Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
45. Dia Lagi


__ADS_3

Aruna nampak sedang menunggu kendaraan umum di halte depan kampusnya. Aruna terpaksa pulang terlambat karena harus mengurus beberapa hal yang berkaitan dengan bea siswa yang diterimanya. Siang yang terik membuat pakaian Aruna basah dengan keringat. Aruna nampak mengibaskan buku yang dipegangnya untuk sedikit mengurangi hawa panas.


Tiba-tiba sebuah motor berhenti tepat di depannya hingga membuat Aruna terkejut lalu memundurkan tubuhnya satu langkah ke belakang.


“ Mau pulang kemana, ayo Gue anter...,” kata pria pengendara motor dari balik helm.


Aruna mengerutkan keningnya karena merasa tak mengenali si pengendara motor itu. Melihat sikap Aruna yang tak merespon ucapannya membuat pria itu berdecak sebal lalu membuka helmnya.


“ Ini Gue, Lo ga usah pura-pura ga kenal sama Gue ya Run...,” kata Kautsar hingga membuat Aruna membulatkan matanya.


“ Lo lagi. Ngapain sih di sini...?” tanya Aruna ketus sambil menatap ke kiri dan ke kanan seolah tak ingin ada yang melihatnya tengah bicara dengan Kautsar.


“ Lo cari siapa...?” tanya Kautsar.


“ Bukan siapa-siapa...,” sahut Aruna cepat.


“ Kalo ga nyari siapa-siapa ngapain nengok ke sana kemari...?” tanya Kautsar tak mengerti.


“ Gue cuma ga mau didamprat orang gara-gara ada yang ngeliat Gue lagi ngobrol sama bintang sekolah...,” sahut Aruna.


“ Ck, apaan sih Run. Ini bukan di Jakarta ya. Lagian Kita bukan anak SMA lagi. Sekarang Kita tuh udah jadi mahasiswa. Jadi please ya, dewasa lah sedikit. Jangan kaya anak-anak gitu...,” kata Kautsar sambil berdecak sebal.


Ucapan Kautsar membuat Aruna tersentak. Ia seolah lupa jika kini mereka tak lagi di sekolah.


“ Eh iya, sorry Gue lupa. Tapi Gue mau Lo ralat ucapan Lo yang tadi ya...,” kata Aruna.


“ Ucapan yang mana...?” tanya Kautsar tak mengerti.


“ Gue ga usah diminta buat jadi dewasa karena Gue juga bukan anak-anak...!” sahut Aruna galak.


Ucapan Aruna membuat Kautsar tertawa geli. Dengan gemas Kautsar mengacak rambut Aruna hingga membuat gadis itu bertambah marah.


“ Kaustar, songong Lo...!” jerit Aruna sambil menepis tangan Kautsar dengan kasar.


“ Sorry sorry. Abis Lo lucu banget sih. Ya udah buruan, mau Gue anterin pulang ga...?” tanya Kautsar lagi.


“ Ga usah, ga perlu...,” sahut Aruna sambil melengos.


“ Yakin...?” tanya Kautsar.


“ Iya lah. Ngapain sih nanya kaya gitu. Lo pikir Gue takut pulang sendiri. Gue datang ke kota ini juga sendirian. Lo bisa bayangain berapa jauhnya Jakarta ke Malang kan, dan Lo liat Gue baik-baik aja sampe sini. Jadi stop ngeremehin Gue...!” kata Aruna tak suka.


“ Iya iya. Ga usah marah-marah bisa ga. Gue kan cuma ga mau Lo nyasar. Ya udah Gue duluan deh. Assalamualaikum...,” pamit Kautsar sambil melajukan motornya membelah jalan raya meninggalkan Aruna yang berdiri sambil menatap kesal kearahnya.


“ Iiihh..., nyebelin banget sih. Siang-siang panas terik gini malah bikin emosi. Udah panas di luar panas juga di dalam ini namanya...,” gerutu Aruna.


Sedangkan Kautsar nampak tersenyum di atas motornya. Selama mengenal Aruna, baru kali ini Kautsar bisa bicara dalam durasi yang lumayan lama dan dengan kalimat yang panjang. Ternyata itu membuat Kautsar nyaman.


“ Ga nyangka ngobrol sama Lo ternyata seasik ini ya Run...,” gumam Kautsar sambil tersenyum.


\=====


Aruna dan Ria baru saja keluar dari kelas saat terdengar suara gaduh di koridor. Aruna dan Ria menoleh untuk melihat apa penyebab kegaduhan itu tapi tak ada apa pun di sana dan itu membuat keduanya bingung.


“ Lo denger apa yang Gue denger tadi kan Run...?” tanya Ria.


“ Iya...,” sahut Aruna cepat.


“ Menurut Lo suara apa itu...?” tanya Ria.


“ Ga tau, suara hantu kali...,” sahut Aruna asal.


