
Perlahan Aruna mendekati Bianca. Tanpa suara sambil terus mengamati gerak-gerik Bianca. Setelah berada tepat di belakang Bianca, Aruna pun bertanya.
" Cari apa Bu Bianca...?" tanya Aruna.
Walau suara Aruna terdengar santai namun menimbulkan keterkejutan yang luar biasa bagi Bianca. Ia malu karena aksinya 'ketahuan' oleh Aruna.
" Ya ampun Aruna !. Kamu ngagetin Saya tau ga...?!" kata Bianca dengan mimik tak suka.
" Maaf Bu. Tapi Saya ga ada maksud ngagetin Ibu kok. Saya kan cuma nanya Ibu cari apa..," sahut Aruna pura-pura lugu.
" Ck. Saya ga cari apa-apa...! " kata Bianca sambil membulatkan matanya.
" Masa sih. Tapi Saya liat Bu Bianca serius banget tadi...," sahut Aruna sambil tersenyum usil.
" Saya lagi cari tikus yang tadi nyelinap di kolong meja Kamu Aruna. Saya cari karena Saya mau makan tikus itu. Puas Kamu...?!" tanya Bianca kesal hingga membuat Aruna terkejut lalu membelalakkan matanya.
" Masa ada tikus sih di ruangan bagus dan ber-AC kaya gini...," gumam Aruna namun tak digubris oleh Bianca.
Bianca yang kesal pun membalikkan tubuhnya lalu melangkah cepat kearah mejanya.
Aruna yang merasa tak enak hati pun meletakkan tasnya lalu menghampiri Bianca.
" Maaf Bu. Saya bercanda aja tadi...," kata Aruna.
" Iya udah tau...," sahut Bianca ketus namun membuat Aruna tersenyum.
" Saya udah make over wajah Saya sesuai permintaan Ibu nih. Gimana hasilnya Bu...?" tanya Aruna sambil mengerjapkan matanya.
Bianca pun kembali menatap Aruna. Ia sedikit mengangguk namun tanpa senyum hingga membuat Aruna sedikit kecewa.
" Itu bukan make over namanya. Kamu kan cuma nebelin sedikit pemerah pipi Kamu Aruna...," kata Bianca.
" Iya sih. Tapi udah bagus kan Bu...?" tanya Aruna setengah memaksa.
" Iya iya bagus. Udah sana balik ke meja Kamu dan Lanjutin kerjaanmu...!" kata Bianca galak.
__ADS_1
" Siap Bu, laksanakan...!" sahut Aruna sambil bersikap ala tentara.
Bianca nampak memutar bola matanya dengan malas melihat sikap Aruna yang 'lebay' itu. Sedangkan Aruna pun tersenyum. Kemudian diam-diam Aruna memutar tubuhnya dan kembali ke meja kerjanya untuk melanjutkan pekerjaannya.
\=\=\=\=\=
Siang itu Aruna nampak tak bisa berkonsentrasi penuh saat mendampingi Hasby mengikuti seminar. Aruna terlihat tak nyaman dan berkali-kali melihat kearah pintu keluar seolah ingin berlari ke sana dan meninggalkan tempat itu. Aruna terpaksa bertahan karena terikat pekerjaan.
Hasby yang hadir sebagai salah satu pembicara itu terlihat sangat apik menyampaikan materi. Tepuk tangan meriah menyambut Hasby saat dia mulai bicara.
" Ga nyangka Pak Hasby sekeren ini kalo lagi jadi Nara sumber...," batin Aruna bangga sambil mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan.
Saat itu Aruna duduk di barisan peserta seminar. Posisinya berada di barisan kedua dari depan dan berhadapan langsung dengan sang MC yang cantik dan kenes itu.
Namun Aruna sedikit mengerutkan keningnya saat melihat wajah sang MC yang terlihat meringis seolah sedang menahan sakit. Tangannya terlihat memegangi perut bagian bawah seolah mencoba menghalau rasa sakit yang menderanya saat itu.
Tiba-tiba sang MC tersungkur jatuh dari kursinya dan mengejutkan semua orang. Untuk sejenak suasana menjadi kacau. Apalagi sang MC dinyatakan pingsan karena kekurangan darah. Hal itu diketahui dari ucapan salah seorang peserta seminar yang kebetulan berprofesi sebagai dokter.
Aruna pun memberanikan diri melihat kondisi sang MC dan tampak menggeleng prihatin.
" Mungkin terlalu tegang karena jadi MC di acara besar kaya gini...," kata peserta lainnya.
" Gimana kondisinya Mas. Apa ada luka di kepalanya ?. Soalnya tadi jatuhnya keras banget lho...," kata seorang wanita yang terlihat berwibawa.
