Titisan Makhluk Malam

Titisan Makhluk Malam
245. Terharu


__ADS_3

Luluk masih duduk di teras rumah Ria hingga berapa waktu. Kali ini dia sendirian di sana. Usi yang biasanya menemani pun tak terlihat karena sedang pergi mengunjungi mertuanya.


Luluk nampak mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru. Lagi-lagi ia melihat penampakan makhluk menyeramkan di bawah pohon dan sedang menatap lekat kearahnya.


Luluk heran karena di bawah pohon itu ia juga melihat beberapa orang sedang berbincang santai. Namun anehnya mereka sama sekali tak melihat penampakan makhluk menyeramkan itu. Makhluk menyeramkan itu seolah hanya memperlihatkan diri di hadapan Luluk.


" Duh, apalagi sih ini. Kenapa dimana-mana Aku ngeliat makhluk menyeramkan itu. Jangan-jangan ada yang ga beres nih. Tapi apaan ya. Bukannya Ibu pemilik kontrakan bilang kalo tumbal bisa aja anak gadis yang masih suci. Keliatannya Ria gadis baik-baik. Masa iya dia udah ga peraw*n lagi...," batin Luluk gusar.


Kemudian Luluk menoleh saat sebuah mobil pick up berhenti di depan rumah kontrakan orangtua Pipit. Karena penasaran Luluk pun mendekat dan bertanya.


" Lho mau kemana pagi-pagi begini Bu...?" tanya Luluk.


" Mau pindahan Mbak...," sahut ibu Pipit.


" Pindah, kemana...?" tanya Luluk.


" Ke rumah baru. Alhamdulillah udah selesai dibangun jadi bisa ditempati...," sahut ibu Pipit.


" Wah senengnya. Jadi selesai dibangun dalam tiga bulan ya Bu...," kata Luluk.


" Iya Mbak...," sahut ibu Pipit sambil tersenyum kecut.


Selama ini orangtua Pipit memang sengaja mengontrak rumah yang lokasinya tak terlalu jauh dari rumah yang tengah mereka dirikan. Dan rencananya mereka akan pindah saat rumah selesai dibangun.


" Sayang banget Pipit udah ga ada. Pasti dia seneng banget kalo bisa pindah ke rumah sendiri...," kata Luluk dengan nada sedih.


" Iya Mbak. Padahal kamar yang dia minta udah disiapin sama Ayahnya. Terus mainan yang dia mau juga udah dibeliin. Tapi rupanya Allah lebih sayang sama Pipit. Dia diambil sebelum bisa menikmati semuanya...," sahut ibu Pipit dengan mata berkaca-kaca.


Luluk pun mengusap punggung tangan ibu Pipit untuk menghiburnya. Kemudian Luluk membawa ibu Pipit menjauh agar bisa bicara berdua tanpa didengar orang lain.


" Maaf kalo bikin Ibu Pipit sedih. Saya cuma mau tanya, sebelum Pipit meninggal ada tanda-tanda aneh atau semacam firasat buruk gitu ga Bu...?" tanya Luluk hati-hati.


Ibu Pipit nampak mengerutkan keningnya. Namun ia maklum mengapa Luluk bertanya seperti itu. Rupanya ibu Pipit juga sudah mendengar gosip yang mengatakan jika anaknya meninggal karena menjadi tumbal dari sebuah ilmu pesugihan.


" Pipit jadi lebih rewel dari biasanya Mbak...," kata ibu Pipit sambil menerawang jauh.

__ADS_1


" Lebih rewel kenapa Bu. Apa Pipit minta sesuatu...?" tanya Luluk penasaran.


" Bukan Mbak. Belakangan Pipit sering nangis dan menjerit tiba-tiba karena katanya dia ngeliat monster menyeramkan di dalam rumah...," sahut ibu Pipit.


" Mons... monster menyeramkan...? " ulang Luluk.


" Iya Mbak. Saya pikir cuma mimpi, makanya Saya suruh Pipit berdoa dan berdzikir apa pun yang dia bisa. Untungnya Pipit udah ikutan ngaji di rumah Ustadzah Siti, jadi dia bisa beberapa doa dan dzikir pendek...," sahut ibu Pipit sambil tersenyum mengingat kepintaran anak semata wayangnya itu.


" Apa makhluk itu bisa pergi kalo Pipit berdzikir...? " tanya Luluk.


" Bisa. Tapi cuma sementara. Begitu Pipit lengah, makhluk itu datang lagi dan Pipit nangis lagi...," sahut ibu Pipit sedih.


" Mmm..., kalo boleh tau ciri-ciri makhluk yang diliat Pipit seperti apa Bu...?" tanya Luluk.


" Katanya sih hitam, besar, tinggi sampe nembus plafond rumah, kepalanya bertanduk tiga, terus ga pake baju...," sahut ibu Pipit sambil mengingat ucapan Pipit saat ia menangis ketakutan.


" Serem banget ya...," gumam Luluk sambil bergidik.


" Kenapa Mbak Luluk tanya kaya gini, atau jangan-jangan Mbak Luluk juga ngeliat makhluk yang diliat Pipit ya...?" tanya ibu Pipit khawatir namun cukup mengejutkan Luluk.


Ibu Pipit menggenggam tangan Luluk erat sambil menatap lekat kearahnya.


