
Aruna menghela nafas lega saat melihat Ferdi dan Coleng menjauh. Kemudian ia mengedarkan pandangan ke penjuru ruangan.
Di tengah ruangan terlihat tempat tidur besar yang dihias sedemikian rupa layaknya kamar tidur pengantin. Warna merah nampak mendominasi. Mulai dari sprei, kelambu, karpet dan gorden, semuanya berwarna merah. Bunga yang menjadi pelengkap dekorasi pun sebagian besar berwarna merah.
Aruna membelalakkan matanya saat melihat gambaran peristiwa masa lalu yang terjadi di tempat itu.
Seorang wanita cantik nampak duduk terikat di tempat tidur besar itu. Rambut panjangnya menutupi wajah dan sebagian tubuh bagian depannya yang nyaris telan*ang.
Di depannya berdiri seorang pria berpakaian serba hitam nampak tengah membaca mantra sambil menaburkan serpihan bunga di atas tempat tidur itu. Serpihan bunga itu juga dilemparkan kearah wanita itu. Saat bunga mengenai kulitnya wanita itu mendesis karena bunga itu membuat kulitnya terluka dan terasa perih.
Asap kemenyan memenuhi ruangan yang temaram itu hingga membuat suasana terasa makin mencekam. Rintihan terdengar dari mulut wanita itu pertanda ia sangat kesakitan.
Mendengar rintihan wanita di depannya membuat pria berbaju hitam itu tertawa keras. Lalu tiba-tiba sosok bayangan hitam besar melesat masuk ke dalam tubuh pria berpakaian hitam itu hingga membuat tawanya terhenti.
Tubuh pria itu nampak mematung kaku dengan kedua mata tertuju kearah sosok wanita cantik di atas tempat tidur. Lalu dengan cepat ia menanggalkan pakaiannya lalu merangsek maju mendekati wanita cantik itu.
Jeritan dan tangisan pilu terdengar saat pria itu mulai mencabik pakaian wanita itu. Cabikan itu bukan hanya merobek gaun yang dikenakan oleh wanita itu tapi juga kulitnya. Darah nampak mengalir dari luka di kulit wanita itu hingga membuat wanita itu menangis.
Di saat wanita itu merintih kesakitan, pria itu langsung memperko*anya dengan brutal dan sadis.
Aruna memalingkan wajahnya kearah lain karena tak sanggup melihat bagaimana beringasnya pria itu menyetu*uhi wanita cantik itu. Tubuh wanita itu seperti boneka yang bisa dibolak balik dengan kasar layaknya mainan.
Setelah pria itu puas melampiaskan hasratnya, ia meraih belati dari atas meja. Lalu dengan kejam ia merobek dada wanita itu dan mengambil jantungnya. Menariknya dengan kasar dan langsung memakannya di depan jasad wanita itu.
Tubuh Aruna bergetar hebat menyaksikan peristiwa biadab di depan matanya. Pemerkosa*n sekaligus pembantaian terjadi dalam waktu yang cepat hingga membuat Aruna memejamkan matanya karena tak kuasa membayangkan rasa sakit yang dialami wanita itu.
Beberapa saat kemudian Aruna membuka matanya saat ia merasakan kehadiran orang lain di tempat itu. Aruna mendongakkan wajahnya dan melihat beberapa wanita dalam kondisi mengenaskan tengah menatap kearahnya. Aruna tahu jika mereka adalah arwah gentayangan yang ingin jasad dan ruhnya disempurnakan.
" Kalian...," ucapan Aruna terputus saat salah satu dari hantu wanita itu melayang mendekatinya.
" Kamu bisa melihat semuanya kan...?" tanya hantu wanita itu.
" Iya...," sahut Aruna cepat.
__ADS_1
Hantu wanita itu nampak tersenyum sambil menatap kearah teman-temannya seolah ingin mengatakan jika Aruna adalah orang yang mereka tunggu selama ini.
" Dia orangnya...," kata hantu wanita itu dengan suara bergetar.
Para hantu wanita yang berdiri di hadapan Aruna tampak menangis bahagia. Suara tangisan yang pilu dan menyayat hati hingga membuat Aruna tersentuh dan ikut menitikkan air mata.
Salah satu dari hantu wanita yang berdiri di hadapan Aruna berlutut di depan Aruna lalu mengulurkan tangannya untuk menyentuh wajah gadis itu.
" Cantik tapi misterius...," kata hantu wanita itu sambil memiringkan wajahnya untuk mengamati Aruna.
