Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
235. Ada Bapak...


__ADS_3

Wujud manusia serigala Kalisha yang terkapar di lantai perlahan mulai berubah. Tubuhnya yang besar pun sedikit demi sedikit menyusut, wajah serigala nya perlahan kembali ke wajah aslinya, bulu yang tumbuh di sekujur kulitnya pun memudar dan hilang sama sekali.


Kini tepat di bawah kaki Aruna terlihat sosok Kalisha yang mengenaskan dengan pakaian yang robek di sana sini. Tak ada lagi manusia serigala besar yang buas seperti tadi. Ia nampak meringis kesakitan dan tanpa suara.


Aruna pun bersimpuh di samping tubuh Kalisha yang sekarat. Ada rasa iba yang menyergap hatinya melihat kondisi Kalisha saat itu.


" A... ru... na...," panggil Kalisha lirih sambil mengulurkan tangannya kearah Aruna.


" Iya Kalisha...," sahut Aruna sambil meyambut uluran tangan Kalisha dan menggenggamnya erat.


" Ma... af...," kata Kalisha dengan nafas yang mulai tersengal-sengal.


Aruna hanya mengangguk sambil tersenyum. Aruna ingin bersikap egois dan mengatakan jika ia sama sekali tak bisa memaafkan Kalisha. Apalagi Kalisha berusaha membunuh Kautsar, suami sekaligus ayah dari bayi yang dikandungnya.


Air mata Kalisha pun luruh satu per satu. Aruna mengusap air mata Kalisha dengan ujung jarinya tanpa bicara sepatah kata pun.


" Di... ngiinn...," rintih Kalisha.


Aruna pun langsung memeluk Kalisha. Air mata yang sejak tadi ditahannya pun luruh sudah. Aruna menangis sambil memeluk tubuh Kalisha yang berangsur-angsur mulai membeku.


Di saat seperti itu Kalisha seolah melihat kelebatan bayangan Komar, pria yang telah ia bunuh dulu, tengah melintas di depannya. Kalisha nampak antusias karena mengira semua yang dilihatnya adalah nyata.


" Baa... paakk..., Aru... na a... da Ba... paakk...," kata Kalisha terbata-bata sambil menunjuk kearah bayangan Komar yang berdiri membelakanginya.


" Iya Kalisha. Pak Komar datang untuk menjemputmu...," sahut Aruna dengan suara bergetar.


Aruna terpaksa mengiyakan ucapan Kalisha karena sadar jika umur Kalisha tak akan lama lagi.


Kalisha nampak tersenyum mendengar ucapan Aruna. Sedetik kemudian senyum Kalisha memudar. Bersamaan dengan itu arwah Kalisha pun pergi meninggalkan raganya. Kalisha meninggal dalam kondisi mata terbuka dengan tatapan kosong dan wajah memucat.


Melihat hal itu Aruna mengucap istirja dalam hati lalu membisikkan sesuatu ke telinga Kalisha.


" Pergi lah Kalisha. Satu penyesalanku tentangmu adalah Kita harus berakhir sebagai musuh. Padahal ada banyak hal indah yang pernah Kita lalui bersama saat Kita berteman dulu...," bisik Aruna.


Untuk sejenak keheningan pun menyelimuti ruangan itu. Sambil menatap wajah Kalisha, ingatan Aruna kembali ke masa kebersamaannya dengan Kalisha dulu. Aruna nampak menghela nafas panjang. Ia tak menyangka jika perjumpaannya dengan Kalisha setelah beberapa tahun berpisah harus berakhir pilu.

__ADS_1


Matilda pun mendekati Aruna lalu menarik tangannya dengan lembut agar menjauh dari jasad Kalisha. Aruna pun mengangguk lalu menepi untuk memberi kesempatan pada George melakukan tugasnya.


Sementara itu di teras rumah Kalisha terlihat Ria yang duduk dengan tubuh gemetar. Air mata mengalir deras di wajah cantiknya. Ria mulai berpikir jika telah terjadi sesuatu yang buruk pada Aruna. Apalagi ia sempat mendengar suara raungan yang ia yakini berasal dari monster yang bertempur dengan Aruna tadi.


" Apa Aruna mati dimakan sama monster itu ?. Ya Allah, tolong lindungi Aruna. Selamatkan dia dari monster itu. Meski pun kadang menyebalkan tapi Aruna itu adalah teman terbaik yang Aku punya Ya Allah. Tolong selamatkan Kami dari tempat ini ya Allah...," doa Ria sambil menadahkan tangannya.


