Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
303. Tugas Luar


__ADS_3

Hari itu menjadi salah satu hari paling membahagiakan untuk Rasyid. Bagaimana tidak. Setelah beberapa bulan bersabar menunggu jawaban, akhirnya hari itu dokter Sheina menerima pinangan Rasyid.


Hal itu berlangsung saat keduanya tengah menghabiskan waktu libur mereka di sebuah tempat wisata. Rasyid sengaja mengajak sang kekasih ke sana karena ingin mengatakan jika dirinya akan ditugaskan ke kota lain dalam waktu dekat.


" Liat anak yang di sana, lucu ya...," kata Rasyid sambil menunjuk beberapa anak kecil yang tengah bermain.


" Iya lucu. Aku jadi pengen punya anak juga...," sahut dokter Sheina lirih.


Meski pun lirih namun terdengar jelas di telinga Rasyid dan itu membuatnya terkejut. Kemudian Rasyid menoleh kebelakang dan melihat dokter Sheina tengah menatap gerombolan anak kecil yang berlarian tak jauh dari tempat mereka duduk.


" Kamu bilang apa Sayang...?" tanya Rasyid hati-hati.


" Aku...?" tanya dokter Sheina tak mengerti.


" Iya Kamu...," sahut Rasyid.


" Oh itu. Kamu kan bilang kalo anak-anak itu lucu. Terus Aku jawab iya, emang lucu kok...," sahut dokter Sheina sambil tersenyum.


" Tapi Kamu juga bilang hal lain tadi...," kata Rasyid tak sabar.


" Iya. Aku bilang Aku juga mau punya anak yang lucu kaya mereka. Emang salah ya...?" tanya dokter Sheina sambil mengerutkan keningnya.


" Ga salah sih. Tapi apa itu artinya Kamu siap buat mengandung...?" tanya Rasyid.


" Mmm..., punya anak kan ga harus mengandung. Kita bisa adopsi kalo mau...," sahut dokter Sheina sambil membuang tatapannya kearah lain.


" Oh gitu. Aku Kirain Kamu ngasih kode sama Aku...," kata Rasyid sedikit kecewa.


" Ngasih kode apa maksudmu...?" tanya dokter Sheina.


" Gini lho Sayang. Kalo punya anak yang bener itu kan harus ada proses pernikahan dulu. Nah artinya Kamu siap untuk menikah. Dan orang yang selama ini ngejar Kamu dan ngajak Kamu nikah di sini kan cuma Aku. Jadi Aku pikir Kamu lagi ngasih kode kalo Kamu nerima lamaran Aku yang entah udah ke berapa kalinya itu...," sahut Rasyid sambil membulatkan bibirnya.


Ucapan Rasyid membuat dokter Sheina tertawa. Rasyid pun ikut tertawa karena sadar telah terbawa perasaan.


" Tapi yang Kamu bilang emang bener kok Sayang...," kata dokter Sheina di sela tawanya.

__ADS_1


Rasyid terkejut lalu menatap sang kekasih dalam-dalam.


" Maksud Kamu, lamaranku diterima...?" tanya Rasyid hati-hati.


" Iya...," sahut dokter Sheina sambil tersenyum.


" Kamu serius Shei...?" tanya Rasyid tak percaya.


" Iya iya iya...," sahut dokter Sheina berulang kali hingga membuat Rasyid terharu.


Kemudian Rasyid menarik tubuh dokter Sheina ke dalam pelukannya dan menghujaninya dengan ciuman hingga sang kekasih nampak tertawa.


" Terima kasih Shei. Aku janji ga bakal bikin Kamu kecewa...," kata Rasyid sungguh-sungguh.


" Iya Aku percaya...," sahut dokter Sheina sambil tersenyum.


" Kalo gitu sebelum Aku berangkat tugas Kita bisa urus semua dokumen yang diperlukan. Jadi pas Aku balik Kita bisa langsung menikah. Iya kan Sayang...," kata Rasyid dengan suara bergetar.


Ucapan Rasyid mengejutkan dokter Sheina. Ia mengurai pelukan Rasyid lalu bertanya karena khawatir salah mendengar tadi.


" Iya. Aku emang mau ditugaskan ke Papua untuk beberapa waktu. Rencananya Aku mau pamit sama Kamu sekaligus mastiin hubungan Kita ini. Tapi malah keduluan sama Kamu. Dan Kamu tau, apa yang Kamu bilang tadi bikin Aku tambah semangat lho Sayang...," kata Rasyid antusias.


