
Malam itu suasana di dalam rumah Kautsar terlihat ramai. Tawa bahagia terus menggema di dalam rumah. Aruna yang biasanya sudah tertidur, malam itu justru masih terjaga. Meski sudah diminta untuk istirahat di kamar tapi Aruna tetap menolak.
" Aku mau ikutan ngobrol. Kan jarang-jarang Kita bisa ngobrol lengkap kaya gini...," kata Aruna saat Kautsar kembali memintanya beristirahat.
" Ok. Tapi Kamu berbaring aja biar ga capek ya...," kata Kautsar sambil membantu Aruna merebahkan diri di atas sofa.
Aruna mengangguk lalu mulai membaringkan tubuhnya. Tak lama kemudian Aruna nampak memejamkan matanya.
" Udah ngantuk tapi maksa mau ikutan ngobrol...," gumam Kautsar sambil menggelengkan kepalanya.
" Aruna emang kaya gitu Nak. Sejak kecil dia paling suka kalo ngeliat orang ngumpul. Apalagi kalo diajak ke rumah Omanya, dijamin ga bakal bisa tidur. Soalnya di sana selalu banyak orang...," kata Diana sambil tertawa.
Semua orang pun tertawa kemudian melanjutkan perbincangan mereka. Saat itu lah Kautsar menceritakan mimpi Aruna kepada kedua orangtua dan mertuanya.
" Kok serem amat sih mimpinya. Apa itu ga termasuk rep-repan ya. Kan Aruna tidur menjelang Maghrib...," kata Hardini.
" Ga menjelang Maghrib Bu. Sekitar jam empatan gitu lah. Mungkin karena lemes abis muntah, ditambah pengaruh obat, jadi Aruna ketiduran deh. Aruna bangun juga masih jam limaan kok...," sahut Kautsar.
Mendengar ucapan Kautsar membuat keempat orang di hadapannya saling menatap kemudian tersenyum hingga membuat Kautsar bingung.
" Terus Arunanya gimana ?. Apa dia merasa terganggu sama mimpi itu...?" tanya Diana.
" Sekarang sih udah gapapa Ma. Ga tau besok...," sahut Kautsar sambil melirik istrinya.
" Semoga mimpi itu hanya bunga tidur dan bukan pertanda buruk untuk Kita ya Nak...," kata Ahmad.
" Aamiin...," sahut semua orang bersamaan.
Dalam tidurnya Aruna kembali bermimpi. Mimpi yang sama seperti saat ia bertemu dengan wanita cantik misterius itu. Namun kali ini Aruna bersikap lebih berani lagi.
" Apa kabar Aruna...?" tanya wanita cantik itu.
" Alhamdulillah baik...," sahut Aruna ketus.
" Kamu ga seneng ketemu Aku Aruna...?" tanya wanita itu.
__ADS_1
" Bagaimana Aku bisa seneng, kenal juga ga kok...," sahut Aruna sambil melengos.
Wanita cantik itu tersenyum lalu melangkah perlahan mendekati Aruna.
" Jangan mendekat !. Atau Kau akan menyesal...!" kata Aruna dengan galak.
Wanita cantik itu terkejut lalu menghentikan langkahnya. Ia tahu Aruna tak pernah main-main dengan ucapannya.
Dari jarak tiga meter Aruna bisa menatap wanita cantik itu dengan seksama. Ada kesedihan di matanya saat melihat kearah perut Aruna. Menyadari wanita itu menatap perutnya, Aruna refleks langsung menutupi perutnya dengan kedua lengannya.
" Kalo ada yang mau Kamu ceritakan, Aku bakal dengerin. Tapi kalo Kamu datang hanya untuk menerrorku, lupakan saja niatmu itu. Aku bisa menghentikannya saat ini juga...," kata Aruna tegas.
Wanita itu menggelengkan kepalanya lalu mulai menangis namun Aruna tak terpengaruh. Aruna nampak berdiri dengan posisi siaga sambil terus berdzikir. Sadar jika Aruna tak mudah untuk diperdayai, wanita cantik itu pun menjerit.
" Hentikan mantramu Aruna...!" kata wanita itu dengan lantang sambil menutupi kedua telinga dengan telapak tangannya.
Mendengar ucapan wanita cantik itu Aruna pun tersenyum mengejek.
" Jadi Kamu hanya arwah penasaran yang mengaku-ngaku punya hubungan dengan Anakku. Aku tau sejak awal Kamu berbohong. Pergi lah dan jangan kemari lagi. Jika tidak, jangan salahkan Aku jika Aku benar-benar akan membakarmu...!" ancam Aruna.