" Gapapa kok Bu, sekarang udah ditanganin sama dokter yang memang stand by untuk acara ini. Kalo kata dokter sih dia lagi menstru*si. Mungkin hari pertama jadi sakitnya ga biasa. Ditambah tegang karena harus menampilkan yang terbaik, jadi kaya ada tekanan gitu makanya pingsan...," sahut MC pengganti yang merupakan seorang pria itu.
" Oh gitu. Syukurlah kalo gapapa...," sambut para peserta seminar yang berada di barisan depan dan melihat langsung jatuhnya sang MC tadi.
Setelah mendengar jika MC wanita tadi baik-baik saja, Aruna pun kembali ke tempat duduknya. Saat itu rupanya Hasby telah selesai menyampaikan materi dan tak terlihat lagi di podium.
" Maaf Bu, Pak Hasby yang tadi jadi pembicara itu kemana ya...?" tanya Aruna pada wanita yang duduk di sampingnya.
" Oh tadi ijin ke belakang Mbak. Mungkin ke toilet. Tadi Saya liat dianterin beberapa pria ke sana...," sahut wanita itu.
" Oh gitu, makasih ya Bu...," kata Aruna sambil tersenyum.
__ADS_1
" Sama-sama. Nah itu dia...!" kata wanita itu sambil menunjuk kearah Hasby yang nampak sedang berjalan kearah tempat duduknya semula.
Aruna menoleh kearah yang ditunjuk oleh wanita itu. Aruna melihat ada yang berbeda pada penampilan Hasby. Sedikit berantakan dan itu membuatnya tersenyum sambil menggelengkan kepala melihat penampilan bosnya itu.
" Abis dari toilet kok malah acak-acakan. Gimana sih Pak Hasby ini. Emangnya kalo pipis harus seberantakan itu ya...," batin Aruna sambil tersenyum.
Di depan sana Hasby seolah tersadar jika penampilannya tak serapi sebelumnya. Namun dengan santai Hasby berhenti sebelum langkahnya mencapai meja lalu membalikkan tubuhnya menghadap dinding. Hasby pun langsung merapikan penampilannya dengan cepat. Beruntung ada pohon imitasi berukuran besar yang menghalangi tubuhnya hingga gerak-geriknya tak menarik perhatian peserta seminar. Setelahnya Hasby kembali ke tempat duduknya.
Seminar pun berlanjut hingga selesai. Saat para peserta bersiap meninggalkan ruangan tempat seminar berlangsung, tiba-tiba terdengar jeritan yang mengejutkan semua orang. Jeritan itu berasal dari ruang lain yang berada tepat di samping ruangan tempat seminar berlangsung.
Aruna tersentak kaget karena merasa ada sesuatu yang buruk yang tengah terjadi di sana. Jiwa detektifnya meronta hingga membuat Aruna bergegas mendatangi asal suara jeritan itu. Beberapa orang juga tampak mengikuti jejak Aruna yang berlari cepat menuju asal suara termasuk Hasby.
Aruna dan beberapa orang yang bersamanya berhenti di depan sebuah ruangan. Di dalam sana terlihat sang MC cantik tergeletak dalam kondisi mengenaskan. Ada darah mengalir dari bagian bawah tubuhnya. Dan dokter yang memeriksanya mengatakan jika sang MC cantik mengalami keguguran.
Kepala Aruna mendadak pening saat melihat darah yang menggenang di lantai. Hasby yang berdiri tak jauh darinya pun langsung memapah Aruna dan membawanya menjauh dari depan pintu.
" Kamu gapapa Aruna...?" tanya Hasby cemas sambil membantu Aruna duduk.
" Saya gapapa Pak. Saya cuma pusing ngeliat darah...," sahut Aruna sambil memijit keningnya.
" Sebaiknya Kita cepet pergi dari sini Aruna. Saya ga mau Kamu juga ikutan pingsan gara-gara ga kuat ngeliat darah. Yang ada Saya yang repot nanti...," kata Hasby gusar.
" Iya Pak. Kita pergi sekarang aja...," sahut Aruna sambil berusaha berdiri.
Hasby kembali membantu Aruna berdiri lalu memapahnya keluar dari gedung itu. Saat berjalan menuju parkiran, mereka berpapasan dengan beberapa orang yang juga membicarakan kejadian buruk yang menimpa sang MC cantik itu.
" Cantik sih, tapi ga taunya murahan...," kata salah seorang wanita sambil mencibir.
" Betul. Masa hamil ga ada bapaknya. Untung Gue ga jadi sama dia dulu...," sahut seorang pria sambil menyigar rambutnya dengan jari.
" Kirain lagi menstru*si, ga taunya keguguran toh...," kata sekelompok orang sambil tertawa.
Aruna dan Hasby hanya bisa menatap mereka sambil menggelengkan kepala karena tak percaya jika ada orang yang bisa tertawa melihat kemalangan yang terjadi pada sang MC cantik.
\=\=\=\=\=
__ADS_1