" Cukup !. Sekarang bukan waktunya basa basi...," kata suara seorang wanita yang berdiri di belakang Aruna. Terdengar tegas dan dingin hingga membuat Aruna menoleh.
Jantung Aruna berdetak lebih cepat saat melihat wujud sang pemilik suara itu. Ternyata dia adalah wanita yang dilihat Aruna dalam kilasan peristiwa masa lalu tadi.
Setelah mendengar bentakan dari pemilik suara yang kemudian diketahui bernama Kemala, para hantu wanita yang semula berdiri mengelilingi Aruna pun menepi. Mereka nampak menunduk takzim seolah menaruh rasa hormat yang besar kepada Kemala.
" Perkenalkan namaku Kemala. Aku adalah wanita pertama korban kebiadaban Yusi dan antek-anteknya...," kata hantu Kemala dingin.
" Aku tau. Namaku Aruna...," sahut Aruna sambil melirik kearah kanan dan kiri seolah mencari sesuatu.
" Mmm..., setahuku korban kebiadaban mereka bukan hanya wanita. Kemana para pria yang juga telah ditumbalkan itu...?" tanya Aruna.
Senyum Kemala nampak tersungging tipis. Sebelum menjawab pertanyaan Aruna ia nampak melirik kearah teman-temannya.
" Mereka sedikit lebih beruntung dari Kami...," kata Kemala.
" Beruntung, maksudnya gimana ya...?" tanya Aruna tak mengerti.
" Mereka langsung menemui kematian tanpa harus merasakan penderitaan seperti Kami. Kepala mereka langsung dipenggal dan ditanam di dalam lubang sumur yang ada di samping penginapan ini...," sahut Kemala.
" Itu ga beruntung namanya. Yang beruntung itu jika mereka tetap hidup walau pun mungkin dalam kondisi tak waras...," sergah Aruna sambil mengerucutkan bibirnya.
Ucapan Aruna membuat Kemala dan teman-temannya saling menatap kemudian tertawa.
__ADS_1
" Ternyata Kamu lucu juga Aruna...," kata salah satu hantu wanita itu.
Aruna nampak menggaruk kepalanya yang tak gatal karena ia merasa tak sedang melucu.
" Jadi apa yang bisa Kubantu...?" tanya Aruna hingga membuat tawa para hantu wanita itu berhenti.
" Balaskan dendam Kami...," kata Kemala tegas.
" Itu sulit. Aku datang bukan untuk membalas dendam. Aku datang untuk membantu Kalian keluar dari perangkap yang menyesakkan ini lalu mengantar Kalian pergi ke tempat yang seharusnya...," sahut Aruna gusar.
Para hantu wanita itu nampak berpikir sejenak lalu mengangguk kan kepala tanda mengerti.
" Gapapa. Kami yakin akan ada pembalasan yang datang untuk mereka nanti...," kata Kemala mewakili teman-temannya.
" Baik lah, tapi sebelumnya bisa kan kalo Kalian membantuku...?" tanya Aruna hati-hati.
" Tentu saja. Katakan apa yang Kamu perlukan...," sahut Kemala.
" Temanku terjebak di ruangan ritual. Namanya Kenzo. Bisakah Kalian membawanya keluar dari sana dalam keadaan hidup...?" tanya Aruna penuh harap.
" Kami ga bisa janji karena itu lumayan sulit Aruna...," sahut Kemala.
" Sesulit apa...?" tanya Aruna penasaran.
" Ruangan itu dipenuhi jimat pelindung. Siapa pun diantara Kami yang masuk ke sana maka akan terperangkap di sana selamanya dan ga bisa keluar. Itu sebabnya Aku ga bisa janji. Masuk ke sana artinya mengantar nyawa yang kedua kali. Dan pasti sangat menyakitkan terhimpit diantara jimat-jimat itu...," sahut Kemala.
" Itu artinya jimat-jimat di ruangan itu hanya bekerja pada makhluk astral seperti Kalian. Kalo Aku mencoba masuk ke sana, tak akan terjadi apa pun kan...?" tanya Aruna ragu.
" Ternyata selain cantik Kamu juga cerdas Aruna...," puji Kemala sambil tersenyum.
" Terima kasih pujiannya. Jadi kapan Aku bisa masuk ke sana...?" tanya Aruna tak sabar.
" Sebentar lagi. Bersiap lah...," sahut Kemala sambil melayang menuju pintu keluar.
__ADS_1
Aruna bergegas mengikuti Kemala. Di belakangnya terlihat rekan-rekan Kemala juga melayang menuju pintu keluar.
\=\=\=\=\=