“ Ish, jangan ngomong sembarangan dong Run. Gue takut nih...,” kata Ria sambil merapat kearah Aruna.


“ Kalian ngapain sih di sini...?” tanya Kenzo tiba-tiba hingga mengejutkan Aruna dan Ria.

__ADS_1


“ Ga usah ngagetin bisa ga sih...,” kata Ria kesal.


“ Ups sorry, Gue kan ga tau...,” sahut Kenzo.


Gubraakk...!.


Suara itu kembali terdengar dan lebih keras hingga membuat Kenzo, Aruna dan Ria saling menatap bingung.


“ Ruangan sebelah itu kan kosong ya, terus siapa dong yang bikin gaduh...?” tanya Kenzo.


“ Ga tau. Udah yuk Kita cabut aja dari sini...,” ajak Ria sambil menarik tangan Aruna agar menjauh dari tempat itu.


Jika Aruna dan Ria berjalan menjauh, tapi Kenzo justru tergerak untuk mendatangi ruangan itu. Namun sebelum langkahnya mencapai pintu ruangan yang dimaksud, sebuah suara tedengar mencegah niatnya itu dengan lantang.


“ Jangan masuk ke sana...!” kata seorang security.


“ Kenapa Pak...?” tanya Kenzo.


“ Gapapa, pokoknya jangan ke sana. Sebaiknya Kamu pergi aja dari sini...,” sahut pria itu dengan tegas.


Kenzo pun mengalah dan pergi dari tempat itu meski pun rasa penasaran masih mengendap di hatinya. Saat mencapai gerbang kampus, Kenzo kembali berpapasan dengan Aruna dan Ria.


“ Gimana Ken, ada apaan di sana...?” tanya Ria.


“ Ga jadi ngeliat. Ada security yang ngelarang masuk ke sana...,” sahut Kenzo setengah kesal.


“ Udah lah. Kan pepatah bilang dimana langit dijunjung disitu bumi dipijak. Setiap tempat punya rahasia termasuk kampus ini. Ga usah terlalu kepo, bahaya...,” kata Aruna mengingatkan.


“ Tapi Run...,” sela Ria yang tak menyelesaikan kalimatnya.


“ Tenang aja. Itu bukan apa-apa kok. Kita balik yuk...,” ajak Aruna yang diangguki Ria dan Kenzo.


\=====


Hari itu adalah hari terakhir masa Ospek bagi mahasiswa baru. Tidak seperti yang dikhawatirkan Aruna, ternyata Ospek di kampus tak mengedepankan hukuman fisik atau sesuatu yang mengancam keselamatan jiwa. Hukuman biasanya berupa membeli sesuatu dengan harga yang murah tapi lumayan sulit dicari seperti yang dialami Aruna.


“ Waktunya setengah jam ya...,” kata sang senior.


“ Siap Kak...,” sahut Aruna.


“ Nyarinya dimana Kak...?” tanya Ria.


“ Ga tau, cari aja sendiri. Harus kreatif lah, emangnya Kalian anak kecil. Gitu aja kok masih nanya...,” sahut sang senior sambil berlalu.


“ Ish, nyebelin banget sih...,” gerutu Ria.


“ Udah gapapa Ri, Gue keluar dulu ya...,” kata Aruna sambil berlari menuju gerbang kampus untuk membeli krupuk yang dimaksud.


Aruna memutuskan membeli krupuk yang dimaksud di pasar tradisional yang letaknya tak terlalu jauh dari kampus. Aruna butuh kendaraan, namun saat itu tak satu pun kendaraan umum yang lewat. Aruna mulai cemas dan berkali-kali melirik jam di pergelangan tangannya. Tiba-tiba Aruna melihat seorang pengendara motor yang baru saja menurunkan penumpangnya di depan gerbang kampus. Aruna yakin jika itu ojeg motor karena sang pengendara motor melajukan motornya kearah lain. Tanpa pikir panjang Aruna menghentikan motor itu lalu duduk di jok belakang.


“ Ojeg kan Mas. Tolong antar Saya ke pasar tradisional sekarang ya Mas...,” pinta Aruna.


Pengendara motor itu mematung sejenak sambil menoleh kearah Aruna yang duduk di belakangnya. Karena merasa tak ada pergerakan, Aruna menepuk punggung pria itu dan memintanya menjalankan motornya.


“ Kok bengong sih Mas, ayo jalan. Tenang aja, Saya bakal bayar mahal deh...!” kata Aruna setengah memaksa.


Pengendara motor itu mengangguk lalu melajukan motornya dengan kecepatan tinggi hingga mengejutkan Aruna. Gadis itu memekik kaget sambil mencengkeram jaket si pengendara ojeg.


“ Ya Allah, ga usah ngebut juga kali...,” kata Aruna tapi diabaikan oleh pengendara motor itu.