Melihat wajah berbinar Rasyid membuat dokter Sheina kecewa.


" Kamu kenapa Sayang...?" tanya Rasyid.


" Jadi Kamu ngajakin jalan bareng hari ini karena mau bilang kaya gitu Syid ?. Kalo tau bakal ditinggal lebih baik Aku ga bilang apa-apa tadi...," sahut dokter Sheina sambil melangkah meninggalkan Rasyid.


" Tunggu Shei !. Kok, jadi gini sih...," gumam Rasyid sambil memarkirkan motornya.


Dokter Sheina nampak mengusap wajahnya yang basah karena air mata. Entah mengapa ia merasa telah melakukan hal bodoh dengan menerima pinangan Rasyid.


" Ngapain pake ngasih harapan kalo ujungnya ditinggal juga...," gumam dokter Sheina.


" Aku ga bakal ninggalin Kamu Shei..." kata Rasyid sambil menyentuh bahu sang kekasih dari belakang.

__ADS_1


" Lepasin Syid. Aku nyesel udah bilang kaya gitu tadi...!" kata dokter Sheina sambil menepis tangan Rasyid.


" Jangan dong Shei...!" kata Rasyid cepat.


" Jangan apa...?" tanya dokter Sheina tak mengerti.


" Jangan nyesel udah nerima lamaran Aku. Ini kan udah lama banget Aku tunggu Shei...," kata Rasyid dengan wajah memelas.


" Tapi Kamu bohongin Aku Syid. Dan Aku ga suka dibohongin...!" kata dokter Sheina marah.


" Aku ga bohong kok Shei. Aku emang ditugasin ke Papua. Cuma sebentar kok, paling lama enam bulan. Makanya Kita urus dokumen pernikahan Kita sebelum Aku berangkat tugas biar nanti pas selesai tugas Kita bisa langsung nikah. Kan prosesnya juga lumayan lama tuh. Nah sambil nunggu dokumen pernikahan Kita disetujui, Aku bisa lanjutin tugas Aku dan Kamu lanjutin kerjaan Kamu. Adil kan...?" tanya Rasyid sambil menatap dokter Sheina dengan lekat.


" Jadi begitu...," sahut dokter Sheina sambil menundukkan kepalanya.


" Iya, emang gitu kok...," kata Rasyid cepat.


Untuk sejenak Rasyid dan dokter Sheina saling menatap dalam diam. Rasyid mengulurkan tangannya untuk menyentuh anak rambut di kening sang kekasih.


" Aku ga sabar nikah sama Kamu Shei. Impian terbesarku adalah menikahi wanita yang Aku cintai dan mau menerima Aku apa adanya. Dan wanita itu adalah Kamu. Mengenal Kamu membuat semangatku tumbuh. Aku selalu punya motivasi yang membuatku berusaha melakukan yang terbaik, terus dan terus. Setiap pagi Aku punya target yang harus Aku capai yaitu membuat Kamu tertawa. Terkesan berlebihan tapi itu memang kenyataan Shei...," kata Rasyid hingga membuat dokter Sheina terharu.


" Sepenting itu Aku bagimu Rasyid...?" tanya dokter Sheina dengan mata berkaca-kaca.


" Sangat penting. Makanya Aku ga lelah melamar Kamu walau ga pernah dijawab...," sahut Rasyid sambil tersenyum kecut.


" Tapi kan udah Aku jawab tadi...," protes dokter Sheina.


" Iya. Makasih ya Sayang. Janji kan mau menunggu Aku pulang...?" tanya Rasyid sambil mendekatkan wajahnya ke wajah sang kekasih.


" Asal Kamu ga mengkhianati Aku, Aku pasti menunggumu...," sahut dokter Sheina sambil mengangguk.


Rasyid tersenyum lalu mengecup pipi dokter Sheina dengan lembut. Setelahnya ia kembali memeluk dokter Sheina erat seolah tak ingin ia lepaskan selamanya. Dokter Sheina diam-diam tersenyum dalam pelukan Rasyid. Kebahagiaan juga menyelimuti hatinya. Ia berharap bisa menghabiskan sisa usianya bersama Rasyid walau ia tak tahu kapan usianya berakhir.


Dokter Sheina membuka matanya saat mengingat jika ia dan Rasyid berbeda dalam rentang usia. Namun pelukan Rasyid membuatnya ingin lupa sejenak tentang perbedaan dirinya yang manusia serigala dengan Rasyid yang hanya manusia biasa itu.


\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2