
Setelah hari dimana Rasyid 'melepaskan' Sheina, sejak hari itu pula Rasyid melepaskan rasa yang ia miliki untuk Sheina.
George sengaja melakukan sesuatu agar Rasyid tak lagi terpuruk dalam penyesalan.
" Apa kali ini akan berhasil Om...?" tanya Aruna saat melihat George menyentuh kepala Rasyid yang jatuh pingsan usai proses mediasi dengan arwah Sheina.
" Insya Allah kali akan berhasil Aruna. Aku membuang sebagian ingatan Rasyid tentang Sheina dari kepalanya. Rasyid hanya akan mengingat Sheina sebagai seorang dokter dan teman yang baik...," sahut George.
" Bagaimana dengan pernikahan mereka. Apa Mas Rasyid akan melupakannya begitu saja...?" tanya Aruna yang tak terima jika Rasyid benar-benar melupakan Sheina.
" Rasyid akan tetap mengingat Sheina Nak.Tapi moment indah kebersamaan mereka akan hilang dari kepalanya. Aku memilih Rasyid tetap mengingat Sheina sebagai istrinya dan membiarkan semua berjalan sebagaimana mestinya. Dia akan lupa jika Sheina adalah manusia serigala dan lupa bagaimana cara Sheina meninggal. Rasyid hanya ingat jika Sheina meninggal dunia karena kecelakaan. Rasyid juga akan lupa rasa mencintai Sheina karena Kupikir itu yang terbaik. Kasian jika dia harus menghabiskan sisa hidupnya dalam kesedihan. Rasyid adalah pria yang baik, karena itu dia harus bahagia...," kata George panjang lebar.
" Apa itu artinya Mas Rasyid hanya tau dirinya pernah menikah tapi ga inget sama apa pun yang terjadi selama dia menikah dengan Kak Sheina...?" tanya Aruna.
" Persis. Rasyid bisa menatap foto pernikahannya dengan senyum tanpa dibebani rasa penyesalan. Anggap lah ada sebagian memory Rasyid yang hilang. Jika Kamu bertanya tentang Sheina, maka Rasyid hanya bisa menyebut Sheina sebagai istri yang baik dengan segala kelebihan fisik yang dia punya...," sahut George sambil tersenyum.
" Terus kenapa saat mediasi kemarin Om membiarkan Mas Rasyid ingat semuanya...?" tanya Aruna.
" Itu karena Sheina...," sahut George cepat.
" Maksudnya gimana ya Om...?" tanya Aruna tak mengerti.
" Saat Kamu bilang arwah Sheina terhambat pergi karena Restu suaminya, Aku tau jika penyesalan Rasyid lah penyebabnya. Bagaimana Kamu bisa membantunya kalo Rasyid aja ga inget apa-apa. Yang ada arwah Sheina akan terus mengembara di muka bumi tanpa kepastian. Kasian kan dia. Makanya Aku mengembalikan ingatannya malam itu...," sahut George sambil membuang pandangannya kearah lain karena kembali teringat pada sosok Sheina.
" Oh gitu. Makasih ya Om...," kata Aruna sambil tersenyum.
" Sama-sama Nak. Kita semua menyayangi Sheina dengan cara masing-masing. Tapi yang Sheina butuhkan sekarang hanya doa. Meski pun sebagian ingatan Rasyid hilang, Aku yakin dia akan tetap mendoakan Sheina karena Rasyid adalah orang yang baik. Apalagi mereka terikat pernikahan...," kata George.
Aruna mengangguk mengiyakan. Kini dia bisa lebih tenang saat mengetahui Rasyid bisa hidup lebih baik.
" Terus gimana sama Bi Mey, Om...?" tanya Aruna.
" Bi Mey akan hidup seperti biasa Nak. Karena dia kan ga pernah tau sisi lain Sheina. Jadi Bi Mey akan hidup bersama kenangannya saat bersama Sheina. Tentang bagaimana hubungannya dengan Rasyid kedepannya, biar lah mereka yang mengatur. Aku tak mau ikut campur soal itu...," sahut George.
Aruna kembali mengangguk. Ia menoleh saat mendengar suara bayinya merengek. Aruna tersenyum melihat Matilda yang kerepotan dengan bayi kembarnya karena keduanya minta gendong di waktu bersamaan. Aruna pun bergegas menghampiri mereka untuk membantu Matilda.
" Kenapa bikin Oma bingung sih anak-anak. Khai sama Bunda aja ya, biar Kanaya sama Oma...," sapa Aruna sambil meraih Khai dari gendongan Matilda.
__ADS_1
" Iya nih. Belum setahun tapi udah bisa merengek minta gendong. Ga ada yang mau ngalah sampe bingung Aku...," sahut Matilda sambil tertawa.
George dan Aruna ikut tertawa. Dalam hati George bersyukur melihat Matilda bisa tertawa. Kemudian George melangkah mendekati Matilda yang sedang menggendong Kanaya.
" Terakhir kali Kita menggendong bayi ya saat Orion masih bayi. Betul kan Sayang...?" tanya George sambil mengecup pipi gembul Kanaya.
" Iya Sayang. Ga nyangka Orion udah jadi Kakek sekarang...," sahut Matilda.
" Apa Aku ga pernah digendong sama Om dan Tante...?" tanya Aruna.