Dalam waktu lima menit mereka tiba di pasar tradisional. Sebelum turun dari motor, Aruna mengedarkan pandangannya ke penjuru pasar.


“ Cari apa sih Mbak...?” tanya sang pengendara motor dari balik helmnya.


“ Krupuk pasir Mas...,” sahut Aruna cepat.

__ADS_1


“ Oh, itu adanya di belakang pasar...,” kata sang pengendara motor.


“ Kalo gitu tolong antar Saya ke sana ya Mas...,” pinta Aruna yang diangguki sang pengendara motor.


Setelah mendapatkan krupuk yang dicari, Aruna nampak tersenyum senang. Ia sengaja membeli lima pak krupuk yang masing-masing berisi dua puluh bungkus krupuk.


“ Banyak banget Mbak...,” kata sang pengendara motor.


“ Biar senior Saya puas makan krupuk Mas. Lagian ini kan hari terakhir ospek, anggap aja ini hadian buat mereka...,” sahut Aruna.


Sang pengendara motor nampak menganggukkan kepalanya sambil tersenyum diam-diam.


\=====


Motor melaju dengan cepat menuju kampus. Aruna mengerutkan keningnya saat sang pengendara motor masuk gerbang kampus dengan santai padahal sebelumnya Aruna sudah meminta behenti di gerbang kampus.


Sang pengendara motor berhenti di pinggir lapangan dimana para mahasiswa baru tengah berkumpul.


“ Makasih Mas, ini ongkosnya...,” kata Aruna sambil mengulurkan dua lembar uang berwarna merah.


“ Ga usah Mbak...,” sahut  sang pengendara motor.


“ Tapi...,” ucapan Aruna terputus saat seorang senior mendekat kearahnya lalu menyapa sang pengendara motor.


“ Oohh..., jadi ini alasannya Lo ga langsung masuk tadi. Pasti Lo mau nganterin cewek ini nyari krupuk itu kan...?” tanya salah satu senior bernama Barri.


“ Ga sengaja, Gue ketemu dia di jalanan kok. Gue malah baru tau kalo dia lagi dihukum...,” sahut sang pengendara motor sambil membuka helmnya.


Aruna nampak tak enak hati. Apalagi saat mengetahui sang pengendara motor yang telah mengantarnya tadi adalah Kautsar. Aruna menoleh saat senior yang tadi menghukumnya sudah memanggil namanya berulang kali.


“ Maaf  Kak dan makasih ya...,” kata Aruna sambil menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada lalu bergegas bergabung dengan kelompoknya.


Kautsar dan Barri nampak saling menatap sambil tersenyum melihat Aruna yang berlari menjauh dengan wajah merona.


\=====


Aruna sedang berdiri di tepi jendela sambil menatap keluar rumah kost. Saat itu malam telah cukup larut namun Aruna belum bisa memejamkan mata.


“ Kenapa belum tidur...?” tanya Matilda dari atas pohon.


“ Ga bisa tidur...,” sahut Aruna sambil menghela nafas.


“ Mikirin apa, Kautsar ya...?” goda Matilda.


“ Ish, apaan sih Tante. Kenapa ngebahas dia lagi sih...,” sahut Aruna sambil melengos.


Matilda dan George tertawa melihat sikap Aruna. Sejak George memberi tahu Aruna jika dia diawasi oleh Kautsar atas perintah ayahnya, sejak itu lah Aruna makin tak nyaman jika berpapasan dengan Kautsar.


“ Ga usah terlalu galak gitu Nak, siapa tau Kamu justru membutuhkan bantuannya suatu saat nanti...,” kata George mengingatkan.


“ Kayanya ga mungkin deh Om. Kan udah ada Om sama Tante yang bakal bantuin Aku...,” sahut Aruna cepat.


“ Tapi ada hal-hal yang ga bisa Kami kerjain lho Run...,” kata Matilda.


“ Oh ya, misalnya apa...?” tanya Aruna.


“ Membantumu tetap sadar saat Kami juga mengalami perubahan wujud. Bagaimana Kami bisa membantumu sedangkan di saat bersamaan Kami juga sibuk menahan diri agar tak menyakiti orang lain...,” sahut George.


“ Mmm..., apa Kautsar juga tau siapa Aku...?” tanya Aruna cemas.


“ Kayanya belum. Dia hanya mengikutimu dari jauh dan ga tau persis apa yang Kamu lakukan...,” sahut George hingga membuat Aruna bernafas lega.


“ Syukur lah. Eh, ngomong-ngomong Om dan Tante tau ga apa isi ruangan dekat aula itu. Beberapa kali Aku denger suara gaduh di sana...,” kata Aruna.


" Ga ada apa-apa di sana...," sahut George dan Matilda bersamaan.

__ADS_1


Jawaban George dan Matilda justru membuat Aruna makin penasaran dan berniat menyelidikinya nanti.


Bersambung


__ADS_2