" Sebaiknya Mbak Luluk hati-hati. Bisa aja makhluk itu mengincar Mbak Luluk. Lakukan sesuatu sebelum terlambat. Jangan sampe menyesal seperti Saya...," kata ibu Pipit sambil berbisik.


Luluk nampak gemetar ketakutan lalu pura-pura tersenyum.


Ibu Pipit menoleh saat suaminya memanggil namanya. Kemudian ibu Pipit memeluk Luluk erat sekaligus berpamitan. Luluk membalas pelukan ibu Pipit dengan berbagai macam perasaan yang sulit diungkapkan.


" Semoga di tempat yang baru Ibu Pipit bisa bahagia...," kata Luluk dengan mata berkaca-kaca.


" Aamiin. Makasih doanya Mbak Luluk. Tolong sampaikan salam Saya buat Mbak Usi dan tetangga yang lain. Saya ga sempet pamitan karena ga tahan kalo harus ngomongin soal Pipit lagi tiap kali ketemu mereka...," kata ibu Pipit sambil menepuk punggung tangan Luluk.


" Iya Bu. Pasti Saya sampaikan nanti...," sahut Luluk sambil tersenyum.


Kedua orangtua Pipit pun masuk ke dalam Taxi yang terparkir di depan mobil pick up. Sesaat kemudian Taxi melaju perlahan lalu diikuti mobil pick up yang mengangkut perabotan rumah tangga mereka.

__ADS_1


Luluk melambaikan tangannya dengan gemetar karena teringat ucapan ibu Pipit tadi.


Sementara itu di dalam Taxi kedua orangtua Pipit nampak menatap ke depan tanpa mau menoleh lagi. Mereka berusaha melupakan kenangan buruk selama mereka tinggal di tempat itu.


" Kenapa Kamu masih mau ngobrol sama dia sih Bu. Dia itu jahat. Gara-gara dia Pipit meninggal dunia...," kata ayah Pipit sambil melengos kesal.


" Istighfar Yah. Udah takdir Allah Pipit meninggal lebih dulu. Jangan jadi orang yang pendendam gitu dong Yah...," tegur ibu Pipit.


" Astaghfirullah aladziim. Maafin Ayah ya Bu. Ayah emosi banget karena inget dia udah menyakiti Kamu dan Pipit...," kata ayah Pipit.


" Ayah ga usah khawatir. Aku baik-baik aja sekarang. Apalagi Aku baru denger sesuatu yang menyenangkan...," sahut ibu Pipit sambil tersenyum penuh makna.


" Maksud Kamu apa Bu...?" tanya ayah Pipit.


" Ternyata Allah mengirim bantuanNya lebih cepat dari yang Kita mau. Ayah tau ga kalo Mbak Luluk sekarang juga lagi dikejar makhluk menyeramkan yang selama ini juga mengejar Pipit...," kata ibu Pipit.


" Oh ya, jadi dia ketakutan sekarang...?" tanya ayah Pipit dengan wajah berbinar.


" Banget !. Dia nanya gimana reaksi Pipit waktu ngeliat makhluk itu. Aku bilang kalo Pipit melawan makhluk itu dengan berdzikir seperti yang diajarkan ustadzah Siti. Dia bingung karena selama ini kan dia anti banget sama ustadzah Siti dan pengajiannya. Kalo Mbak Luluk mau ngelawan makhluk itu dia harus merendahkan diri ketemu ustadzah Siti. Masalahnya mau ga dia kesana dan ketemu ustadzah Siti, kan selama ini dia udah nyebar gosip jelek tentang beliau...," kata ibu Pipit.


" Kayanya dia ga bakal mau ngelakuin itu. Dia terlalu sombong dan merasa jika dirinya sempurna...," sahut ayah Pipit sambil mencibir.


" Sekarang Kita lupain semuanya ya Yah. Kita harus fokus menata masa depan dan tetap mendoakan Pipit. Semoga di tempat baru Kita bisa hidup lebih baik dan tenang bersama adiknya Pipit...," kata ibu Pipit lirih sambil mengusap perutnya hingga mengejutkan suaminya.


" Kamu hamil Bu...?" tanya ayah Pipit hati-hati.


" Iya Yah. Pipit udah tau kalo dia bakal punya adik. Pipit juga yang nyuruh Kita pergi dari rumah itu secepatnya saat dia sekarat malam itu...," sahut ibu Pipit sambil mulai menangis.


Ayah Pipit tertegun sesaat lalu memeluk istrinya dengan erat. Mereka menangis bersama dengan perasaan sedih dan bahagia yang berbaur menjadi satu di saat bersamaan.


" Maafin Ayah ya Bu. Karena terlalu sibuk kerja Ayah sampe lupa merhatiin Kamu dan Pipit. Ayah janji ke depannya Ayah bakal luangkan waktu untuk Kamu dan Anak Kita...," kata ayah Pipit di sela isak tangisnya.


Ibu Pipit mengangguk sambil tersenyum. Ia balas memeluk sang suami untuk menyalurkan rasa sayangnya.


Di balik kemudi sang supir Taxi ikut terharu mendengar jika ada calon bayi dalam rahim ibu Pipit. Rupanya ia tak sengaja mendengar percakapan kedua penumpangnya itu sejak tadi. Dalam hati ia turut mendoakan yang terbaik untuk pasangan suami istri yang kini tengah menangis itu.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


__ADS_2