" Kan Kamu diasuh sama Diana dan Arka. Mereka orangtua yang protektif dan ga akan membiarkan sembarangan orang menyentuh Kamu Aruna. Tapi Kami berterima kasih karena mereka berhasil membesarkanmu dan menjadikan Kamu wanita yang hebat...," kata Matilda sambil memeluk Aruna.
Aruna tersenyum lalu balas memeluk Matilda.
" Wah Aku ketinggalan sesuatu ya...!" kata Kautsar tiba-tiba hingga mengejutkan semua orang.
Semua menoleh dan tersenyum kearah Kautsar yang baru saja tiba dengan motor kebanggaannya. Kautsar pun turun dari motornya lalu bergegas menghampiri Aruna yang tengah menggendong Khaizuran.
" Assalamualaikum semua...," sapa Kautsar lalu mengecup kepala Aruna dengan sayang.
" Wa alaikumsalam..., " sahut Aruna, Matilda dan George bersamaan.
" Kalo untuk si kembar Aku harus cuci tangan dulu Tante. Mereka kan masih belia jadi masih rentan sama virus...," sahut Kautsar sambil membasuh tangan, kaki dan wajahnya dengan air kran yang terdapat di sudut teras.
" Jadi kalo Aruna ga perlu Kamu jaga dari virus, gitu maksudmu...?" tanya Matilda.
" Bukan begitu Tante. Aku emang selalu cium Aruna tiap kali sampe rumah dan itu Aku lakukan sejak anak-anak belum lahir. Jadi kebiasaan aja dan ga ada maksud apa-apa..., " sahut Kautsar sambil tertawa kecil.
" Ayo lah Sayang. Jangan bikin Kautsar malu dengan pertanyaan konyolmu itu...," kata George sambil merengkuh bahu Matilda.
" Aku cuma bercanda kok Sayang. Lagian Kamu juga liat kan kalo Aruna sama Kautsar ketawa daritadi...," sahut Matilda sambil tersenyum.
Aruna dan Kautsar memang tertawa karena gurauan Matilda tadi. Kemudian Kautsar meraih Khai dan Kanaya lalu mendudukkan kedua bayi lucu itu di pangkuannya.
Khai dan Kanaya terlihat bahagia di pangkuan Kautsar. Sesekali tawa terdengar dari bibir kedua bayi lucu itu hingga membuat semua orang ikut tertawa. Sore di teras rumah dipenuhi tawa bahagia hingga membuat siapa pun yang melihatnya akan ikut bahagia.
" Udah hampir Maghrib, sebaiknya Kita masuk yuk...," kata Aruna sambil meraih Kanaya dari pangkuan ayahnya.
__ADS_1
" Ok Bunda...," sahut Kautsar sambil menciumi Khaizuran.
" Kalo gitu Kami pamit ya Anak-anak...," kata George yang diangguki Matilda.
" Lho kenapa buru-buru sih Om. Kita bisa makan malam dulu kan...," kata Aruna.
" Lain kali aja ya Nak. Ada hal yang harus Kami selesaikan sekarang..., " sahut George.
" Baik lah. Tapi janji ke sini lagi ya...," pinta Aruna sambil memeluk George dan Matilda bergantian.
" Insya Allah Kami datang lagi ke sini...," sahut Matilda.
" Jangan lama-lama Tante...," rengek Aruna.
" Hei, Kamu merengek seperti bayi Nak. Apa Kamu ga malu sama si kembar...?" tanya Matilda.
" Biarin...," sahut Aruna sambil mengerucutkan bibirnya.
Matilda, George dan Kautsar pun tertawa mendengar jawaban Aruna. Setelah menciumi Khai dan Kanaya bergantian, George dan Matilda pun melesat pergi. Kautsar dan Aruna melepas kepergian mereka sambil menggendong si kembar.
" Kenapa Sayang...?" tanya Kautsar saat melihat Aruna sedikit murung.
" Gapapa...," sahut Aruna sambil mengusap matanya yang basah.
" Mereka kan cuma pergi sebentar Sayang. Dan Kamu juga denger kan kalo Om sama Tante bakal main lagi ke sini nanti...," kata Kautsar sambil mengecup pipi Aruna.
" Iya, tapi kapan...?" tanya Aruna.
" Terserah mereka, Kita ga boleh maksa kan. Udah, jangan sedih lagi ya Bunda. Liat nih anak-anak ikutan sedih ngeliat Kamu sedih...," kata Kautsar sambil menunjuk Khaizuran dan Kanaya.
Aruna pun menatap kedua bayinya yang saat itu juga tengah menatap kearahnya. Melihat wajah menggemaskan kedua bayinya membuat Aruna tersenyum. Dan saat sang bunda tersenyum, Khai dan Kanaya pun tersenyum sambil menggerakkan tubuh dan kedua tangan mereka.
" Iya iya. Bunda ga sedih lagi deh...," kata Aruna sambil menciumi Khai dan Kanaya bergantian.
" Ayahnya ga dicium Bund...," protes Kautsar.
Aruna menggelengkan kepalanya melihat tingkah suaminya. Aruna pun berjinjit lalu mengecup bibir Kautsar dengan cepat hingga Kautsar pun tersenyum bahagia.
__ADS_1
\=\=\=\=\=