Wanita itu menjerit sekali lagi lalu tubuhnya menggeliat seolah merasa kesakitan. Wajah cantiknya pun berubah menjadi wajah seorang nenek, tua dan keriput. Hanya kedua matanya yang berkilat tajam seolah ada sosok lain yang mengisi raganya. Sesaat kemudian tubuh wanita itu berubah menjadi asap dan hilang begitu saja.
Nafas Aruna nampak tersengal-sengal. Perlahan ia bangkit dan duduk. Aruna pun mengedarkan pandangannya dan sadar jika ia sedang berada di atas tempat tidur di kamarnya. Saat menoleh ke samping Aruna mendapati Diana dan Hardini tidur di sisi kanan dan kirinya. Aruna tersenyum melihat kedua wanita yang disayanginya itu tidur dengan lelap.
Sayup-sayup Aruna mendengar suara berdenting dari ruang makan. Karena penasaran, Aruna pun turun dari tempat tidur. Dengan hati-hati ia membuka pintu dan melihat Kautsar tengah sibuk di dekat meja makan.
" Sayang...," panggil Aruna.
" Lho, kok udah bangun. Ini masih jam empat pagi Sayang...," kata Kautsar sambil menyambut Aruna dengan pelukan.
" Kamu sendiri ngapain jam segini...?" tanya Aruna.
" Lagi beresin piring dan gelas kotor. Mau Aku cuci biar Kamu ga kecapean nanti...," sahut Kautsar.
" Tapi ini terlalu pagi Sayang. Kamu bisa masuk angin nanti...," kata Aruna.
__ADS_1
" Abis Aku ga bisa tidur. Aku keingetan terus sama mimpi Kamu itu...," sahut Kautsar.
" Aku juga mimpi ketemu dia lagi barusan...," kata Aruna sambil menarik kursi.
" Ya Allah. Terus gimana Sayang, apa dia ngancam Kamu atau...," ucapan Kautsar terputus karena Aruna memotong cepat.
" Dia pergi setelah Aku berdzikir. Keliatannya dia cuma arwah penasaran yang tersesat entah dimana. Aku juga ngeliat sosoknya berubah jadi nenek-nenek sebelum dia menghilang...," kata Aruna.
" Arwah penasaran ?. Tapi kenapa dia ngaku-ngaku saudara...?" tanya Kautsar tak mengerti.
" Itu yang bikin Aku bingung. Tapi Aku kok curiga sama cewek yang meninggal di rumah kostnya Pak Suryo itu. Apa Kamu kenal sama dia Sayang...? " tanya Aruna.
" Aku ga kenal..." sahut Kautsar sambil membawa piring dan gelas kotor ke dapur untuk dicuci.
" Pernah ketemu mungkin...?" tanya Aruna sambil mengekori suaminya.
" Mungkin, tapi yang mana orangnya Aku juga ga ngeh...," sahut Kautsar sambil mulai mencuci piring.
" Yakin...?" desak Aruna.
" Seinget Aku, Aku ga kenal satu pun cewek di kost itu Sayang. Tapi kalo mereka kenal Aku kan wajar. Soalnya Aku ini lumayan ganteng dan kharismatik. Iya kan...?" tanya Kautsar sambil menarik turunkan alisnya hingga membuat Aruna berdecak sebal.
" Aku serius nih..," kata Aruna.
" Aku juga serius kok...," sahut Kautsar.
Aruna terdiam sejenak sambil berusaha mengingat ciri khas yang dimiliki wanita misterius dalam mimpinya itu.
Melihat istrinya yang kebingungan Kautsar pun tak tega. Ia menyelesaikan pekerjaannya lalu menggamit lengan Aruna dan mendudukkannya di kursi.
" Wanita itu namanya Adelia. Katanya sih primadona di kampusnya. Dia orang yang lumayan ramah dan punya banyak teman. Dia ditemukan meninggal di kamar kostnya dengan tubuh membiru dan mulut berbusa. Semua orang mengira dia bunuh diri karena putus cinta. Tapi ada juga desas-desus yang bilang kalo Adelia meninggal karena over dosis minum obat. Nah, obat apa yang diminum masih jadi tanda tanya karena Polisi ga nemuin bekasnya di kamar itu...," kata Kautsar.
" Over dosis...?" ulang Aruna.
" Iya, tapi sampe sekarang ga jelas apa motifnya. Pak Suryo yang capek ditanyain warga akhirnya mulai menutup diri dan lebih selektif menerima orang yang mau kost di tempatnya...," sahut Kautsar.
__ADS_1
Aruna dan Kautsar pun mengakhiri pembicaraan mereka saat adzan Subuh berkumandang. Apalagi keempat orang tamu mereka terbangun dan bersiap menunaikan sholat Subuh berjamaah.
\=\=\=\=\=