" Aamiin...," sahut Aruna dari belakang tubuh Ria hingga mengejutkan Ria.


" Aruna...!" panggil Ria lantang lalu bangkit dan langsung memeluk Aruna.


Tangis Ria pun pecah saat ia berhasil memeluk Aruna. Sedangkan Aruna hanya tersenyum sambil mengusap punggung Ria dengan lembut.


" Keterlaluan Lo. Tau ga sih kalo Gue khawatir dari tadi. Bukannya minta maaf malah senyum-senyum aja Lo...!" kata Ria kesal sambil memukul lengan Aruna hingga membuat Aruna mendelik kesakitan.


" Iya iya, sorry ya...," kata Aruna.


" Tau ah...!" sahut Ria sambil melengos hingga membuat Aruna tertawa.


Tiba-tiba Ria kembali memutar kepalanya untuk menatap Aruna.


" Iya...," sahut Aruna singkat.


" Lo yang ngalahin dia Run, sendirian...?" tanya Ria.


" Ga sendiri. Gue dibantuin Om George dan Tante Matilda...," sahut Aruna.


" Wah hebat. Gue salut sama Kalian yang bisa saling mendukung menghadapi monster itu..


," kata Ria sambil mengacungkan kedua ibu jarinya.


" Biasa aja kok...," sahut Aruna dengan enggan.


" Itu ga biasa Run. Pasti Om dan Tante Lo itu...," ucapan Ria terputus saat Matilda mengusap wajahnya.


Sesaat kemudian tubuh Ria merosot ke tanah. Beruntung George sigap menangkap tubuh Ria dan meletakkannya di teras rumah. Kemudian George menyentuh kepala Ria sambil membacakan sesuatu yang bisa membuat Ria lupa akan semua yang dialaminya malam itu.

__ADS_1


" Apa ini akan berhasil Om...?" tanya Aruna.


" Kamu tenang aja Nak. Insya Allah Ria tak akan ingat semua kejadian malam ini. Termasuk pertempuran Kamu dan Kalisha tadi...," sahut George.


" Oh syukur lah kalo begitu. Aku juga ga mau Ria mengingat semuanya Om...," kata Aruna.


" Setelah ini Kita harus segera mengembalikan Ria ke rumahnya sebelum dia siuman...," kata Matilda.


" Biar Aku urus semuanya nanti. Sekarang tolong Kamu antar Aruna pulang ya Sayang...," pinta George sambil menatap Matilda.


" Ok. Tapi Kamu hati-hati ya. Kalo udah selesai, cepet susul Aku di tempat biasa...," kata Matilda.


" Ok Sayang...," sahut George sambil tersenyum hingga membuat Aruna memutar bola matanya karena kesal mendengar pembicaraan mesra George dan Matilda.


Matilda dan George pun tertawa melihat sikap Aruna. Dalam hitungan detik mereka berpisah dan pergi kearah yang berbeda.


\=\=\=\=\=


Ria terbangun di kamarnya. Ia membuka mata lalu duduk dan mengedarkan pandangan ke penjuru kamar seolah merasa asing.


" Alhamdulillah ternyata cuma mimpi...," gumam Ria sambil mengusap wajahnya.


Kemudian Ria turun dari tempat tidur saat mendengar suara langkah kaki di luar rumah. Dari balik jendela di kamarnya Ria bisa melihat kumpulan ibu-ibu yang sedang berbincang di tengah jalan persis di depan rumah kontrakannya.


" Ck, pagi-pagi udah pada stand by aja di situ. Aneh deh. Bukannya bikinin sarapan buat anak dan Suami di rumah, Eh malah lebih milih gibahin orang pagi-pagi begini...," gumam Ria sambil berdecak sebal.


Setelah menutup gorden jendela, Ria pun langsung menuju ke kamar mandi.


Begitu lah kegiatan Ria setiap pagi. Ria memang baru sebulan menghuni rumah kontrakannya itu. Alasan Ria pindah ke tempat itu adalah karena lokasi rumah itu tak terlalu jauh dari perusahaan Kakek Kenzo tempat dia magang selama ini.


Harga yang murah, rumah dan lingkungan yang bersih membuat Ria tertarik dengan rumah itu.


Namun rupanya keunggulan itu harus Ria tebus dengan menerima kenyataan jika teras rumahnya adalah 'markas ngerumpi' ibu-ibu yang tinggal di sekitarnya.


Setiap pagi Ria harus disuguhi sarapan berupa berkumpulnya para ibu di teras rumahnya untuk membahas banyak hal yang menurut Ria hanya hal receh dan tak masuk akal.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2