kemudian ia bangkit menuju jendela dan mengamati suasana di luar jendela.
" Aku ga g*la. Siapa yang mengirim ku ke Rumah Sakit ini...," gumam Shofia sambil mengepalkan tangannya.
__ADS_1
Dari balik jendela Shofia bisa melihat keadaan halaman Rumah Sakit yang lengang saat malam hari. Shofia nampak tersenyum tipis lalu kembali ke atas tempat tidur.
Shofia kembali merebahkan tubuhnya dan mencoba mengingat kejadian yang membuat nya berada di Rumah Sakit Jiwa itu.
Shofia ingat jika ia hampir menguasai Kautsar. Namun sayang, di saat ia hampir mendapatkan keinginannya sesosok monster masuk dan mengacaukan segalanya.
Shofia juga ingat apa yang diucapkan monster itu dan bagaimana cara monster itu menatap Kautsar. Shofia yakin pernah melihat sorot mata itu. Dan Shofia tahu siapa pemilik kedua sorot mata itu.
" Dia pasti si ja*ang kecil itu. Ternyata perempuan itu memiliki rahasia besar yang sangat menyeramkan. Bagaimana reaksinya kalo Kautsar tau tentang ini. Malu, marah atau frustasi ?. Aku pastikan dia bakal menderita kehilangan Kautsar...," gumam Shofia sambil menggenggam seprai.
Kemudian Shofia meraih cermin kecil dari atas meja Ialu menatap pantulan wajahnya di cermin itu. Shofia nampak menjerit marah saat melihat bekas guratan memanjang di hampir seluruh bagian wajahnya. Kemudian Shofia melempar cermin itu ke lantai hingga hancur berkeping-keping.
" Tunggu pembalasanku Aruna. Liat saja. Saat Kau tau siapa Aku sesungguhnya, maka Kau akan memilih lari dibandingkan berhadapan denganku Aruna...!" kata Shofia lalu tertawa keras.
Dari ruang monitor terlihat dua orang perawat dan satu orang dokter tengah mengamati pergerakan Shofia dan beberapa pasien lainnya. Shofia memang menjadi salah satu pasien istimewa karena latar belakang keluarganya. Selain itu pengacara pribadi Shofia telah membayar mahal usaha pemulihan Shofia di Rumah Sakit Jiwa itu.
" Keliatannya dia mulai bisa mengenali dirinya dok...," kata salah satu perawat.
" Betul Sus. Bahkan Saya liat dia sudah bisa mengingat semuanya. Liat kan gimana reaksinya saat melihat cermin. Itu artinya memory yang sempat hilang telah kembali. Dan kalo kondisinya terus stabil kaya gini Saya jamin Nyonya Shofia bisa keluar lebih cepat dari waktu yang ditentukan...," sahut sang dokter sambil tersenyum.
" Wah, artinya misi Kita berhasil dok...?" tanya salah seorang perawat.
" Betul...," sahut sang dokter.
" Berarti Kita bakal dapat bonus gede dong dok...," kata perawat lain penuh harap.
" Harusnya sih gitu. Itu juga kalo pengacaranya Nyonya Shofia ga lupa...," sahut sang dokter sambil berjalan keluar dari ruang monitor.
" Kalo Nyonya Shofia dinyatakan sembuh, dia bakal pulang kemana dok...?" tanya salah seorang perawat.
" Itu bukan urusan Kita lagi Sus. Kan ada pengacara pribadinya yang ngurusin semuanya. Kenapa Kamu nanya kaya gitu...?" tanya sang dokter.
" Mmm, soalnya waktu Saya ngasih makan tadi Nyonya Shofia bilang kalo dia udah ga punya keluarga lagi dok...," sahut sang perawat.
__ADS_1
Sang dokter nampak mengerutkan keningnya karena ia tahu persis siapa keluarga Shofia. Tapi harus diakui, sejak Shofia dirawat di Rumah Sakit itu tak satu pun keluarganya terlihat menjenguk. Bahkan pengacara pribadinya pun hanya datang sesekali. Shofia seperti sengaja diasingkan ke Rumah Sakit itu. Dan itu membuat sang dokter prihatin pada nasib Shofia.
bersambung